Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Foto Sejarah Yang berubah
23 Oktober 2024. Pukul 14.15 WIB.
Ruang Konservasi.
Alina menangis lega saat melihat balasan itu muncul.
> Aku nyata, Arya! Bodoh! Aku nyata!
> Kenapa kau menghilang? Kenapa kau tidak datang rapat kemarin? Namamu hilang dari sejarah!
Alina mengetik dengan marah, air matanya menetes ke tombol spasi.
Di Glodok 1930, Arya membaca tulisan itu dengan perasaan campur aduk. Marah, lega, malu.
> Kau meninggalkanku, Alina.
> Kau pergi begitu saja dua malam lalu. Saya pikir saya gila. Saya pikir kau cuma hantu yang diciptakan otak saya yang lelah.
> Saya putus asa. Saya... saya sedang mabuk sekarang. Di Glodok.
Alina membaca kata "mabuk" dan "Glodok".
> Pulang, Arya! Glodok tidak aman buatmu. Di sana banyak mata-mata Van Heutz!
> Maafkan aku. Aku cemburu. Aku bodoh. Aku cemburu pada Sarsinah.
Arya terpaku membaca pengakuan itu.
Cemburu?
Wanita dari masa depan, yang tahu segalanya, cemburu pada gadis desa pembawa rantang?
Senyum tipis mulai terbit di bibir Arya yang kering. Rasa hangat perlahan menjalar di dadanya, mengusir dinginnya arak.
Dia... dicintai. Oleh seseorang yang melintasi waktu.
> Alina... kau tidak perlu cemburu.
> Malam itu, saya tidak memakan gudegnya. Saya memberikannya pada tetangga.
> Saya hanya duduk memandangi mesin tik ini sampai pagi.
Hati Alina mencelos. Rasa bersalahnya makin besar.
> Maafkan aku, Arya. Kumohon, pulanglah. Jangan hancurkan hidupmu. Jangan hancurkan sejarah.
> Kau harus ada di Sumpah Pemuda. Kau harus ada di foto itu.
Arya menatap sekeliling rumah candu yang suram. Dia melihat bayangan dirinya di cermin kusam di dinding—menyedihkan, lemah, kalah. Ini bukan wajah pemuda yang dijanjikan akan melihat kemerdekaan.
Dia harus bangkit. Alina sudah kembali. Harapannya sudah kembali.
> Baik. Saya akan pulang.
> Tapi Alina... berjanjilah satu hal.
> Apa saja.
> Jangan pergi lagi tanpa pamit. Kalau kau marah, marahlah. Kalau kau cemburu, katakan. Tapi jangan diam.
> Diammu lebih menakutkan daripada penjara Banceuy.
Alina tersenyum di balik air matanya.
> Janji. Aku tidak akan pergi lagi.
> Sekarang lari, Arya! Firasatku tidak enak.
Dan firasat wanita selalu benar, lintas zaman sekalipun.
Tiba-tiba, pintu depan rumah candu itu didobrak.
"POLITIE! NIEMAND BEWEGEN!" (Polisi! Jangan bergerak!)
Suara peluit melengking. Pasukan marsose berseragam hijau menyerbu masuk, mengacungkan pentungan dan senapan. Ini razia rutin tempat candu ilegal.
Arya terlonjak. Adrenalinnya langsung membakar sisa alkohol di darahnya.
Dia menyambar mesin tiknya, mendekapnya erat di dada. Benda ini lebih berharga dari nyawanya.
"Hei! Kau yang di sana! Angkat tangan!" teriak seorang marsose menunjuk Arya.
Arya tidak mengangkat tangan. Dia melempar botol arak kosong ke arah lampu minyak di dinding.
PRANG!
Api menyambar tumpahan arak. Kobaran api kecil tercipta, menciptakan kepanikan di ruangan sempit itu. Asap tebal mengepul.
Memanfaatkan kekacauan itu, Arya menendang meja, memblokir jalan polisi, lalu berlari menuju pintu belakang.
> Alina! Razia! Saya lari!
Dia tidak sempat mengetik itu. Dia hanya berlari.
Di tahun 2024, Alina menunggu dengan cemas. Tidak ada balasan.
Tapi satu jam kemudian, saat Alina menyegarkan (refresh) halaman arsip foto di komputernya... sebuah keajaiban digital terjadi.
Foto Rapat Jong Java itu tetap hanya berisi 5 orang.
TAPI...
Di latar belakang foto, di dekat pintu ruangan yang terbuka, terlihat sosok samar seorang pemuda yang baru datang terlambat, napasnya tampak terengah, kemejanya berantakan, tapi dia tersenyum ke arah kamera.
Itu Arya.
Dia terlambat satu hari, dia kehilangan kursi pimpinan, tapi dia kembali. Dia ada di sana. Sejarah mencatat kehadirannya lagi, meski hanya sebagai bayangan di ambang pintu.
Alina mengelus layar monitor itu, tepat di wajah Arya yang samar.
"Jangan nakal lagi," bisik Alina lega.
Namun, di sudut lain layar komputernya, sebuah notifikasi email masuk. Email dari Kepala Museum.
Subjek: Izin Penelitian Tamu Asing
Yth. Alina, besok akan datang seorang peneliti sejarah dari Universitas Leiden, Belanda. Namanya Profesor de Vries. Dia membawa arsip pribadi kakeknya yang merupakan mantan pejabat PID di Batavia. Tolong didampingi.
Alina membaca nama itu. De Vries?
Dia teringat sesuatu. Van Heutz punya nama depan... Hendrik de Vries Van Heutz.
Alina merasa bulu kuduknya berdiri. Cucu dari musuh bebuyutan Arya akan datang ke museum besok. Dan dia membawa "arsip pribadi".
Arsip apa? Apakah di sana ada catatan tentang "Hantu Mesin Tik"?
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan