Di benua Azure, kekuatan adalah segalanya. Namun, ada satu profesi yang paling dihormati dan ditakuti: Alkemis. Mereka yang bisa menciptakan pil roh, obat mujarab, dan racun mematikan.
Raymond adalah cucu dari Alkemis Legendaris yang pernah menyelamatkan dunia, Dewa Alkemis Zhuo Yi. Namun, sejak kakeknya menghilang secara misterius dan klan keluarga mereka dihancurkan oleh aliansi kekuatan jahat, Raymond hidup sebagai orang buangan yang menderita dan dipandang rendah.
Suatu hari, saat hampir dibunuh oleh musuh bebuyutannya, Raymond menemukan sebuah cincin batu giok peninggalan kakeknya. Di dalamnya tersembunyi jiwa sang Dewa Alkemis dan sebuah kitab suci "Formula Penciptaan Semesta".
Dengan warisan ilahi itu, Raymond bangkit dari lumpur. Ia mulai mencium bau bahan-bahan, meramu pil tingkat dewa, dan menumbuhkan kekuatan yang mengguncang langit. Ia berjanji pada dirinya sendiri: Semua yang pernah menginjak-injak martabatnya, semua yang membunuh keluarganya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: HARI PERTANDINGAN
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Langit cerah, dan arena pertandingan utama Akademi Roh Surgawi dipenuhi ribuan penonton.
Di tribun utama, para guru dan tetua duduk untuk menilai. Elder Qing juga ada di sana, tersenyum melihat ke bawah.
Di lapangan, barisan tim-tim kelas berbaris rapi.
Tim Kelas A, B, C, D, dan E tampil gagah dengan seragam baru, senjata tajam, dan aura yang kuat. Mereka dipandang sebagai bintang masa depan.
Sedangkan di pojok paling jauh...
Tim Kelas F berdiri. Namun penampilan mereka hari ini berbeda. Walaupun seragam mereka masih yang lama, tapi postur tubuh mereka tegap, mata mereka tajam, dan aura yang dipancarkan stabil dan padat.
"Wah, lihat tim F itu! Kok kelihatan beda ya?"
"Beda apa sih, sampah tetap sampah. Lihat lawan mereka, Tim Kelas B yang dipimpin oleh Zhao Hu! Itu orang kuat lho, Alam Asal Level 1!"
Suasana menjadi heboh saat pembawa acara mengumumkan pertandingan pertama.
"PERTANDINGAN PERTAMA! KELAS B MELAWAN KELAS F!!"
Penonton bersorak riuh. Kebanyakan menaruh harapan pada Kelas B.
"Menanglah Kelas B! Hancurkan mereka dalam 5 menit!"
Di sisi arena, Zhao Hu, kapten tim B, meludah ke tanah sambil menatap Raymond dan kawan-kawan.
"Dengar kalian sampah! Aku tidak mau buang waktu. Menyerah sekarang atau aku akan mematahkan tulang kalian semua!" teriaknya sombong.
Anggota Kelas B tertawa mengejek.
Raymond melangkah maju selangkah. Ia tidak berteriak, hanya berkata satu kalimat dengan suara dingin yang terdengar jelas ke seluruh arena.
"Yang akan patah... bukan tulang teman-temanku. Tapi harga dirimu."
"WAHAHAHA! Dengar dia bicara seperti pahlawan murahan!" Zhao Hu tertawa terbahak-bahak. "Oke kalau begitu, jangan bilang aku tidak adil. Kalian lima lawan aku satu! Kalau bisa membuatku berkeringat sedikitpun, aku anggap kalian menang!"
Ia melepas jakutnya dan melemparkannya ke tanah. Aura Alam Asal Level 1 meledak keluar! Angin kencang berhembus membuat rumput di sekitarnya menekuk ke tanah.
Murid-murid Kelas F mulai gemetar. Bahkan Da Wei yang sudah naik level pun tahu, jarak antara Tahap 9 dan Alam Asal itu sangat jauh.
"Kak Raymond, biarkan kami yang maju dulu!" kata Da Wei siap bertarung.
"Tidak perlu," Raymond mengangkat tangan menahan mereka. "Aku sendiri saja cukup. Kalian lihat saja."
Raymond melangkah masuk ke tengah arena, berhadapan langsung dengan Zhao Hu.
"Hah? Cuma kau? Bocah kecil kurus macam kau mau melawanku?" Zhao Hu mendengus sinis. "Siap-siap menangis!"
WUSH!
Tanpa aba-aba, Zhao Hu bergerak. Kecepatannya jauh melebihi murid biasa. Ia muncul tepat di depan Raymond dalam sekejap!
Jurus: Tinju Besi Rongsok!
Tinjunya dipenuhi energi kuning pekat. Jika kena, bisa menghancurkan batu besar!
BAM!!!
Tinju itu menghantam dada Raymond...
TAPI...
Tidak ada darah, tidak ada teriakan. Tidak ada apa-apa.
Zhao Hu membelalakkan mata. Tinjunya menempel di dada Raymond, tapi rasanya seperti memukul tembok baja yang dingin dan keras! Bahkan jari-jarinya sendiri yang terasa sakit dan nyeri!
"Gimana... gimana bisa?" Zhao Hu gemetar.
"Sudah selesai?" tanya Raymond datar. "Kalau sudah... giliranku."
PLAK!
Raymond mengayunkan tangan kanannya dengan santai.
BUK!
Tamparan itu mendarat di pipi Zhao Hu. Kekuatannya tidak terlalu besar, tapi cukup untuk membuat Zhao Hu terputar-putar dan terlempar puluhan meter jauhnya!
Ia menabrak pagar pembatas arena hingga papan-papan itu retak parah!
Bugh!
Zhao Hu jatuh tersungkur, mulutnya penuh darah, giginya copot tiga, dan kepalanya pusing tujuh keliling.
Seluruh stadion hening total.
"Baru... baru saja satu serangan?!" bisik seseorang tak percaya. "Zhao Hu yang setara Alam Asal... kalah satu pukulan?!"
"Kalian semua maju! Jangan biarkan dia sendirian!!" teriak anggota tim B yang lain yang panik.
Empat orang murid kuat lainnya langsung menyerbu bersamaan. Mereka menggunakan teknik pedang dan tombak, serangan mereka sangat ganas!
Tusukan Naga Air!
Tebasan Angin Merah!
Serangan gabungan itu cukup untuk membunuh harimau roh!
Namun, Raymond berdiri tenang di tengah badai serangan itu.
"Teknik Langkah Naga... gerak!"
Tubuh Raymond bergerak tidak terduga. Ia berjalan di celah-celah serangan itu seolah menari. Setiap langkahnya sempurna menghindari setiap serangan mematikan.
Wush! Wush! Wush!
Semua serangan meleset!
"Di mana dia?!"
"Tidak terlihat gerakannya!"
Tiba-tiba suara dingin terdengar dari belakang mereka.
"Di sini."
TRANG! TRANG! TRANG! TRANG!
Hanya dengan satu putaran tubuh, Raymond menotok bahu keempat lawan itu secara berurutan dengan kecepatan kilat!
AK! AK! AK! AK!
Keempat murid itu langsung kaku di tempat, energi mereka terputus, dan jatuh berlutut tak bisa bergerak lagi!
Dalam waktu kurang dari dua menit... seluruh Tim Kelas B... tumbang semua!
Raymond berdiri di tengah mereka, jubahnya rapi, napasnya teratur. Ia bahkan tidak berkeringat!
"Pertandingan selesai... Pemenangnya adalah Kelas F!" teriak wasit dengan suara gemetar, masih syok dengan apa yang baru dilihatnya.
ROAAAARRR!!!
Penonton yang mendukung Kelas F (walau tadinya sedikit) langsung bersorak kegirangan!
"GILA! ITU MANUSIA ATAU DEWA?!"
"RAYMOND! RAYMOND! RAYMOND!"
Di tribun utama, wajah Long Ao dan Lei Hao berubah hijau pucat. Mereka menggenggam tangan kursi hingga paku-pakunya patah.
"Mustahil... itu mustahil! Bagaimana bisa murid F sekuat itu?!" teriak Lei Hao tak terima.
Long Ao menatap tajam ke bawah ke arah Raymond yang sedang ditandu teman-temannya. Matanya memancarkan api cemburu dan dendam.
"Bagus... sangat bagus. Kau memang punya modal. Tapi permainan baru saja dimulai. Besok adalah pertandingan perempat final... dan kau akan berhadapan dengan timku."