Gita mati karena penghianatan, ia didorong oleh keluarga dan sahabatnya sendiri ke tengah zombie demi menyelamatkan diri mereka. namun, Gita kembali ke masa satu bulan sebelum wabah mematikan menghancurkan dunia. dengan ingatan masa depan dan sebuah kalung Dimensi misterius, Gita bersiap menghadapi kiamat sebelum menjauh dari orang - orang yang pernah membunuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duna Dara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Langit pagi yang awalnya cerah tiba - tiba berubah gelap. angin berputar lebih kencang hujan turun deras menghantam jalan, atap rumah, dan kaca jendela tanpa henti.
WUUUSSSHHHH...!!
Sebuah papan besi terlempar lalu terbanting dengan keras ke tanah
BRRAAAKK!!
Kilatan petir raksasa menyambar langit terus menerus
GLEEEDARRR!!!
Suara dentumannya begitu kuat hingga kaca - kaca bergetar dan alarm mobil mulai berbunyi bersautan.
Angin semakin menggila membawa suara benda - benda berat yang saling bertabrakan
DUUMM!! BRAKK!! KRAANGG!!
Di tengah badai yang mengamuk, Petir terus menggelegar tanpa henti.
DARR! GLEDAARRR!!
Suara petir seperti membelah langit.
Membuat semua orang terbangun karena suara petir yang menggelegar.
"Kiamat di mulai" gumam Gita sembari melihat ke luar kaca.
Badai di luar begitu dahsyat hembusan angin berputar di sekeliling gedung, petir saling menyambar membuat siapapun orang tidak akan berani keluar dari rumah masing - masing.
Tanpa mereka sadari jika pusaran angin itu bukan hanya di satu titik saja tapi lebih dari 1000 titik di bumi ini...
Dengan angin yang sangat kencang, apartemen Gita berdiri dengan kokoh kacanya pun tidak bergetar saat petir menggelegar begitu dahsyat nya.
"Pemandangan ini akan berlangsung sampai 3 hari, pantas saja di masa depan kota tenggelam hujan sederas ini" gumam Gita
Gita mengambil remot dari samping ranjangnya, remot kontrol tirai yang di pasang double untuk menutup agar cahaya petir tidak masuk ke dalam apartemen, tadi Gita hanya menutup satu lapis gorden jadi cahaya petir masih masuk ke dalam apartemen nya.
Setelah gorden kedua di tutup cahaya petir pun tidak masuk, dan Gita pun mengaktifkan mode kedap suara seketika suara langsung tak terdengar lagi.
Jika bukan karena sistem yang merubah kedap suaranya ke mode optimal 100% di unit apartemen Gita, kemungkinan suara petir masih akan terdengar walupun sudah memasang peredam suara, walupun tidak senyaring tadi namun masih terdengar cukup jelas.
Gita keluar dari dalam kamarnya gorden ruang keluarga juga sudah di tutup jadi Gita tidak perlu menutupnya karena satu remot kontrol.
Gita juga menaikan suhu di dalam rumahnya karena dingin yang mulai terasa kembali.
Gita menaikan suhu apartemen nya menjadi 24 derajat Celcius, suhu yang cocok untuk situasi sekarang.
Berbeda dengan keluarga Reza, mereka sangat ketakutan karena gorden yang tips, malah terlihat menerawang karena gorden putih tips yang terpasang di seluruh kamar
Di tambah dari sudut jendela yang mengeluarkan air karena badai deras di luar membuat air masuk ke dalam apartemen melalui celah jendela kecil sekalipun.
Membuat semua orang panik, bukan hanya keluarga Reza saja namun semua orang mungkin sampe seluruh orang yang tinggal di bumi sekarang sedang berjuang dengan badai yang sedang terjadi di tambah lagi petir yang silih bergantian tidak ada jeda berhenti membuat semua orang ketakutan.
"Ambil kain atau selimut tebal apapun asal bisa menutup kaca, kita harus segera tutup kacanya kalo kita gak tutup kita gak bisa keluar dari kamar mandi" ujar Reza
Mereka sedang diam di kamar mandi karena tempat ini adalah satu - satunya tempat yang paling aman dan tidak memiliki kaca jadi cukup aman namun tetap saja dentuman petir masih menggelegar, malah semua kaca terus bergetar hebat karena getaran dari petir.
Mereka bertiga pun dengan panik langsung bergotong royong, mencari kain, dus, selimut untuk menutupi jendela karena Cahya dari petir yang membuat mata sakit apalagi dengan suara hujan dan angin membuat semakin mencekam.
Di bawah di unit apartemen Livy, dia cukup beruntung karena hidup kembali dia sudah menyiapkan semuanya.
Namun tetap saja apartemen Livy tidak sesempurna apartemen Gita, suara dentuman petir dan getaran kaca Masih terjadi di unit apartemen nya.
Livy sedang meminum kopi sembari berjaga jaga, walupun dia gugup dia mencoba untuk tetap tenang.
"Awal kehancuran bumi di mulai" gumam Livy sembari melihat ke arah kilatan cahaya yang masih terlihat di sela sela gorden nya.
Sedangkan Gita sekarang sedang memakan iga bakar yang sangat enak yang dia beli dari restoran waktu itu, Gita mengambil iga bakar itu dari ruang dimensi dan makanan tetap panas seperti baru di buat, Gita makan dengan nyaman seperti tidak terjadi apapun di luar sana, sembari menonton film kesukaan nya.
Suara petir kilatan cahaya petir tidak masuk dan tidak terdengar dari unit kamar Gita, namun di gedung yang sama di semua unit yang lain mereka terlihat bingung.
Karena tidak terjadi kebocoran dari sela - sela kaca, kaca pun tidak bergetar.
Suara dentuman petir pun tidak terlalu keras membuat mereka terlihat lebih nyaman, mungkin ini juga karena sistem yang melakukan semuanya.
"Petirnya kaya gede banget pak, tapi kenapa suaranya gak kedengeran ya" ujar Seli
"Ya karena ada peredam suara" ucap pak Edward
"Peredam suara? kapan bapa pasang?" tanya Seli
"Dari bapa beli udah ada peredam suara, apartemen ini dulunya bekas tinggal seorang musisi mungkin aja musisi itu yang pasang peredam suara" jawab pak Edward
"Wah kita beruntung banget ya pak. kasian orang - orang di luar sana yang gak punya tempat tinggal, pasti lagi ketakutan benget" ujar Bu nila
"Iya Bu. Mungkin aja bentar lagi akan ada banjir besar, hujannya seperti gak mau berhenti" balas pak Edward
"Tapi semoga saja. Badai ini cepat berhenti ya Bu" lanjut pak Edward
"Iya pak. Amin, untung saja kita mendengarkan nona Gita dan notifikasi dari pemerintah kalo tidak habis kita pak. Rumah kita dulu hanya satu lantai bisa kebanjiran kita, dekat sungai lagi" ujar Bu nila
"Iya Bu" balas pak Edward
Pak Edward melihat dari sela gorden cahaya petir yang begitu terang membuat dia tidak berani membuka gorden, yang di lapis 2 gorden itu pun dari saran Gita.
Tring! Tring!
Notifikasi pesan grup chat apartemen terus berbunyi, sekitar 100 pesan masuk.
"Badai nya sangat besar, sangat menakutkan" pesan tetangga lantai 12
"Iya. Dan yang paling menakutkan air sudah memenuhi jalan dan sekarang hampir setinggi lantai 1" balas pesan tetangga lantai 7
Tring!
"Jika banjir semakin tinggi, unit - unit lantai bawah akan kita pindahkan ke unit yang masih kosong. Jadi tenang semuanya" pesan dari penjaga gedung apartemen.
Pesan terus masuk di grup chat apartemen, mereka terus menerus memberitahukan keadaan mereka dan keadaan banjir yang semakin meninggi.