NovelToon NovelToon
Nai "Panggil Bunda Saja"

Nai "Panggil Bunda Saja"

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Navy Ane

Kisah Nayla dimulai dari hal-hal sederhana, namun perlahan mengarah ke sesuatu yang tidak lagi bisa ia hindari—dan dari sana, hidupnya tidak pernah benar-benar sama lagi.

Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.

Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.

Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Pelukan yang Tak Mau Lepas”

Setelah mencoba beberapa kali, Arkan tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Akhirnya, Nayla menyerah dan memutuskan untuk menggendongnya sampai mobil.

Dengan hati-hati, Nayla berdiri dan berjalan menuju mobil, sementara yang lain membantu membukakan pintu.

Namun, Arkan masih enggan melepas pelukannya.

Melihat itu, Diana pun meminta bantuan Nayla untuk sekalian menidurkannya di rumah.

Nayla mengangguk setuju.

Mana bajuku di bagian dada sudah penuh dengan iler lagi… keluh Nayla dalam hati.

Sepanjang perjalanan, Arkan tetap merapat dan tidak mau lepas, seolah takut dipisahkan.

Tak lama kemudian, mereka pun tiba di depan rumah Arkan. Sebelumnya, Diana sempat bercerita bahwa ayahnya sangat sibuk bekerja, sehingga jarang berada di rumah—paling hanya datang sebulan sekali, itu pun sekadar bermalam selama dua hari.

Rumah itu benar-benar besar. Halamannya luas, bahkan terdapat taman bermain.

Sepertinya ini memang rezekiku… batin Nayla.

Kebetulan, seminggu lagi kontrak kerjanya akan selesai. Awalnya ia berniat memperpanjang kontrak, tapi dengan adanya tawaran ini… Siapa yang tidak tergiur

Haha…

Pinggangnya terasa nyeri, seolah ingin patah. Sebenarnya, ia tidak boleh terlalu lama menggendong atau mengangkat beban berat. Ia memiliki saraf terjepit, sehingga jika terlalu lelah, rasa sakitnya bisa kambuh.

Saat ini, Nayla berjalan menuju kamar Arkan bersama Bibi Rani.

Ia sempat berpikir kamar Arkan akan penuh dengan hiasan atau mainan anak-anak. Namun ternyata, ruangan itu cukup sederhana untuk ukuran kamar anak laki-laki.

Hanya ada kasur dan lemari pakaian. Seluruh lantainya dilapisi karpet tebal berwarna biru elektrik, senada dengan gorden dan selimut.

Ruang bermain berada tepat di sebelah kamar, bahkan terhubung dengan pintu kecil.

Bibi Rani menjelaskan bahwa Arkan dilarang membawa mainan ke dalam kamar. Karena itu, kamar selalu terlihat rapi. Lagi pula, Arkan memang jarang menghabiskan waktu di kamar—hanya untuk tidur.

Saat Nayla mencoba membaringkannya, Arkan kembali menolak. Pelukannya begitu erat, seperti kepiting—sulit sekali dilepaskan.

Akhirnya, Nayla ikut berbaring.

Perlahan, pelukan Arkan mulai mengendur.

“Huh…” Nayla menghela napas panjang.

Bibi Rani juga terlihat kelelahan. Tadi mereka benar-benar berusaha keras melepaskan pelukan Arkan, meskipun nyaris tidak berhasil.

Setelah beristirahat sejenak, Bibi Rani mengajak Nayla berkeliling rumah. Bahkan, Nayla langsung diminta untuk pindah malam ini, khawatir jika Arkan terbangun dan kembali mengamuk.

Diana juga mengatakan bahwa Nayla tidak perlu membawa apa pun. Semua kebutuhannya akan diurus oleh Siska.

Nayla hanya diminta untuk beristirahat dan menyesuaikan diri.

Setelah selesai berkeliling, Bibi Rani menunjukkan kamar yang akan ditempati Nayla—tepat di sebelah kamar Arkan.

Sekarang sudah pukul enam lewat dua puluh menit.

Di dalam kamar Nayla segera membersihkan diri.

Ia sedikit terheran. Semua kebutuhannya sudah tersedia di kamar, bahkan tertata rapi.

Bagaimana mereka bisa mengurus semuanya secepat ini? pikirnya bingung.

Benar saja, saat Nayla sedang mengeringkan rambut, ia mendengar tangisan Arkan.

Di kamar itu terdapat jendela kecil berukuran sekitar 20x20 cm yang menghubungkan kamarnya Arkan dan kamar Nayla. Jadi suaranya tangisnya terdengar jelas.

Nayla segera bergegas.

Jeritan Arkan terdengar melengking. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa tidak ada mainan di kamarnya—ia bisa melempar apa saja yang ada di dekatnya.

Seperti sekarang.

Bantal dan selimut berserakan karena dilempar.

Namun, begitu melihat Nayla, Arkan langsung berlari dan memeluk kakinya.

Ia menatap Nayla dengan ragu dan sedikit takut—mungkin karena salah satu lemparannya sempat mengenai Nayla.

Nayla berjongkok, lalu merapikan rambut Arkan dengan lembut.

“Kenapa Arkan nangis? Arkan tidak boleh teriak-teriak begitu. Nanti tenggorokannya sakit… terus suaranya bisa hilang, loh,” ucapnya pelan."

"Jadi, tidak boleh ya,” sambung Nayla.

Arkan mengangguk pelan, lalu kembali memeluknya erat.

“Arkan takut kakak pergi…” ucapnya lirih sambil melepas pelukan dan menatap Nayla dengan mata besar yang berkaca-kaca.

Nayla langsung terdiam.

Tatapan itu…

Kenapa sih anak ini bisa lihat aku kayak gitu? batinnya.

Ada sesuatu di mata Arkan—bukan sekadar takut ditinggal, tapi seperti… kehilangan.

Hati Nayla langsung mencelos.

“Ih, Arkan gemas banget, sih…” ucapnya, berusaha mencairkan suasana, sambil mengunyel pipi gembul anak itu. “Kakak jadi pengin gigit, tahu.”

Daripada aku nangis duluan… pikirnya.

Arkan malah mendekatkan wajahnya tanpa ragu.

“Nih, gigit saja,” katanya polos sambil menunjuk pipinya yang merah.

Nayla menahan napas.

Ya ampun… ini anak beneran ya?

Dengan gaya dramatis, Nayla tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya ke lantai sambil memegangi dada.

“Ahh… hatiku berdebar-debar… aku terpesona oleh wajahmu yang sangat tampan…”

Ia bahkan memejamkan mata, pura-pura lemas.

Arkan terdiam sesaat.

Lalu—

ia tertawa kecil.

Wajahnya langsung memerah, matanya menyipit malu, tapi senyumnya lebar sekali.

“Kakak aneh…” gumamnya pelan.

Nayla membuka satu mata, mengintip reaksinya.

Ya ampun… ini makhluk apa, sih?

Dadanya terasa hangat.

Kenapa aku jadi sesenang ini cuma lihat dia ketawa?

Namun, kesadarannya kembali.

Dan rasa malu langsung menyerbu.

Astaga… aku ngapain barusan?!

Nayla langsung bangkit duduk, berdehem pelan, mencoba bersikap normal.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal— pipinya sudah panas.

Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu. Ada yang memperhatikan.

Nayla menoleh.

Dan benar saja.

Seseorang berdiri di depan pintu.

“Sepertinya seru sekali. Kalian sedang bermain apa?” tanya Diana dengan senyum tipis.

Nayla langsung menegakkan punggungnya.

Ya Tuhan… tolong telan aku sekarang juga.

“Oma!” seru Arkan senang.

Ia langsung berbalik, lalu berkata dengan penuh semangat, “Tadi kakak pingsan, oma! Karena enggak tahan lihat Arkan ganteng banget!”

Nayla membeku.

Senyumnya tertahan.

Kaku.

Habis aku…

Ia hanya bisa tersenyum tipis, berusaha terlihat santai.

Padahal dalam hati—

Aku pengin menghilang dari dunia ini.

Seketika.

Detik itu juga.

“Wajahnya Arkan memang tampan! Oma saja sampai terpesona, kok.”

“Tapi kenapa Oma enggak pernah pingsan kayak kakak?” tanya Arkan spontan.

Nayla dan Diana saling pandang.

Lalu—

mereka tertawa bersamaan.

Setelah drama kecil itu, mereka memutuskan untuk makan malam.

Di meja makan, Diana terus memuji Nayla. Bahkan ia meminta Nayla untuk memanggilnya dengan sebutan “Oma”.

Suasana terasa hangat.

Arkan sendiri masih belum selesai makan. Saat ini, Nayla sedang menyuapinya dengan sabar.

Di sela-sela itu, Diana mulai bercerita.

Dan cerita-ceritanya… cukup mengejutkan.

“Arkan itu jarang sekali tertawa,” ujar Diana pelan. “Kalau pun tertawa, biasanya karena habis mengerjai orang.”

Nayla sedikit terkejut.

“Semua orang di lingkungan ini pernah dia kerjain. Jadi, kalau Arkan keluar rumah… semua sudah tahu, pasti akan ada keributan.”

Diana tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa.

“Anak kecil, ibu-ibu, bapak-bapak—semua pernah jadi korban. Bahkan kalau berpapasan dengan Arkan, orang-orang cenderung menghindar.”

Nayla menatap Arkan.

Se-nakal itu? pikirnya.

“Memangnya Arkan biasanya mengerjai seperti apa, Oma?” tanyanya penasaran.

“Macam-macam,” jawab Oma. “Ada yang ditembaki pistol air, pistol cat, pistol karet… ada juga yang ditempeli permen karet. Pernah juga menggores kendaraan orang.”

Nayla sedikit terdiam.

“Dia juga suka memukul pantat orang yang lewat, mendorong anak-anak sampai menangis…”

Oma berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih serius,

“Bahkan ada kejadian yang lebih parah. Belum lama ini terjadi.”

Nayla menelan ludah pelan.

“Ada mempelai laki-laki yang mau ijab kabul. Dia sedang bersiap masuk ke mobil. Coba tebak… apa yang Arkan lakukan?”

Nayla terdiam.

Ya ampun… sejauh itu?

Namun entah kenapa—

bukannya kesal, ia justru merasa iba.

Ia menatap Arkan yang masih membuka mulut kecilnya, menunggu suapan berikutnya.

Tatapannya… berbeda.

Ada sesuatu di sana.

Seperti ketakutan.

Seperti rasa bersalah.

Dan… sedikit malu.

Tangannya sejak tadi memainkan ujung baju Nayla.

Nayla langsung melunak.

Ia mengusap kepala Arkan dengan lembut, lalu mengelus pipinya.

“Tidak apa-apa… sekarang Arkan sudah jadi anak baik, kan? Sudah tidak nakal lagi,” ucapnya pelan.

Arkan mengangguk.

Perlahan, ekspresinya berubah. Senyum kecil mulai muncul.

Wajahnya kembali cerah.

Dia sebenarnya anak baik… batin Nayla.

Hanya saja… mungkin tidak ada yang benar-benar memahaminya.

Nayla kembali fokus pada cerita tadi.

Ia mencoba menebak.

“Ditembaki pakai pistol warna?” tebaknya.

Diana langsung tersenyum.

“Betul sekali.”

Nayla menghela napas pelan.

“Bayangkan semarah apa keluarga dan mempelai laki-lakinya. Jas putih… dan itu baju sewaan. Harganya mahal.”

Nada suara Diana terdengar lebih serius.

“Waktu itu juga sudah mepet. Mencari jas pengganti dalam waktu singkat jelas tidak mudah.”

Nayla bisa membayangkan kekacauannya.

“Arkan malah tertawa,” lanjut Diana. “Hampir saja dia dipukul.”

Nayla menatap Arkan lagi, refleks.

Namun kali ini, ia tidak melihat anak nakal.

Ia melihat… anak kecil.

Yang mungkin tidak benar-benar paham.

“Saat itu Oma sedang di luar kota. Ayahnya juga tidak ada. Bibi Rani dan Siska panik sekali.”

Diana menghela napas.

“Pokoknya itu keributan terbesar yang pernah terjadi.”

Nayla menelan ludah pelan.

“Terus… acaranya jadi telat, tidak, Oma?” tanyanya hati-hati.

1
Wawan
Semangat ✍️
Dewi Sinta
🤣🤣🤣🤣🤣
Lisna 1999
sejauh ini seru alur ceritax
Navy Ane: Author akan berusaha buat alur yang bagus 💪🤎
total 1 replies
Lisna 1999
wahhh gue juga mw JD pengasuh
Navy Ane: huhu😭
total 1 replies
Lisna 1999
🤭
Lisna 1999
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!