Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Di Antara Dua Cinta
Tiga hari telah berlalu sejak malam ketika Baskara kembali menghilang. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun bagi Aisha. Malam itu, Arka menelepon dengan napas memburu—Baskara tidak ada di kamarnya, jendela kamar terbuka, dan sepatu anak itu hilang dari rak.
Aisha nyaris pingsan. Ia membayangkan Ren kembali menculik anaknya, atau lebih buruk lagi, Baskara melarikan diri karena tak tahan dengan kenyataan yang menghimpit.
Tapi dua jam kemudian, polisi menemukan Baskara di stasiun kereta Gambir. Anak itu duduk di bangku panjang, menggenggam tiket kereta api menuju Surabaya—kota tempat neneknya, ibu Arka, tinggal. Ia tidak menangis, tidak ketakutan. Ia hanya berkata pada petugas, “Aku mau ke rumah nenek. Aku tidak betah di Jakarta.”
Arka menjemputnya. Sepanjang perjalanan pulang, Baskara tidak bicara sepatah kata pun. Arka juga tidak. Mereka pulang dalam keheningan yang lebih dingin dari sebelumnya.
Keesokan harinya, Arka mengambil keputusan tegas: Baskara akan tinggal sementara waktu dengan neneknya di Surabaya. Arka akan menyusul setelah urusan kantornya beres. Aisha dilarang mengunjungi sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
“Dia butuh jeda dari semua ini,” kata Arka saat mereka bertemu di kantor pengacara untuk menandatangani berkas perceraian tahap awal. “Termasuk darimu, Aisha.”
Aisha menggigit bibir. Di depannya, berkas demi berkas menumpuk. Setiap lembar yang ia tanda tangani terasa seperti pisau yang mengiris sisa-sisa ikatan di antara mereka.
“Aku tidak akan menentang keputusanmu,” jawab Aisha akhirnya. “Tapi aku ingin bicara dengan Baskara sebelum dia berangkat. Sekali saja.”
Arka menatapnya lama. Ada luka di matanya yang belum sembuh, tapi ada juga sesuatu yang lain—sesuatu yang mirip dengan simpati.
“Besok pagi, jam delapan. Di apartemen. Aku akan antar Baskara ke bandara jam sepuluh.”
Aisha mengangguk. “Terima kasih, Arka.”
Arka tidak menjawab. Ia hanya menggeser map berisi dokumen lain ke hadapan Aisha.
“Ini surat pernyataan harta bersama. Baca dulu sebelum tanda tangan. Pengacaraku sudah memastikan semuanya adil.”
Aisha tidak membaca. Ia mengambil pulpen dan langsung membubuhkan tanda tangan di setiap garis putus-putus. Rumah mewah di kawasan hijau, mobil, tabungan bersama—semuanya ia lepaskan tanpa perlawanan.
“Kau bahkan tidak membaca?” Arka mengerutkan kening.
“Aku tidak butuh apa-apa. Cukup aku bisa melihat Baskara tumbuh dewasa.”
Arka menghela napas. Ia merapikan dokumen-dokumen itu, lalu berdiri.
“Besok jam delapan. Jangan terlambat.”
Pagi itu, Aisha sudah berada di lobi apartemen Arka sejak pukul setengah tujuh. Ia memakai kemeja biru muda—lagi-lagi biru muda, warna yang dulu Baskara sukai. Rambutnya ia biarkan tergerai, sedikit ikal di ujung. Ia bahkan memakai lipstik warna natural, berusaha tampak segar meski matanya sembab karena kurang tidur.
Di tangannya ada kotak makan berisi nasi goreng buatan sendiri, lengkap dengan kecap manis dan telur mata sapi. Ia juga membawa buku gambar baru dan pensil warna—hadiah yang dulu selalu ia berikan setiap kali Baskara akan bepergian.
Jam menunjukkan pukul delapan tepat ketika lift terbuka. Arka keluar dengan Baskara di sampingnya. Anak itu memakai jaket biru, ransel di punggung, dan wajah yang sulit dibaca.
Aisha berdiri, berusaha tersenyum. “Pagi, Nak.”
Baskara berhenti beberapa langkah darinya. Ia menatap Aisha, lalu menunduk.
“Pagi, Bu.”
Suaranya lirih, datar. Tidak ada kemarahan, tapi juga tidak ada kehangatan.
Arka menepuk bahu Baskara pelan. “Aku tunggu di mobil. Kamu punya tiga puluh menit.”
Setelah Arka pergi, Aisha dan Baskara duduk di kursi lobi. Jarak satu kursi memisahkan mereka. Aisha meletakkan kotak makan di atas meja di hadapan Baskara.
“Ibu bawain sarapan. Nasi goreng, resep yang dulu.”
Baskara membuka kotak itu. Aroma nasi goreng langsung menyebar. Anak itu diam sejenak, lalu mengambil sendok plastik dan mulai makan.
“Enak?” tanya Aisha.
“Masih sama kayak dulu,” jawab Baskara tanpa menoleh.
“Kamu suka?”
Baskara mengangguk kecil. Mereka makan dalam diam selama beberapa menit. Aisha hanya minum kopi dari mesin otomatis lobi. Matanya tidak lepas dari Baskara, berusaha menangkap setiap perubahan kecil di wajah anak itu.
Setelah selesai, Baskara menutup kotak makan dan mendorongnya pelan ke arah Aisha.
“Bu,” katanya tiba-tiba. “Aku pergi ke Surabaya karena aku capek. Bukan capek sekolah atau capek main. Capek... mikirin semuanya.”
Aisha menahan napas. “Ibu mengerti.”
“Setiap malam aku mimpi buruk. Aku lihat Ibu sama Om Ren. Aku lihat Ayah nangis. Aku lihat rumah kita kosong. Aku bangun, aku keringetan, dan aku... aku benci tidur.”
“Baskara...”
“Aku juga benci makan bareng Ayah karena Ayah cuma diam. Aku benci pergi ke sekolah karena teman-teman mulai tanya kenapa Ibu nggak pernah jemput. Aku benci semuanya, Bu.”
Baskara menunduk. Tangannya mengepal di pangkuan.
“Aku benci Ibu. Tapi aku juga kangen Ibu. Dan itu yang paling aku benci.”
Aisha merasakan dadanya ditusuk perlahan. Ia ingin meraih tangan anak itu, tapi ia tahan.
“Tidak apa-apa benci Ibu, Nak. Tidak apa-apa kangen juga. Semua perasaan itu wajar.”
“Tapi kenapa Ibu bisa melakukan itu?” Baskara mengangkat wajah. Matanya basah, tapi ia menahan air mata dengan gigih. “Kenapa Ibu tega? Apa aku dan Ayah nggak cukup buat Ibu?”
Pertanyaan itu kembali menghantam. Aisha menunduk, mencari kata-kata yang tepat.
“Baskara, kesalahan Ibu bukan karena kamu atau Ayah tidak cukup. Itu murni karena kelemahan Ibu sendiri. Ibu tidak bisa mengendalikan diri. Ibu berpikir Ibu bisa punya semuanya tanpa kehilangan apa pun. Ibu salah. Ibu salah besar.”
“Ibu bilang Ibu sayang Ayah. Tapi kalau sayang, kenapa Ibu tega?”
“Karena kadang, Nak, cinta tidak membuat seseorang menjadi pintar. Cinta bisa membuat orang bodoh. Ibu bodoh. Ibu mengambil jalan yang salah karena Ibu terlalu lemah untuk bilang tidak.”
Baskara menggigit bibirnya. “Ibu masih sayang Ayah?”
Aisha menghela napas panjang. “Ibu mencintai Ayah. Ibu selalu mencintai Ayah. Bahkan ketika Ibu melakukan hal yang salah, cinta Ibu pada Ayah tidak pernah hilang. Tapi cinta saja tidak cukup, Nak. Ibu belajar bahwa memiliki perasaan cinta tidak membenarkan tindakan yang menyakiti.”
“Om Ren bilang Ibu tidak pernah cinta sama dia. Itu bener?”
“Bener. Ibu tidak pernah mencintai Om Ren. Ibu hanya... kesepian. Dan Om Ren memanfaatkan rasa kesepian itu. Tapi itu bukan alasan. Ibu tetap yang bertanggung jawab atas pilihan Ibu.”
Baskara diam lama. Aisha melihat anak itu bergumul dengan sesuatu di dalam pikirannya.
“Bu,” kata Baskara akhirnya. “Aku maafin Ibu.”
Aisha tersentak. “Nak...”
“Tapi belum sekarang,” Baskara memotong cepat. “Aku belum bisa. Mungkin pas aku udah besar. Mungkin pas aku udah ngerti kenapa orang dewasa bisa buat kesalahan sebesar itu. Tapi sekarang, aku cuma bisa bilang... aku nggak mau benci Ibu lagi. Karena capek.”
Air mata Aisha jatuh. Ia tidak bisa menahannya lagi. “Ibu mengerti. Ibu akan menunggu. Sampai kapan pun.”
“Ibu jangan menunggu sambil diam aja,” Baskara menatapnya. “Ibu harus buktiin kalau Ibu beneran berubah. Bukan cuma janji. Aku mau liat.”
“Ibu akan buktikan. Ibu janji.”
Baskara mengangguk. Ia meraih kotak bekal di meja, membuka lagi, dan mengambil sepotong telur mata sapi yang tersisa. “Nasi gorengnya enak. Buat lagi pas aku pulang nanti.”
“Ibu buat. Setiap kali kamu mau.”
Baskara tersenyum kecil. Senyum yang rapuh, tapi nyata. “Aku pamit, Bu. Nanti ketinggalan pesawat.”
Aisha berdiri. Ia ingin memeluk anaknya, tapi ia ragu. Baskara melihat keraguan itu.
“Bu, peluk,” katanya dengan suara nyaris berbisik.
Aisha langsung membuka tangannya. Baskara memeluknya, erat. Aisha mencium rambut anak itu, mencium aroma sabun yang sama seperti dulu. Ia merasakan tubuh Baskara yang mulai meninggi, mulai menunjukkan tanda-tanda menjadi remaja.
“Ibu sayang kamu, Nak. Ibu sayang banget.”
“Aku juga sayang Ibu,” Baskara berbisik di bahu Aisha. “Tapi jangan pernah sakiti Ayah lagi. Jangan pernah sakiti aku lagi.”
“Ibu tidak akan. Ibu berjanji pada hidup Ibu.”
Mereka berpelukan cukup lama. Sampai suara klakson mobil Arka terdengar dari luar.
Baskara melepaskan pelukannya. Ia mengambil ransel, memastikan semuanya ada. Lalu ia menatap Aisha sekali lagi.
“Bu, jaga diri. Jangan ketemu Om Ren lagi.”
“Ibu tidak akan.”
“Ibu janji?”
“Ibu janji.”
Baskara mengangguk, lalu berjalan keluar. Aisha mengikutinya hingga pintu lobi. Dari sana, ia melihat Baskara naik ke mobil Arka. Sebelum pintu mobil tertutup, Baskara menoleh dan melambaikan tangan.
Aisha melambaikan kembali. Ia berdiri di pintu lobi hingga mobil itu hilang di tikungan.
Arka tidak menatapnya. Tapi Aisha tahu, di balik kaca spion, pria itu mungkin melirik sekilas. Mungkin ada sesuatu yang ingin ia katakan, tapi ia tahan.
Setelah kepergian Baskara, apartemen Aisha terasa lebih kosong dari sebelumnya. Ia menghabiskan hari-hari dengan membersihkan rumah, memasak untuk dirinya sendiri, dan sesekali menatap ponsel berharap ada kabar dari Surabaya.
Arka mengirim foto Baskara seminggu sekali. Foto-foto itu memperlihatkan Baskara yang mulai tersenyum. Di satu foto, ia sedang memancing dengan neneknya. Di foto lain, ia sedang bermain dengan sepupu-sepupunya.
Aisha menyimpan semua foto itu. Ia membuat album khusus di ponselnya, diberi judul “Anak Ibu”.
Ia juga mulai serius menjalani konseling. Bu Dewi, psikolognya, memberinya “pekerjaan rumah”: menulis jurnal setiap hari tentang apa yang ia rasakan, tanpa menyalahkan diri sendiri.
Hari pertama, Aisha hanya menulis: “Hari ini aku merasa kosong.”
Hari ketiga: “Aku melihat anak kecil di mal. Aku membayangkan itu Baskara. Aku menangis di toilet.”
Hari ketujuh: “Aku memasak nasi goreng lagi. Rasanya sama seperti dulu. Tapi tidak ada yang makan. Aku menangis lagi, tapi kali ini sambil tersenyum.”
Bu Dewi membaca jurnal itu setiap sesi. “Ada kemajuan,” katanya. “Ibu mulai mengakui perasaan tanpa menghakimi diri sendiri.”
“Tapi rasa bersalahnya masih ada,” jawab Aisha.
“Rasa bersalah akan selalu ada. Tugas Ibu bukan menghilangkannya, tapi menjadikannya motivasi untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Aisha mengangguk. Ia mulai memahami bahwa proses ini panjang. Tidak ada jalan pintas menuju pemulihan.
Suatu sore, ketika Aisha sedang membaca buku di balkon, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
Ia mengangkat dengan sedikit ragu. “Halo?”
“Aisha.”
Suara itu membuat seluruh tubuhnya membeku. Ren.
“Jangan tutup telepon,” kata Ren cepat. “Aku cuma mau bilang sesuatu.”
“Apa yang kau inginkan?” Aisha berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Aku tahu Baskara di Surabaya. Aku tahu Arka menyembunyikannya di sana. Aku juga tahu kau sendirian di apartemen itu.”
“Ren, jika kau mencoba mengancamku—”
“Ini bukan ancaman,” potong Ren. Suaranya lembut, terlalu lembut. “Aku cuma ingin kau tahu, aku menyesal. Bukan karena apa yang terjadi pada Baskara. Tapi karena aku kehilanganmu.”
“Kau tidak pernah memilikiku, Ren.”
“Aku tahu. Itu yang menyakitkan.” Ren tertawa kecil. Tawa yang pahit. “Kau tahu, Aisha, aku sadar sekarang. Aku tidak pernah mencintaimu. Aku hanya terobsesi. Obsesi itu yang membuatku melakukan hal-hal bodoh.”
“Kalau kau sadar, tinggalkan kami. Jangan pernah menghubungi aku lagi.”
“Aku akan mencoba. Tapi sebelum itu, aku ingin kau tahu satu hal: Arka tidak sebersih yang kau kira. Dia juga punya rahasia. Rahasia yang akan mengubah pandanganmu tentang pernikahan kalian.”
Jantung Aisha berdegup kencang. “Apa maksudmu?”
“Cari tahu sendiri. Atau tanyakan pada Arka tentang Mia.”
Panggilan terputus.
Aisha memegang ponselnya dengan tangan gemetar. Mia? Siapa Mia? Ia belum pernah mendengar nama itu selama lima belas tahun pernikahannya dengan Arka.
Ia mencoba menelpon balik nomor itu, tapi sambungan sudah tidak aktif.
Sepanjang malam, Aisha tidak bisa tidur. Nama itu berputar-putar di kepalanya: Mia. Siapa Mia? Apa hubungannya dengan Arka? Apa maksud Ren dengan “rahasia” Arka?
Apakah mungkin selama ini Arka juga menyembunyikan sesuatu? Atau ini hanya taktik Ren untuk menghancurkan mereka lebih jauh?
Aisha mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Arka, jarinya menggantung di atas tombol panggil.
Ia ingin bertanya. Tapi jika Arka memang menyembunyikan sesuatu, apakah ia siap mendengar jawabannya? Dan apakah ia masih punya hak untuk bertanya, setelah semua yang ia lakukan?
Di luar, hujan mulai turun. Aisha mematikan lampu kamarnya, membiarkan kegelapan menyelimuti.
Ia tidak tahu bahwa di Surabaya, di rumah neneknya, Baskara juga terbangun di tengah malam. Bukan karena mimpi buruk tentang ibunya, tapi karena pesan singkat yang masuk ke ponselnya dari nomor tidak dikenal.
Pesan itu berbunyi: “Tanya ayahmu tentang Mia. Dia akan tahu.”
Baskara membaca pesan itu berulang kali. Matanya menyipit di tengah gelap.
Siapa Mia?
Dan mengapa pesan itu dikirim padanya?