NovelToon NovelToon
Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Dewa Perang Dan Pendekar Bar Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: SecretPenaa_

Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .

Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duri di gerbang istana

Gerbang besi raksasa istana Selatan terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit logam yang berat. Terompet perak ditiupkan dari atas menara, memecah kesunyian sore.

"Pangeran Cakra telah tiba! Buka jalan!" teriak komandan penjaga gerbang.

Cakra masuk dengan dagu terangkat, tetap membiarkan Nayan berada di atas kudanya. Namun, kemeriahan sambutan itu tak menyentuh seorang pria yang berdiri di balkon lantai dua aula utama. Julian berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dada sambil menyesap anggur merahnya. Matanya yang dingin terkunci pada sosok Nayan.

"Jadi ini mainan baru yang kau bawa dari lumpur desa, Kakakku sayang?" gumam Julian dengan tawa sinis yang nyaris tak terdengar.

Julian turun ke pelataran, melangkah dengan keangkuhan yang kental. Ia sengaja mencegat langkah kuda Cakra tepat di tengah halaman istana.

"Selamat datang kembali Pangeran Cakra ." sapa Julian, namun nada bicaranya tidak mengandung sedikit pun rasa hormat. Matanya langsung beralih ke arah Nayan, menelisik dari ujung rambut hingga kaki dengan tatapan merendahkan.

"Lalu... gadis ini?" Julian bertanya sambil menunjuk Nayan dengan dagunya. "Apa dia pelayan barumu, Cakra? Atau kau memungut pengemis cantik di pinggir jalan untuk membersihkan sepatu zirahmu?"

Seketika, atmosfer di tempat itu mendingin. Nayan, yang masih duduk di depan Cakra, merasakan darahnya mendidih. Ia tidak menunduk. Sebaliknya, ia membalas tatapan Julian dengan netra tajam yang menusuk.

"Siapa pria bermulut sampah ini? Aku rasa pria ini sebelas duabelas sama dengan Elias . Tatapannya begitu licik seperti sedang menyembunyikan sebuah kebusukan ." gumam Nayan dalam hati .

Cakra tidak segera menjawab. Ia turun dari kuda dengan gerakan tenang, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Nayan turun dengan sangat lembut ,sebuah gestur yang sengaja ia tunjukkan untuk menampar harga diri Julian.

"Namanya Nayan, Julian. Dan sebaiknya kau jaga lidahmu jika masih ingin melihat matahari besok pagi ! " ucap Cakra datar, namun suaranya membawa ancaman yang nyata.

Riu, yang baru saja turun dari kudanya bersama Ana, langsung melangkah maju dengan wajah masam. Ia menempatkan dirinya di antara Julian dan Nayan.

"Waduh, Pangeran Julian! Baru juga sampai, telingaku sudah gatal mendengar suaramu." semprot Riu tanpa rasa takut. Ia membersihkan debu di bahu zirah Cakra dengan kasar sambil melirik Julian. "Gadis ini punya nama, dan dia bukan pelayan. Dia tamu terhormat Pangeran Cakra. Jadi, kalau kau butuh pelayan untuk mengurusi kesepianmu itu maka cari saja di dapur, jangan di sini!"

Julian tertawa meremehkan. "Tamu terhormat? Sejak kapan istana kita jadi tempat penampungan rakyat jelata?"

Riu mendengus, ia menoleh ke arah Ana lalu kembali menatap Julian. "Dengar ya, Pangeran , Terkadang rakyat jelata punya harga diri yang lebih tinggi daripada pangeran yang kerjanya cuma minum anggur sambil nyinyir. Kau mau tahu apa tugas Nayan? Tugasnya adalah membuat Pangeran Cakra tetap waras di tengah keluarga yang isinya orang-orang sepertimu!"

Tangan Julian mengepal erat , Rahangnya mengeras menahan gejolak di dadanya . Tatapan tajam pun dia layangkan pada pengawal setia saudaranya itu .

" Lancang sekali mulutmu ! Berani beraninya seorang bawahan rendah sepertimu bicara dengan tidak sopan kepada seorang pangeran kerajaan " Nada Julian terdengar begitu rendah namun penuh penekanan .

Riu yang sudah akan menyahut pun seketika menutup mulutnya saat Cakra memberikan tatapan tajam padanya .

"Riu..., Cukup ! " potong Cakra pendek. Ia merangkul bahu Nayan, memberikan perlindungan fisik yang jelas.

"Ayo masuk, Nayan. Jangan biarkan udara di halaman ini meracunimu. Terlalu banyak polusi bicara di sini."

Julian tetap berdiri di tempatnya, seringai tipisnya tidak hilang. Ia memperhatikan punggung mereka yang menjauh dengan tatapan yang semakin gelap.

"Nikmatilah selagi bisa Cakra ! " bisik Julian penuh dendam. "Karena aku sangat suka menghancurkan barang-barang kesayanganmu."

......

Cakra membimbing Nayan masuk ke dalam kamarnya , sebuah ruangan luas yang didominasi kayu jati hitam dengan aroma gaharu yang menenangkan. Jendela besarnya langsung menghadap ke taman istana, namun bagi Nayan, kemewahan ini terasa seperti jeruji emas yang menyesakkan.

Cakra meletakkan jubah perangnya di atas kursi, lalu berbalik menatap Nayan dengan binar bangga. "Nayan, mulai sekarang tempat ini adalah rumahmu. Kamarmu juga. Jika ada yang kurang, katakan saja."

Nayan terdiam, jemarinya meremas ujung bajunya hingga kusut. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena cinta, melainkan karena rasa waspada yang mencekik.

"Cakra... tunggu," panggil Nayan, suaranya sedikit gemetar. "Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."

Cakra mendekat, langkahnya pelan dan penuh perhatian. "Ada apa? Kau tidak suka warnanya? Atau kasurnya terlalu keras? Katakan, Nayan. Aku akan meminta pelayan mengubah semuanya sekarang juga kalau kau mau."

Nayan membuang muka, menatap ke arah luar jendela.

Suara hati Nayan pun seketika meronta ."Raja Indra adalah sahabat karib mendiang Raja Seno . Berada di sini sama saja dengan menyerahkan leherku ke algojo setiap hari. Selama perang, topeng perakku menyelamatkanku, tapi di istana ini? Satu tatapan salah dari Raja Indra, dan habislah aku. Aku harus menjauh dari pusat perhatian."

Cakra mengernyitkan dahi melihat Nayan yang hanya terdiam membatu. Ia melambaikan tangannya di depan wajah Nayan. "Hey... Nayan? Kau masih di sini?"

Nayan tersentak, napasnya sedikit memburu. "Ah... itu, Cakra. Aku... aku berpikir mungkin akan lebih nyaman jika kau membiarkanku tinggal di paviliun saja. Di bagian belakang istana."

Mata Cakra melebar, raut wajahnya berubah seketika menjadi tidak setuju. "Apa? Paviliun belakang? Nayan, itu deretan kamar pelayan dan gudang! Bagaimana mungkin aku membiarkan istriku tinggal di tempat seperti itu?"

Nayan segera meraih tangan Cakra, menggenggamnya erat seolah memohon. "Cakra, dengarkan aku. Istana ini... terlalu megah. Tiba-tiba menjadi wanita di samping pangeran hebat sepertimu, aku belum bisa menerimanya sepenuhnya. Aku merasa asing, Cakra. Aku belum terbiasa dengan semua aturan dan kemewahan ini."

Cakra menghela napas panjang, ia meraih wajah Nayan dengan kedua tangannya, memaksa gadis itu menatap matanya. "Aku mengerti ini berat bagimu. Tapi aku akan membantumu, Nayan. Aku akan ada di sampingmu setiap saat untuk mengajarimu. Kau tidak perlu takut."

Nayan menggeleng pelan, ia mencoba mencari alasan yang paling masuk akal bagi seorang pangeran yang sedang jatuh cinta.

"Cakra.., aku lebih mencintai ketenangan. Di paviliun itu, aku bisa bernapas. Aku tidak perlu merasa diawasi oleh ribuan pasang mata pelayan dan keluargamu."

Nayan menelan ludah, suaranya melembut, hampir berbisik. "Aku tidak butuh seluruh dunia tahu kalau aku adalah istri dari seorang pangeran hebat sepertimu. Jujur... jika aku boleh memilih, aku akan jauh lebih bahagia menjadi Nayan, istri dari seorang pria pengembara biasa."

Cakra terdiam, tampak tersentuh dengan kata-kata Nayan yang terdengar begitu rendah hati.

"Biarkan status kita ini untuk sementara hanya kita yang tahu Cakra." lanjut Nayan lagi, menatap Cakra dengan tatapan memohon yang paling dalam.

"Biarkan aku menjadi diriku sendiri sedikit lebih lama di paviliun itu. Sampai aku benar-benar siap menghadapi dunia istanamu."

Cakra menatap Nayan cukup lama, mencari kebohongan di matanya namun yang ia temukan hanyalah ketakutan yang tampak nyata. Ia menghela napas kalah.

"Kau benar-benar keras kepala Nayan . " gumam Cakra sambil menyandarkan dahi mereka.

"Baiklah. Paviliun belakang. Tapi dengan satu syarat , aku akan menaruh penjaga terbaikku di sana, dan aku akan mengunjungimu setiap malam. Jangan harap kau bisa benar-benar bersembunyi dariku."

Nayan tersenyum tipis, sebuah senyum lega yang menyembunyikan badai rahasia di baliknya. "Terima kasih, Cakra."

Bersambung...

🍅🍅🍅🍅

1
Rabbella Saputri
cakep 😍
Rabbella Saputri
ceritanya bagus thorr 😍 semangat trus 💪😍
SecretPenaa_: siappp 👍🏻 maksihhh ya udah mau baca 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!