Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 25: Operasi Mess Karyawan
Standar 'menengah' bagi seorang asisten miliarder ternyata memiliki definisi yang sangat jauh menyimpang dari kamus Badan Pusat Statistik.
Rabu sore, sepulang kerja dari PT Bina Tirta, aku mampir ke apartemen studio di daerah Karet yang disewa Daniel. Apartemennya memang tidak seluas penthouse Rayan ukurannya standar, dengan satu kasur, dapur kecil, dan kamar mandi dalam. Cukup masuk akal untuk disebut sebagai fasilitas karyawan supervisor.
Masalahnya ada pada isinya.
Saat aku membuka kulkas, alih-alih menemukan air mineral botolan biasa, aku disambut oleh deretan botol kaca sparkling water impor dari Pegunungan Alpen. Di kamar mandi, sabun cuci tangannya bermerek Jo Malone, dan handuknya tebal sekelas hotel bintang lima.
Sambil menghela napas panjang meratapi ketidakpekaan orang kaya, aku mengambil kantong kresek hitam besar. Aku memasukkan semua barang mewah itu ke dalamnya, lalu menyembunyikannya di laci paling bawah lemari pakaian.
Aku turun ke minimarket di lantai dasar, membeli dua botol air mineral ukuran besar, sabun mandi batangan warna hijau, sampo sachet, dan sebungkus roti tawar murahan. Aku meletakkan ID Card logistikku secara asal di atas meja, bersama tumpukan kertas buram.
Dalam waktu empat puluh lima menit, apartemen wangi ini resmi turun kasta menjadi mess karyawan kelas pekerja yang realistis.
Kamis siang, aku mengambil izin setengah hari untuk menjemput Ibu di Stasiun Pasar Senen.
Begitu melihat sosoknya di pintu kedatangan, dadaku otomatis terasa sedikit berat. Ibu mengenakan gamis cokelat andalannya, membawa tas jinjing besar berisi entah apa, dan raut wajahnya tampak lelah namun matanya tetap awas memindai sekeliling.
"Bapak sehat, Bu?" tanyaku saat mencium punggung tangannya.
"Sehat. Cuma batuknya itu loh, kumat terus kalau malam," jawab Ibu, langsung memberikan update kesehatan yang selalu berujung pada keluhan biaya berobat. Ia menatap kemeja putihku dan celana bahan hitamku dari atas ke bawah. "Kamu kerja di perusahaan gede kok bajunya biasa banget, Ra? Nggak dikasih seragam yang bagus?"
"Kerjanya ngurus data paketan di belakang layar, Bu. Nggak ketemu orang luar. Yang penting nyaman buat gerak," jawabku datar. Aku mengambil alih tas jinjingnya. "Ayo, taksinya udah nunggu di depan."
Kami menaiki taksi online biasa menuju Karet. Sepanjang jalan, Ibu lebih banyak bercerita tentang tetangga di kampung. Anak si A yang baru beli mobil, anak si B yang merenovasi rumah orang tuanya. Taktik pemanasan standar Sri Wahyuni sebelum masuk ke inti permasalahan. Aku hanya menanggapinya dengan anggukan dan kata "oh" sesekali.
Tiba di apartemen, Ibu langsung melakukan inspeksi.
Matanya menyapu seluruh ruangan berukuran empat kali enam meter itu. Ia menyentuh kasur, melongok ke dalam kamar mandi, lalu membuka kulkas yang kini hanya berisi air mineral botolan dan roti tawar.
"Kecil ya, Ra," komentar Ibu akhirnya, duduk di tepi kasur sambil memijat betisnya. "Ibu pikir kalau perusahaan sebesar Adristo itu, mess-nya kayak hotel. Ini mah kayak kos-kosan biasa."
"Ini Jakarta, Bu. Tanah mahal," balasku pragmatis, meletakkan tasnya di sudut ruangan. "Dikasih fasilitas gratis begini aja udah potong biaya hidup banyak banget. Kalau mau sewa tempat yang agak luasan, bayarnya bisa dua juta sebulan. Sayang uangnya, mending buat ditabung."
Mendengar kata 'sayang uangnya', Ibu langsung mengangguk setuju. "Iya juga sih. Bener. Uangnya mending disimpen buat hal yang lebih penting. Yang penting kulkas nyala, AC dingin."
Ibu beranjak dari kasur, berjalan melihat-lihat meja kecil tempatku menaruh laptop. Tangannya iseng membuka laci meja kecil tersebut.
Jantungku meloncat satu ketukan.
Di dalam sana, tergeletak sebuah pulpen dengan lapisan perak mengilap. Pulpen itu pasti terjatuh dari saku Daniel saat ia menyiapkan ruangan ini kemarin. Ujung pulpen itu memiliki ukiran kecil berlogo 'A' emas.
"Loh, pulpen kantor kamu kok berat bener, Ra? Kayak dari besi," tegur Ibu, mengambil pulpen mewah seharga cicilan motor itu dan mengamatinya.
Otakku berputar cepat. Kalau aku panik, dia akan curiga.
"Itu pulpen cacat produksi dari vendor suvenir kantor, Bu," jawabku dengan ekspresi sebosan mungkin, berjalan mendekat dan mengambil pulpen itu dari tangannya dengan santai. "Tinta di dalemnya bocor, gampang macet. Daripada dibuang, dibagikan ke anak-anak gudang buat nulis resi paketan. Jangan ditaruh di saku baju, Bu, nanti gamis Ibu kena noda tinta susah ilangnya."
Mendengar kata 'bocor' dan 'noda tinta', Ibu langsung kehilangan minat seketika. Ia mengibaskan tangannya.
"Halah, barang reject toh pantesan dikasih gratis. Udah, simpen aja sana," katanya, kembali duduk di kasur.
Insiden pertama berhasil dinetralisir dengan logika orang kantoran. Aku menghela napas panjang tanpa suara, melemparkan pulpen itu kembali ke dalam laci.
Malam harinya, setelah makan malam dengan sate ayam yang kubeli di depan gang, kami berbaring di atas kasur berukuran queen size itu. Lampu utama sudah kumatikan, menyisakan lampu tidur kecil di sudut ruangan.
Keheningan malam Jakarta yang diselingi suara knalpot motor dari jalan raya mengudara di antara kami. Ini adalah momen yang paling kutakuti. Waktu di mana Ibu biasanya mulai menanamkan ekspektasinya.
"Ra," panggil Ibu pelan dalam gelap. Suaranya terdengar lebih rapuh dari biasanya.
"Ya, Bu?"
"Toko daster Ibu itu... ruko sebelahnya baru aja dibeli sama orang kota. Katanya mau dibikin grosir baju murah," cerita Ibu. Terdengar helaan napas berat dari bibirnya. "Ibu agak kepikiran. Kalau mereka buka, toko Ibu yang kecil ini pasti sepi. Modal kita muternya susah. Bapakmu juga motornya udah sering mogok kalau dipakai ke sawah."
Aku menatap langit-langit apartemen yang temaram.
Inilah realitanya. Tidak ada teriakan atau paksaan kasar. Hanya curhatan seorang ibu tua yang sedang bercerita tentang kesulitannya kepada anaknya yang dianggap sudah mapan. Sebuah metode guilt-trip paling efektif yang dirancang untuk membuat sang anak secara sukarela menyerahkan seluruh gajinya karena merasa berhutang nyawa.
Dulu, aku pasti akan langsung menghitung sisa saldo di ATM-ku dan menjanjikan setengahnya. Tapi hari ini, dengan uang ratusan juta mengendap diam-diam di rekeningku, aku melihat pola ini dengan mata yang sangat jernih.
Kalau aku bilang aku punya uang untuk membeli ruko itu, Ibu tidak akan berhenti di situ. Bulan depan akan ada atap bocor. Tahun depan akan ada biaya naik haji. Dan seterusnya, sampai aku kering kerontang. Keputusan Rayan menyuruhku berbohong lewat apartemen ini adalah satu-satunya hal yang menyelamatkan masa depanku.
"Nara ngerti, Bu," jawabku dengan nada tenang dan terkontrol.
"Gaji pokok Nara di sini memang udah tetap segitu. Tapi kalau bulan depan ada jatah lembur rekap data, Nara coba ambil shift penuh. Biar ada tambahan sedikit buat bantu biaya servis motor Bapak. Untuk sementara, Ibu pakai uang tiga juta bulan ini pelan-pelan dulu buat modal muter toko, ya."
Ibu terdiam sejenak, mungkin mengkalkulasi apakah ia bisa menuntut lebih. Tapi karena aku sudah memberikan alasan 'lembur'sebuah kerja keras fisik yang logis di matanya ia akhirnya mengalah.
"Iya, Nak. Kerja yang rajin ya. Yang penting kamu di sini sehat," gumamnya, mulai menarik selimut menutupi bahunya. "Ibu tidur dulu. Besok pagi Ibu mau ke Bekasi."
"Iya, Bu."
Setengah jam kemudian, dengkuran halus mulai terdengar dari sebelahku.
Aku perlahan bangkit dari kasur, mengambil ponselku dari atas nakas, lalu melangkah ke arah balkon kecil apartemen ini. Angin malam yang hangat menyapu wajahku.
Aku membuka aplikasi pesan, mencari nama Rayan di kontak.
Nara: Ibu sudah tidur. Apartemen ini meyakinkan. Insiden pulpen Daniel berhasil ditutup dengan alasan barang reject. Semuanya aman.
Tidak sampai satu menit, status di bawah nama Rayan berubah menjadi typing.
Rayan: Bagus. Besok pagi Daniel akan menjemput kalian dengan mobil standar kantor. Dia akan mengantar ibumu sampai ke Bekasi.
Nara: Tidak perlu. Kami bisa naik KRL atau taksi online. Kalau diantar mobil, Ibu bisa banyak tanya.
Rayan: Daniel akan menyamar sebagai sopir operasional kantormu yang sedang tidak ada jadwal. Saya tidak akan membiarkan ibumu menggunakan transportasi umum lalu nyasar dan harus menginap lagi di apartemen itu. Ini untuk mempercepat proses kepulangannya.
Aku membaca balasan itu, lalu mendengus pelan. Logika yang sangat efisien. Rayan benar-benar tidak mau mengambil risiko ibuku memperpanjang masa tinggalnya di Jakarta.
Nara: Baiklah. Terima kasih fasilitasnya, Bos.
Rayan: Sama-sama. Kunci pintumu. Besok kita kembali ke jadwal normal lantai empat puluh.
Aku mematikan layar ponsel, menyandarkan punggungku ke pagar balkon.
Operasi penyamaran ini sukses besar. Rahasia satu miliarku aman dari jangkauan Sri Wahyuni. Besok sore, aku akan kembali ke penthouse steril itu, kembali menjadi rekan bisnis Rayan Adristo, dan kembali mengurusi data-data PT Bina Tirta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menyadari sebuah ironi yang sangat kelam: aku merasa jauh lebih aman dan nyaman tinggal seatap dengan seorang CEO dingin yang terikat kontrak denganku, daripada berada di satu ruangan dengan ibuku kandungku sendiri.