Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka
Ceklek! Pintu terbuka lagi. Joe masuk dengan raut wajah yang hancur karena kekhawatiran. Dalam sekejap, topeng keluarga harmonis itu kembali terpasang. Tina yang tadi murka langsung memegang pipinya dengan dramatis, mengubah ekspresinya menjadi kelegaan yang palsu.
"Mas, lihat! Anak kita Zoe... dia sudah sadar!" seru Tina dengan suara bergetar yang dibuat-buat, seolah baru saja menangis bahagia.
Joe langsung menghambur dan memeluk Zoe dengan erat. "Syukurlah, Nak... Papa hampir gila memikirkanmu."
Zoe hanya terdiam dalam pelukan Ayahnya. Zoe merasakan kehangatan pelukan ayahnya, namun matanya tetap tertuju pada Tina dan ketiga saudara tirinya. Dika mengepalkan tangan, sementara Siska dan Maudy melemparkan tatapan mengancam yang seolah berkata: 'Buka mulutmu, dan kamu akan tamat.'.
Zoe memutar bola matanya malas, sebuah seringai tipis yang sarat akan dendam muncul di sudut bibirnya. Kekuatan asing di dalam dirinya berbisik, memberitahunya bahwa permainan baru saja dimulai.
"Zoe! Katakan pada Papa, bagaimana kamu bisa jatuh ke dalam jurang?" tanya Joe dengan nada yang bergetar karena cemas.
Zoe melirik ke arah Tina, Dika, Siska, dan Maudy. Keempatnya sedang melakukan pertunjukan bisu--- mata melotot, rahang mengeras—sebuah ancaman yang biasanya cukup untuk membuat Zoe gemetar dan menunduk. Namun kali ini, Zoe merasakan sesuatu yang mendidih di bawah kulitnya, sebuah ketenangan yang dingin dan asing.
Zoe tersenyum licik, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia menatap papanya dalam-dalam, lalu berbisik dengan suara yang tenang namun menusuk.
"Papa tahu kan, terkadang gravitasi bukan satu-satunya alasan kenapa seseorang jatuh?" Zoe menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan yang mencekam memenuhi ruangan. "Ada tangan-tangan tak terlihat yang sangat ingin membantu tubuhku menyentuh dasar jurang. Tapi tenang saja, Pa. Jurang itu ternyata tidak sedalam kebencian mereka. Sepertinya, aku tidak jatuh... aku hanya sedang belajar bagaimana cara mendaki kembali dari dasar neraka."
Tina tersentak, wajahnya memucat mendengar pilihan kata Zoe yang sangat berani. Sementara Dika mulai mengepalkan tangannya di balik saku.
"Apa maksudmu, Nak? Siapa yang kamu maksud dengan tangan tak terlihat?" tanya Joe, keningnya berkerut bingung.
Wajah Tina memucat. Ia segera mendekat, tangannya mengelus punggung Zoe dengan lembut, namun kuku-kukunya sedikit menekan kulit Zoe sebagai peringatan tersembunyi.
"Zoe sayang, kenapa kau bicara omong kosong seperti itu? Kamu pasti masih syok karena benturan di kepala," potong Tina dengan nada manis yang memuakkan.
Zoe menoleh perlahan, menatap tepat ke manik mata Tina. "Mungkin kepala Zoe memang terbentur, Ma. Tapi anehnya, benturan itu justru membuat ingatan Zoe tentang 'tangan seseorang' di pundak Zoe saat di tepi jurang menjadi sangat... jernih. Begitu jernih, hingga Zoe bisa mencium aroma parfum yang sama dengan yang ada di ruangan ini."
Joe, yang sejak tadi mengamati dari sudut matanya, merasakan ada duri dalam percakapan itu. Ia mendekat dengan kening berkerut dalam. "Zoe, sayang! Tatap Papa. Bilang sama Papa apa yang sebenarnya terjadi di tepi jurang itu? Jangan ada yang disembunyikan."
Mata Tina dan ketiga anaknya seketika melotot, jantung mereka seakan berhenti berdetak menunggu kata yang akan keluar dari bibir Zoe. Ketakutan itu nyata--- mereka takut rahasia yang terkubur di bawah jurang itu akan terangkat ke permukaan.
Zoe terdiam sejenak, menikmati pemandangan wajah-wajah penuh teror di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menahan tawa yang hampir meledak melihat betapa rapuhnya topeng mereka.
"Tidak ada apa-apa, Pa!" jawab Zoe santai, suaranya mendadak ringan seolah baru saja menceritakan lelucon. "Hanya... mungkin halusinasi akibat benturan itu. Aku juga tidak ingat jelas yang terjadi saat itu. Semuanya kabur, seperti mimpi buruk yang enggan pergi."
Zoe kembali menatap Tina, memberi kerlingan penuh arti. "Benar kan, Ma? Hanya halusinasi?"
Joe mengernyit bingung. "Zoe! Kamu ini bicara apa sih, semakin melantur kemana - mana. Tunggu disini, Papa akan panggilkan dokter."
•
•
Zoe berdiri mematung di dalam toilet ruang inap VIP yang senyap, di mana aroma antiseptik samar bercampur dengan wangi sabun mahal. Ia menatap pantulannya di cermin besar yang seolah sedang menghakimi setiap jengkal perubahan pada dirinya. Ada binar asing di matanya—sebuah kilat keberanian yang tadi ia gunakan untuk bicara.
"Siapa sebenarnya yang tadi berbicara? Mengapa lidahku tiba-tiba menjadi begitu tajam?" bisiknya pelan, suaranya bergema di antara dinding marmer yang dingin.
Biasanya, ia hanya akan menunduk layaknya domba yang pasrah menuju penjagalan, mengikuti setiap permainan keji mereka tanpa perlawanan. Namun hari ini, ada sesuatu yang mendidih di dalam dadanya, sebuah dorongan purba yang memaksanya untuk berdiri tegak dan melawan.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir spekulasi gila yang mulai merayap di pikirannya. "Mungkin ini hanya efek samping obat-obatan itu," gumamnya menenangkan diri. "Atau... mungkin aku sudah mulai berani karena lelah terus di tindas."
Tangannya yang masih sedikit gemetar mulai membuka satu per satu kancing pakaian pasiennya, berniat membasuh tubuh yang terasa lengket dan lelah. Ia mengambil kain waslap, membasahinya dengan air hangat, dan bersiap menyeka area bahu serta punggungnya—tempat di mana memar dan luka robek akibat 'hukuman' dari keluarga tirinya seharusnya berada.
Namun, saat matanya kembali berserobok dengan cermin, gerakan tangannya mendadak kaku. Matanya melotot lebar, napasnya tertahan di tenggorokan.
Ia memutar tubuhnya, mencoba melihat punggung dan lengan atasnya dari berbagai sudut di bawah cahaya lampu LED yang terang. Kulitnya di sana tampak begitu mulus, berwarna putih sehat tanpa cacat sedikit pun.
Tidak ada guratan merah, tidak ada bekas luka lama yang menghitam, bahkan tidak ada satu pun tanda lahir yang ia ingat pernah ada di sana. Kulit itu tampak baru, seolah baru saja diciptakan kembali oleh tangan Tuhan.
Zoe menyentuh permukaan cermin yang dingin, seolah ingin menembus kaca itu dan memastikan bahwa penglihatannya tidak menipunya. Jemarinya gemetar saat meraba permukaan perut dan lengannya yang kini sehalus porselen.
"Ini tidak mungkin," bisiknya, suaranya bergetar di antara pantulan dinding marmer toilet VIP yang kedap suara. "Seharusnya tubuhku penuh luka.. tapi ini?"
"Ke mana semua bekas luka itu?" tanyanya lagi, kali ini lebih keras, menantang kesunyian ruangan.
Pikirannya berputar liar. Keberanian yang meledak-ledak saat ia berbicara di hadapan ibu tirinya tadi bukan sekadar emosi biasa--- itu terasa seperti kekuatan asing yang mengambil alih kemudinya. Zoe menatap matanya sendiri di cermin—ada kilat keemasan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" gumamnya pelan.
Zoe mengepalkan tangan, merasakan kekuatan baru yang mengalir di nadinya, jauh lebih tajam daripada sekedar dendam.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘