NovelToon NovelToon
PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

PERNAK PERNIK KEHIDUPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bullying dan Balas Dendam / Horor
Popularitas:857
Nilai: 5
Nama Author: Aris Tea

Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.

Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.

Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"PERNAK-PERNIK OMBAK DESA"

"PERNAK-PERNIK OMBAK DESA"

Seminggu telah berlalu. Kepergian sang Kakek menjadi pukulan berat bagi Danil. Sifat dan tingkah lakunya berubah drastis. Yang dulunya ceria, sejuk, dan suka bercanda, kini berubah seratus delapan pulah derajat.

Danil yang sekarang terlihat dingin, acuh, dan tak banyak bicara. Hal ini membuat ketiga sahabatnya—Ceceu, Rini, dan Neng—bingung dan bertanya-tanya ada apa gerangan.

Malam itu, pukul sembilan malam, Danil berada di rumah sang Nenek. Ia dipanggil oleh Nenek dan Ibunya untuk membicarakan sesuatu yang penting. Obrolan itu tentu saja mengarah pada perubahan sikap Danil. Tak bisa dipungkiri, aura yang kini terpancar dari tubuhnya membuat siapa saja yang melihat merasa ngeri-ngeri sedap.

"Anakku... Ibu tahu, diamnya kamu, dinginnya kamu, dan sifat-sifat yang tak terpuji yang kamu tunjukkan setelah kepergian Kakek... Ibu mengerti semua itu. Ibu sengaja membiarkanmu sampai titik ini agar kamu sadar sendiri."

Sang Ibu menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Danil yang hanya bisa menunduk, tak berani menatap mata wanita yang telah melahirkannya itu.

"Nak... Ibu dan Nenekmu di sini tidak akan memberatkan apa yang dititahkan oleh Kakekmu. Kami tidak akan mendesakmu untuk melakukan kehendak beliau. Itu hakmu, itu hidupmu, dan itu langkah kakimu sendiri mau dibawa ke mana. Namun Ibu berharap, langkahmu tidak salah arah hingga melanggar norma-norma kehidupan di masyarakat kita."

"Bijaklah dalam memilih dan memilah, karena setiap keputusan yang kamu ambil—baik maupun buruknya—kamulah yang akan menuai hasilnya sendiri."

"Kembalilah pada Danil yang Ibu kenal. Danil yang ceria, Danil yang bisa membuat Ibu dan Nenek bangga. Kembalilah nak... Teman-teman dan sahabatmu menunggumu, dan dunia sedang memainkan takdirnya untukmu."

Nasihat bijak dan teguran keras dari sang Bunda kini dicerna perlahan oleh Danil dengan hati-hati. Ia sadar, ibunya adalah penengah yang hebat, yang membantunya melawan ego dan nafsu jahat yang sedang menguasai diri.

Namun, Danil adalah tipe orang yang punya jalan sendiri. Ia tak akan percaya omongan orang lain sebelum mencobanya sendiri. Ibarat kata, sebelum orang lain bilang buah itu asam, Danil tak akan percaya sebelum ia sendiri yang memakannya.

"Terima Kasih, Bun... Terima Kasih, Nek..."

Danil langsung menyerudukkan kepalanya ke pangkuan sang Bunda. Air matanya tak kuasa dibendung lagi. Sang Ibu dan Nenek hanya bisa mengelus rambutnya penuh kasih sayang, mendoakan agar cucu dan anaknya kembali menjadi pribadi yang kuat dan ceria.

Malam pun berlalu. Adzan Subuh telah berkumandang di Masjid Jami Al-Ikhlas di kampung Situ Babakan, tempat tinggal neneknya.

Sebagian besar keluarga yang semalam menginap di rumah panggung itu sudah bangun dan segera melaksanakan kewajiban sholat. Danil sendiri sudah berada di dalam masjid, ikut berjamaah bersama warga lainnya untuk menenangkan hati dan pikiran.

Satu jam berlalu. Matahari mulai menyinari bumi, aktivitas warga pun mulai terlihat. Anak-anak sebaya adiknya terlihat menggendong tas, berjalan menuju sekolah untuk menuntut ilmu.

Danil yang sedang duduk santai di halaman, tiba-tiba dipanggil oleh ibunya yang memberitahu bahwa ponselnya berdering terus-menerus sejak tadi.

Dilihatnya layar ponsel... Lima panggilan tak terjawab dari Ceceu Intan Nuraeni.

Danil mengernyitkan dahi. Baru teringat olehnya janji waktu di rumah sakit dulu. Ceceu bilang kalau Sabtu-Minggu kedua ia dapat cuti dua hari dan ada sesuatu penting yang mau dibahas. Sayangnya, saat kejadian meninggalnya Kakek, janji itu sempat terlupakan.

Danil segera menelpon balik. Tak lama sambungan terhubung, suara merdu nan indah terdengar di seberang sana.

"Halo... Ceu sorry ya, hp aku taruh di kamar soalnya aku tadi di luar. Baru dikasih tahu Ibu ada telepon masuk," jelas Danil.

"Oh iya gak pa-pa Niel. Aku nelpon cuma mau nanyain janji kemarin waktu kita di RS menengok Ayahnya Rini?"

"Iya aku ingat kok. Mau jam berapa kamu sampai rumah? Aku siap kok nganterin, sekalian jadi tempat curhat kamu nih hehehe," kekeh Danil berusaha mencairkan suasana.

"Makasih Niel. Tapi aku udah di rumah kok tadi malem, dianterin sama si 'Bandot Tua'. Nanti jam 11 aku otw ke kota. Kita ketemuan di sana aja ya. Kamu naik angkot aja jangan bawa motor," pinta Ceceu lembut.

"Ok Ceu," jawab Danil singkat.

Telepon pun ditutup. Danil melihat jam dinding, menunjukkan pukul 09.00. Masih ada waktu dua jam untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke kota.

Dengan kedewasaan dan perhitungan yang mulai matang, Danil menyelesaikan semua persiapannya tepat waktu. Setelah itu ia berpamitan pada Bunda dan Nenek. Ia memilih tak menyebutkan secara rinci kalau ia akan menemui Ceceu, ada alasan tertentu yang hanya ia sendiri yang tahu.

"Niel... Aku udah otw, mungkin setengah jam lagi sampai di Mall pusat kota."

SMS dari Ceceu masuk. Danil langsung membalas singkat: "Ok."

Jarak dari rumah nenek ke pinggir jalan provinsi untuk menunggu angkot lumayan jauh, harus berjalan kaki sekitar 10 menit. Siang itu cuaca sangat terik, keringat pun bercucuran membasahi dahi Danil.

Sepanjang jalan, ia melewati beberapa tetangga yang terkenal kepo. Suara-suara sumbang dan cibiran terdengar jelas di telinganya, namun Danil pura-pura tuli dan bersikap acuh tak acuh.

"Lain itu tadi kamu lihat gak? Anaknya si Dedeh itu lho... Sombongnya minta ampun, jalannya gaya banget kaya orang kaya raya. Padahal mah orang tuanya masih susah," cibir salah satu warga.

"Iya betul itu. Si Danil mah beda sama kakaknya si Mulyadi sama Mulyana. Mereka berdua baik dan rendah hati, beda jauh sama si Danil ini," timpal yang lainnya.

"Ih kalian mah gak tahu ya... Pas malem itu Kakeknya meninggal, dia gaya banget boncengan cewek pake motor bagus. Eh taunya itu motor sewaan doang!"

"Halah gaya doang! Padahal mah makan aja susah, kadang pagi makan sore nggak. Apalagi ibunya si Dedeh itu kan cuma tukang cuci, hutang mana lagi kemana, tutup lobang gali lobang terus!"

Begitulah pernak-pernik kehidupan di kampung, terutama di kalangan masyarakat bawah. Melihat keluarga sedikit lebih maju atau punya rezeki lebih, mereka malah sibuk mencari kesalahan, menggunjing, dan merasa iri. Berbeda dengan orang kota atau kalangan atas yang biasanya lebih santai dan tak mau ambil pusing.

'Sungguh lucu dan ironis keanekaragaman kehidupan di masyarakat kelas bawah ini,' batin Danil.

Lima belas menit berlalu, Danil sedang berdiri menunggu angkot jurusan Antar Kota. Tiba-tiba...

Tin... Tin...!!!

Suara klakson mengejutkannya. Sebuah motor matic berhenti di depannya.

"Neil... Mau ke mana?" sapa pengemudi itu ramah.

"Eh... Mang Yanto! Rek ka kota Mang," jawab Danil tersenyum.

"Ayo ngojeg! Can penglaris ti pagi euy!" keluh tukang ojek yang sepertinya sejak tadi belum dapat penumpang.

Danil diam sejenak berpikir. Akhirnya ia mengangguk setuju. Anggap saja sedekah dan bantu dia dapat rezeki pertama biar anak dan istrinya bisa makan.

"Ayo Mang!"

Tukang ojek itu pun langsung menyodorkan helm kepada Danil.

Bersambung...

1
Guru
aduhh kasian si zaki😭😭😭
Guru
💪💪💪💪💪💪 semangat ya
Guru
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Guru
ang ing eung
Guru
adu dukun nntinya hihihi
Guru
zaman sekarang gak ada kayak keluarga bu Iroh
Guru
siap untuk menguak tabir misteri
Guru
gass poll
Guru
hmmmmm alurnya semakin menarik
Guru
Waduhhh kok jadi endingnya bikin degdegan
Guru
Keren kata kata si mamang bijak
Guru
sip lanjut
Guru
Good niel💪💪
Guru
waduhhhhh
Guru
tetep aja niel cece akan melibatkan mu kamu di jadikan tameng
Guru
Sikat niel walaupun sahabat tapi menjerumuskan mah harus di matiin
Guru
waduh😭😭😭
Guru
emng begitu hidup di kampung
Guru
luar biasa
Guru
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!