Ibu hamil yang wafat di tempat kejadian,sebut saja Rini bersama dengan anaknya yang belum lahir. Rasa cinta yang dalam pada anaknya dan kemarahan pada mereka yang menyebabkan kematiannya membuatnya menjadi arwah penasaran yang tak bisa pergi ke alam lain. Setiap malam, dia muncul di jalan raya tempat kejadian itu terjadi—bayangan dia dengan perut membuncit dan tas yang masih tersangkut di bagian tubuhnya sering dilihat oleh sopir yang lewat, membuat mereka merasa dingin mendadak dan merasakan kesedihan yang mendalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiechie kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru Di Balik Rencana Yang Gagal
Dewi berjalan menuju supermarket untuk membeli keperluan dapur. Tiba-tiba, dia menabrak seseorang sebut saja Anton, sepupu Sarah namun Dewi tidak mengenalnya.
"Maaf, aku gak sengaja," kata Anton.
"Oh iya, gapapa," kata Dewi sambil membereskan barang-barang yang terjatuh ke lantai.
Mereka berdua saling memberi senyuman, lalu masing-masing melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya aku kenal dengan wanita itu, tapi di mana ya?" gumam Anton sambil mencoba mengingat-ingat.
Tiba-tiba, ekspresinya berubah kaget dan dia menutup mulutnya dengan tangan.
"Dia... dia teman wanita itu! Sarah!" ucapnya pelan sambil terus terkejut.
"Dia masih hidup? Aku sudah menyuruh orang untuk menabrak dia dan temannya, tapi dia masih hidup?" kata Anton dalam hati.
"Sarah menyuruhku membunuh Rini karena dia ingin kembali kepada Rizky. Katanya Rini adalah penghalang bagi cinta mereka berdua..." Anton mengingat setiap kata Sarah ucapkan padanya dulu, saat dia datang meminta bantuan dengan alasan cinta yang terluka.
Saat itu Anton tidak berpikir panjang Sarah adalah saudara nya yang selalu dia sayangi, jadi dia langsung mengikuti permintaannya tanpa tahu benar apa dampaknya. Dia kira kecelakaan itu sudah berhasil, bahkan Sarah pernah memberitahunya bahwa Rini tidak selamat dan dia bisa kembali bersama Rizky.
Tanpa sadar, keringat dingin mengalir di dahinya. Dia melihat Dewi yang sedang berbicara dengan kasir.
Anton menatap belakang Dewi yang sedang menarik gerobak belanja menjauh, matanya dipenuhi rasa kebencian yang menyala. Bibirnya sedikit mengerut, menggerutu pelan sambil menggenggam tinju.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang."
Dia mengikuti langkah Dewi dari kejauhan, menyembunyikan diri di balik rak-rak barang setiap kali wanita itu hampir melihatnya. "Dia tidak mengenali aku dengan mudah hanya melihatku sebagai orang yang tidak sengaja menabraknya. Itu jadi keuntungan bagiku."
Setelah Dewi keluar dari supermarket dan naik taksi, Anton segera menaiki kendaraannya sendiri dan mengikuti di belakangnya dengan hati-hati. Ia mencatat setiap jalan yang dilalui, sampai akhirnya taksi berhenti di depan sebuah kontrakan sederhana di pinggiran kota.
"Aku akan masuk dalam hidupnya... perlahan tapi pasti," bisik Anton sambil mencatat alamat rumah Dewi di catatan kecilnya.
"Kembali merencanakan apa yang sudah gagal dulu. Kali ini tidak akan ada kesalahan lagi."
Ia melihat Dewi memasuki rumah dan menutup pintu. Senyum jahat muncul di wajahnya saat tangan kanannya meraih telepon di dasbor mobil.
Anton segera mengambil telepon dari saku jasnya, menyentuh layarnya seolah sedang menelpon seseorang. Dia membawa telpon ke telinganya dan mulai berbicara dengan nada riang, agar tidak menarik perhatian atau membuat orang sekitar curiga.
"Ya, mas Brodin... iya, aku sudah sampai di sini nih... Hmm? Belanja? Sudah selesai kok, cuma lagi tunggu temanku yang lagi parkir mobilnya..." ujarnya dengan nada alami, terkadang mengangguk dan sedikit tersenyum seperti sedang dalam percakapan yang asik.
Setelah beberapa saat, dia mematikan panggilan palsunya dan melirik lagi ke arah rumah kontrakan kecil yang ditempati Dewi. Pintu rumah masih tertutup rapat, tidak ada tanda-tanda ada orang lain yang keluar atau masuk.
"Apa dia tinggal sendiri di kontrakan yang kecil itu?" gumamnya sambil mengerutkan kening, mencoba melihat melalui celah tirai yang sedikit terbuka di jendela depan. Tapi hanya bisa melihat sebagian ruangan yang tampak sederhana tapi rapi.
Ia mencabut selembar kertas dan pulpen dari dasbor mobilnya, mencatat alamat lengkap tempat itu. "Dimana dia bekerja atau masih kuliah, aku belum tahu tentang itu," ucapnya pelan sambil menaruh catatan itu kembali ke saku.
Anton lalu memutar mobilnya perlahan dan mulai mengemudi menjauh dari situ, tapi tetap sering melihat ke belakang spion untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya. Dia berencana untuk datang lagi esok pagi, mungkin saat Dewi keluar untuk bekerja atau kuliah, agar bisa mengikuti dia dan mengetahui lebih banyak informasi tentang kehidupan sehari-harinya.
"Sampai jumpa lagi nanti, Dewi," bisiknya dengan tatapan yang penuh kepastian. "Aku akan tahu semua tentang kamu dalam waktu singkat."