NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas yang Tegas dan Hati yang Tenang

POV Zhira

Pagi itu, aku bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semangat baru yang membara, tapi juga ada ketenangan yang jarang kurasakan sebelumnya. Nasihat Bu Lestari kemarin malam terus bergema di kepalaku, menjadi kompas yang menuntun langkahku hari ini.

Aku mandi, berdoa, dan mengenakan seragam kerjaku dengan penuh percaya diri. Saat bercermin, aku melihat wanita yang berbeda. Mata itu tidak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh tekad.

"Kamu berharga, Zhira. Kamu tidak bisa terus-menerus mengorbankan dirimu sendiri," bisikku pada bayangan itu.

Sesampainya di kantor, hari berjalan seperti biasa. Aku sibuk menyelesaikan laporan, rapat dengan tim, dan melayani telepon. Namun, sekitar jam sepuluh pagi, notifikasi di ponselku muncul lagi. Pesan dari Ibu Zainal.

"Zhira, uangnya kapan dikirim? Ibu tunggu lho. Jangan ditunda-tunda, Bimo butuh banget ini. Kamu kan gajian terus, masa segitu doang susah."

Jari-jariku berhenti mengetik. Dada terasa sesak, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena rasa lelah yang luar biasa melihat pola yang tak pernah berubah ini.

Dulu, aku pasti akan langsung panik, langsung mentransfer bahkan sampai uangku habis, atau langsung menelepon memohon maaf. Tapi hari ini, aku ingat janjiku pada diri sendiri. Aku ingat kata-kata Bu Lestari tentang batas.

Dengan tangan yang mantap, aku mulai mengetik balasan. Tidak lagi menggunakan bahasa yang terbata-bata, tapi bahasa yang tegas, sopan, namun jelas.

"Assalamu’alaikum, Bu. Zhira sudah baca pesan Ibu. Soal uang yang Ibu minta lima juta, jujur Zhira saat ini tidak sanggup memberikan sebanyak itu. Gaji Zhira juga dipotong pajak, bayar kontrakan, bayar listrik air, makan, dan juga ada kebutuhan kerja yang tidak sedikit.

Zhira sanggup mengirim maksimal dua juta bulan ini. Itu pun sudah Zhira sisihkan khusus buat keluarga. Lebih dari itu, Zhira tidak mampu. Tolong mengerti ya Bu, Zhira juga harus menabung buat masa depan Zhira sendiri supaya nanti bisa bantu lebih maksimal lagi."

Jari-jariku menekan tombol kirim. Setelah itu, aku taruh ponsel di meja, menarik napas panjang, lalu kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa. Aku tidak mau membiarkan hal ini mengganggu konsentrasiku.

Sekitar sepuluh menit kemudian, ponsel bergetar hebat. Panggilan masuk. Ibu Zainal.

Teman-teman di sebelahku menoleh karena suaranya yang nyaring meski belum diangkat.

"Ayo Zhira, kamu bisa. Katakan yang benar," bisik hatiku.

Aku mengangkat telepon dan berjalan keluar ruangan ke koridor sepi.

"Halo, Assalamu’alaikum," sapaku tenang.

"APA-AN SI ZHIRA! KAMU SOK KAYA YA SEKARANG! DUA JUTA DOANG? KAMU PIKIR UANG ITU BANYAK APA? BIMO MAU BELI MOTOR, ITU BUTUHNYA BANYAK! KAMU ITU KAKAKNYA, KEWAJIBAN KAMU LHO! DASAR ANAK PELIT! SUDAH KERJA DI KOTA BESAR, SUDAH JADI SARJANA, TAPI SIKAPNYA MASIH SAMA AJA, TIDAK BERGUNA!"

Amukan itu meledak begitu saja, kata-kata pedas dan makian keluar bertubi-tubi seperti hujan batu.

Dulu, setiap kali mendengar suara itu, aku pasti akan gemetar hebat, air mata akan jatuh, dan perasaanku akan hancur berkeping-keping seharian penuh. Tapi hari ini... anehnya, aku merasa damai. Aku mendengarkan semua teriakan itu, tapi rasanya seperti mendengar suara dari balik dinding tebal. Kata-kata itu tidak lagi menusuk sampai ke hati.

Aku membiarkan dia marah sampai dia kehabisan napas.

"Sudah selesai, Bu?" tanyaku pelan saat suaranya mereda.

"HAH? KAMU MASIH BERTANYA GITU?!"

"Bu, Zhira sudah jelaskan kemampuan Zhira. Dua juta itu sudah maksimal. Kalau Ibu mau terima, syukur. Kalau tidak mau, Zhira tidak bisa menambah lagi. Zhira sayang Ibu dan keluarga, makanya Zhira bantu. Tapi Zhira juga butuh hidup, Bu. Zhira juga manusia yang butuh makan dan istirahat," jawabku dengan suara datar, tegas, tanpa ada nada membentak balik.

"KAMU... KAMU ANAK DURHAKA! IBU MENYESAL BESAR PERNAH MELAHIRKAN KAMU! KAMU PEMBAWA SIAL! MULAI SEKARANG KALAU KAMU NGGAK BISA KASIH BANYAK, JANGAN KIRIM KASIHAN! IBU NGGK BUTUH!" teriaknya histeris.

"Baiklah Bu. Kalau itu keinginan Ibu, Zhira mengerti. Tapi sampai kapan pun, Zhira tetap anak Ibu yang selalu mendoakan Ibu. Assalamu’alaikum."

Aku menutup telepon perlahan. Tidak ada bantingan, tidak ada emosi. Aku hanya meletakkan gadget itu kembali ke saku.

Selesai. Aku sudah melakukannya. Aku sudah berani berkata tidak. Aku sudah berani membela hakku sendiri.

Air mata? Ada sih, menetes sedikit. Tapi itu bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Itu air mata kelegaan. Rasanya seperti melepaskan beban berat yang sudah kupanggul selama bertahun-tahun.

 

Aku kembali masuk ke ruangan, duduk di kursi kerjaku. Teman sebelah, Rian, menatapku heran.

"Lo gapapa, Ra? Tadi kedengeran teriak-teriak?" tanyanya khawatir.

Aku tersenyum lebar, senyum yang tulus dan cerah. "Gapapa kok, Ran. Cuma urusan keluarga biasa. Udah kelar kok."

"Yah? Kok lo senyum-senyum gitu? Tadi kelihatan kalem banget pas ngomongnya," timpal Sarah dari seberang meja.

"Iya dong, karena akhirnya aku berani bilang jujur. Lega banget rasanya," jawabku sambil kembali menatap layar komputer.

Siang harinya, meski ada ancaman tidak mau menerima uang itu, aku tetap mentransfer dua juta itu. Aku menulis pesan singkat: "Ini rezeki buat adik-adik. Terima atau tidak, itu hak Ibu. Tapi Zhira sudah menunaikan kewajiban."

Aku tidak menunggu balasan. Aku tahu Ibu pasti akan marah besar, mungkin akan memblokir nomorku atau mengomel ke Ayah Alvin. Tapi aku tidak peduli. Aku sudah melakukan yang terbaik.

Sore itu, pulang kerja, aku mampir ke toko baju. Untuk pertama kalinya, aku tidak membeli yang murah-murah atau yang diskon saja. Aku membeli satu setel baju kantor yang bahannya bagus dan harganya lumayan mahal. Aku juga membeli makanan enak untuk makan malamku sendiri.

Saat duduk menikmati makananku di kontrakan yang hangat, aku merasa sangat bersyukur.

"Terima kasih Tuhan, Engkau sudah menguatkan hati hamba. Hari ini aku belajar, bahwa mencintai diri sendiri itu bukan dosa. Bahwa berbakti itu penting, tapi menghancurkan diri sendiri itu bukanlah bentuk bakti yang benar."

Aku mengambil cermin kecil, menatap wajahku yang mulai bersinar dan lebih sehat.

"Kamu hebat, Zhira. Kamu sudah melewati badai yang paling keras. Sekarang waktunya kamu bahagia. Waktunya kamu hidup untuk dirimu sendiri."

Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak, tanpa mimpi buruk, tanpa rasa bersalah. Hati ini mulai tenang, dan langkahku ke depan terasa semakin ringan dan pasti.

POV End

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

 

Gimana Bestie? 🔥 Panjang kan ceritanya? Zhira makin glow up dan berani ya! 💅✨ Lanjut Bab 19 lagi gas? Kita mau cerita kejutan buat keluarga nih! 😏📖

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!