NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Curiga

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Zivanna tidak bisa tertidur setelah mimpi memilukan yang tadi dia alami. Menoleh, di sampingnya ada mamanya yang sudah tertidur pulas.

Zivanna memakluminya. Mamanya itu pasti kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh sendirian. "Lagian, kenapa nggak minta diantar supir saja tadi?" gumamnya. Zivanna tidak tahu kalau supir pribadi keluarga mereka sedang mengantar papanya ke luar kota.

Zivanna menatap langit-langit rumah neneknya. Rasanya sama sekali tidak mengantuk. Dia teringat kembali mimpinya. Masih sangsi, apakah itu hanya sebuah mimpi atau sebuah kenyataan yang tersembunyi. Lalu apa hubungannya dengan dirinya? Kenapa dia memimpikannya?

"Kamu nggak bisa tidur, Zi?" Anita terbangun dan melihat putrinya masih terjaga.

"Aku tadi haus. Ini mau tidur lagi," jawab Zivanna tidak ingin membuat drama. Sudah cukup neneknya saja yang sakit. Dia tidak mau mamanya ikut-ikutan sakit karena menemaninya "melek" sepanjang malam.

Pagi harinya...

Minah sakit dan Zivanna kembali demam sejak subuh tadi. Budi mengurus ladang jagung yang hari ini mulai di panen. Suami Rani itu bertugas mengawasi dan mengarahkan para pekerja di ladang, jadi tidak bisa mengantar ke puskesmas.

Anita ingin membawa Zivanna ke puskesmas tetapi dia tidak tahu jalan ke sana. Anita tidak bisa mengandalkan google maps mengingat susahnya sinyal di daerah ini. Sementara itu, mengajak Rani bersama mereka sebagai petunjuk arah juga tidak memungkinkan karena perempuan itu harus menjaga Minah yang juga belum sehat.

"Apa nanti tanya sama orang di jalan saja?" Anita terlihat bingung.

"Ngapain? Non Ziva udah tahu jalannya. Nggak bakal tersesat," kata Rani. Perempuan itu sudah menyaksikan keanehan Zivanna sejak tiba di sini.

"Masa?"

Rani mengangkat bahunya. "Anakmu itu tahu seluruh jalan di desa ini. Aku sendiri heran. Kalau mau ke puskesmas mending sekarang. Nanti kalau kesiangan antrinya lama."

Anita mengangguk lalu bersiap-siap.

Beberapa saat kemudian Anita sudah mengendarai mobilnya menuju puskesmas. Zivanna sejak tadi menurut saja padahal biasanya anak itu paling susah kalau disuruh periksa-periksa. Anita sampai berpikir mungkin anaknya itu merasa sangat menderita sehingga mau dengan suka rela dibawa ke puskesmas.

Padahal di otak Zivanna dia merasa senang akan datang ke tempat yang entah kenapa membuatnya merasa nyaman. Rasanya seperti tempat itu adalah rumahnya.

"Duh, ini belok apa lurus?" Anita bingung karena Google maps nya tidak menunjukkan kemajuan arah sejak tadi di buka. "Zi, kamu ingat tidak kemarin jalannya lewat mana?"

Zivanna dengan mata setengah terpejam berkata, "Lurus aja, Ma. Kantor kecamatan masih lurus. Nanti kalau ada perempatan baru belok kanan. Puskesmasnya berseberangan sama pasar."

Anita heran. Padahal sejak sejak tadi berangkat mata anaknya itu terus terpejam. Anita yakin kemarin pun demikian. Tetapi bagaimana bisa ingat jalan?

Sampai di puskesmas, terlihat antrean sudah mengular.

"Ini langsung masuk IGD atau bagaimana? Kemarin gimana, Zi?" Anita sama sekali tidak berpengalaman di fasilitas umum seperti ini.

"Mama ambil nomor antrean, setelah itu nunggu dipanggil. Aku ambil sendiri saja daripada mama bingung."

"Kamu kan lagi sakit, nanti pingsan lagi seperti kemarin," cegah Anita.

Semua yang terjadi di puskesmas kemarin sudah diceritakan oleh Budi, ketika mereka bertemu tadi sebelum Budi berangkat ke ladang jagung. Jadi Anita tahu semuanya.

Zivanna yang sejak tadi terlihat pucat dan lemas itu segera turun dari mobil lalu menuju loket pendaftaran mengabaikan kata-kata mamanya.

Selesai mengambil nomor antrean, Zivanna menghampiri Anita.

"Nomor berapa?" tanya Anita.

"Nomor dua puluh delapan. Tadi kata petugasnya sekarang baru dapat nomor sepuluh. Mungkin jam sebelas aku baru dilayani," jawabnya tanpa sedikitpun terlihat keberatan.

Anita melihat jam tangannya. "Ini baru jam setengah sembilan," gumamnya dengan nada yang bisa dibilang putus asa, karena harus menunggu selama itu. Sementara gadis yang tadi katanya sakit itu kini terlihat baik-baik saja, hanya terlihat sedikit pucat.

Anita sudah mulai heran. Ini anak dapat energi dari mana? Sama sekali tidak ada lemas-lemasnya tidak seperti tadi ketika di rumah. Bahkan selama diperjalanan saja dia tidak kuat membuka matanya. Tapi sekarang seperti full baterai.

Biasanya Zivanna akan uring-uringan kalau di suruh menunggu lama, tetapi ini masih menunggu delapan belas orang lagi dan dia terlihat begitu santai.

Pandangan kedua perempuan itu menyapu seluruh puskesmas tetapi tidak menemukan satupun kursi tunggu yang kosong.

"Kita duduk di sana, Ma," seru Zivanna sambil menunjuk ke emperan parkiran dimana kemarin dia berbincang dengan dua teman barunya. Sinar matahari masih terhalang oleh bangunan puskesmas yang menghadap ke barat sehingga tempat itu terlihat teduh.

Anita menurut saja. Dia mengikuti kemana anaknya itu menarik tangannya.

"Habis ini pulang ke kota saja ya, Zi? Kalau sakit-sakit begini repot, malah nenekmu juga ikutan sakit." Anita membuka percakapan.

"Aku nggak apa-apa, Ma. Kalau mama mau balik ke kota ya balik saja. Kasihan papa sendirian. Aku suka tinggal di sini dan untuk sementara aku akan tetap di sini," jawab Zivanna tanpa berpikir panjang.

Belum juga Anita melanjutkan kata-katanya, Zivanna berdiri lalu berteriak memanggil seorang perempuan yang datang membawa sepeda dengan keranjang besar di boncengannya. "Bibi Gorengan!!!" teriaknya dengan mata berbinar.

"Zi, jangan panggil orang sembarangan!" seru Anita. Tetapi Zivanna tidak mendengar karena gadis itu segera berlari menghampiri penjual gorengan yang baru akan memarkirkan sepedanya. "Aku pikir bibi nggak jualan hari ini," kata Zivanna.

"Non Ziva?!!" Penjual gorengan terheran-heran. "Bibi memang sedikit terlambat karena tadi harus ke sekolahan anak bibi dulu."

"Bibi ada perlu apa ke sekolahan?"

"Bibi melunasi uang SPP anak bibi dengan uang yang dikasih Non Ziva kemarin. Terima kasih ya, Non."

"Oh... " Zivanna garuk-garuk kepalanya salah tingkah. Uang yang tidak seberapa baginya itu ternyata sangat berharga bagi orang lain.

Anita terus memperhatikan tingkah Zivanna dengan mulut menganga. Di bawah sinar matahari yang merangkak naik, semburat kemerahan mulai terlihat di pipi anaknya itu. Mata yang berbinar dan semangatnya ketika menghampiri pedagang itu membuat Anita berfikir dimana gadis pucat lemas yang sejak semalam kondisinya mengenaskan itu? Anita pasti tidak akan percaya kalau tidak melihatnya sendiri.

Zivanna terus mengikuti Bibi gorengan hingga mereka duduk di emperan parkiran.

"Bibi Es dawet nggak jualan, ya? Setiap hari Selasa dia mengantarkan mertuanya kontrol ke rumah sakit, kan?"

Bibi gorengan tertegun selama beberapa saat. Dia seperti melihat sosok yang sudah meninggal itu di dalam gadis yang kini berada di hadapannya. Yang dilakukan Zivanna sama persis seperti yang dilakukan Ayu jika gadis itu datang lebih dulu daripada dirinya. Menyapanya dengan wajah sumringah dan juga membantunya menurunkan keranjang dagangannya dari sepeda. Iseng dia bertanya, "Memangnya mertuanya sakit apa?"

"Mertuanya harus cuci darah dua minggu sekali. Bibi es dawet bertugas mengantar setiap hari Selasa. Sedangkan adik iparnya setiap hari Kamis. Begitu kalau nggak salah."

Penjual gorengan mulai curiga. "Bagaimana Non Ziva tahu?"

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!