Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
Harlan menatap Alisa beberapa detik, seolah baru saja menemukan ide yang cukup menarik untuk menghilangkan kejenuhan mereka setelah seharian terkurung di kamar hotel.
“Kalau begitu… kita keluar yuk. Jalan-jalan, cari angin sambil cari makan juga,” ucapnya akhirnya.
Alisa mengangkat kepalanya, sedikit terkejut.
“Jalan-jalan?” tanyanya.
Harlan mengangguk ringan sebagai jawaban dari pertanyaan itu.
“Iya. Tidak perlu jauh-jauh. Kita jalan-jalan di sekitar hotel saja. Kalau kamu mau… kita bisa sekalian ke mall yang ada di seberang.”
Alisa terdiam sejenak. Bukan karena tidak mau… tapi lebih karena ia tidak menyangka akan diajak keluar seperti ini. Situasinya terasa… seperti benar-benar sedang diajak kencan oleh pacar.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya, Alisa pun mengangguk setuju. Toh bosen juga seharian hanya di kamar saja.
Momen ini juga bisa Alisa gunakan untuk melihat-lihat kota yang sebentar lagi akan menjadi tempat ia tinggal.
“Boleh,” jawabnya pelan, namun kali ini tanpa ragu.
Harlan mengangguk singkat, lalu mengambil tas selempang kecil yang biasa ia gunakan untuk menyimpan ponsel dan dompet, yang tergeletak di atas nakas samping ranjang.
“Kalau begitu, ayo. Kita keluar sekarang.” ajaknya.
***
Beberapa menit kemudian, keduanya pun sudah berada di luar kamar hotel. Mereka berjalan berdampingan di lorong yang cukup sepi.
Tidak ada percakapan berarti, hanya suara langkah kaki dan sesekali lirikan kecil yang diam-diam mereka curi satu sama lain.
Begitu keluar dari lobi hotel, angin sore langsung menyambut. Udara kota terasa hangat, dengan lalu lalang kendaraan yang tidak pernah sepi.
Alisa menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan sekitar dengan rasa penasaran yang tidak ia bisa sembunyikan.
“Ramai juga ternyata…” gumamnya.
Meski hanya bergumam, namun Harlan yang berjalan di sampingnya cukup mendengar dengan jelas gumaman Alisa. Lalu meresponnya.
“Biasanya suasananya akan jauh lebih ramai saat malam hari.”
Setelah berjalan beberapa menit, Harlan pun mengarahkan langkahnya untuk menyeberang jalan. Secara refleks, Alisa sedikit mendekat, menyesuaikan langkahnya dengan langkah Harlan.
Tanpa sadar, Harlan memperlambat langkahnya… memastikan Alisa tetap berada di sisinya. Hal sederhana. Tapi cukup membuat hati Alisa kembali berdebar.
Keduanya memasuki mall yang ada tepat di seberang hotel. Mall yang terlihat cukup besar dan modern itu cukup membuat Alisa kembali dibuat kagum.
Pintu kaca otomatis terbuka saat mereka mendekat. Begitu masuk, suasana langsung berubah. Sejuk, terang, dan dipenuhi suara musik lembut serta riuh dari percakapan para pengunjung.
Alisa terlihat sedikit kagum, matanya bergerak ke sana kemari dengan bibir yang sedikit terangkat, membentuk sebuah senyuman.
“Besar dan ramai sekali…” bisiknya.
Harlan menahan senyum tipis. Ini pertama kalinya, ia melihat wajah yang begitu sumringah dari seseorang saat memasuki sebuah mall.
“Kamu jarang ke mall, ya?” tanyanya. Membuat Alisa menoleh, lalu menggeleng kecil.
“Jarang banget. Aku baru akan ke mall kalau ada sesuatu yang aku butuhkan, tapi barang itu tidak ada di pasar. Biasanya, aku selalu belanja di pasar tradisional. Disana, harga barangnya jauh lebih murah dibandingkan dengan mall,”
“Berarti ini pengalaman baru?” tanya Harlan.
Alisa mengangguk pelan, lalu tanpa sadar tersenyum tipis jauh lebih lebar dari sebelumnya.
“Baru banget. Apalagi, ini pertama kalinya aku memasuki mall sebesar ini. Di kotaku, meskipun ada beberapa mall, tapi tidak ada yang sebesar dan semewah ini.”
Harlan mengamati ekspresi itu sebentar. Senyum dan binar bahagia di wajah polos itu, semakin membuat Harlan terpesona.
“Ayo, kita ke atas. Kita cari tempat makan.” ujar Harlan singkat.
Kembali menuntun Alisa untuk menuju ke arah eskalator. Sepanjang jalan menuju eskalator keduanya menyusuri lantai dasar terlebih dahulu. Melewati deretan toko pakaian, sepatu, hingga aksesoris milik brand ternama.
Sesekali Alisa berhenti, menoleh ke etalase, memperhatikan dengan mata berbinar, lalu kembali melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk masuk ke dalam toko, untuk membeli barang yang mungkin ia sukai.
Harlan memperhatikan itu semua secara diam-diam. Berharap Alisa akan menghentikannya dan memintanya masuk untuk melihat-lihat, lalu membeli barang yang ia sukai.
Sayang, harapan Harlan menguap begitu saja. Karena langkah mereka hampir sampai eskalator yang mereka tuju, tidak sekalipun Alisa memintanya berhenti, apalagi membelikannya barang-barang yang ada di sana.
“Ada yang mau kamu beli?”
Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Harlan pun bertanya terlebih dahulu. Karena sepertinya, Alisa tidak berniat menghentikan langkahnya.
Alisa langsung menggeleng cepat.
“Enggak… cuma lihat-lihat saja. Semua barang disini, bagus-bagus,” jawab Alisa semakin sumringah. Padahal, wanita itu hanya melihat, tidak membeli. Tetapi, wajahnya terlihat sangat senang.
“Kalau kamu mau, kita bisa masuk dan beli yang kamu suka,” ajak Harlan yang langsung ditolak oleh Alisa.
“Nggak usah. Apalagi, barang-barang disini...” Alisa sengaja menjeda ucapanya, lalu bergeser sedikit, mendekatkan diri kepada Harlan, lalu berbisik…
“Mahal-mahal.”
Harlan menghela nafas pelan, lalu menatap Alisa dengan sedikit serius.
“Alisa,” panggil membuat Alisa menoleh.
“Eemm…”
“Kamu… meremehkan isi dompetku, ya?”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup membuat Alisa terdiam.
“ Ti_tidak. Bukan begitu… maksudku… aku hanya… eh.”
Belum selesai Alisa menyelesaikan ucapanya. Harlan sudah menarik tangannya, memasuki sebuah toko fashion yang ada di dekat mereka.
Di dalam toko, suasana terasa lebih tenang. Suara musik mengalun pelan, dengan beberapa pengunjung lain yang sibuk memilih pakaian.
Alisa terlihat sangat canggung. Berjalan mengikuti Harlan yang terus menelusuri setiap lorong dengan baju-baju yang cantik, berjejer di samping kiri dan kanan mereka.
Alisa hanya melihat-lihat tanpa berani menyentuh pakaian yang tergantung rapi itu. Sementara Harlan, tampak sibuk mencari baju yang cocok untuk Alisa dan disukai Alisa.
“Bagaimana dengan baju ini, bagus tidak?” tanya Harlan tiba-tiba, menunjuk ke sebuah manekin yang sedang dipakaikan dress berwarna soft beige.
Alisa menoleh. Lalu melihat ke arah manekin yang baru saja ditunjuk oleh Harlan.
“Ini?” tanya balik Alisa, dan dijawab anggukan oleh Harlan.
“Sepertinya itu cocok buat kamu.”
Alisa menatap dress itu beberapa detik. Lalu… tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat.
“Bajunya… cantik” gumamnya pelan.
Melihat ekspresi Alisa yang sepertinya menyukai dress itu, Harlan langsung memanggil salah satu pramuniaga yang tengah mengawasi situasi toko.
Harlan meminta dress itu untuk dicoba terlebih dahulu oleh Alisa sebelum ia membelinya.
Dengan senyum ramah, sang pramuniaga pun bergegas menurunkan dress tersebut.
“Mari, Nona. Ikut saya ke ruang kamar pas, untuk mencoba gaunnya.” ujar sang pramuniaga.
Refleks, Alisa langsung menoleh ke arah suaminya. Harlan mengangguk kecil, sebagai tanda untuk Alisa agar mengikuti pramuniaga itu.
Meski sedikit ragu, tapi Alisa tetap menurut, mengikuti pramuniaga itu ke salah satu sudut toko, dimana disana terletak kamar pas yang bisa digunakan untuk mencoba dress nya.
“Ini gaunnya, Nona. Anda bisa menggunakan salah satu ruang ini untuk mencoba gaunnya,” ucapnya sembari menyerahkan gaun yang sejak tadi ia pegang kepada Alisa.
“Baik, Mbak. Terima kasih.”
Alisa langsung memasuki salah satu ruangan yang ada di hadapannya untuk mencoba gaun tersebut.
Akan tetapi, Alisa langsung dibuat syok saat melihat harga baju tersebut yang tertempel di label gantung baju itu.
Saking syok nya, Alisa sampai menutup mulutnya dengan tangan satu nya lagi.
“Ya ampun, harganya. Seharga sepeda listrik aku di kampung.”