NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Terlalu Percaya

Hujan turun sejak sore, meninggalkan jejak tipis di kaca jendela apartemen. Kota tampak samar di balik embun, lampu-lampu jalan berpendar seperti kenangan yang mulai memudar.

Bella berdiri cukup lama di depan cermin.

Gaun putih itu jatuh pas di tubuhnya. Rapi. Indah. Tidak ada yang salah. Semuanya tampak sempurna—seperti pernikahan yang sebentar lagi akan ia jalani.

Namun entah kenapa, ada sesuatu yang mengganjal.

Ia menyentuh dadanya pelan.

Degup jantungnya terasa terlalu cepat.

“Kamu masih bisa mundur.”

Suara itu membuat Bella menoleh. Livia berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya ke kusen dengan wajah serius.

Bella tersenyum kecil. “Kamu dari tadi ngomong itu.”

“Karena aku serius, Bel.” Livia melangkah masuk. “Ini bukan main-main. Dia… bukan laki-laki biasa. Usianya, hidupnya, dunianya—semuanya jauh dari kamu.”

Bella kembali menatap pantulan dirinya.

“Iya,” jawabnya pelan.

“Dan kamu tetap mau?”

Bella menghela napas. Lama. Seolah sedang menimbang sesuatu untuk terakhir kalinya.

“Aku nggak butuh semua itu buat mencintai seseorang,” ucapnya akhirnya.

Livia mengernyit. “Kamu yakin ini cinta?”

Bella tidak langsung menjawab.

Ia hanya tersenyum. Tipis, tapi hangat.

“Kalau bukan, aku nggak akan ada di sini.”

Dominic sudah menunggu di altar.

Setelan hitamnya terlihat rapi tanpa cela. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi. Ia berdiri tegak, kedua tangannya di depan tubuh, seperti seseorang yang sudah terbiasa mengendalikan segalanya.

Beberapa tamu berbisik pelan. Tidak sedikit yang melirik ke arahnya dengan kagum—atau mungkin penasaran.

Dominic Hega Oliver.

Nama itu sudah cukup untuk membuat orang-orang menoleh.

Saat pintu terbuka, semua suara mereda.

Bella melangkah masuk.

Satu langkah.

Dua langkah.

Sepatu putihnya menyentuh lantai dengan pelan, tapi jantungnya berdetak jauh lebih keras dari itu. Ia tidak berani melihat ke sekeliling. Pandangannya hanya lurus ke depan.

Ke arah pria yang akan menjadi suaminya.

Dominic menatapnya.

Tatapannya tidak berubah banyak, tetap tenang. Namun ada sesuatu yang berbeda di sana—sesuatu yang sulit dijelaskan.

Mungkin hanya perasaan Bella saja.

Atau mungkin… harapan.

Saat mereka akhirnya berdiri berhadapan, Bella bisa merasakan dinginnya tangan Dominic saat menggenggam jemarinya.

Namun ia tidak melepaskan.

Ia justru menggenggam lebih erat.

Janji pernikahan itu terucap sederhana.

Tanpa drama.

Tanpa air mata berlebihan.

Namun bagi Bella, itu cukup.

Ia tidak butuh pernikahan yang sempurna.

Ia hanya ingin… dicintai.

Hari-hari setelahnya berjalan dengan tenang.

Terlalu tenang, mungkin.

Dominic jarang di rumah. Pekerjaannya seolah tidak pernah selesai. Ia berangkat pagi, pulang larut, dan ketika sampai, ia lebih sering langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara.

Bella sempat merasa canggung di awal.

Namun ia berusaha menyesuaikan diri.

Ia belajar memahami ritme Dominic. Belajar tidak banyak bertanya. Belajar menahan diri dari hal-hal kecil yang sebenarnya ingin ia ucapkan.

Suatu malam, saat Dominic baru saja pulang, Bella menyusulnya ke ruang tengah.

“Kamu mau makan?” tanyanya pelan.

Dominic melepas jasnya, lalu menggeleng singkat. “Sudah.”

Bella mengangguk. “Oh… ya sudah.”

Ia tidak bertanya lagi.

Tidak menuntut.

Hanya tersenyum kecil, lalu kembali ke dapur.

Ia pikir… semuanya butuh waktu.

Beberapa hari kemudian, Bella mencoba lagi.

Ia memasak sendiri malam itu. Meja makan ditata rapi, lengkap dengan lilin kecil di tengah. Ia bahkan sempat berganti baju, memilih gaun sederhana yang menurutnya cukup pantas untuk makan malam berdua.

Jam menunjukkan pukul delapan.

Lalu sembilan.

Lalu sepuluh.

Makanan mulai dingin.

Lilin hampir habis.

Namun Bella tetap duduk di sana.

Menunggu.

Hingga akhirnya suara pintu terdengar.

Bella langsung berdiri. Wajahnya otomatis tersenyum.

“Dom, kamu—”

Kalimatnya terhenti.

Ada seseorang di belakang Dominic.

Seorang wanita.

Rambutnya panjang, tertata rapi. Cara berdirinya penuh percaya diri, seolah ia tidak asing dengan tempat itu.

Wanita itu tersenyum lebih dulu.

“Jadi ini istrimu?”

Bella terdiam sejenak, tapi segera mengangguk sopan.

“Iya,” jawabnya. “Silakan masuk.”

Dominic melepas sepatunya tanpa banyak bicara. Sementara wanita itu melangkah masuk dengan santai, matanya berkeliling seolah sedang menilai.

“Lucu juga,” katanya ringan. “Aku nggak nyangka kamu beneran nikah.”

Bella menangkap kata itu.

Nggak nyangka.

Ia melirik Dominic sekilas, tapi pria itu tidak memberi reaksi apa-apa.

“Bella,” ucap Dominic akhirnya. “Ini Diana.”

Bella mengangguk lagi. “Halo.”

Diana tersenyum tipis. “Halo juga.”

Mereka duduk di meja makan.

Namun suasananya berubah.

Tidak lagi hangat seperti yang Bella bayangkan sejak tadi sore.

“Masakan kamu?” tanya Diana sambil melihat hidangan.

“Iya,” jawab Bella.

Diana mengambil sendok, mencicipi sedikit, lalu mengangguk pelan.

“Nggak buruk,” katanya. “Dom dulu cukup pilih-pilih soal makanan.”

Dulu.

Kata itu kembali muncul.

Bella tidak tahu harus merespons apa.

Ia hanya tersenyum kecil.

Sementara di seberangnya, Dominic tetap diam.

Setelah makan malam selesai, Diana pamit.

Namun kepergiannya tidak serta-merta mengembalikan suasana seperti semula.

Bella berdiri di dapur, membereskan piring.

Dominic bersandar di meja, tangannya dimasukkan ke saku celana.

“Dia mantan aku.”

Bella berhenti sejenak.

Perlahan menoleh.

“Mantan?” ulangnya.

Dominic mengangguk singkat. “Sudah lama.”

Bella mengangguk juga, meski ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam hatinya.

“Dia kerja sama kamu?”

“Iya.”

Jawaban itu terlalu cepat.

Terlalu sederhana.

Bella ingin bertanya lebih banyak. Namun kata-kata itu tidak pernah benar-benar keluar.

Ia hanya kembali mencuci piring.

Air mengalir, menutupi suara hatinya sendiri.

Malam itu, Bella berbaring di tempat tidur.

Lampu sudah dimatikan.

Dominic tertidur di sampingnya, napasnya teratur seperti biasa.

Bella menatap langit-langit.

Pikirannya tidak bisa diam.

Wajah Diana terus muncul.

Cara dia berbicara.

Cara dia melihat Dominic.

Dan yang paling mengganggu… cara Dominic tidak menjelaskan apa pun.

Bella menutup mata.

“Cuma perasaan,” bisiknya pelan.

Ia memaksa dirinya untuk percaya.

Bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bahwa semuanya masih baik-baik saja.

Karena ia mencintai pria itu.

Dan cinta… seharusnya cukup.

Di sisi lain tempat tidur, ponsel Dominic bergetar pelan.

Layar menyala sesaat.

Sebuah pesan masuk.

Dari Diana.

Aku kangen kamu…

Dominic membuka matanya.

Menatap layar itu tanpa ekspresi.

Beberapa detik berlalu.

Ia tidak membalas.

Namun juga tidak menghapusnya.

Layar kembali gelap.

Dan malam kembali sunyi.

Tanpa Bella sadari…

Sesuatu mulai berubah.

Perlahan.

Hampir tak terlihat.

Namun pasti.

END BAB 2

1
mimief
ini orang ga kerja kerja apa yaaa🙄
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
mimief
jadi...luluh kah?.
tapi siapa yg ga yaaa🫣
mimief
aku juga kalau jadi dia... bakalan goyah
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!