Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Palung Weber & Sang Penenun
Lokasi: Markas Bawah Tanah BPCBAN, Jakarta.
Waktu: 10.15 WIB.
Cahaya kebiruan dari proyeksi hologram itu memantul di wajah ketiga orang di ruangan tersebut, menciptakan bayangan tegas di tengah ruang medis yang serba putih. Titik merah itu berkedip perlahan, seirama dengan detak jantung Dimas.
Sarah mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan kopinya yang mulai mendingin. Jari-jarinya yang lentik—dengan luka jahitan yang mulai mengering—menembus proyeksi cahaya itu, memutar peta topgrafi bawah laut tersebut secara virtual. Matanya memindai garis-garis kontur kedalaman laut.
“Mas Arya,” suara Sarah memecah keheningan, nada bicaranya berubah menjadi seratus persen mode ilmuwan. “Titik koordinat ini… ini bukan sembarang laut. Ini tepat berada di dasar Palung Weber.”
Arya menarik sebuah kursi lipat logam, membaliknya, lalu duduk dengan tangan bersidekap di atas sandaran kursi. Ia mengangguk pelan. “Tujuh ribu empat ratus meter di bawah permukaan laut. Titik terdalam di laut Nusantara.”
“Tujuh ribu meter?” Sarah menelan ludah, menatap kakak iparnya tak percaya. “Tekanan hidrostatik di sana mencapai 700 atmosfer. Jangankan manusia, kapal selam bertenaga nuklir kelas militer pun bakal hancur remuk seperti kaleng soda kalau turun ke sana. Gimana caranya peradaban Lemuria ngebangun pangkalan di tempat kayak gitu?”
“Makanya mereka memilih tempat itu untuk mengurung sesuatu yang jauh lebih buruk dari Sang Pemakan,” jawab Arya, wajahnya kehilangan jejak sarkasme yang biasa ia pakai. “Sesuatu yang butuh tekanan jutaan ton air laut dan kegelapan abadi supaya nggak bisa merangkak naik ke permukaan.”
Dimas, yang sejak tadi diam mengamati peta hologram itu, perlahan mengulurkan tangan kirinya yang sehat. Ia mendekatkan telapak tangannya ke titik merah yang berkedip di proyeksi tersebut.
Meski itu hanya cahaya digital, Dimas bisa merasakan sesuatu. Mata Batinnya merespons data memori yang dibawa oleh Arya. Ada hawa dingin yang luar biasa menusuk tulangnya, berbeda dengan hawa panas kemarahan Sang Pemakan. Ini adalah hawa dingin dari keheningan absolut. Kelumpuhan total.
“Mas,” bisik Dimas, menatap kakaknya dengan mata menyipit. “Apa nama entitas yang ada di bawah sana? Lo pasti udah minta divisi riset buat nerjemahin sisa data dari Trisula-ku, kan?”
Arya menghela napas panjang, mengusap rahangnya yang sedikit ditumbuhi brewok.
“Lontar-lontar kuno yang lo simpan di ruang arsip pusat nggak pernah nyebut nama aslinya. Mereka terlalu takut,” jelas Arya. “Tapi sisa rekaman Lemuria yang kita ekstrak dari debu kristal itu menyebutnya sebagai Sang Penenun (The Weaver).”
“Sang Penenun?” Sarah mengerutkan kening. “Dia menenun apa? Takdir? Nyawa?”
“Dimensi,” jawab Dimas pelan, menyela pertanyaan istrinya. Otak sejarawannya langsung menghubungkan kepingan-kepingan teka-teki itu.
Dimas menatap Sarah, matanya memancarkan horor yang tertahan. “Sar, ingat Saranjana? Kota yang terjebak di antara dua dunia? Ingat Gunung Padang? Mesin yang memanipulasi anomali gravitasi? Itu semua bukan sihir acak. Itu adalah jejak dari makhluk yang bisa merobek realita.”
Arya menjentikkan jarinya, membenarkan analisis adiknya. “Sang Pemakan yang kalian hadapi di atap Manggala cuma bertugas mengumpulkan energi ketakutan manusia. Energi itu disalurkan ke bawah laut, sebagai bahan bakar untuk membangun Sang Penenun. Begitu makhluk ini bangun, dia nggak cuma bikin orang bunuh diri. Dia bisa menenun ulang geografi Nusantara. Gempa meghatrust, tsunami, daratan yang tenggelam… kiamat ekologis.”
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Skala ancaman yang baru saja diletakkan di atas pundak mereka melonjak dari “menyelamatkan satu kota” menjadi “mencegah kepunahan benua”.”
Arya berdiri dari kursinya. Ia menepuk bahu kiri Dimas dengan lembut, sebuah gestur sayang yang jarang ditunjukkan oleh sang veteran The Archivist kepada adiknya.
“Gue udah terlalu tua dan berisik buat misi senyap di dasar laut,” kata Arya, menatap Dimas dan Sarah bergantian. Sorot matanya penuh rasa hormat. “Kalian berdua selamat dari Saranjana, mengunci Gunung Padang, dan memvaksinasi Jakarta dari epidemi digital. Kalian The Archivist yang sebenarnya sekarang. This is your war now.”
Sarah memandang tangan kirinya yang diperban, lalu menatap suaminya yang terbaring dengan lengan yang hancur tapi mata yang menyala-nyala. Rasa lelah di sekujur tubuhnya seolah menguap, digantikan oleh adrenalin dingin dari tantangan intelektual dan pelestarian umat manusia.”
Sarah menekan tombol di tabletnya, mengunduh data geospasial Palung Weber ke dalam server pribadinya.
“Dim,” kata Sarah, menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya, kembali ke dialog penutup aslinya. “Kayaknya kita harus cancel tiket liburan ke Bali.”
Dimas menatap peta bawa laut itu, matanya kembali menyala dengan rasa penasaran yang tak bisa dipadamkan. Insting Sang Pengarsip telah bangkit kembali.
“Bali terlalu ramai, Bu Dok,” Dimas membalas senyum istrinya. “Gimana kalau kita diving di Laut Banda aja? Aku dengar terumbu karangnya cantik… dan katanya ada istana Lemuria yang tenggelam di sana.”
Arya tersenyum miring melihat semangat duo tersebut, lalu berjalan menuju pintu keluar. “Jangan lupa bawa baju selam anti-tekanan, Nerd. Di kedalaman 7.000 meter, mantra tolak bala lo nggak akan ngaruh kalau tabung oksigen lo bocor.”
Pintu otomatis tertutup, meninggalkan Dimas dan Sarah berdua. Proyeksi hologram Laut Banda masih berputar lambat di tengah ruangan, memanggil mereka ke dalam palung keputusasaan yang lebih dalam. Kamera fiktif menjauh perlahan, meninggalkan pasangan suami istri paling mematikan dan cerdas di Nusantara itu bersiap untuk petualangan baru.