NovelToon NovelToon
Anak Kembar COE Terpisah

Anak Kembar COE Terpisah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rere Lumiere

Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.

Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.

Bagaimana kelanjutan cerita nya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

USG

"Alah... Pasti kau berbohong kan, itu pasti anak haram, kau jangan mengada-gada. Karena kau tidak pernah di sentuh Dominic," ujar Celesta, kemarahan memuncak. Dia menunjuk-nunjuk perut Sera dengan kasar, seolah ingin memukul perut itu.

"Aku tak perduli, sekarang lepaskan," jawab Sera menarik tangan dengan kasar, dia berhasil melepaskan tangannya namun tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang.

"Cih... lemah sekali, kau tau kenapa aku ke dokter kandungan, ya, seperti yang kau tau aku hamil anak Dominic," sinis Celesta sembari tersenyum remeh sembari menunjukkan hasil USG yang tentu saja bukan hasil cek kehamilan, namun cocok sekali untuk mempermainkan Sera.

Para ibu yang melakukan pemeriksaan terlihat menggelengkan kepalanya tak menyangka sang pelakor dengan lantangnya, menantang istri sah di depan khalayak umum.

"Sadar mbak," celetuk seorang ibu yang berada di kursi tunggu, dia cukup berani karena duduk bersama dengan suaminya.

Sementara ibu lainnya yang awal tak berani ikut menyahut, "Iya betul, nggak usah di layan bu, nggak bagus buat kehamilan,"

"Hey! kalian semua diam ya, ini urusan ku dengan perempuan ini!" geram Celesta membuat semua orang terdiam.

"Amit-amit jabang bayi, jangan sampai anak ku seperti dia," ujar ibu itu mengelus perutnya berharap anak nya tidak menjadi pelakor seperti Celesta.

"Aku bilang, aku tak perduli, kamu apa dengan Dominic, aku ingin hidup tenang, jadi jangan ganggu aku lagi," ucap Sera dengan tertatih sembari mengelus perut nya yang buncit.

Beberapa saat kemudian perawat keluar dari ruangan, "Ibu Sera,"

Sera ingin segera beranjak dari sana selepas terdengar suara perawat, namun Celesta masih menghalanginya. Melihat situasi tegang di ruang tunggu membuat sang perawat menyadari ada hal yang tidak beres.

Dia melihat kearah Sera dan Celesta yang seperti sedang bertikai, perawat itu menghampiri, "Bu Sera,"

"Iya saya, Sus," jawab Sera.

"Ibu sudah di panggil, mari ikut saya," ujar perawat itu ingin memapah Sera, dia tidak ingin berdebat dengan Celesta dan ingin bersikap kooperatif tak ingin membuat situasi semakin tak kondusif.

Namun, nyatanya Celesta tidak membiarkan mereka pergi, dengan menghalangi mereka dengan terburu-buru, "Kau mau kemana ha?!" cekal Celesta.

"Ibu, tolong ya jangan menganggu kenyamanan pasien," ujar perawat itu akhirnya emosi dan meminta Celesta untuk tidak menganggu.

"Memang apa urusan dengan kau, minggir!" geramnya sembari mendorong perawat itu.

"Ibu, ini lingkungan rumah sakit, mohon jangan membuat kegaduhan," ujar perawat itu sembari memegang bahunya yang nyeri.

"Cih... ibu-- ibu panggil saya Nyonya, kau tidak tau siapa aku," decak Celesta.

Perawat itu selepas mendengar hal tersebut langsung meninggalkan tempat menuju kearah yang tidak di ketahui Celesta. Wanita di hadapan Sera nampak tersenyum puas seolah telah berhasil mengusir seorang tenaga profesional yang pasti kerena perawat itu tau status nya.

Namun, yang terjadi beberapa menit kemudian ternyata perawat itu membawa seorang satpam sembari menunjuk kearah Celesta.

"Pak, dia sudah menganggu ketenangan pasien lain, tolong di usir pak," ujar perawat itu pada rekan kerja.

Celesta nampak tercengang, tanpa aba-aba satpam itu mencekal tangannya membuatnya dapat berkutik seperti seorang penjahat.

"Ayo ikut saya sekarang," tarik satpam itu menuju kearah pintu depan rumah sakit.

"Hey... lepaskan aku, kau tidak tau aku siapa?!" pekik Celesta namun tidak gubris oleh satpam itu, dan tetap terus menarik tangan Celesta keluar dari rumah sakit.

Celesta melirik pada Sera yang kini di papah memasuki ruangan dokter spog, "Dasar rumah sakit Bobrok! tidak berkualitas, pelayanan buruk, aku akan menuntut kalian kepengadilan, karena sudah mengusir pasien!"

*

Sera duduk dengan lemas di kursi pasien tepat di depan dokter spog sembari menundukkan kepalanya. Sedangkan, Dokter spog yang mendengar suara kegaduhan di luar terlihat bertanya pada perawat yang membantunya.

"Ners, apa yang terjadi di luar?" tanya dokter itu.

Perawat itu kemudian mendekat kearah dokternya dan berbisik di telinga nya, "Dok, Pasien tadi, membuat kegaduhan di luar dan menghina ibu ini,"

"Hah... yang benar, pasien yang hanya memeriksa kesehatan tadi," bisik dokter itu dengan suara samar-samar.

Dokter spog kembali menoleh pada Sera, "Ibu Sera, Anda tidak apa-apa," tanya dokter itu dengan lembut.

Sera pun menoleh mencoba menghalau lamunannya yang sedari tadi terbang kemana-mana, "Tidak apa-apa, dokter," sahut Sera.

Dokter spog tersenyum menatap Sera, "Baik bu, kalau begitu kita lakukan USG-nya ya bu, ibu rutin minum obat kan, termasuk obat tambah darah. Kehamilan kembar sangat rentan bu, jadi harus di jaga dengan baik,"

"Iya dok, saya sudah meminumnya," ujar Sera sembari menuju kearah ranjang yang sudah di siapkan dengan di bantu perawat yang telaten membimbingnya.

Sera berbaring perlahan di atas bet ranjang itu yang tentu saja di bantu oleh perawat, terlihat Sera sangat kesulitan karena dia memiliki dua anak di perutnya.

Dia menyingkap baju sedikit, sebab Sera sudah terbiasa dengan hal ini semenjak kandungan dua bulan, sebab Sera rutin cek kandungan.

Kini perut buncit terekspos dengan sempurna, kemudian perawat memberikan gel yang bening dan dingin itu pada perut Sera, membuat merasakan sensasi namun tidak terlalu terkejut.

"Baik bu, sudah siap," ujar Dokter Spog menarik ujung sarung tangan karet yang baru saja dia pakai.

Sera tak menjawab, namun terlihat jelas dari anggukkan bahwa dia sudah siap dengan tindakan yang akan di lakukan dokter nanti. Dokter itu kemudian mengambil alat transduser USG dan mulai menggerakkan perlahan dia atas perut Sera.

Layar monitor di sebelahnya yang awal gelap kini mulai menampakan gambar yang mulai terlihat jelas. Mata Sera tertuju pada gambar yang di perlihatkan di layar.

Namun, Tiba-tiba dia mengerutkan kening selepas melihat perbedaan dari janinnya. Salah satu anaknya terlihat lebih kecil dibanding kembarnya, meskipun mereka sama-sama bergerak aktif.

"Lihat ini bu Sera," ujar dokter itu menunjuk kearah layar monitor sembari terus menggerakkan tangannya.

"Ini anak-anak ibu, yang satu di sini dan satunya di sebelahnya, seperti yang ibu lihat ukuran mereka sedikit berbeda, kan. Yang ini kemudian kakaknya lebih kecil di banding adiknya," jelas dokter itu masih menggerakkan alat transduser nya.

"Lalu, bagaimana itu dok? apa ada yang tidak beres dengan mereka?" tanya Sera cemas.

Dokter itu menghentikan gerakkan kemudian menoleh pada Sera, "Ibu tentang dulu, perbedaan pada anak kembar memang sering terjadi, bu. Ada kemungkinan tanda-tanda awal selective fetal growth restriction (seFGR), atau dalam bahasa awamnya pembatasan pertumbuhan janin yang selektif. Tapi yang perlu kita ingat bahwa ini masih kemungkinan ya bu, saya belum melakukan diagnosa pasti,"

1
Greenindya
aku kira Dominic bakalan langsung beli tuh RS pas ga dikasih info
Kas Mi
semangat berkarya
Kas Mi: masama thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!