INSPIRASI DARI BULAN RAMADHAN.
Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Di ruang utama yang luas dengan lantai marmer mengilap dan lampu kristal menggantung megah, suasana terasa lebih tegang dan mencekam.
Fahad Bin Khalid Al-Harrits mengenakan kemeja putih dan celana hitam tengah berdiri dengan rahang mengeras.
Tangannya mengepal kuat hingga urat-uratnya menonjol.
"Ghayr kafawa!" ("Tidak becus!") bentaknya suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Rumah atas nama Ratna Maharani, rumah yang megah sebagai mahar pernikahannya dengan Sheikh Khaled Al-Harrits.
Rumah itu di Malang Indonesia.
Beberapa anak buahnya berdiri menunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
"Antum fariq kamil... wayumkin lifatat 'an tuflit min aleaqabi?" (“Kalian satu tim penuh… bagaimana seorang perempuan bisa lolos begitu saja?”) lanjutnya dengan nada tajam.
Nama itu tak perlu disebut karena nama itu adalah adalah adik tirinya---Nayla Malika. Semua orang sudah tahu.
Gadis yang kini menjadi duri dalam rencananya, wanita yang bukan melarikan diri tapi juga terjaring ikatan darah tapi secara terpaksa dengannya.
Salah satu anak buahnya mencoba bicara.
"Sayidi... laqad talaqaa musaeadatan min shakhs ma. kanat taharukatuh saebat altatabuei-----" (“Tuan… dia dibantu seseorang. Pergerakannya sulit dilacak—”)
Belum selesai anak buahnya bicara tapi sudah di potong dengan cepat oleh Fahad dengan nada yang keras.
"Asakti!" (“Diam!”) bentak Fahad membanting gelas kristal ke lantai hingga pecah berhamburan.
Napasnya memburu, bukan karena gagal menangkap Nayla saja, tapi jika ayahnya tahu maka posisi pewaris akan di berikan oleh anaknya yang lain.
Jika Sheikh Khaled sampai tahu bahwa rencananya berantakan, dan Nayla masih bebas.
Bahkan mulai melawan maka reputasi keluarganya akan hancur.
Fahad berjalan mondar-mandir pikirannya berputar lebih cepat.
Lalu salah satu anak buah berusaha mendekat meski agak ragu, dan mencoba memberikan saran pada Fahad.
Anak buahnya berwajah India, pasti memiliki saran untuknya.
"Sayidi, yumkinuni tatabue makan wujud alansat nayilat min khilal lawhat tarkhis alsayaarat alati taquduha." ("Tuan, saya bisa melacak keberadaan Nona Nayla lewat plat mobil yang di kendarainya,") ujarnya.
Hal yang membuat guratan wajah Fahad berubah lalu menatap anak buahnya yang berwajah India.
Dirinya melihat bagaimana potensi, kebanyakan orang India kalo soal IT atau komputer pada jago.
"Yeirda." ("Tunjukkan,") jawabnya mengangkat setengah alisnya.
Anak buahnya segera membuka laptop dan melihat dimana posisi Nayla, di sebuah desa di Jawa Barat.
Dan Nayla berhasil membangun komunitas judi terbesar, sekaligus prostitusi.
Bahkan ulama disana tak ada yang berani bersuara atau mengusiknya, karena Mafia sudah mengusai semua jaringan yang ada disana.
"Hsnan, yumkinuna aldhahab 'iilaa hunak alan." ("Baiklah kita bisa kesana sekarang,") ujar Fahad dirinya segera menyusun siasat agar Nayla di bawa kembali.
Fahad segera keluar dari ruangan itu.
Pria itu berjalan menuju garasi untuk segera ke kantor kepolisian Malang.
Sementara sang ayah---Khaled Al-Harrits sedang istirahat bersama istri mudanya----Ratna, dirinya segera menelepon polres Malang untuk meminta kerjasamanya.
Tangannya sudah siap membawa tembakan berisi obat bius, yang nanti akan di tembakan kepada Nayla jika gadis itu berani melawan.
"Ram! 'ayn Nayla? hal yumkinuna alwusul 'iilayha bialsayaarat 'am ealayna 'an nastaqila tayirat hilikubtir?" ("Ram! Dimana posisi Nayla apa bisa di jangkau menggunakan mobil atau harus menaiki helikopter?") tanya Fahad pada bawahannya.
"Bi'iimkanina astijar tayirat hilikubtar waruknuha fi manzil alsayidat fi gharb jawati." ("Kita bisa naik Helikopter dan kita parkirkan di rumah Nyonya di Jawa Barat.")
Fahad langsung setuju menyetir mobilnya menuju kantor kepolisian Malang, dan akan mengabarkan untuk kerjasamanya membasmi sarang Mafia di Jawa Barat.
"Hal ladaykum 'ayu maelumat eamaa kanat nayilat tafealuh mwkhraan?" ("Apa kalian semua dapat info apa yang dilakukan Nayla belakangan ini?") tanya Fahad membuka kacamatanya.
Salah satu anak buahnya membuka tab di tangannya, menunjukkan apa saja aktivitas Nayla.
"Ablagh sidi, laqad qamat alansat allaylat almadiat bieamaliat tahrib bashar 'iilaa almaksik." ("Lapor Tuan, semalam Nona melakukan aksi penjualan manusia dengan menyelundupkan wanita-wanita muda ke Mexico,") ucap Ramtanu, menunjukkan gambar pada atasannya.
Mendengar Adiknya berbuat kejahatan seperti membuat Fahad semakin geram dengan tingkah sang adik.
Untung saja ini Indonesia hukumnya lemah, coba kalo di Arab Saudi bisa di bayangkan apa hukuman yang diterima oleh Nayla.
Nayla menjual wanita muda yang dulu menghinanya dengan merusak hidup mereka, dan bahkan membunuh.
Mereka yang sedang menyusun siasat untuk mengambil Nayla kembali.
Tiba-tiba tanpa sadar mobil mereka hampir menabrak seorang wanita yang sedang membeli minuman di mini market.
"Yan awas!" jerit Ram mengerem secara mendadak.
Krittt!
"Kyaaaa! Astagfirullah!" jerit seorang wanita yang langsung terjatuh.
Mobil mendadak berhenti, dan Fahad turun lalu menatap wanita yang sedang terjatuh itu.
"Are you okay?" (Apa kamu baik-baik saja?) tanya Fahad menggunakan bahasa Inggris.
Wanita yang mengenakan gamis warna hijau muda dan pita di kedua lengannya berwarna merah muda, hijab pashmina yang terselampir di bahunya.
Tangannya memunguti minuman itu, lalu di bantu oleh Fahad.
"I'm so sorry, Miss." (Aku sungguh minta maaf, Nona.")
"No, I'm oke," jawab Ning Syifa sebisanya.
Saat meraih satu botol tangan Fahad menyentuh tangan Ning Syifa, mata pria Arab saudi dan mata wanita Indonesia itu saling bertatapan.
Sejenak Ning Syifa menatap mata Fahad ada gurun yang tengahnya ada Oase indah, sementara di Fahad menatap surga tropis yang indah di mata Ning Syifa.
"I'm oke," ucap Ning Syifa tersenyum segera menarik tangannya dari Fahad.
"My name is Fahad," ucap Fahad mengulurkan tangannya.
Ning Syifa masih menurunkan pandangannya dan menyatukan tangan, karena dirinya tahu tak boleh bersentuhan dengan pria yang bukan mahram.
"My name is Syifa," jawabnya.
Fahad tersenyum sejenak menatap kecantikan gadis ini, setelah itu Ning Syifa berlari masuk ke dalam mobil sang ayah yang ada di sebrang mini market.
Mobil ayahnya terparkir di depan rumah makan.
Fahad sejenak tersenyum menatap wajah gadis yang berlalu sambil menyebrang itu.
"Sayidi...," suara Ram membuyarkan lamunannya.
Ram segera menarik Tuannya ke dalam mobil, Fahad tersenyum membayangkan wajah Syifa.
Padahal Fahad sudah memiliki istri dan anak di Arab Saudi, dirinya jika ingin menikah lagi harus atas izin sang istri.
"Syifa asm jamil jdaan." ("Syifa nama yang sangat indah.")
Fahad masuk mobil, amarahnya seketika padam saat menatap senyum dan wajah dari Ning Syifa.
*