Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Saat malam menjelang, langit di kota Pekanbaru mulai terbentang dengan warna jingga kemerahan yang perlahan menghilang digantikan oleh hamparan bintang-bintang yang sedikit tersembunyi di balik awan.
Di dalam kamar, Abram baru saja menyelesaikan mandi, air masih sedikit menetes di lehernya saat ia duduk di tepi kasur.
Tangannya mengambil amplop coklat yang diberikan oleh Ibu Maya pada siang hari, lalu dengan hati-hati mengeluarkan lembaran-lembaran uang yang masih baru.
Ia menghitung satu per satu dengan teliti, mulutnya komat kamit cepat sambil mengucapkan angka secara diam-diam.
Setelah tiga kali menghitung untuk memastikan tidak ada kesalahan, ia menghela nafas dalam-dalam.
"Tiga puluh juta rupiah... ini benar-benar banyak sekali," gumamnya dengan suara pelan, matanya terpaku pada amplop yang kini terisi kembali dengan uang tersebut.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang lembut namun jelas terdengar dari luar kamar, membuat Abram terkejut.
Tanpa berpikir dua kali, ia cepat-cepat memasukkan amplop lalu meletakkan fo bawah bantal.
"Siapa?" tanya Abram dengan nada waspada, sambil menuju ke arah pintu.
"Saya, Dokter Rahmat," jawab suara yang sudah akrab di telinganya, suara yang hangat namun kini terasa sedikit lesu.
Abram segera membuka kunci pintu dan menarik pelat pintunya. Saat pintu terbuka lebar, ia melihat Dokter Rahmat berdiri di luar dengan jas dokter dan kain sapu tangan putih yang sedang ia gunakan untuk menyeka keringat yang mengalir deras di dahinya.
Jas dokter yang biasanya rapi kini tampak kusut, dan mata Dokter Rahmat itu terlihat merah dan lelah.
"Dokter Rahmat, ayo masuk saja," ujar Abram dengan senyuman hangat, menyilangkan jalannya agar dokter bisa masuk ke dalam kamar.
Dokter Rahmat mengangguk perlahan dan memasuki kamar, kemudian langsung duduk di kursi besi yang satu-satunya ada di kamar tersebut. Badannya terlihat seperti akan roboh kapan saja, bahunya membungkuk dan napasnya masih sedikit terengah-engah.
Melihat kondisi dokter yang lelah itu, Abram segera mengambil gelas plastik dari meja dan menuangkan air putih dari ember galon yang berada di sudut kamar. Ia memberikan gelas tersebut kepada Dokter Rahmat.
"Anda benar-benar kelelahan sekali, Dokter," ujar Abram dengan nada penuh perhatian, sambil duduk di tepi kasur menghadap dokter.
"Iya, Abram... tadi ada pasien yang mengalami kecelakaan kerja dengan luka sayatan sangat dalam di perut dan kerusakan pada organ dalam. Operasi yang seharusnya hanya berlangsung dua jam akhirnya memakan waktu lima jam penuh," kata Dokter Rahmat sambil meneguk air putih dengan cepat, seolah ingin menghilangkan rasa haus yang luar biasa.
"Setelah operasi selesai dan pasien kondisinya stabil, saya baru bisa membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Rasanya seluruh tenaga saya sudah terkuras habis," katanya dengan kelelahan.
Abram melihat wajah Dokter Rahmat dengan pandangan penuh simpati.
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
di tunggu kelanjutannya