NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:195
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada Ruang Bawah Tanah

Langit masih hitam ketika Fred terbangun.

Bukan karena mimpi, bukan karena suara keras—melainkan karena tubuhnya sudah tidak tahu lagi bagaimana rasanya aman. Di rumah Mercer, udara memang tenang, tapi ketenangan itu seperti kaca tipis: terlihat damai, namun cukup disentuh sedikit saja bisa pecah jadi serpihan.

Fred duduk di tepi ranjang, mendengarkan.

Tidak ada sirene. Tidak ada langkah tergesa. Hanya bunyi halus pemanas ruangan dan angin yang menyisir dahan pohon di luar jendela. Di kejauhan, seekor burung bersuara satu kali, lalu diam lagi.

Ia menatap jam di meja kecil: 04:51.

Ia menghela napas, lalu berdiri. Kakinya masih terasa berat, tapi pikiran di kepalanya jauh lebih berat.

Di luar kamar, rumah Mercer gelap. Lampu koridor tidak menyala. Fred berjalan pelan, nyaris tanpa suara, menuruni tangga. Lantai kayu mengeluarkan bunyi krek kecil di satu papan—bunyi yang semalam tidak ia sadari, tapi sekarang ia mengingatnya sebagai “titik yang harus dihindari.”

Ia berhenti di dekat pintu depan, mengintip lewat kaca kecil di sampingnya.

Udara luar tampak lebih dingin. Kabut tipis menempel di rumput. Jalan tanah di depan rumah masih kosong.

Lalu bayangan bergerak di sisi rumah.

Fred menahan napas.

Ia membuka pintu perlahan.

Di luar, Maëlle sudah ada di halaman. Ia berdiri sebentar, melakukan peregangan singkat, seolah tubuhnya mesin yang harus dipanaskan sebelum dipakai. Pakaian olahraganya sederhana dan ketat—bukan untuk gaya, tapi untuk bergerak tanpa hambatan. Rambutnya diikat rapi. Wajahnya tetap dingin, datar, tanpa senyum seperti biasanya.

Fred melangkah keluar.

“Maëlle,” panggil Fred pelan.

Maëlle tidak menoleh.

Fred mendekat beberapa langkah, masih menjaga jarak. “Kamu… kamu baik-baik saja?”

Maëlle mengangkat satu bahu, gerakan kecil yang tidak menjawab apa pun. Lalu ia mulai lari.

Begitu saja.

Tidak ada “pagi.” Tidak ada “jangan keluar.” Tidak ada peringatan. Ia melesat meninggalkan halaman seperti bayangan yang memutuskan ia tidak butuh penjelasan.

Fred terpaku di depan pintu, mengikuti sosok itu dengan mata sampai Maëlle menghilang di tikungan jalan kecil. Ia merasakan campuran emosi yang tidak rapi: lega karena Maëlle hidup, kesal karena diabaikan, dan takut karena satu-satunya orang yang “berbahaya tapi melindungi” itu kini pergi menjauh.

Ia berdiri di sana beberapa detik sampai udara menggigit ujung telinganya.

Lalu suara pintu belakang terbuka.

Mercer keluar.

Pagi-pagi sekali, dan pria itu sudah rapi seolah sudah menjalani setengah hari. Ia memakai kemeja dan jas dokter yang sederhana, bersih, dengan cara pakai yang membuatnya terlihat seperti orang yang selalu punya jadwal lebih padat daripada waktu.

Ia menatap Fred sekilas, lalu mengangguk kecil.

“Kamu bangun cepat,” kata Mercer.

Fred mengangkat bahu. “Aku… susah tidur.”

Mercer tidak terlihat terkejut. “Normal.”

Fred menunjuk ke arah Maëlle yang sudah hilang. “Dia lari pagi… dan mengabaikan aku.”

Mercer tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Itu cara Maëlle menjaga kepalanya tetap tenang.”

Fred mengernyit. “Lari?”

“Gerak,” jawab Mercer. “Orang seperti dia tidak bisa duduk diam terlalu lama. Kalau duduk diam, pikirannya jadi senjata yang menusuk dirinya sendiri.”

Fred menelan ludah, menatap jalan.

Mercer merapikan mansetnya. “Aku akan ke laboratorium.”

“Kamu punya lab?” Fred refleks bertanya, lalu baru sadar betapa anehnya pertanyaan itu terdengar.

Mercer menatapnya sejenak, seolah menimbang apakah Fred siap untuk jawaban yang lebih dalam. Tapi Mercer hanya berkata, “Tempat kerja.”

“Di kota?” Fred bertanya.

“Tidak jauh,” jawab Mercer. Ia berjalan ke arah mobil pickup putih yang terparkir di depan rumah—mobil yang terlihat terlalu biasa untuk seorang pria yang bisa “menghilangkan” seseorang dari kereta tanpa menarik perhatian.

Fred berdiri di samping mobil, ragu, lalu akhirnya bertanya, “Mercer… kamu yakin aman meninggalkan aku sendirian?”

Mercer membuka pintu mobil, menoleh.

“Aman itu relatif,” katanya. “Tapi ada dua hal yang membuatku berani.”

Fred menahan napas. “Apa?”

Mercer mengangkat dua jari. “Satu: kamu bukan tipe yang keluar sendiri setelah diberi tahu kamu sedang diburu.”

Ia menatap Fred tajam, seolah memperingatkan: jangan buktikan aku salah.

“Dua: rumah ini tidak mudah dimasuki orang yang tidak diundang.”

Fred menatap rumah, lalu kembali menatap Mercer. “Itu terdengar… seperti ada sesuatu.”

Mercer masuk ke mobil, menyalakan mesin. “Ada banyak sesuatu,” jawabnya datar, lalu menambahkan, “Sarapan ada di dapur. Jangan menghabiskan semua roti.”

Kemudian pickup itu bergerak, ban menggeser kerikil, dan Mercer pergi, menyisakan debu tipis yang perlahan mengendap.

Fred berdiri di halaman, mendengar suara mesin menjauh sampai hilang sepenuhnya.

Sekarang hanya ada angin dan napasnya sendiri.

Ia menatap rumah Mercer.

Dan sebuah pikiran yang tidak nyaman muncul, pelan tapi tajam:

Mereka percaya aku tidak akan mengutak-atik rumah ini.

Fred tersenyum getir.

“Tentu saja tidak,” gumamnya.

Di dalam rumah, lampu dapur menyala otomatis ketika Fred masuk. Mercer benar—sarapan ada: roti, selai, telur, dan termos air panas. Tapi Fred tidak lapar. Perutnya seperti terikat.

Ia berjalan pelan, memandangi rumah itu dengan mata baru: mata orang yang baru belajar bahwa “rumah” bisa jadi panggung dan panggung bisa jadi jebakan.

Ia memulai dari ruangan yang paling logis.

Ruang praktik.

Di sisi kiri koridor ada ruangan dengan pintu setengah tertutup. Fred mendorongnya pelan.

Ruang itu terlihat seperti ruang periksa dokter umum di desa—bersih, sederhana. Ada tempat tidur pasien dengan kertas pelapis, lemari kecil berisi alat medis dasar, wastafel, dan lampu pemeriksaan. Bau disinfektan tipis melekat, bukan bau rumah, melainkan bau tempat kerja.

Fred membuka lemari—hanya perban, sarung tangan, alat ukur tekanan darah, stetoskop. Tidak ada sesuatu yang berteriak “rahasia.” Tidak ada senjata. Tidak ada map misterius. Semuanya terlalu… normal.

Ia menutup lemari, lalu masuk ke kamar Mercer.

Kamar itu rapi, sedikit steril. Tempat tidur tertata, lemari tertutup. Ada meja kerja dengan beberapa kertas, tapi bukan kertas yang bisa mengubah hidup seseorang—hanya catatan medis, jadwal, dan beberapa kuitansi.

Fred mengangkat alis.

Di kamar tamu yang ia pakai—kamar tempat ia bangun kemarin—dinding penuh piagam dan foto. Ada “Dr. E. Mercer” di mana-mana, seperti bukti identitas yang sengaja dipajang agar Fred percaya.

Tapi di kamar Mercer sendiri…

Tidak ada piagam.

Tidak ada foto.

Tidak ada rak penuh buku.

Seolah semua bukti kehidupan Mercer sebagai “dokter” sengaja dipusatkan di kamar yang dipakai Fred.

Fred berdiri lama, menatap dinding kosong kamar Mercer.

Itu tidak cukup untuk menyimpulkan apa pun. Tapi itu cukup untuk menimbulkan pertanyaan.

Ia keluar, menuju kamar Maëlle.

Pintunya tidak terkunci. Fred ragu sebentar—ini terasa seperti pelanggaran—tapi rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa sopan.

Kamar Maëlle… hampir tidak memiliki identitas.

Meja kosong.

Tempat tidur rapi.

Lemari dengan beberapa gantungan pakaian yang jumlahnya terlalu sedikit untuk orang yang “tinggal.” Tidak ada parfum. Tidak ada buku. Tidak ada foto. Tidak ada charger ponsel yang tercecer. Tidak ada apa-apa yang membuat ruangan itu terasa dihuni.

Seperti kamar hotel.

Fred membuka laci meja kecil di samping tempat tidur. Tidak terkunci. Kosong, kecuali satu koin receh dan klip kertas.

Ia membuka laci lain—hanya tisu dan karet rambut.

Ia menutupnya, menghela napas pelan.

“Dia memang bayangan,” gumam Fred. “Bayangan nggak meninggalkan barang.”

Fred hendak keluar ketika matanya menangkap sesuatu yang kecil—sangat kecil—tapi cukup untuk membuatnya berhenti.

Karpet di tengah kamar… sedikit ketekuk.

Bukan lipatan besar yang jelas. Hanya sudut yang tidak rata, seperti karpet pernah diangkat dan diletakkan kembali dengan terburu-buru.

Fred menatapnya beberapa detik. Lalu ia jongkok, menyentuh ujung karpet itu dengan ujung jari.

Ada sedikit debu yang tidak seharusnya ada kalau karpet itu tidak pernah digeser.

Napas Fred tertahan.

Ia mengangkat karpet pelan.

Di bawahnya ada sebuah pintu kecil—seperti akses panel—dengan bingkai kayu rapat dan pegangan besi. Ukurannya cukup untuk satu orang turun merunduk.

Ada kunci.

Fred mencoba menggoyangnya pelan. Terkunci rapat.

Ia menempelkan telinga, mendengarkan.

Tidak ada suara.

Tapi ada hawa dingin halus yang merembes dari celah kayu—seperti udara dari ruang yang jarang dibuka.

Fred menarik napas panjang, jantungnya berdetak.

Jadi ada ruang bawah tanah.

Ruang yang disembunyikan… tepat di kamar Maëlle.

Ia menatap kunci itu lama.

Bagian dirinya ingin mencari alat, memaksa membuka. Tapi bagian lain—bagian yang masih waras—mengingat satu hal: Mercer berkata rumah ini “tidak mudah dimasuki orang yang tidak diundang.”

Kalau rumah ini punya sistem keamanan atau jebakan, memaksa pintu itu bisa jadi cara paling cepat untuk membuat dirinya mati… tanpa ada pembunuh.

Fred mengembuskan napas, pelan.

“Bukan sekarang,” bisiknya.

Ia meletakkan karpet kembali. Ia merapikan ujungnya seperti semula, menekan sudut yang ketekuk agar terlihat rata. Lalu ia berdiri dan keluar dari kamar Maëlle tanpa menoleh lagi—seolah ia baru saja melihat sesuatu yang tidak boleh diingat.

Di koridor, rumah terasa sunyi lagi. Tapi sunyi itu kini punya lapisan lain: rahasia yang mengintai dari bawah lantai.

Fred turun ke ruang tamu, mengambil majalah yang ada di rak—majalah umum, tentang berita lokal dan kesehatan. Ia duduk di sofa, mencoba memaksa pikirannya kembali ke jalur normal: membaca, bernapas, menunggu.

Ia membuka halaman pertama, tapi matanya tidak benar-benar membaca.

Yang ia lihat adalah pintu kecil di bawah karpet.

Yang ia dengar adalah kalimat Maëlle semalam: jangan keluar sebelum kita tahu motifnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Fred menyadari bahwa “motif” itu mungkin bukan hanya tentang pembunuh di luar sana.

Motif itu mungkin terkunci… tepat di bawah rumah ini.

Fred membalik halaman majalah, pura-pura fokus, sementara di dalam kepalanya sebuah pertanyaan baru tumbuh, lebih dingin dari yang sebelumnya:

Apa yang sebenarnya disembunyikan Mercer dan Maëlle dariku?

Di luar, langit mulai memucat. Matahari belum muncul, tapi siang akan datang.

Dan ketika siang datang, mungkin—hanya mungkin—seseorang akan membuka pintu bawah tanah itu.

Atau Fred akan terpaksa membukanya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!