Sinopsis
Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.
Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.
Namun takdir punya caranya sendiri.
Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.
Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.
Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?
Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Pigmen dan Kompromi
Selasa pagi di Melbourne tidak pernah pedulih apakah kamu baru saja membuat keputusan besar dalam hidup atau tidak. Kota ini tetap berputar. Trem 96 tetap berdecit di tikungan Nicholson Street, dan burung-burung magpie tetap berisik di dahan pohon plane yang meranggas.
Alya terbangun dengan leher kaku. Merekah ketiduran di lantai semalam, di atas hamparan selimut wol yang baunya sudah bercampur antara parfum sisa Jakarta dan deterjen lokal. Arka sudah bangun lebih dulu. Dia duduk di meja lipat, membelakangi jendela, wajahnya diterangi cahaya biru dari layar laptop. Suara ketikan kibornya cepat, ritmis, seperti detak jantung seseorang yang sedang dikejar tenggat waktu.
"Katanya mau tidur delapan jam tanpah alarm?" goda Alya, suaranya parau khas bangun tidur.
Arka menoleh sebentar, tersenyum tipis yang tidak sampai ke mata. "Investor Sydney kirim email jam tiga pagi. Mereka 'menghargai' keputusanku buat tetap di Melbourne, tapi itu artinya valuasi kita disesuaikan. Aku harus revisi model keuangan sebelum jam sepuluh."
Alya duduk, mengikat rambutnya asal. "Disesuaikan itu bahasa halus buat 'dikurangi', kan?"
Arka mengangguk pelan, lalu kembali menatap layar. "Nggak apa-apa. Ini harga yang harus dibayar buat ngecat tembok, Al."
Alya terdiam. Kata-kata itu terdengar romantis semalam, tapi di bawah cahaya pagi yang jujur, ada beban yang nyata di sana. Dia berdiri, menuju dapur kecil mereka yang hanya seluas dua ubin, dan mendapati kaleng cat warna Mint Dream sudah duduk manis di atas meja konter. Arka pastih sudah ke Bunnings—toko perkakas raksasa itu—saat subuh tadi.
"Kamu beneran beli?" tanya Alya, menyentuh tutup kaleng yang masih dingin.
"Aku nggak mau janji itu cuma jadi draf di kepala kita," sahut Arka tanpa menoleh.
Alya berangkat kerja dengan perasaan campur aduk. Di kantor, "Chief" kembali menjadi identitasnya. Ruang rapat di lantai 12 terasa lebih dingin dari biasanya. Bosnya, si Regional Head, tampak tidak senang saat Alya menyerahkan memo penolakan proyek luar kota untuk kuartal ini.
"Kamu tahu ini bisa menghambat jalurmu ke posisi Director tahun depan, kan?" tanya bosnya, sambil memutar-mutar pulpen mahal di jarinya.
"Saya tahu," jawab Alya mantap. "Tapi saya butuh waktu buat stabil di sini. Tim Melbourne juga butuh saya penuh, bukan cuma lewat Zoom dari hotel di Jakarta."
Bosnya menatap Alya lama, seolah sedang mencarih celah keraguan. "Oke, Chief. Tapi jangan minta dispensasi kalau target karbon kita meleset bulan depan. Kamu yang pegang kemudinya sekarang."
Sore itu, Alya pulang dengan energi yang terkuras habis. Dia mampir ke swalayan dekat apartemen, membeli dua rol pembersih debu dan sikat gosok. Kalau mereka mau mengecat, mereka harus membersihkan debu-debu Carlton yang sudah menempel bertahun-tahun di tembok itu.
Saat dia sampai di unit 3B, bau cat sudah menyerbak. Arka sedang berdiri di atas tangga kecil, mengenakan celana pendek dan kaus oblong yang sudah penuh cipratan warna hijau pucat. Dia tampak... berantakan. Wajahnya kuyu, tapi ada fokus yang aneh di matanya.
"Bang, kamu belum makan siang?" tanya Alya, melihat bungkus roti lapis yang masih utuh di meja.
"Bentar lagi, Al. Tanggung. Kalau berhenti sekarang, gradasinya nggak rata," jawab Arka pendek.
Alya meletakkan belanjaannya. Dia melihat Arka bekerja dengan obsesi yang hampir tidak sehat. Seolah-olah dengan menyelesaikan tembok ini, Arka bisa membuktikan bahwa pilihannya menolak Sydney adalah benar. Seolah-olah warna hijau mint ini adalah perisai yang bisa melindungi mereka dari kegagalan finansial yang mungkin datang.
"Turun, Bang," kata Alya lembut tapi tegas.
"Bentar, sedikit lagi—"
"Arka, turun."
Arka berhenti. Dia menatap kuas di tangannya, lalu menatap Alya. Dia perlahan turun dari tangga, bahunya meluruh. Dia duduk di lantai yang sudah ditutupi koran bekas, menyandarkan kepala di lututnya.
"Aku takut, Al," aku Arka pelan. Suaranya tenggelam di antara bau cat yang menyengat. "Tadi siang co-founder-ku telepon. Dia bilang aku egois. Dia bilang aku mempertaruhkan masa depan perusahaan cuma karena 'masalah domestik'."
Alya duduk di sampingnya, tidak peduli kalau celana kerjanya terkena sisa debu tembok. Dia menarik tangan Arka yang kasar karena memegang gagang kuas terlalu lama.
"Masalah domestik itu namanya 'hidup', Bang," bisik Alya. "Kita bukan robot yang bisa diprogram buat sukses tanpa punya akar. Kalau akarmu di sini, ya di sini. Perusahaan itu bisa tumbuh kalau kamu waras. Dan kamu nggak akan waras kalau tiap hari harus mikirin paspor dan koper."
Arka menoleh, menatap tembok yang baru dicat separuh. Warnanya memang cantik—hijau mint yang segar, kontras dengan karpet oats mereka yang kusam. Tapi di mata Arka, warna itu sekarang terlihat seperti pengingat akan risiko yang dia ambil.
"Gimana kalau aku salah?" tanya Arka.
"Kalau kamu salah, kita cat lagi temboknya jadi putih. Kita mulai lagi dari nol. Kita sudah pernah melakukannya di Singapura, di Jakarta, dan sekarang di sini. Apa yang kamu takutin?"
Arka tersenyum kecil, kali ini senyumnya sampai ke mata. Dia menarik kepala Alya ke bahunya. "Kamu selalu punya jawaban yang bikin aku kelihatan kayak drama queen, ya?"
"Itu tugas 'Chief' di rumah ini," goda Alya.
Malam itu, mereka tidak menyelesaikan pengecatan. Mereka justru memesan mi instan cup dan duduk di tengah ruangan yang baunya seperti kimia dan harapan. Mereka menonton tembok yang mengering perlahan. Pigmen hijaunya mulai menyatu dengan tekstur semen tua.
Hari ke-30 di Melbourne ditutup dengan kesadaran baru: Komitmen bukan hanya soal janji untuk tinggal, tapi soal keberanian untuk merasa "tidak apa-apa" saat dunia menganggap pilihanmu salah.
Alya mengambil kuas yang tergeletak, mencelupkannya sedikit ke kaleng cat, lalu membuat coretan kecil di bagian tembok yang belum dicat: A & A - Carlton, 2026.
"Itu bakal ketutup cat besok," protes Arka.
"Nggak apa-apa," sahut Alya. "Kita tahu itu ada di sana. Di bawah warna hijau ini, ada kita yang lagi berjuang."
Arka tertawa, lalu mengambil kuas lain. Mereka menghabiskan sisa malam dengan mengecat bersama, bukan sebagai tugas, tapi sebagai cara untuk mengklaim ruang itu sebagai milik mereka. Di luar, langit Melbourne mulai menjatuhkan hujan, tapi kali ini udaranya tidak lagi terasa sempit.
Izinnnn
ahh pria solo itu lagii🤣🤣