NovelToon NovelToon
Penantian Sheilla

Penantian Sheilla

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: chocolate_coffee

Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.

Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau di Atas Salju dan Obsesi yang Belum Usai

Montreal malam ini kelihatan kayak di dalam snow globe. Salju turun tipis-tipis, menghiasi jalanan Vieux-Port yang bersejarah. Lampu-lampu kuning temaram dari gedung tua bergaya kolonial bikin suasana jadi romantis banget, tipe suasana yang dulu cuma bisa Sheilla bayangin pas lagi baca novel di pojokan kamarnya yang sepi di Jakarta.

Sudah satu tahun Sheilla menjalin hubungan sama Alex. Hubungan yang kalau kata Sheilla rasanya kayak minum teh hangat di tengah badai. Nggak ada drama meledak-ledak, nggak ada rasa curiga yang mencekik. Alex adalah tipe pacar yang bakal ninggalin catatan kecil di pot bunga Sheilla cuma buat bilang, "Jangan lupa makan siang, My Sun-kissed Florist."

Malam ini, Alex ngajak Sheilla makan malam di Portus 360, sebuah restoran bintang lima yang letaknya di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit. Restoran ini bisa berputar 360 derajat, jadi mereka bisa ngelihat seluruh kerlap-kerlip lampu kota Montreal dari ketinggian.

--

Sheilla tampil cantik banget malam ini. Dia pakai gaun velvet warna merah marun yang pas di badannya, rambutnya disanggul modern dengan beberapa helai dibiarkan jatuh membingkai wajahnya. Alex? Dia kelihatan lebih rapi dari biasanya. Kaos oblong favoritnya diganti sama kemeja putih bersih dan jas slim-fit warna abu-abu gelap.

"Kamu oke, Lex? Dari tadi kamu minum air putih terus kayak orang habis makan sambal terasi," goda Sheilla sambil motong filet mignon-nya.

Alex tertawa canggung, ngerapiin kerah jasnya. "Ah, masa sih? Mungkin karena AC-nya kurang dingin?"

Sheilla ketawa kecil. "Lex, ini Canada, dan di luar lagi salju. Alasan kamu nggak masuk akal."

Alex narik napas panjang, natap Sheilla dalem-dalem. "Sheil, satu tahun ini... rasanya kayak mimpi yang aku nggak pengen bangun. Kamu tahu kan, aku ini fotografer. Aku biasa ngelihat dunia lewat lensa, nyari komposisi yang sempurna. Tapi sejak ada kamu, aku baru sadar kalau momen paling sempurna itu justru pas aku naruh kameraku dan cuma natap kamu."

Sheilla ngerasa pipinya panas. Chemistry di antara mereka malam ini kuat banget, ada rasa haru yang nyelip di tengah-tengah obrolan santai mereka.

"Kamu itu bunga yang paling susah aku potret, Sheil. Karena kecantikan kamu itu bukan cuma di kelopak, tapi di akar kamu yang kuat banget setelah ngelewati banyak musim dingin," lanjut Alex.

--

Tiba-tiba, restoran itu kerasa lebih sunyi. Alex berdiri, jalan ke arah samping kursi Sheilla, lalu perlahan berlutut. Sheilla ngerasa napasnya berhenti sebentar. Orang-orang di sekitar mulai menoleh, beberapa mulai berbisik sambil tersenyum.

Alex ngeluarin sebuah kotak kecil dari beludru hitam. Di dalamnya, ada sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang potongannya sangat halus, dikelilingi oleh ukiran berbentuk bunga matahari kecil bunga favorit Sheilla.

"Sheilla, aku nggak bisa janji kalau langit bakal selalu cerah. Aku juga nggak bisa janji kalau aku bakal jadi pria paling sempurna di dunia. Tapi aku janji, aku bakal jadi tempat kamu pulang. Aku bakal jadi orang yang bakal megang tangan kamu pas kamu takut, dan orang yang bakal ngerayain setiap kelopak bunga kamu yang mekar."

Alex natap mata Sheilla dengan kejujuran yang bikin hati Sheilla luluh. "Sheilla, veux-tu m'épouser? Maukah kamu menikah denganku?"

Air mata Sheilla jatuh. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kemenangan. Dia ingat Adrian yang pergi terlalu cepat, dia ingat luka Ardhito yang hampir menghancurkannya. Tapi malam ini, di depan Alex, dia merasa bener-bener dihargai sebagai manusia.

"Yes, Alex. Oui. Aku mau," jawab Sheilla mantap.

Alex langsung masangin cincin itu di jari manis Sheilla, terus meluk dia erat banget diiringi tepuk tangan dari pengunjung restoran. Di pelukan Alex, Sheilla ngerasa akhirnya dia bener-bener mendarat di pelabuhan yang tepat.

--

Sementara itu, ribuan kilometer dari Montreal, di sebuah kantor mewah di Jakarta yang dingin karena AC, Ardhito duduk sendirian. Di depannya bukan dokumen proyek, tapi papan tulis besar yang penuh dengan foto-foto studio Sheilla di Canada, jadwal pameran Alex, sampai rute jalan kaki Sheilla dari flat ke tokonya.

Ardhito kelihatan berantakan. Rambutnya nggak serapi dulu, matanya cekung. Dia nggak pernah bener-bener pergi ke Afrika buat jadi relawan selamanya. Itu cuma taktik buat bikin Sheilla kasihan dan nurunin kewaspadaannya.

"Kamu pikir kamu bisa lepas gitu aja, Sheil?" gumam Ardhito sambil nyesap wiski-nya.

Dia manganggil sekretaris pribadinya, seorang pria bernama Rio yang udah biasa ngurusin "sisi gelap" Ardhito.

"Rio, gimana progresnya? Investor yang mau beli gedung di seberang studio Sheilla udah dapet?"

"Sudah, Pak. Kita sudah masuk lewat perusahaan cangkang di Singapore. Minggu depan, secara hukum, gedung itu milik Bapak. Dan soal izin impor bunga tropis yang biasa Sheilla pakai... kita sudah mulai 'main' di bagian bea cukai lewat koneksi kita. Dia bakal kesulitan dapet stok bulan depan," lapor Rio datar.

Ardhito tersenyum tipis. Senyum yang nggak ada hangat-hangatnya. "Bagus. Biarin dia ngerasa susah dulu. Biarin bisnisnya goyang. Pas dia panik, di situlah aku bakal muncul sebagai 'pahlawan' yang nyelamatin studionya. Dia harus tahu kalau di dunia ini, cuma aku yang punya kekuatan buat jaga dia."

Logika Ardhito udah bener-bener bengkok. Dia ngerasa kalau dengan ngancurin apa yang Sheilla bangun, dia bisa maksa Sheilla buat butuh dia lagi. Dia nggak sadar kalau Sheilla yang sekarang bukan lagi tanaman pot yang bisa dipindah-pindah semaunya, tapi pohon besar yang akarnya sudah menghujam jauh ke tanah Montreal.

"Alex itu cuma kerikil, Rio. Fotografer yang cuma bisa kasih kata-kata manis. Sheilla bakal sadar kalau cinta nggak bisa kasih dia keamanan bisnis. Siapkan tiket saya ke Canada bulan depan. Saya mau nonton 'pertunjukan' ini dari dekat."

--

Kembali ke Montreal, Sheilla dan Alex lagi jalan kaki menyusuri trotoar menuju flat Sheilla. Mereka saling gandengan tangan, cincin di jari Sheilla berkilau tiap kali kena lampu jalan.

"Kamu kok bisa kepikiran ukiran bunga matahari di cincinnya?" tanya Sheilla sambil nyenderin kepalanya di bahu Alex.

"Karena matahari itu kamu, Sheil. Tanpa kamu, duniaku cuma foto hitam putih yang nggak punya nyawa," jawab Alex enteng, tapi dalem.

Sheilla ketawa, ngerasa bahagia banget. Dia nggak tahu kalau di Jakarta, ada orang yang lagi nyiapin rencana buat merusak kebahagiaan ini. Dia nggak tahu kalau badai baru lagi disiapin.

Tapi, Sheilla yang sekarang bukan Sheilla yang dulu. Pas dia masuk ke flatnya malam itu, dia ngelihat ke arah cermin. Dia ngelihat cincinnya, terus dia ngelihat matanya sendiri.

"Siapapun yang coba merusak apa yang aku bangun sekarang," bisik Sheilla pada pantulannya, "dia bakal berhadapan sama Sheilla yang udah nggak punya rasa takut."

Malam itu, di bawah langit Montreal yang dingin, Sheilla tidur dengan mimpi indah, sementara di Jakarta, Ardhito terjaga dengan rencana jahatnya.

To Be Continue...

-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --

1
falea sezi
uda end kah
Alif
smoga saja kamu menderita dhito
Siti Chadijah Siregar
sangat mengena sekali bahasanya hatiku tersentuh
Rubiyata Gimba
baru kau tahu
Rubiyata Gimba
sedarlah jangan makan hati sendiri, jangan terlalu mengharap pada orang yang tidak pernah memandang mu
Rubiyata Gimba
siapa suruh nenyintai orang yang tidak mencintainya
Rubiyata Gimba
sialan punya teman2
Lilla Ummaya
Lanjut thor.. ini asa kelanjutannya atau engga
Maira
tolong cpt update nya kakk
Maira
seruuu banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!