NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Bulan Madu di Rumah Sendiri

Tiga hari setelah pernikahan, Kalara dan Raka memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana.

"Aku nggak mau bulan madu ke luar negeri," kata Kalara saat mereka diskusi minggu lalu. "Aku mau di sini aja. Di rumah ini."

Raka terkejut. "Serius? Nggak mau ke pantai? Ke gunung? Ke luar negeri?"

"Enggak. Rumah ini baru saja kita renovasi, baru saja kita rayain pernikahannya. Aku mau nikmatin rumah ini sebagai istri lo. Bukan sebagai adiknya Arsya."

Raka tersenyum. "Kamu tahu nggak, itu alasan yang romantis banget?"

"Emang. Aku kan romantis."

"Ya udah kalau gitu. Kita bulan madu di rumah. Nggak pergi ke mana-mana."

"Setuju!"

Dan begitulah. Tiga hari setelah pernikahan, mereka masih di rumah Menteng. Pagi itu, Kalara bangun lebih awal, memasak sarapan untuk suaminya. Dulu ia sering gosong, tapi sekarang—setelah latihan bertahun-tahun—masakannya lumayan.

Raka turun dengan rambut acak-acakan, masih setengah tidur. Ia memakai kaos oblong dan celana pendek. Sangat berbeda dari penampilannya yang rapi di kafe.

"Pagi, istriku," sambarnya sambil mencium pipi Kalara.

"Pagi, suamiku. Sarapan udah siap."

"Wah, masak apa?"

"Nasi goreng. Sederhana. Tambah telur mata sapi."

Raka mencicipi. Matanya membelalak. "Enak!"

"Serius?"

"Serius. Ini enak banget. Kamu belajar dari mana?"

"YouTube. Dan dikit-dikit dari Mama."

Raka memeluknya. "Istriku sempurna."

"Ah, lo mah."

Mereka sarapan bersama. Di luar, matahari mulai naik. Suara burung-burung bernyanyi. Hari yang indah untuk memulai kehidupan baru.

Di lantai atas, Arsya juga bangun. Tapi ia tidak langsung turun. Ia duduk di balkon, menikmati kopi dan pemandangan halaman belakang—yang kemarin masih penuh tenda, sekarang sudah bersih kembali.

Pernikahan Kalara meninggalkan kesan mendalam di hatinya. Melihat adiknya berjalan di pelaminan, tersenyum bahagia, membuatnya sadar bahwa hidup benar-benar berubah.

Dulu, ia hanya arsitek dingin yang pulang ke apartemen sepi. Sekarang, ia punya keluarga. Punya adik. Punya ipar. Punya kekasih.

"Pagi."

Nadia muncul di sampingnya, masih dengan gamis tidur. Rambutnya berantakan, tapi tetap cantik.

"Pagi. Kok udah bangun?"

"Kangen kamu."

Arsya tersenyum. Ia menarik Nadia duduk di pangkuannya. Mereka berdua menikmati pagi bersama.

"Kara dan Raka kayaknya betah di sini," kata Nadia.

"Iya. Mereka mutusin bulan madu di rumah."

"Unik, ya. Biasanya orang pengin pergi."

"Mereka beda. Mungkin karena rumah ini terlalu berarti buat mereka."

Nadia mengangguk. "Omong-omong, aku mau ngomong sesuatu."

"Apa?"

Nadia mengambil napas dalam. "Aku dapat tawaran proyek lagi. Di Belanda."

Arsya diam. Hatinya berdebar.

"Tapi ini cuma tiga bulan. Bukan enam bulan seperti kemarin."

Arsya masih diam.

"Kamu... keberatan?"

Arsya menghela napas. "Keberatan? Tentu. Tapi aku nggak akan larang."

"Tapi?"

"Tapi aku akan kangen. Banget."

Nadia tersenyum. "Aku juga akan kangen. Tapi setelah proyek ini, aku janji nggak akan ambil proyek luar negeri lagi. Aku mau fokus di sini. Di Jakarta. Di rumah ini. Dengan kamu."

Arsya menatapnya. "Janji?"

"Janji. Ini yang terakhir."

Mereka berpelukan. Arsya tahu, cinta tidak selalu tentang bersama setiap saat. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan untuk sementara, agar orang yang kita cinta bisa tumbuh.

Pagi itu, mereka sarapan berempat di ruang makan.

Suasana hangat seperti biasa. Kalara dan Raka masih lengket, saling menyuapi. Arsya dan Nadia juga mesra, meskipun tidak berlebihan.

"Nad dapat proyek di Belanda lagi," kata Arsya di tengah makan.

Kalara terkejut. "Apa? Lo mau pergi lagi?"

"Iya. Tiga bulan. Yang terakhir, katanya."

"Kok bisa? Baru balik, udah pergi lagi?"

Nadia tersenyum. "Maaf, Kara. Ini proyek bagus. Aku nggak bisa tolak."

"Lo ninggalin kakak gue lagi?"

"Kara," potong Arsya. "Santai. Aku setuju."

Kalara menghela napas. "Ya udah kalau lo setuju. Tapi gue protes."

"Lo protes kenapa?"

"Gue pengin lo cepet nikah. Kalau Nad pergi lagi, nikahnya mundur terus."

Nadia dan Arsya tertawa. Raka ikut tersenyum.

"Doain aja," kata Nadia. "Semoga lancar."

"Iya, doain. Tapi jangan lama-lama."

Mereka melanjutkan sarapan. Topik berubah ke rencana-rencana lain. Raka cerita tentang kafenya yang mau buka cabang baru. Kalara cerita tentang proyek desain terbaru. Arsya cerita tentang vila di Puncak yang hampir selesai.

Hidup berjalan normal. Tapi normal setelah badai terasa luar biasa.

Seminggu kemudian, Nadia berangkat.

Bandara Soekarno-Hatta ramai seperti biasa. Arsya mengantarnya, bersama Kalara dan Raka yang ikut melepas.

"Jaga diri di sana," pesan Kalara. "Jangan lupa video call."

"Iya, Neng. Siap."

"Lo bawain oleh-oleh banyak, ya."

"Nanti aku kirim cokelat."

"Janji?"

"Janji."

Nadia mencium pipi Kalara, lalu Raka. Kemudian menghadap Arsya.

Mereka berpelukan lama.

"Aku sayang kamu," bisik Nadia.

"Aku juga sayang kamu. Hati-hati."

"Iya. Kamu juga. Jangan lupa makan."

"Kara masak, kok."

"Masakan Kara?" Nadia tersenyum. "Semoga nggak gosong."

Mereka tertawa. Nadia melepas pelukan, lalu masuk ke pintu keberangkatan. Sekali lagi ia melambai, lalu hilang di antara kerumunan.

Arsya menatap kepergiannya. Hatinya sedih, tapi juga tenang. Ini hanya tiga bulan. Tidak lama.

"Kak, pulang yuk," ajak Kalara. "Gue traktir makan."

"Makan apa?"

"Yang enak. Biar lo lupa sedih."

Arsya tersenyum. "Aku nggak sedih. Hanya... kangen."

"Ya udah, makan dulu. Kangen belakangan."

Mereka bertiga meninggalkan bandara. Jakarta panas seperti biasa. Tapi di hati Arsya, ada kehangatan yang tidak bisa diusir panasnya ibu kota—kehangatan keluarga.

Dua minggu setelah kepergian Nadia, Kalara dapat ide.

"Kak, gue mau renovasi kamar Nadia."

Arsya mengernyit. "Renovasi? Kenapa?"

"Biar lebih nyaman. Sekarang kamarnya masih kosongan. Gue mau desain ulang, biar pas Nad pulang, dia betah."

"Kara, itu ide bagus. Tapi lo nggak perlu repot-repot."

"Gue senang, Kak. Lagian ini juga bagian dari pekerjaan gue."

Arsya tersenyum. "Ya udah kalau gitu. Tapi aku bayar, ya."

"Enggak usah. Ini hadiah dari adik buat kakak dan calon ipar."

"Calon ipar?"

"Iya. Nad kan nanti jadi ipar gue. Wajar dong dikasih hadiah."

Arsya terharu. "Makasih, Dik."

"Makasihnya belakangan. Sekarang bantuin gue milih cat."

Mereka menghabiskan sore itu di toko cat, memilih warna untuk kamar Nadia. Kalara dengan semangat membandingkan sampel warna, sementara Arsya hanya mengikuti.

"Aku suka ini," kata Kalara, menunjukkan warna krem muda. "Lembut, hangat."

"Iya, bagus."

"Terus tembok aksennya biru laut? Biar ingat Belanda."

"Boleh juga."

Mereka membeli cat dan perlengkapan lain. Esoknya, renovasi dimulai.

Seminggu kemudian, kamar Nadia berubah total.

Dindingnya kini krem dengan satu tembok aksen biru laut. Tempat tidur baru dengan seprai putih bersih. Meja kerja menghadap jendela, dengan pemandangan halaman belakang. Rak buku terisi beberapa koleksi desain. Tanaman hias di sudut-sudut ruangan.

Di dinding, Kalara memasang foto-foto Nadia dan Arsya—foto mereka di Belanda, foto mereka di rumah ini, foto-foto kecil yang penuh kenangan.

"Wah, bagus banget," puji Arsya saat melihat hasilnya.

"Iya, kan? Gue emang jago."

"Sombong."

"Bukan sombong. Percaya diri."

Mereka tertawa. Arsya memeluk adiknya.

"Makasih, Dik. Nadia pasti senang."

"Mudah-mudahan."

Malam harinya, Arsya video call dengan Nadia. Ia menunjukkan kamar barunya.

"Nadia, lihat. Kara renovasi kamar lo."

Nadia di layar terbelalak. "Astaga! Cantik banget!"

"Senang?" tanya Kalara ikut nimbrung.

"Senang? Aku terharu! Makasih, Kara!"

"Sama-sama. Lo harus betah kalau pulang nanti."

"Pasti! Aku nggak sabar!"

Mereka ngobrol panjang. Nadia cerita tentang proyeknya, tentang cuaca Belanda yang dingin, tentang kangennya pada Arsya. Kalara cerita tentang rumah, tentang Raka, tentang rencana-rencana kecil.

Setelah video call, Kalara kembali ke kamarnya. Raka sudah menunggu.

"Udah selesai?" tanyanya.

"Iya. Nadia senang."

"Bagus." Raka menariknya ke pelukan. "Kamu baik banget, Sayang."

"Biasa aja."

"Enggak, kamu istimewa."

Kalara tersenyum. "Lo aja yang lebay."

Mereka berpelukan. Malam itu, di rumah Menteng yang hangat, cinta terus bersemi.

Desember tiba. Udara Jakarta mulai dingin, meskipun tidak sedingin di Belanda.

Arsya sibuk dengan proyek-proyeknya. Vila di Puncak sudah selesai, klien puas. Kini ia mengerjakan desain untuk sebuah hotel butik di Yogyakarta. Pekerjaan menumpuk, tapi ia menikmatinya.

Kalara juga sibuk. Proyek desain interiornya semakin banyak. Namanya mulai dikenal di kalangan desainer. Tapi ia tetap menyempatkan waktu untuk keluarga.

Raka sibuk dengan kafe cabang barunya. Buka di daerah Kelapa Gading, ramai pengunjung. Kadang ia pulang larut, tapi selalu ada pesan manis untuk Kalara.

Malam itu, mereka bertiga makan malam bersama—Arsya, Kalara, Raka. Seperti biasa, di ruang makan rumah Menteng.

"Kak, gue mau ngomong sesuatu," kata Kalara di tengah makan.

"Apa?"

"Gue... gue hamil."

Sendok di tangan Arsya jatuh.

"Apa?"

"Gue hamil. Dua minggu."

Raka tersenyum lebar. Ia memeluk Kalara. "Aku mau kasih kejutan, tapi dia nggak sabar."

Arsya masih terpaku. Lalu tiba-tiba, ia bangkit dan memeluk adiknya.

"Selamat! Selamat, Dik!" Matanya berkaca-kaca. "Aku mau jadi om!"

"Pasti, Kak. Lo om terbaik."

Raka menjabat tangan Arsya. "Kita akan punya anak, Kak."

"Iya. Selamat, Ra. Jaga dia baik-baik."

"Pasti."

Malam itu, mereka merayakan dengan kue dan es krim—makanan favorit Kalara. Suasana penuh tawa dan haru.

"Omong-omong, kapan Nad pulang?" tanya Kalara.

"Tiga minggu lagi."

"Nanti kita kasih tahu. Dia pasti senang."

"Iya."

Malam semakin larut. Raka dan Kalara masuk ke kamar. Arsya duduk di ruang keluarga sendiri.

Ia menatap foto-foto di dinding—foto orang tuanya, foto Kalara dan Raka, foto Nadia. Hatinya penuh.

Hidup ini luar biasa. Setelah semua badai, akhirnya pelangi datang.

Tiga minggu kemudian, Nadia pulang.

Arsya menjemputnya di bandara. Begitu melihat Nadia keluar dari pintu kedatangan, ia langsung memeluknya erat.

"Kangen banget," bisiknya.

"Aku juga. Kangen banget."

Mereka berpelukan lama. Tidak peduli orang-orang di sekitar.

Di mobil, perjalanan pulang diisi cerita. Nadia bercerita tentang proyeknya, tentang teman-temannya di Belanda, tentang betapa ia rindu masakan Indonesia. Arsya bercerita tentang rumah, tentang Kalara, tentang kabar terbaru.

"Kara hamil," kata Arsya tiba-tiba.

Nadia terkejut. "Apa? Serius?"

"Iya. Dua bulan sekarang."

"Ya ampun! Selamat! Aku mau jadi tante!"

"Iya, lo bakal jadi tante."

Mereka tertawa. Mobil melaju meninggalkan bandara, membawa mereka pulang ke rumah Menteng.

Sesampainya di rumah, Kalara sudah menunggu di pintu.

"Nad!" teriaknya, langsung memeluk Nadia erat. "Kangen banget!"

"Iya, Neng. Kangen juga." Nadia melepas pelukan, menatap perut Kalara yang belum terlalu terlihat. "Gimana kabar calon ponakanku?"

"Sehat. Baru dua bulan."

"Wah, sebentar lagi gede."

Mereka masuk. Raka menyambut dengan hangat. Suasana rumah langsung ramai oleh tawa dan cerita.

Nadia melihat kamarnya yang sudah direnovasi. Matanya berbinar.

"Kara, ini luar biasa!" pujinya. "Makasih banyak."

"Sama-sama. Lo kan keluarga."

Nadia memeluknya lagi. "Aku bersyukur banget punya kalian."

Malam itu, mereka makan malam bersama. Lengkap. Arsya, Kalara, Raka, Nadia. Empat orang yang dulu asing, kini menjadi keluarga.

Rumah Menteng bernyanyi lagi. Bernyanyi dengan suara cinta.

Seminggu setelah kepulangan Nadia, mereka mengadakan acara kecil-kecilan.

Syukuran kehamilan Kalara. Hanya keluarga dekat. Mama Kalara datang, Ayah Arsya juga. Pak Willem ikut hadir. Mereka makan bersama, mendoakan calon bayi yang akan lahir.

"Semoga sehat," doa Mama Kalara. "Semoga jadi anak yang baik."

"Aamiin," sahut semua.

Arsya duduk di samping Nadia, memegang tangannya. Melihat adiknya yang sedang hamil, hatinya terharu.

"Nad," bisiknya.

"Hm?"

"Aku juga pengin punya anak."

Nadia menatapnya. "Kamu serius?"

"Iya. Aku pengin punya keluarga kecilku sendiri. Dengan kamu."

Nadia tersenyum. "Aku juga pengin. Tapi kita belum nikah."

"Kalau gitu, kita nikah."

Nadia terkejut. "Apa?"

Arsya berlutut di hadapannya. Semua orang di ruangan itu terdiam.

"Nadia, aku tahu ini nggak romantis. Nggak ada cincin, nggak ada persiapan. Tapi aku nggak mau nunggu lagi. Aku cinta kamu. Aku mau menghabiskan sisa hidupku dengan kamu. Maukah kamu menikah denganku?"

Nadia menutup mulut. Air matanya jatuh.

"Iya," bisiknya. "Iya, aku mau."

Tepuk tangan pecah. Kalara berjingkrak, lupa kalau sedang hamil. Raka menahan agar ia tidak loncat-loncat.

"Selamat, Kak!" teriak Kalara. "Akhirnya!"

Mama Kalara menangis haru. Ayah Arsya tersenyum bangga. Pak Willem mengangkat gelas untuk bersulang.

Malam itu, di rumah Menteng, dua pasangan bersemi. Satu sudah menikah dan hamil. Satu baru bertunangan dengan cara paling sederhana.

Tapi semua bahagia. Karena cinta tidak perlu mewah. Cinta cukup tulus.

Dua minggu kemudian, Arsya dan Nadia memutuskan tanggal pernikahan.

15 Mei. Enam bulan lagi. Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lama.

"Cukup waktu buat persiapan," kata Nadia.

"Iya. Dan biar setelah Lebaran."

"Setuju."

Kalara membantu mereka merencanakan. Pengalaman pernikahannya bulan lalu jadi modal berharga.

"Lo harus pilih catering yang enak," sarannya. "Gue kemarin puas banget."

"Lo harus sewa dekorasi yang sama? Atau cari lain?"

"Mending cari lain. Biar beda."

"Setuju."

Raka ikut membantu urusan kafe—katering untuk pernikahan nanti. Ia sudah tawarkan diri untuk menyediakan kopi spesial dari kafenya.

"Nanti kita buka coffee station," katanya. "Gratis untuk semua tamu."

"Wah, royal amat?"

"Untuk kakak ipar, apa sih yang nggak."

Mereka tertawa. Persiapan pernikahan berjalan menyenangkan, bukan stres.

Malam itu, setelah diskusi panjang, Arsya dan Nadia duduk di balkon seperti biasa.

"Ars."

"Hm?"

"Aku nggak nyangka kita bisa sampai di sini."

"Maksudnya?"

"Dulu, waktu pertama aku balik ke Jakarta, aku nggak punya harapan apa-apa. Hanya ingin buka praktik, hidup tenang. Tapi kemudian aku bertemu kamu lagi, dan semuanya berubah."

Arsya meraih tangannya. "Aku juga. Dulu hidupku datar, dingin. Lalu Kara datang, lalu kamu, dan semuanya berwarna."

"Kita beruntung."

"Iya. Beruntung."

Mereka menatap langit malam. Bintang-bintang bertaburan.

"Ars, kamu tahu nggak, aku pernah bermimpi tinggal di rumah seperti ini. Rumah tua dengan sejarah, dengan taman, dengan pohon beringin. Dan di rumah itu, ada keluarga yang hangat."

"Sekarang mimpi itu nyata."

"Iya. Nyata."

Mereka berpelukan. Malam semakin larut, tapi hati mereka hangat.

Di kamar lain, Kalara dan Raka juga berpelukan.

"Ra," panggil Kalara.

"Hm?"

"Gue seneng banget."

"Seneng kenapa?"

"Seneng semua baik-baik saja. Kakak gue tunangan, kita punya baby, rumah ini makin rame. Hidup gue dulu nggak kebayang bakal begini."

Raka mengusap rambutnya. "Itu karena kamu baik. Tuhan kasih yang terbaik buat orang baik."

"Lo aja yang bilang."

"Bukan. Serius. Kamu tulus, kamu sayang keluarga, kamu pekerja keras. Pantas dapat bahagia."

Kalara tersenyum. "Makasih, Ra. Makasih udah milih gue."

"Aku yang berterima kasih. Kamu mau milih aku."

Mereka berciuman. Di perut Kalara, calon bayi mereka tidur nyenyak. Hidup terasa sempurna.

Desember berganti Januari. Januari berganti Februari. Februari berganti Maret.

Hidup di rumah Menteng terus berjalan. Kalara hamil semakin besar, perutnya makin membuncit. Raka setia menemani, sesekali membacakan buku untuk calon anaknya.

Arsya dan Nadia sibuk persiapan pernikahan. Undangan sudah dicetak, catering sudah dipesan, dekorasi sudah didesain. Tinggal menunggu hari H.

Nadia sudah pindah resmi ke rumah Menteng—ke kamar yang sudah direnovasi Kalara. Meskipun mereka belum menikah, tinggal serumah sudah jadi keputusan bersama. Lagipula, mereka bukan tipe yang peduli omongan orang.

Suatu sore, saat mereka berkumpul di ruang keluarga, Kalara tiba-tiba memegang perutnya.

"Ra," panggilnya pelan.

"Ya, Sayang?"

"Aku... kayaknya... air ketubanku pecah."

Raka panik. "Apa?!"

Arsya dan Nadia langsung bangkit.

"Tenang, tenang," kata Arsya. "Kita bawa ke rumah sakit. Sekarang."

Mereka bergegas. Raka menggendong Kalara ke mobil. Arsya menyetir dengan cepat tapi hati-hati. Nadia di kursi belakang menenangkan Kalara.

Di rumah sakit, Kalara langsung dibawa ke ruang bersalin. Raka menemani, memegang tangannya erat.

"Kamu kuat," bisiknya. "Aku di sini."

Kalara menjerit kesakitan, tapi juga tersenyum di sela-sela. Ini sakit yang indah. Sakit yang membawa kehidupan.

Arsya dan Nadia menunggu di luar, gelisah.

"Semoga lancar," doa Nadia.

"Iya. Semoga."

Beberapa jam kemudian, suara tangis bayi terdengar dari dalam ruangan.

Arsya dan Nadia berjingkrak. "Sudah lahir!"

Pintu terbuka. Raka keluar dengan mata berkaca-kaca.

"Selamat!" teriak Arsya. "Gimana?"

"Sehat. Bayinya sehat. Kalara juga sehat."

"Nama? Nama siapa?"

Raka tersenyum. "Kami kasih nama... Rara."

Arsya terkesiap. "Rara?"

"Iya. Biar ingat ibunya Kalara. Dan juga... panggilan Kalara dulu."

Arsya menangis. Nadia memeluknya.

Rara. Nama yang sama dengan ibunya. Nama yang sama dengan panggilan adiknya.

Seperti takdir.

Mereka diizinkan masuk. Kalara terbaring lemas, tapi tersenyum bahagia. Di dadanya, bayi mungil terbungkus selimut putih.

"Kak, lihat," bisik Kalara. "Ini Rara."

Arsya mendekat. Bayi itu kecil, merah, dengan mata terpejam. Rambutnya tipis, jari-jarinya mungil.

"Hai, Rara," bisik Arsya. "Aku Om Arsya."

Bayi itu menggerakkan tangannya, seperti merespons.

Nadia menangis. "Dia cantik banget."

"Iya. Cantik."

Raka duduk di samping Kalara, memeluknya. "Makasih, Sayang. Makasih sudah kuat."

Kalara tersenyum. "Untuk lo, aku kuat."

Malam itu, di ruang rumah sakit, keluarga kecil itu bertambah satu. Seorang bayi perempuan mungil bernama Rara—penerus cinta, penerus harapan, penerus mimpi.

Seminggu kemudian, Kalara dan Rara pulang ke rumah Menteng.

Semua sudah siap. Kamar bayi di samping kamar Kalara, didekorasi dengan tema pelangi. Tempat tidur mungil, rak mainan, dan banyak boneka.

Arsya menyambut mereka di pintu.

"Selamat datang di rumah, Rara," sambutnya.

Bayi itu tidur nyenyak di gendongan Kalara.

Mereka masuk. Suasana rumah langsung berbeda. Ada tangis bayi, ada tawa, ada kebahagiaan baru.

Nadia membantu Kalara membereskan barang-barang. Raka sibuk membuatkan susu. Arsya hanya duduk dan menatap semua dengan haru.

"Ini rumah kita," bisiknya. "Rumah yang dulu sunyi, sekarang ramai. Rumah yang dulu penuh luka, sekarang penuh cinta."

Malam harinya, setelah semua tenang, mereka berkumpul di ruang keluarga. Rara tidur di ayunan kecil di tengah-tengah mereka.

"Gila," kata Kalara. "Gue jadi ibu."

"Lo ibu yang baik," puji Raka.

"Lo bapak yang baik juga."

Arsya meraih tangan Nadia. "Kita juga bakal kayak gitu suatu hari."

"Iya. Semoga."

Mereka diam, menikmati kebersamaan. Di luar, hujan turun deras. Tapi di dalam, kehangatan keluarga mengusir dingin.

Rumah Menteng bernyanyi lagi.

Bernyanyi dengan suara tangis bayi.

Bernyanyi dengan suara tawa.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!