Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. AMSALIR
Gelap adalah hal pertama yang Zhen Yi rasakan saat melangkahkan kaki ke dalam kuil. Namun, beberapa saat kemudian, matanya mulai menangkap cahaya remang-remang dari arah dalam. Deretan lilin yang mengelilingi patung Dewa menjadi satu-satunya sumber pencahayaan di sana.
Matanya menyisir sekeliling. Kuil berukuran 7x15 meter itu tampak kokoh dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi. Ia menatap patung Dewa yang berdiri megah di depannya, lalu segera bersimpuh di atas sebuah putuan. Dari balik hanfu-nya, ia mengeluarkan tiga buah papan arwah.
Dengan hati-hati, ia menyusunnya di depan patung Sang Dewa. Dengan sepenuh hati, ia mulai bersujud dan merapalkan doa bagi ketiga belah jiwa tersebut.
Tubuhnya kembali tegak, menatap lekat pada ketiga papan kayu di hadapannya. "Ayahanda, Ibunda, Kakak ... apakah kalian sudah bersama di sana? Aku sangat merindukan kalian. Di tempat yang tenang itu, apakah kalian melihat betapa aku sangat kesepian?"
Tetesan bening membasahi pipinya. Air mata yang sudah lama mengering kini kembali tumpah. Tangannya mengepal erat, namun tatapannya mendadak berubah tajam, berkilat penuh dendam.
"Mereka semua harus mati!" pekiknya. Sesaat kemudian, tawa nyaring yang getir menggema di dalam kuil.
______________
Berbeda dengan Zhen Yi yang leluasa meluapkan emosi, Dali justru tengah mengendap-endap menyusup kembali ke dalam istana.
Di dalam Taiyi Yuan yang tampak sibuk, Dali mencoba membaur. Karena sudah mengamati situasi sebelumnya, ia tidak kesulitan beradaptasi dengan ritme kerja di sana.
"Hei, kau!" panggil seseorang saat melihatnya mengendap-endap ke arah ruang Kepala Tabib.
Sebuah tangan menepuk pundak Dali dengan tegas. "Siapa kau? Kenapa aku baru melihatmu?"
Dali segera berbalik dan memasang senyum kikuk. "Maaf, Senior. Saya petugas magang yang baru. Nama saya Yue."
Lelaki itu tampak ragu sejenak, namun kemudian segera menarik lengan Dali dengan kuat. "Oh, syukurlah kau datang tepat waktu. Ayo cepat ikut aku, banyak pekerjaan yang harus kau selesaikan!"
"Ta ... tapi—" Dali mendengus kesal. Rencananya untuk menyelinap ke ruang Kepala Tabib gagal total.
Dengan terpaksa, Dali mengikuti senior itu. Ia ditempatkan di sebuah meja panjang bersama para pemagang lain yang tengah sibuk menyiapkan bahan obat. Aroma rempah dan akar-akaran yang kuat menusuk indra penciumannya.
Dali mulai mencoba mengorek informasi. Sambil berpura-pura sibuk, ia mendekati seorang gadis pemagang yang tengah telaten membersihkan kulit luar Shanyao (ubi gunung) yang masih kotor.
"Kau sudah lama bekerja di sini?" tanyanya, berusaha terdengar akrab.
Gadis itu menoleh sekilas. "Sudah setahun."
Tanpa basa-basi lagi, ia melanjutkan pekerjaannya. Namun, Dali tidak menyerah. "Apa benar Kepala Tabib di sini sangat sakti? Kudengar beliau adalah tabib senior yang sudah berumur ratusan tahun."
Seketika gadis itu tampak panik. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu mendekatkan tubuhnya dengan suara nyaris berbisik. "Jaga ucapanmu! Tabib Agung yang kau maksud sudah lama menghilang. Sekarang yang memimpin tempat ini adalah Tabib Istana yang baru."
"Katanya beliau pergi mengasingkan diri, tapi aku tidak tahu cerita sebenarnya. Sudah, sekarang kembali bekerja!" perintahnya tegas tanpa berani menoleh lagi.
Dali mengangguk lemah. Otaknya berpikir keras. Tabib itu adalah satu-satunya harapan nonanya. Kematian ibu Zhen Yi di istana menyimpan rahasia besar, dan hanya tabib itulah yang menangani beliau kala itu.
"Jadi beliau menghilang? Ini akan menjadi pencarian yang panjang," desah Dali.
"Apanya yang panjang?"
Lamunan Dali buyar seketika saat seorang senior tiba-tiba berdiri di belakangnya dan menegur.
Dali yang terperanjat segera menjawab asal-asalan. "Ginseng ini! Ya, akar ginseng ini ... panjang sekali, Senior!"
Senior itu menggelengkan kepala keheranan. "Jangan banyak mengeluh. Cepat selesaikan pekerjaanmu!"
Begitu senior itu pergi, Dali menghela napas panjang. Dengan gerakan kikuk, ia mulai mengupas bahan obat di depannya, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu cepat.
Setelah menyelesaikan tugasnya tanpa mendapatkan informasi tambahan, Dali berniat segera angkat kaki. Ia mulai mengendap-endap keluar dari ruangan, berusaha tidak menarik perhatian. Namun, tepat saat ia berbalik---
Bruak!
Kepalanya menubruk sesuatu yang keras. Saat ia mendongak, matanya membelalak sempurna.
"Kau ...!" Dali berseru sambil menunjuk tepat ke depan hidung orang yang baru saja ditabraknya.
Liang mendengus kesal. Dengan kasar, ia menepis tangan Dali dari wajahnya. "Singkirkan tanganmu!"
Namun, sedetik kemudian gurat kekesalan di wajah Liang berubah menjadi kecurigaan.
Seharusnya Dali berada bersama pangeran dan rombongan yang lain di kuil. Liang memiringkan kepala, mengintip ke arah dalam Taiyi Yuan yang sibuk sebelum kembali menatap Dali dengan tajam.
"Kenapa kau ada di sini, hah?" tanyanya penuh selidik.
Dali mendadak gugup, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya, bukan?
Namun, belum sempat ia merangkai kebohongan, suara sang senior dari dalam balai pengobatan memecah ketegangan di antara mereka.
"Hei, kau! Mau ke mana?" Senior itu bergegas menghampiri mereka.
Dali menunduk dalam, jantungnya berdegub kencang karena takut rencananya terbongkar. Mampus aku. Liang pasti akan semakin curiga padaku, batinnya gelisah.
"Yue! Pekerjaanmu belum selesai, mau ke mana kau? Ayo kembali ke dalam!" perintah senior itu sambil langsung menyambar pergelangan tangan Dali.
Namun, belum sempat Dali terseret masuk, Liang menahan lengan yang satunya. "Tidak bisa. Dia harus ikut denganku, ada urusan mendesak yang harus kami bicarakan," bantah Liang dengan nada dingin.
Seketika atmosfer di antara keduanya menegang. Mereka memang dikenal sering bersitegang. Di mata Liang, Minghao---si senior yang sok ramah itu---hanya senang tebar pesona. Sebaliknya, Minghao menganggap Liang hanyalah pemuda angkuh yang selalu merasa paling hebat.
Dali merasa ngeri berada di tengah-tengah perang dingin tersebut. Sebelum keadaan semakin rumit, ia menarik paksa kedua tangannya hingga terlepas, lalu melesat pergi begitu saja.
Liang yang masih menuntut penjelasan segera bergegas menyusulnya, meninggalkan Minghao yang mendengus kesal di depan pintu Taiyi Yuan.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏