Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindahan
Enjoy gays...
Hari ini Aurora kebetulan tak ada jadwal kuliah, jadi dia memutuskan untuk mengemas sebagian barangnya karena dia dan Luca akan pindah ke rumah baru yang sudah Luca siapkan sebelumnya. Hanya sendiri, Luca tak bisa membantu sebab ia yang ada pekerjaan penting di kantor dan baru bisa kembali sore nanti.
Kardus ukuran besar yang baru saja Aurora tutup menjadi kardus terakhir yang Aurora kemas. Menghembuskan nafasnya panjang, Aurora melempar tubuhnya di atas tempat tidur begitu saja. Pertanda jika dia begitu lelah karena seharian memilih dan memilah mana barang yang akan dia bawa.
***
Kedatangan Luca ke rumah itu memang selalu di sambut hangat oleh semua orang di sama. Terutama para pekerja yang memang sudah menganggap Luca sebagai teman sekaligus majikan mereka sejak pertama kali Luca datang ke sana.
"Den Luca apa kabar? Lama gak keliatan tambah ganteng aja." Sapa Mang Diman memuji. Menghentikan pekerjaannya sejenak yang tengah menyiram tanaman untuk menghampiri Luca yang masih berdiri di samping mobilnya.
"Hahaha... Bisa aja mujinya Mang. Aku baik, Mang Diman sama yang lain gimana?" Balas Luca dengan tawanya.
"Kita juga baik Den. Den Luca mau jemput Non Ara ya?"
"Iya Mang."
"Nanti di rumah baru jangan lupa buat main ke sini ya Den?"
"Pasti Mang, nanti pasti sering-sering mampir ke sini. Luca masuk dulu ya?" Pamit Luca.
"Iya Den."
Sama-sama melangkah pergi, Luca masuk ke dalam rumah sementara Mang Diman melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.
***
Ini mungkin bukan kali pertama Luca masuk ke rumah Aurora, tapi ini jadi kali pertama Luca menginjakkan kakinya di tangga rumah itu untuk menuju kamar Aurora. Dia tadi di beritahu Bi asih dimana letak kamar Aurora.
Mengetuk pintu berwarna putih itu sebentar, Luca masuk ke dalam kamar itu tanpa persetujuan. Bukan bermaksud tidak sopan, tapi tadi dalam perjalanan dia sudah memberitahu Aurora jika dia akan datang, dan Aurora memintanya untuk langsung masuk ke dalam kamarnya saja. Tak perlu menunggu di ruang tamu seperti biasa.
Desain elegan sederhana dengan dominasi warna abu-abu muda menjadi pemandangan pertama yang tertangkap oleh mata. Masuk lebih dalam, Luca menatap lekat setiap sudut kamar Aurora yang tertata rapi dan sesuai fungsinya.
Memicingkan matanya terkejut, Luca bingung kenapa hanya ada 1 koper ukuran besar, 1 koper ukuran sedang, serta 2 kardus berukuran besar. Apa tak salah Aurora hanya membawa sedikit barangnya?
Tak bisa langsung bertanya karena sang pemilik kamar yang tak ada di sana, Luca memilih untuk melangkahkan kakinya pada deretan rak buku yang tersusun rapi di salah satu sudut kamar.
Mengambil salah satu buku yang ada di sana, Luca tersenyum bangga karena hampir semua buku yang ada di deretan itu adalah buku bertemakan kedokteran yang memang jadi kebutuhan Aurora. Mungkin hanya ada satu atau dua novel saja dan itu sudah terlihat lama.
Meletakkan kembali buku itu ke tempatnya, Luca membawa pandangannya menyusuri setiap koleksi buku Aurora. Sampai tiba-tiba, sebuah buku yang tak asing menarik perhatiannya.
Mengambilnya dari tumpukan buku yang lain, Luca tersenyum melihat judul buku yang tertera di sampul awal. Ya, itu adalah buku tahunan milik Aurora.
Membukanya satu per satu, Luca belum juga melunturkan senyumannya melihat setiap foto yang ada di sana. Sampai akhirnya, Luca berhenti di lembar foto yang memperlihatkan Aurora dengan seragam SMA nya.
"Cantiknya masih sama kayak dulu. Gak salah gue suka sama lo, selain cantik wajah lo juga cantik hati." Ucap Luca tersenyum dan meraba foto itu mengagumi kecantikan Aurora.
"Luca?" Teguran dari seseorang yang tiba-tiba terdengar membuat Luca terkejut dan seketika memalingkan wajahnya.
"Lo udah lama?" Tanya Aurora seraya melangkah menuju meja riasnya dan duduk di sana.
"Baru aja." Meletakkan buku itu kembali ke tempatnya, Luca melangkah menjauh dan duduk di tepi ranjang seraya memperhatikan Aurora yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Lo yakin cuma bawa segini doang Ra?" Tanya Luca membuka obrolan seraya menatap barang bawaan Aurora yang masih belum bisa Luca percaya.
"Iya, itu yang penting-penting. Selebihnya gue tinggal."
"Buku-buku lo? Emang lo gak butuh itu?"
"Untuk sekarang belum, nanti kalo gue emang butuh ya tinggal gue ambil."
Mengangguk paham, Luca bangkit dari duduknya dan mendekati Aurora. Mengambil alih hairdryer yang ada di tangan Aurora lalu membantu Aurora mengeringkan rambutnya tanpa di minta.
Aurora yang awalnya terkejut pun mengulas senyuman tipis di bibirnya saat melihat Luca dari pantulan kaca yang begitu telaten dan penuh perhatian menunjukkan rasa kasih sayangnya.
Tak hanya mengeringkan rambut Aurora, Luca juga menyisirnya hingga tertata rapi.
"Thank you Luca." Ucap Aurora tersenyum bahagia saat Luca meletakkan sisir yang dia pakai di tempatnya.
"Sama-sama."
Kembali ke tempat semula, Luca dengan sabar menunggu Aurora yang tengah make up dan sedikit menata dirinya.
***
Di bantu Mang Diman, Luca memasukkan semua barang yang Aurora bawa ke dalam bagasi mobil lalu menutupnya.
"Inget ya.... Apapun masalahnya, selesein itu dengan kepala dingin. Jangan pakai emosi." Pesan Nyonya Arin pada sang anak.
"Iya Mamaku sayang...." Balas Aurora seraya tersenyum dan memeluk sang ibu.
Melepas kepergian sang anak bukanlah kali pertama untuk Tuan Oliver dan Nyonya Arin, tapi kali ini terasa berbeda karena Aurora yang pergi untuk memulai kehidupan barunya sebagai seorang istri juga ibu rumah tangga.
Rasanya, Nyonya Arin masih tak menyangka jika anak yang selama ini dia rawat, dia didik, dan dia besarkan dengan sepenuh hati akhirnya akan membangun kehidupannya sendiri. Terlihat jelas dari eratnya pelukan yang tercipta diantara ibu dan anak itu.
Sementara itu, Luca dan Tuan Oliver yang melihat ikatan Ibu dan anak itu hanya tersenyum dan saling melempar pandang satu smaa lain.
Melepas pelukan mereka, Aurora tersenyum menatap sang ibu juga ayahnya. Dia sendiri juga masih tak menyangka jika akhirnya dia meninggalkan rumah yang menjadi tempat ternyamannya saat ini untuk membangun rumah kehidupannya sendiri.
"Mama titip anak kesayangan Mama ini sama kamu ya Ca?" Ucap Nyonya Arin menatap Luca penuh harap.
"Iya Ma. Pasti di jagain baik-baik kok, gak bakalan lecet sedikitpun." Jawab Luca diselingi canda tapi tetap serius.
"Kepercayaan itu harganya mahal dan Aurora udah milih kamu untuk jadi teman sekaligus pendamping hidupnya. Jadi, jangan kamu nodai kepercayaan itu apapun alasannya. Karena sekali kesalahan akan membuat benteng kepercayaan yang kamu bangun sekian lama dan kokoh hancur seketika. Kamu paham kan apa maksud Papa?" Ucap Tuan Oliver memberi nasehat seraya menepuk-nepuk bahu Luca.
"Iya Pa, Luca paham. Sebisa mungkin Luca pasti jaga kepercayaan itu. Gak cuma buat hubungan Luca sama Aurora tapi juga buat Papa, Mama dan semuanya."
"Bagus. Papa harap kamu selalu ingat apa yang kamu ucapkan."
"Iya Pa."
"Kita pamit ya Pa, Ma." Ucap Aurora seraya memeluk ibu dan ayahnya sekali lagi bergantian.
"Hati-hati. Jangan lupa buat sering main ke sini." Pesan Nyonya Arin sekali lagi.
"Iya Ma."
"Ma, Pa, kita Pamit." Sama dengan apa yang Aurora lakukan tadi, Luca juga memeluk kedua orang tua Aurora bergantian sebelum pergi.
"Hati-hati." Pesan Nyonya Arin tak henti-henti.
Masuk ke dalam mobil, Luca membunyikan klakson mobilnya sebagai bentuk pamitan terakhir sebelum benar-benar pergi.
***
Sepanjang perjalanan, Aurora hanya diam dan menikmati pemandangan di luar. Tak ada obrolan karena Aurora pikir tak ada yang perlu dibicarakan. Luca juga sudah memberitahu jika rumah yang sudah dia siapkan letaknya ada di tengah-tengah. Antara kantor tempat Luca bekerja, kampus tempat mereka menempuh pendidikan dan rumah kedua orang tuanya juga Luca.
"Ra?" Panggil Luca melirik sekilas Aurora yang masih terpaku dengan suasana di luar jendela.
"Hm?" Gumam Aurora menoleh.
"Di rumah gak ada bahan masakan apapun, mau belanja dulu gak buat isi kulkas?"
"Boleh. Sekalian buat stok juga ya?"
"Oh ya, gue ngajakin anak-anak buat dateng ke rumah dan makan malem bareng sebagai bentuk rasa syukur kecil-kecilan gitu. Gue lupa ngasih tau lo tadi pagi, lo keberatan gak?"
"Gak papa. Tapi gue juga mau undang temen-temen gue, boleh gak?"
"Boleh. Makin banyak orang makin rame dan seru."
"Oke."
Mendapat izin, Aurora langsung mengambil handphonenya yang ada di dalam tas lalu menghubungi semua teman-temannya lewat chat grup mereka.
***
Awalnya, Aurora memang niat belanja sekalian untuk stok mereka dalam satu bulan ke depan. Tapi, karena waktu yang mereka miliki terbatas, jadi Aurora dan Luca hanya membeli kebutuhan mereka untuk nanti malam dan beberapa hari kedepan.
Setelah hampir satu jam berkeliling dan memastikan semua yang di butuhkan tidak ada yang tertinggal, Aurora dan Luca membawa troli belanjaan mereka ke kasir untuk melakukan pembayaran.
***
Jika di bandingkan dengan rumah milik kedua orang tua Aurora atau orang tuanya, rumah yang Luca beli dan bangun sendiri memang belum ada apa-apanya. Tapi, bukan berarti Luca tak memikirkan tentang segala fasilitas yang ada di dalamnya. Semua di buat sedetail mungkin agar Aurora merasa nyaman.
Buktinya, baru saja Aurora turun dari mobil, dia sudah di buat terpana dengan tampilan awal rumah mereka. Gaya modern tropis tapi klasik dengan pepohonan yang rindang menjadikannya begitu menenangkan walau hanya melihatnya.
"Ra? Ayo masuk." Ajak Luca membuyarkan Aurora dari lamunan.
"Gue bantuin." Ucap Aurora mengambil alih beberapa kresek plastik dari tangan Luca.
Pertama kali menginjakkan kakinya di rumah itu, Aurora langsung di buat terkesima dengan desain ruang tamu yang minimalis tapi tetap terlihat elegan dan futuristik. Benar-benar seperti rumah yang Aurora impikan selama ini.
Masuk lebih dalam, ada ruang keluarga yang luas dengan meja biliar dan area swimming pool yang luas juga lapangan basket dan teras luas untuk ngumpul.
Namun, dari semua itu, ada satu tempat yang membuat Aurora menghentikan langkahnya. Spot outdoor yang pasti akan menjadi tempat favorit Aurora.
"Lo suka?" Tanya Luca menegur seraya berdiri di sebelah Aurora.
"Suka. Desainnya bagus. Penataan ruangnya juga pas."
Tersenyum bahagia, Luca mengambil kresek yang Aurora bawa lalu dia letakkan di atas meja dapur bersama kresek lain yang tadi dia bawa.
"Lo dulu tinggal di rumah ini?" Tanya Aurora menatap Luca. Namun masih belum mau beranjak dari tempatnya.
"Gak, gue dulu tinggal di apartemen."
"Terus rumah ini?"
"Gue bangun dari satu tahun yang lalu. Minta bantuan Leo buat arsitekin tapi pake ide gue."
Mengangguk paham, Aurora kembali menatap pemandangan di depannya. Suara gemercik air yang berpadu indah dengan suara kicau burung membuat Aurora merasa lebih tenang sekaligus nyaman.
Selesai mengeluarkan semua barang yang ada di dalam plastik dan menata sebagiannya ke dalam kulkas, Luca pun kembali menghampiri Aurora dengan membawa dua minuman kaleng dan berdiri di sebelahnya.
"Lo suka sesuatu yang berbau alam kan? Gue sengaja sediain spot ini buat lo." Ucap Luca seraya memberikan salah satu minuman kaleng itu pada Aurora.
"Kok lo bisa tau?" Menatap Luca bingung, tapi Aurora tetap menerima minuman kaleng yang Luca berikan.
"Apa yang gak gue tau tentang lo? Semuanya gue tau."
"Huh??" Kaget Aurora semakin bingung.
"Gue cuma becanda." Kekeh Luca seraya membuka minumannya lalu meneguknya.
Hendak kembali bertanya, tapi dering handphone lebih dulu berbunyi. Mengambil benda pipih itu dari dalam tas, Aurora langsung mengangkat panggilan itu tanpamelihat dulu siapa yang menghubunginya.
"Ra? Rumah lo yang mana?" Tanya seseorang dari sebrang sana to the point.
^^^"Lo udah nyampek mana?" Hanya dengan mendengar suaranya saja, Aurora sudah tahu jika itu adalah Alice. ^^^
"Gue sama anak-anak udah di depan."
Menghentikan mobilnya di bahu jalan, Alice melihat sekelilingnya untuk memastikan jika dia tidak ada di jalan yang salah.
^^^"Masuk aja terus lurus. Kalo lo udah liat rumah yang paling beda dari yang lain itu rumah gue."^^^
"Ngadi-ngadi lo. Semua rumahnya beda Aurora." Sahut Alice kesal. Apa sang teman lupa jika rumahnya sekarang tak ada di area komplek? Yang benar saja.
^^^"Yang depannya ada pohon mangga kembar, sebrang jalan ada warung mie ayam."^^^
Melajukan mobilnya kembali, Alice tak langsung mematikan panggilannya. Plang di pinggir jalan sebelah kanan bertuliskan jalan mawar menjadi patokan Alice untuk masuk lebih dalam.
Mengendarainya perlahan, tak hanya Alice yang mencari patokan yang Aurora berikan, tapi juga Aline, Audrey dan Alexa.
"Itu bukan?" Tanya Aline seraya menunjuk salah satu rumah yang tak jauh dari mobil mereka.
"Ra? Rumah lo yang warna putih?" Tanya Alice.
^^^"Iya."^^^
"Ohh.... Oke. Ketemu nih gue."
^^^"Langsung masuk aja."^^^
Mematikan panggilannya, Alice dengan hati-hati membawa mobilnya menuju rumah Aurora karena jalanan yang cukup ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor.
Sementara itu, Aurora juga menyimpan kembali handphonenya di dalam tas saat Alice mematikan panggilan mereka.
"Siapa?" Tanya Luca.
"Alice. Mereka udah ada di depan."
Puas menikmati pemandangan di depannya, Aurora membawa kakinya melangkah ke dapur dan meletakkan minuman yang tadi Luca berikan di atas meja.
"Temen-temen lo gimana? Mereka jadi dateng?" Tanya Aurora yang tanpa diminta langsung menyiapkan segala hal untuk kebutuhan mereka makan malam nanti.
"Jadi. Harusnya bentar lagi." Jawab Luca seraya melangkah menghampiri.
Tak hanya menjadi penonton dan terima beres, Luca juga ikut membantu Aurora menyiapkan semuanya. Dari mulai mengeluarkan sosis, daging, cumi-cumi, sotong, dan gurita dari dalam wadahnya, hingga membuat bumbu untuk bakaran.
***
BBQ party menjadi pilihan Aurora dan Luca untuk menyambut teman-temannya di rumah baru mereka. Desain dapur semi outdoor yang terhubung langsung dengan meja makan, teras untuk tempat santai, taman bunga, koleksi beberapa jenis burung serta kolam ikan dengan air mancur rupanya tak hanya menjadi spot favorite Aurora, tapi juga teman-teman mereka.
Berbagi tugas dengan Luca, Aurora terlihat tengah sibuk menyiapkan minuman segar, kentang goreng, urusan persaosan, dan selada untuk teman mereka makan. Sementara Luca, dia sibukkan dengan kegiatan bakar membakar yang seolah memang menjadi keahliannya. Adapun teman-teman keduanya menikmati waktu santai mereka di teras dengan obrolan dan canda tawa yang tercipta.
Bukannya mereka tak memiliki kepekaan untuk membantu, tapi karena Luca dan Aurora yang tak mengizinkan teman-teman mereka untuk membantu sebagai bentuk sambutan mereka sebagai tuan rumah kepada tamu.
Mematikan kompor yang baru saja di pakainya, Aurora mengangkat kentang yang sudah matang ke atas saringan untuk meniriskan minyaknya.
Sementara menunggu, Aurora membawa minuman yang sudah jadi ke atas meja makan lalu menata saus, selada dan kentang goreng yang sudah siap juga di atas meja makan.
Di waktu yang sama, Luca juga sudah menyelesaikan tugasnya. Berbagai jenis bakaran yang sudah siap langsung dia tatat di atas meja di bantu Aurora juga.
"Gays, makan yuk?" Ajak Aurora menegur mereka semua seraya membawa makanan terakhirnya.
Mendengar kata makan, mereka semua langsung bangkit dari tempat duduk masing-masing. Rion yang sejak tadi asyik bermain gitar pun ikut pergi setelah meletakkan gitarnya di tempat semula dimana dia mengambilnya.
"Wihh.... Apa aja nih Ra?" Tanya Leon antusias melihat semua makanan yang sudah tertata rapi di atas meja lalu duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Banyak. Yang jelas kesukaan kalian ada semua." Sahut Aurora seraya duduk di kursinya sebelah Luca.
"Selamat makan semuanya." Ucap Luca mempersilahkan semuanya.
Tanpa menunggu lama, mereka semua langsung menikmati semua makanan yang di sajikan seraya mengobrol ringan dan kadang diselingi dengan candaan. Benar-benar suasana kebersamaan yang hangat dan menyenangkan.