"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Mengundang Semua
Di waktu yang telah disepakati, ustadz Firman akhirnya mengumpulkan para pelaku di satu lokasi yaitu di pendopo yang ada di kediamannya.
Ustadz Firman terpaksa mengumpulkan para pelaku di satu tempat dan waktu yang sama karena kesempatan untuk mengakhiri semuanya hanya tersisa sedikit. Selain itu dia juga khawatir teror pocong Ginah akan sulit dihentikan jika tak segera diatasi.
Pada saat bertemu, para pelaku nampak terkejut. Rupanya mereka saling mengenal satu sama lain. Sebelum mereka bisa berbagi cerita tentang apa yang telah membuat mereka mengirim teluh kepada Ginah, ustadz Firman lebih dulu mengarahkan mereka untuk berwudhu.
"Waktu kita ga banyak. Saya harap sebelum tengah malam semua urusan ini selesai dan kita bisa pulang ke rumah masing-masing dengan tenang," kata ustadz Firman.
Para pelaku mengangguk lalu bergegas berwudhu. Tak ada percakapan yang terdengar karena semua orang sibuk menata hati masing-masing. Setelahnya sang ustadz meminta mereka duduk di pendopo dengan jarak tertentu.
Sastro, Danu dan Rama yang lebih dulu hadir terlihat waspada. Dari tempat masing-masing mereka mengawasi para pelaku satu per satu.
Sebelum ritual doa dimulai, ustadz Firman memberi tahu apa yang harus dilakukan oleh para pelaku.
"Jika kalian melihat ada penampakan hadir di sini, jangan panik. Tetap tenang dan teruskan berzikir. Mungkin zikir yang kita baca akan membuatnya terganggu, jadi dia akan balik mengganggu kita. Tapi ga usah takut, kalian ga sendirian karena kita bakal hadapi bersama nanti," kata ustadz Firman.
"Baik Ustadz," sahut para pelaku serempak.
Ustadz Firman pun tersenyum. Setelahnya dia memimpin semua orang untuk berzikir bersama.
Malam kian merangkak naik. Semua orang mulai larut dalam zikir yang mereka baca. Meski begitu, rasa takut tetap membayangi wajah para pelaku. Rupanya mereka teringat kematian Padmi dan Oji yang tragis. Mereka yakin Padmi dan Oji akan gentayangan seperti Ginah karena meninggal dengan cara tak wajar.
"Srek ... Srek ... "
Tiba-tiba sebuah suara mirip benda diseret di tanah terdengar jelas dari arah luar pagar rumah ustadz Firman. Suara itu berulang beberapa kali seolah sengaja memancing perhatian semua orang yang sedang berkumpul di pendopo.
Tubuh para pelaku tampak menegang. Mereka yakin jika suara yang terdengar bukan lah suara biasa melainkan suara makhluk astral yang terusik dengan keberadaan mereka di sana. Meski bibir mereka berzikir, tapi kedua mata mereka saling melirik dengan gelisah.
Tak lama kemudian suara itu menghilang dan itu membuat para pelaku menghela nafas lega. Mereka mengira suara itu telah pergi dan tak akan kembali.
Sayangnya dua menit kemudian suara itu kembali terdengar. Kali ini berhasil membuat para pelaku terusik. Karena penasaran, salah seorang diantara mereka menoleh ke sumber suara dan terkejut melihat sosok mirip manusia sedang berdiri di ambang pintu pagar.
Saat diamati, sosok itu ternyata bukan pocong Ginah seperti yang selama ini dia lihat tapi sosok lain yaitu Padmi.
"Pa-Padmi. Ada hantu Padmi di sana ...!" kata salah seorang pelaku.
Semua orang terkejut lalu menoleh serempak kearah yang ditunjuk oleh pelaku. Mereka memang melihat sosok mirip Padmi sedang berdiri di ambang pintu pagar dalam kondisi mengenaskan persis seperti saat terakhir hidupnya.
Tubuh sosok mirip Padmi itu nyaris tela*jang dan penuh luka. Kedua matanya menatap kearah pendopo dengan tatapan sedih. Tangan gemetarnya menggenggam ujung kain yang menjuntai ke tanah. Suara kain yang diseret itu lah yang terdengar tadi.
"Abaikan dia. Tetap fokus dan lanjutkan zikir kalian," kata ustadz Firman mengingatkan.
Semua orang mengangguk lalu kembali berzikir. Sayangnya salah seorang diantara mereka kembali menoleh dan panik melihat sosok mirip Padmi itu bergerak mendekat.
"Tapi dia ke sini Ustadz. Saya takut ...," kata salah seorang pelaku dengan suara bergetar.
Ucapan salah seorang pelaku membuat konsentrasi semua orang nyaris buyar. Ustadz Firman pun segera menyudahi zikirnya lalu bangkit dari duduknya.
Melihat ustadz Firman berdiri, semua pelaku ikut berdiri lalu merapat satu sama lain. Mereka mengira akan melihat ustadz Firman berkomunikasi dengan sosok mirip Padmi itu.
Sayangnya dugaan mereka salah. Ustadz Firman justru mengundang sosok lain yang berada di luar pagar rumahnya untuk masuk.
"Masuk lah. Kita akan selesaikan semuanya malam ini," kata ustadz Firman.
Tentu saja aksi ustadz Firman membuat para pelaku panik dan mulai saling mendorong. Apalagi setelahnya mereka melihat sosok lain berdiri di ambang pintu pagar. Sosok itu mirip Oji, berjalan pelan melintasi pintu pagar dengan langkah lebar dan patah-patah. Cara sosok itu melangkah mengingatkan semua orang akan kondisi Oji di akhir hayatnya.
Tak lama kemudian di belakang sosok mirip Oji terlihat sosok lain yang mengikuti. Sosok berupa pocong dengan penutup wajah yang terbuka itu perlahan melayang melintasi ambang pintu pagar.
Tubuh Sastro membeku seketika saat menyaksikan pocong itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan almarhumah Ginah. Ada rasa rindu dan sedih yang hinggap di hatinya dan membuatnya ingin menangis.
"Pantesan disebut pocong Ginah. Rupanya wajah pocong itu memang mirip wajah almarhum istriku sebelum meninggal," batin Sastro sedih.
Jika Sastro nampak sedih, tapi tidak dengan para pelaku.
Melihat kehadiran pocong yang diyakini sebagai Ginah itu para pelaku pun panik. Mereka sontak bangun dari duduk masing-masing lalu bergerak ke berbagai arah dengan gelisah. Sikap mereka menunjukkan keinginan besar mereka untuk melarikan diri.
Sayangnya keinginan para pelaku tak terwujud. Jangankan lari, bahkan mereka tak bisa kemana-mana dan hanya berputar-putar di tempat. Kemana pun mereka bergerak, para pelaku merasa membentur dinding tak kasat mata yang menjulang tinggi di hadapan mereka.
Melihat sikap para pelaku membuat Sastro ingin tertawa. Dia tak menyangka kehadiran arwah Ginah yang menampakkan diri dalam wujud pocong itu lebih ditakuti oleh para pelaku dibanding kehadiran arwah Padmi dan Oji. Padahal menurutnya penampilan arwah Padmi dan Oji lebih menyeramkan dibanding penampilan arwah Ginah.
Aksi para pelaku yang kebingungan itu juga tak luput dari pengamatan Danu dan Rama. Sama seperti Sastro, keduanya pun nyaris tertawa melihat para pelaku yang tanpa sadar sudah saling membentur sama lain.
"Jangan bikin gaduh. Duduk dan tenang lah ...!" pinta ustadz Firman tiba-tiba.
Ajaib. Ucapan ustadz Firman berhasil membuat para pelaku menghentikan tingkah mereka. Dengan tertib mereka pun kembali duduk di tempat semula sambil menundukkan kepala karena takut menatap tiga sosok astral yang hadir saat itu.
Setelah memastikan para pelaku duduk, ustadz Firman kembali ke pendopo.
Para pelaku nampak diam mengamati sambil menunggu dengan cemas apa yang akan ustadz Firman lakukan selanjutnya. Walau berusaha tenang tapi mereka tak mampu menyembunyikan rasa takut yang tercetak jelas di wajah masing-masing.
Ternyata ustadz Firman kembali berzikir. Hanya sejenak tapi berhasil membuat suasana di sekitar mereka kian mencekam, hening dan dingin. Hanya suara binatang malam di kejauhan yang terdengar mengisi keheningan itu.
Kemudian sesuatu yang ditunggu pun terjadi ...
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya