Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.
Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.
Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DATANGNYA KEJUTAN
Sembilan hari setelah kejadian di kedai kopi, Murni sedang duduk di bangku luar gerai KFC yang terletak tidak jauh dari kontrakan tempat dia tinggal. Tangan kanannya sedang sibuk memecah kulit ayam renyah, sementara tangan kirinya menyusuri layar ponselnya yang menampilkan obrolan terakhir dengan Khem – pacarnya yang bekerja di pabrik besi dan baja.
"Sayang, maaf ya malam ini gak bisa ketemu. Lagi ada produksi darurat nih, harus lembur sampai larut malam. Nanti aku hubungi ya kalau udah selesai."
Pesan itu datang tiga jam yang lalu, dan sampai sekarang belum ada kabar baru. Murni menghela napas perlahan, lalu memasukkan sepotong ayam ke dalam mulutnya. Rasanya tetap enak seperti biasa, tapi rasanya ada yang kurang – mungkin karena makan sendirian lagi seperti beberapa malam terakhir ini.
Setelah seminggu lebih tidak mendapatkan kabar dari Aksa, Murni sudah mulai berpikir bahwa janji makan bareng kemungkinan besar akan terlewat begitu saja. Meski sedikit kecewa, dia memahami bahwa orang baru saja mulai bekerja pasti akan sangat sibuk. Apalagi pekerjaan sebagai petugas keamanan juga tidaklah mudah.
"Piiiing!"
Bunyi notifikasi ponsel membuatnya terkejut. Dia cepat-cepat mengambilnya dan melihat nama yang muncul di layar – Aksa.
"Halo Murni! Aku baru aja pulang kerja nih. Tadi liat kamu dari jauh lagi makan sendirian di KFC, bisa kah aku gabung ya? Udah janji kan mau aku yang bayarin kali ini . "
Murni langsung menatap sekeliling gerai. Tak lama kemudian, dia melihat sosok Aksa yang mengenakan baju kerja polos dengan jaket tipis, sedang berlari kecil menuju arahnya sambil mengangkat tangan sebagai sapaan. Wajahnya penuh dengan senyum ceria, berbeda jauh dari kesan dingin yang dulu dia kenal.
"Aduh Aksa, kamu datang tiba-tiba aja," ucap Murni dengan suara yang campuran senang dan sedikit terkejut. Dia segera menarik satu kursi kosong ke sebelahnya. "Aku kira kamu sudah lupa sama janji kita."
Aksa duduk dengan lega dan menggeleng. "Tidak mungkin aku lupa dong! Cuma akhir-akhir ini kerjaannya memang agak padat karena ada acara besar di pusat perbelanjaan. Tapi hari ini untung bisa pulang tepat waktu. Mau pesen apa aja? Kali ini aku yang traktir, janji kan!"
Sebelum Murni bisa menjawab, Aksa sudah berdiri dan berjalan ke kasir. Dia kembali beberapa menit kemudian dengan tangan penuh makanan – satu kotak ayam goreng, kentang goreng besar, dan dua gelas jus buah segar.
"Kamu suka makan ayam kan? Aku inget waktu dulu kamu selalu pesen ini kalau kita makan bareng," ucapnya sambil menyebarkan makanan di atas meja.
Murni merasa hati sedikit terasa hangat. Bahkan setelah sekian lama tidak bertemu, Aksa masih ingat dengan selera makan dia. "Ya benar, tapi kamu juga bisa pesen yang kamu suka aja kok. Nggak perlu cuma sesuaiin aku."
"Aku juga suka sama ini lho," jawab Aksa sambil mengambil sepotong ayam. "Selain itu, kali ini harus aku yang ngasih ke kamu, biar bisa membayar utang kopi kemarin."
Mereka mulai makan sambil bercerita tentang aktivitas masing-masing. Aksa cerita tentang bagaimana dia berhasil menangkap seorang pencuri yang mencoba mengambil dompet seorang ibu di pusat perbelanjaan kemarin. Dia bahkan mendapatkan pujian dari atasan karena kecepatannya dalam menangani situasi itu tanpa membuat keributan yang tidak perlu.
"Sekarang aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya," ucap Aksa dengan bangga. "Rekan-rekan di tempat kerja juga sangat membantu. Mereka tidak pernah menanyakanku tentang masa lalu aku di klub malam, mereka hanya melihat aku sebagai teman kerja yang mau bekerja keras."
Murni tersenyum mendengarkannya. Dia benar-benar melihat perubahan yang luar biasa pada Aksa – dari sosok yang tampak jauh dan penuh dengan rahasia, menjadi seseorang yang terbuka dan punya tujuan dalam hidup.
"Aku senang mendengarnya, Aksa. Kamu memang layak mendapatkan kehidupan yang baik," ucap Murni dengan tulus.
"Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi, Murni," jawab Aksa dengan suara yang sedikit lebih pelan. "Kalau tidak karena kamu berani datang menemukanku waktu itu, mungkin aku masih terus terjebak dalam masa lalu yang membuatku merasa rendah diri."
Murni hanya mengangguk dan mengambil satu sendok kentang goreng. Di dalam hatinya, dia merasa sedikit bingung. Perasaan yang dia rasakan terhadap Aksa mulai tumbuh kembali, padahal dia sudah punya Khem sebagai pacar. Tapi dia terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya hubungan pertemanan yang baik saja. Lagian, Khem memang sangat sibuk dengan pekerjaannya di pabrik besi dan baja – hampir setiap hari dia harus lembur, bahkan kadang tidak bisa bertemu selama seminggu penuh.
"Apa kamu masih sama dengan Khem?" tanya Aksa tiba-tiba, membuat Murni terkejut sejenak.
Murni mengangguk perlahan. "Ya, masih sama saja. Cuma dia memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Kadang aku merasa seperti... seperti tidak ada tempat dalam hidupnya lagi."
"Aku tidak mau mengganggu hubungan kamu dengan dia," ucap Aksa dengan suara yang jelas dan tegas. "Aku hanya ingin menjadi teman baik untukmu saja, Murni. Karena kamu adalah salah satu orang yang pernah mau melihat sisi baik dariku sebelum orang lain."
Murni merasa lega mendengar kata-katanya. "Terima kasih, Aksa. Aku juga sangat senang bisa punya teman baik seperti kamu lagi."
Mereka melanjutkan makan sambil tertawa dan berbagi cerita hingga malam menjelang. Ketika makanan sudah habis dan waktu mulai larut, Aksa mengajak untuk mengantar Murni pulang ke kontrakan. Di jalan pulang, mereka berbicara tentang rencana masa depan – Aksa ingin melanjutkan pendidikan secara daring untuk menjadi teknisi keamanan profesional, sedangkan Murni berharap bisa segera memperpanjang kontrak kerja di pabrik makanan ringan.
Ketika sampai di depan kontrakan Murni, Aksa menghentikan langkahnya. "Murni, bolehkah aku mengajak kamu jalan-jalan lagi nanti? Bukan sebagai pacar atau apa, tapi hanya sebagai teman yang mau saling mendukung satu sama lain."
Murni tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja boleh, Aksa. Aku juga sangat butuh teman yang bisa aku ajak berbagi cerita seperti ini."
Sebelum masuk ke dalam, Murni menoleh lagi ke arah Aksa. "Oh ya, jangan sampai lupa lagi bawa dompetnya ya kalau kita jalan-jalan lain kali!"
Aksa tertawa lebar dan mengangkat tangan sebagai janji. "Tidak akan pernah lagi! Malah kali ini aku sudah siapin duit ekstra di saku lain juga!"
Murni tertawa bersama dan kemudian masuk ke dalam kontrakan. Dia langsung menuju kamar dan melihat ponselnya – masih belum ada pesan baru dari Khem. Meskipun merasa sedikit sedih, tapi hatinya juga terasa hangat karena bisa bertemu dengan Aksa lagi. Dia mulai berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya memiliki teman baik seperti Aksa di kehidupannya, terutama ketika Khem begitu sibuk dengan pekerjaannya. Lagian, Aksa memang sudah berubah ke arah yang lebih baik bukan?
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Murni membuka pintu kontrakan dengan hati yang masih penuh senyum dari pertemuan tadi dengan Aksa. Tapi senyum itu langsung menghilang ketika dia melihat lampu ruang tamu yang menyala terang, dan aroma makanan lezat yang menyebar ke seluruh ruangan.
Di tengah dapur, sosok Khem sedang sibuk menyajikan hidangan di atas meja makan kecil. Dia mengenakan baju kerja pabrik yang sudah sedikit kotor dengan noda besi, tapi wajahnya penuh dengan senyum hangat ketika melihat Murni masuk.
"Khem?! Kamu kok bisa ada di sini? Bukannya kamu bilang mau lembur sampai larut malam?" tanya Murni dengan suara penuh kejutan, langkahnya berhenti di tengah jalan.
Khem mengangguk dan mengusap tangannya pada seragamnya. "Akhirnya mereka bisa menyelesaikan produksinya lebih cepat dari perkiraan. Aku langsung pulang dan beli bahan makanan di pasar sebentar lagi. Mau kamu tunggu dari luar tapi aku liat kamu belum pulang, jadi aku putuskan memasak aja dulu."
Dia mengajak Murni dengan tangan ke arah meja makan. Di atasnya ada nasi putih hangat, ikan bakar dengan bumbu rujak yang menggugah selera, tumis kangkung dengan udang, dan juga sup sayur bening yang masih mengeluarkan asap panas.
"Semua ini kamu masak sendiri?" tanya Murni dengan mata yang melebar. Khem jarang sekali memasak karena selalu sibuk bekerja, bahkan biasanya mereka lebih sering makan di luar atau membeli makanan siap saji.
"Ya dong, sayang. Aku tahu kamu sudah lama tidak makan makanan rumahan yang enak. Aku belajar resepnya dari Kak Titi di pabrik – istri dari salah satu rekan kerja aku," ucap Khem sambil menarik kursi untuk Murni duduk. "Mau kamu cuci tangan dulu ya sebelum makan. Aku juga sudah siapin air hangat buat kamu mandi kalau kamu mau."
Murni merasa hati sedikit tertekan tapi juga hangat. Dia cepat-cepat pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, dan ketika kembali duduk di meja makan, Khem sudah menyajikan piring untuknya. Mereka mulai makan dengan tenang, hanya terdengar suara sendok dan garpu menyentuh piring.
"Enak kan masakannya?" tanya Khem dengan wajah yang penuh harap.
Murni mengangguk dengan cepat. "Enak banget, Khem. Kamu benar-benar pandai memasak ya."
"Kalau kamu suka, aku akan coba masak lagi untukmu kalau ada waktu luang," ucapnya sambil mengambil sepotong ikan untuk Murni. "Sayang, aku tahu akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan kurang bisa menghabiskan waktu bareng kamu. Aku sangat minta maaf ya. Tapi kamu percaya kan kalau semua yang aku lakukan ini adalah untuk masa depan kita berdua?"
Murni menatap wajah Khem yang serius. Dia tahu bahwa Khem bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk mereka berdua. Pekerjaan di pabrik besi dan baja memang tidak mudah – jam kerja yang panjang, kondisi kerja yang berat, tapi gajinya cukup baik untuk mereka yang mau bekerja keras.
"Aku tahu, Khem. Aku tidak pernah menyalahkanmu karena itu," jawab Murni dengan lembut. "Cuma terkadang aku merasa sedikit kesepian saja, tapi itu tidak apa-apa kok."
Khem mengeluarkan tangannya dan menyentuh tangan Murni yang ada di atas meja. "Aku janji nanti kalau ada kesempatan, aku akan mengajak kamu liburan bersama ya. Kita bisa pergi ke pantai atau ke tempat wisata lain yang kamu mau. Kamu sudah lama tidak jalan-jalan kan?"
Murni tersenyum dan mengangguk. "Ya, aku tunggu aja janjimu ya."
Setelah selesai makan, Khem langsung membersihkan meja dan mencuci piring sambil menyanyi nyanyi kecil. Murni duduk di sofa sambil menatapnya, pikirannya kembali terbang ke pertemuan tadi dengan Aksa. Dia merasa sedikit bersalah karena tidak memberitahu Khem tentang pertemuan itu, tapi dia juga merasa bahwa tidak ada yang salahnya bertemu dengan teman lama yang sudah berubah menjadi lebih baik. Lagian, mereka hanya berteman saja bukan?
"Aku sudah selesai bersih-bersih," ucap Khem setelah beberapa saat, kemudian duduk di sebelah Murni di sofa. "Kamu sedang mikir apa ya? Kamu tampak seperti sedang terpikirkan sesuatu."
Murni terkejut dan segera menggeleng. "Tidak apa-apa kok, Khem. Cuma mikir tentang tes kerja yang aku akan ikuti besok aja."
"Oh iya kan kamu bilang mau tes untuk besok," ucap Khem dengan suara penuh dukungan. "Aku yakin kamu pasti lulus ya. Kamu sudah belajar dengan giat kok selama ini."
Mereka duduk berdekatan di sofa, menyaksikan acara televisi yang sedang tayang tanpa terlalu memperhatikannya. Khem menyandarkan kepalanya di bahu Murni, dan dia bisa merasakan kehangatan tubuhnya yang masih sedikit panas karena bekerja di pabrik.
"Sayang," ucap Khem pelan. "Aku cinta kamu ya. Jangan pernah lupa itu ya."
Murni mengusap-usap rambut Khem dengan lembut. "Aku juga cinta kamu, Khem."
Namun di dalam hatinya, dia tidak bisa menghilangkan pemikiran tentang Aksa. Dia tahu bahwa dia harus lebih hati-hati dalam menjaga hubungan pertemanannya dengan Aksa agar tidak membuat Khem merasa tidak nyaman. Lagian, Khem tidak tahu sama sekali tentang pertemuan diam-diamnya dengan Aksa, dan Murni merasa bahwa mungkin lebih baik tidak memberitahukannya untuk menghindari kesalahpahaman yang tidak perlu.
Setelah beberapa saat, Khem berdiri karena sudah mulai larut malam. Dia harus bangun pagi sekali besok untuk kembali bekerja di pabrik. "Aku harus pulang sekarang ya, sayang. Kamu tidur lebih awal ya, besok kamu harus bangun pagi untuk tes tersebut."
Murni mengangguk dan mengantar Khem sampai ke pintu keluar. Setelah pintu tertutup dan suara langkah kaki Khem menghilang di koridor kontrakan, Murni kembali ke ruang tamu dan duduk sendirian di sofa. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan yang baru saja datang dari Aksa.
"Makasih ya sudah mau makan bareng aku tadi. Semoga kamu bisa lulus tes besok ya! Aku doain kamu sukses ."
Murni tersenyum sedikit dan mengetik balasan singkat. "Terima kasih juga ya Aksa. Semoga kamu juga kerjaannya lancar ya."
Setelah mengirim pesan, dia mematikan lampu dan pergi ke kamar untuk tidur. Pikirannya masih bercampur aduk antara Khem yang mencintainya dengan sepenuh hati dan bekerja keras untuknya, serta Aksa yang menjadi teman baik yang selalu ada ketika dia merasa kesepian. Dia berharap bahwa semuanya akan berjalan dengan baik dan tidak akan ada masalah yang muncul di kemudian hari.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Tak lama kemudian, dering ponselnya membangunkan dia dari renungannya. Nama Khem muncul di layar dengan tulisan "Sayangku ".
"Hello... Khem? Bukannya kamu sudah pulang dan mau tidur?" tanya Murni dengan suara pelan.
Di ujung sambungan terdengar suara Khem yang sedikit terengah-engah, diselingi dengan suara mesin yang berdecit di latar belakang. "Maaf ya sayang, mengganggumu tidur. Tiba-tiba saja ada masalah dengan mesin produksi, jadi kita harus cepat memperbaikinya agar besok produksi tidak terganggu."
Murni duduk di atas kasur, menggeser bantal agar lebih nyaman. "Tak apa-apa kok. Gimana keadaan kamu? Kamu sudah makan belum?"
"Belum nih sayang. Kita baru saja selesai memperbaiki mesinnya, sekarang baru bisa sedikit beristirahat di ruang istirahat," jawab Khem. "Aku cuma pengen denger suara kamu aja. Rasanya kalau denger suaramu, badan yang capek jadi langsung segar lagi."
Murni merasa hati sedikit tertekan mendengarnya. Dia bisa membayangkan betapa lelahnya Khem bekerja di pabrik besi dan baja yang penuh dengan mesin berat dan panasnya tungku peleburan. "Kamu harus makan ya nanti, jangan sampai sakit karena kurang makan."
"Ya sayang, aku akan makan setelah selesai telepon sama kamu ini. Nanti aku beli bubur aja di warung dekat pabrik," ucap Khem dengan suara yang mulai terdengar lebih lembut. "Kamu sudah siap untuk tes kerja besok kan? Kamu pasti bisa lulus ya. Aku tahu kamu sudah belajar dengan sangat giat."
"Semoga saja ya," jawab Murni dengan sedikit ragu. "Aku sedikit gugup juga sih, apalagi itu perusahaan besar yang aku lamar."
"Jangan gugup dong sayang. Kamu pintar dan kerja keras, itu sudah cukup untuk membuat kamu diterima," ucap Khem dengan nada meyakinkan. "Kalau kamu lulus, kita bisa merencanakan sesuatu yang spesial ya. Beli baju baru atau mungkin kita bisa pergi makan malam di restoran yang kamu suka."
Mereka terus berbincang-bincang lewat telepon, mulai dari hal-hal sepele sampai pada rencana masa depan yang mereka impikan bersama. Khem cerita tentang bagaimana dia ingin membangun rumah kecil yang nyaman untuk mereka berdua beberapa tahun lagi, sementara Murni bercerita tentang impiannya untuk bisa bekerja dengan baik dan membantu Khem dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Waktu berlalu begitu cepat, sudah hampir tengah malam tapi mereka masih belum berhenti berbicara. Kadang kala hanya terdengar hembusan napas satu sama lain di ujung sambungan, tapi itu terasa cukup untuk membuat mereka merasa dekat meskipun berada jauh.
"Sayang, aku rasa aku harus mulai kembali bekerja lagi nih," ucap Khem dengan suara yang penuh rasa tidak tega. "Kita masih punya pekerjaan sedikit lagi untuk memastikan mesinnya berjalan normal besok pagi."
Murni mengangguk meskipun Khem tidak bisa melihatnya. "Baiklah sayang. Jangan terlalu memaksakan diri ya. Kamu juga harus istirahat agar badan tidak capek."
"Aku tahu kok sayang. Kamu juga cepat tidur ya, besok kamu harus bangun pagi untuk tes kerjamu," ucap Khem dengan lembut. "Aku cinta kamu ya, Murni. Selalu ingat itu ya, tidak peduli apa yang terjadi."
"Aku juga cinta kamu, Khem. Semoga pekerjaannya lancar ya," jawab Murni.
Setelah mereka mengakhiri panggilan, Murni meletakkan ponsel di atas meja samping tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar yang gelap, hati terasa campuran antara bahagia dan sedikit sedih. Bahagia karena tahu bahwa Khem mencintainya dengan tulus dan selalu memikirkan dia, tapi sedih karena mereka jarang bisa menghabiskan waktu bersama karena kesibukan Khem.
Saat dia hendak menutup mata untuk tidur, ponselnya kembali berbunyi – kali ini adalah pesan dari Aksa.
"Masih belum tidur ya? Aku baru saja selesai ngurusin sesuatu di rumah. Semoga kamu bisa tidur nyenyak dan besok tes kerjamu lancar ya! Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku kapan saja."
Murni tersenyum dan mengetik balasan singkat sebelum akhirnya mematikan lampu dan menutup mata. Dia berharap bahwa besok akan menjadi hari yang baik baginya, baik untuk tes kerja maupun untuk menjaga hubungan yang dia miliki dengan kedua pria itu – satu sebagai cinta yang dia sayangi, dan satu lagi sebagai teman baik yang selalu ada untuknya.
...