Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya tiba juga
Akhirnya, setelah penerbangan yang memakan waktu, Alina, bibi serta Rosa menginjakkan kakinya di negara ini. Negara yang jauh, dan tidak terpikirkan oleh Alina untuk kembali.
Salju tipis menutupi landasan, dan kabut dingin menggantung di udara. Orang-orang tampak terburu-buru, wajah mereka terbungkus jaket tebal, dan napas mereka terlihat seperti asap putih di udara dingin. Suara mesin pesawat dan teriakan penumpang memenuhi ruang tunggu, menciptakan suasana yang sibuk dan hangat di tengah dinginnya musim.
"Mammamaa." Celotehan Rosa kembali terdengar, dibalik jaket tebal yang membungkus tubuh kecilnya.
"Nona, disini dingin sekali ...." Ujar bibi gemetar.
"Jangan khawatir bi, hanya tiga bulan. Setelah itu, bibi akan terbiasa. Begitu juga dengan nya...." Jelas Alina menoleh sejenak pada Rosa.
"Iya nona."
"Ayo!" Ajak Alina saat mereka berhasil menaiki taksi.
"Dua jam lagi, setelah itu kita sampai." Ujar Alina, Amsterdam..... Amsterdam di musim dingin begitu memesona. Salju lembut menutupi atap rumah kanal. Jalan-jalan yang biasanya sibuk, kini tampak lengang. Hanya beberapa orang yang berani melawan udara dingin, melangkah dengan cepat dengan hidung merah dan tangan yang dibungkus oleh sarung tangan hangat dibantu oleh jaket tebal.
"Dankjewel." Ujar Alina, setelah selesai dengan perjalanan terakhir menaiki perahu yang memecah kepingan es di kanal yang mereka lalui. Dibalik atap yang tertimpa salju dan jalanan yang menyisakan bagian tengah diantara salju kanan kiri, Alina melewatinya sejenak diikuti oleh bibi.
"Nona....."
"Kita sudah sampai bi. Sudah sampai!" Bibi, wanita yang menghabiskan waktunya di negara tropis, sekarang tiba di tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Butiran putih yang jatuh dari langit dan hanya bisa ia dengar dan bayangkan, sekarang menjadi kenyataan dan bisa ia lihat, sentuh dan ia pijaki.
"Luar biasa. Indahnya.... Rosa, lihatlah! Kita seperti di negeri dongeng." Jelas bibi pada Rosa, seolah rasa lelah yang menghantam punggung dan pinggang nya langsung hilang.
"Babababa." Balas Rosa, tangan kecilnya keluar dari jaketnya seolah ingin menyentuh butir-butir putih itu.
"Ayo bi, kita masuk!" Suara Alina menyadarkan bibi dan dia bergegas masuk.
Suasana hangat langsung mengelilingi rumah. Alina menyalakan listrik dan juga pemanas ruangan.
"Hah, perjalanan yang melelahkan! Bibi, untuk sementara bisa tidur di kamarku. Tidur bersama saja, aku perlu mengemasi barang-barang dan juga membersihkan ruangan." Jelas Alina.
"Kita bisa melakukan nya bersama-sama nona."
"Ya, tapi rasanya untuk sekarang.... tidak mungkin! Tubuhku terasa lelah." Jelas Alina.
"Baiklah nona."
"Bibi tidak menyangka, orang tua nona berasal dari sini?"
"Ayahku bi. Ibuku berasal dari negara yang sama dengan bibi, aku besar disana dibandingkan disini." Jelas Alina.
"Nona, jujur saja... . Mengenai kebutuhan Rosa, di tempat ini....."
"Jangan khawatir!" Tak lama Alina datang dengan sebuah koper besar.
"Lihatlah! Cukup untuk nya kan?" Tanya Alina.
"Nona, ini semua..... Punya nona?" Tanya bibi menoleh pada Alina.
"Ya, memang punya siapa lagi." Ujar Alina yang kembali beranjak menuju dapur. Bibi masih terpaku dengan koperasi besar didepannya, tangannya melihat barang-barang berupaya perlengkapan bayi dan mungkin bisa untuk batita.
"Semuanya masih bagus. Dan ini terlihat mahal." ujar bibi memegangi kain yang terasa lembut.
"Wuawaaa." Rosa seolah ikut menilai dengan wajah menggemaskan nya dan merasa senang dengan apa yang ada didepannya.
"Mawar nenek akan terlihat cantik dengan ini."
"Wuawaaa, ekhee!" Girang Rosa.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰🙏🙏