Ditinggalkan oleh calon suami seminggu sebelum pernikahan nya membuat hati Alina hancur lebur. Belum mendapatkan jawaban akan maksud calon suaminya yang meninggalkan dirinya, Alina kembali dikejutkan beberapa bulan kemudian akan permintaan pria yang belum menghilang dari hatinya itu.
"Aku mohon padamu, tolong rawat bayi ini. Aku memohon padamu Alina. Jaga Rosa dengan baik." Setelah mengucapkan itu, Edwin menghembuskan nafas terakhirnya.
Bagaimanakah kelanjutan nya? Apakah Alina akan membesarkan nya? atau justru mengikuti egonya? Dan bayi siapa itu sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka
Sambil melihat ponsel dengan foto hasil prewedding nya. Senyuman di wajah cantik itu tidak hilang-hilang, meksipun rasa lelah di tubuhnya mendera karena dirinya baru saja menyelesaikan desain terakhir sebelum pernikahan nya yang tinggal menghitung hari.
Tinggal sendiri tanpa orang tua yang hanya ditemani oleh beberapa pelayan seperti keluarganya sendiri. Menjadi sebatang kara di usia yang masih remaja membuat Rosalina tangguh dalam menjalani hidup meksipun dengan banyak luka yang bernama kesepian.
Tetapi, dalam dua tahun ini, kesepian itu telah memudar menjadi kebahagiaan dan penuh cinta serta warna bagi hidup Rosalina. Ketika dirinya bertemu dengan seorang pria yang bernama Edward.
Pria yang berusia lebih dewasa darinya dua tahun saat ini. Menjalin hubungan selama dua tahun membuat mereka memutuskan untuk menikah dan hidup bersama. Meskipun, Edward hanya tukang masak di sebuah restoran yang tak begitu besar. Tetapi sikap dan kepribadian Edward membuat Alina sangat yakin bersama pria itu.
"Fotonya sangat cantik dan bagus nona." Seorang wanita paruh baya datang membawakan susu hangat untuk Alina yang duduk di ranjang nya.
"Ya, aku sudah berusaha untuk mendapatkan hasil foto ini." Ujar Alina sambil mengambil gelas susu itu dan bersiap meneguknya.
"Sebaiknya Nona jangan lagi bekerja atau menerima desain baju. Sebentar lagi nona akan menikah." Ucapan itu semakin membuat senyuman di wajah Alina terkembang.
"Aku sudah menyelesaikan nya. Aku juga tidak mau badan ku tidak bisa berdiri lagi di hari bahagia ku."
"Ngomong-ngomong, apa kekasih Nona sudah menelepon, bagaimana tentang itu?"
"Ah ya, aku baru ingat. Dia akan datang sebelum pernikahan kami. Sepertinya juga dengan keluarga nya." Jelas Alina membayangkan dengan senyuman manis.
"Syukurlah, nona. Bibi juga penasaran dengan keluarga dari kekasih Nona."
"Aku sudah pernah bertemu dengan orang tuanya, meskipun tidak sering. Mereka baik, aku suka."
"Itu sangat bagus Nona." Alina memilih pernikahan yang sederhana untuk mengikat janji suci mereka. Bukannya tidak mampu, tetapi Alina lebih suka pernikahan seperti itu dibandingkan kemewahan.
"Kalau begitu, bibi permisi nona. Selamat malam nona." Pelayan yang menemani Alina seperti keluarga itu beranjak dari kamar bernuansa krem itu.
"Terimakasih bibi, selamat malam juga." Lampu dimatikan pertanda mata itu harus beristirahat.
**************
Diantara bangku putih dan juga beberapa pengunjung. Alina menunggu kekasihnya disebuah taman dengan pohon rindang yang mengisinya. Angin berhembus menyapa rambut coklat Alina, hingga penantian gadis itu berakhir saat mendengar langkah kaki kekasihnya.
"Ed!"Senyum di wajah Alina semakin bersinar ketika melihat kekasihnya di depannya. Dan tentunya pelukan hangat bercampur rasa rindu langsung menyelimuti dirinya.
Tetapi Alina tersadar. Sang kekasih, Edward tidak membalas pelukan kerinduan nya. "Ada apa? Kau tidak rindu padaku?" Tanya Alina menatap wajah calon suaminya.
"Alina, aku ingin membatalkan pernikahan kita. Aku tidak bisa menikah denganmu!" Mentari yang bersinar dengan angin sepoi-sepoi langsung berubah menjadi awan gelap dan angin kencang dengan petir yang menyambar hati Alina.
"Ed, jangan bercanda. Ini tidak lucu sayang." Alina mencoba berpikir positif, bahwa Ed tengah bercanda dengan nya.
"Aku serius! Aku tidak bisa menikahi mu. Aku kesini untuk mengatakannya. Setelah ini kita tidak akan bertemu, dan aku harap tidak ada pertemuan diantara kita lagi." Tidak ada pelukan, justru genggaman tangan Alina di lepas begitu saja. Tidak ada kata-kata rindu dan penuh cinta, hanya ada kata-kata penuh luka di hatinya.
Edward pergi meninggalkan Alina yang tadinya berseri-seri menunggu kedatangan nya langsung berubah menjadi tangisan dengan tubuh tak bergeming. Manik Alina menatap kepergian Edward yang semakin menjauh darinya.
Tak tau getaran dari mana, hantaman rasa pusing langsung menyerbu kepala Alina dan tak lama dirinya tak sadarkan diri. Orang-orang perlahan mendekat dan membawa tubuh yang sudah tidak sadarkan diri itu ke rumah sakit.
🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟
Aroma khas dari ruangan serba putih itu langsung tercium dengan jelas oleh indra penciuman dan membuat sepasang manik itu terbuka perlahan. "Nona, syukurlah Nona sudah sadar!" Terlihat raut kekhawatiran menyapa manik Alina.
"Bibi, aku bermimpi bertemu Edward. Dia mengatakan hal yang membuat hatiku sakit, dia mengatakan membatalkan pernikahan kami. Itu hanya mimpi kan bi? Edward disini kan? Dia pasti datang setelah tau keadaan ku, benar kan bi? Aku akan menghubungi nya." Alina langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor Ed, tetapi tidak ada sambungan disana.
"Nona....." Bibi mengelus lengan Alina yang langsung membeku dengan tangan yang perlahan-lahan menurunkan ponselnya.
"Tidak mungkin! Edward tidak mungkin melakukannya! Tidak ! Tidak!" Alina berteriak histeris sambil mengingat kejadian menyakitkan itu. Tanpa alasan Edward membatalkan pernikahan mereka dan memutuskan jalinan kasih mereka tanpa alasan yang jelas.
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak.