Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.
Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.
Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 21.
Rangga tidak langsung menanggapi firasat itu. Ia hanya melangkah masuk menutup pintu depan pelan, lalu menatap Jenny dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Kamar tamu kosong,” kata Rangga singkat. “Tapi aturannya jelas.”
Jenny mengangguk cepat. “Aku penurut kok.”
Milea meliriknya. “Kita lihat nanti.”
Jenny nyengir, lalu membawa tasnya ke arah kamar tamu. “Tenang aja, aku nggak mau jadi beban. Aku cuma numpang makan dan tidur.”
Rangga bergumam pelan, nyaris tak terdengar, “Biasanya yang bilang gitu justru paling ribet.”
Milea menyikut lengan suaminya.
Malam itu, suasana rumah terasa… ganjil. Jenny keluar masuk dapur seolah sudah hafal letaknya. Ia membuka kulkas lalu menutup lagi, tak lama sudah berdiri di samping Milea yang sedang memotong sayur.
“Kamu masak tiap hari?” tanya Jenny santai.
“Iya.”
“Rangga dulu nggak pernah mau makan malam di apartemenku,” celetuk Jenny tanpa menoleh.
Pisau di tangan Milea berhenti sesaat.
Rangga yang sedang menuang air minum langsung berdehem. “Jangan samakan, masakan Milea sangat enak."
Milea melanjutkan memotong sayur tanpa berkata apa-apa. Namun Rangga bisa melihat dari cara bahu istrinya itu menegang, jika kalimat tadi berpengaruh pada Milea.
Saat makan malam, keanehan itu makin terasa.
Jenny makan dengan tenang, sesekali tersenyum, sesekali mengomentari makanan.
“Masakan kamu enak,” katanya pada Milea. “Pantes Rangga cinta mati sama kamu, nggak kayak sama aku dulu.”
“Makan saja,” jawab Milea.
Rangga meletakkan sendok dengan agak keras. “Jenny.”
“Apa?”
“Kalau mau tinggal di sini, jangan bahas masa lalu yang nggak perlu.”
Jenny menatapnya Rangga, lalu tertawa kecil. “Aku cuma sedikit nostalgia.”
“Nostalgia kamu nggak lucu,” balas Rangga dingin.
Jenny hanya tersenyum menyeringai.
Jenny sudah lama masuk ke kamar tamu, di kamarnya Milea masih terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk bantal.
Rangga keluar dari kamar mandi dan langsung menangkap ekspresi itu.
“Kamu nggak nyaman,” katanya pelan.
Milea menghela napas. “Aku nggak cemburu… tapi aku juga nggak bodoh.”
Rangga duduk di sampingnya. “Aku tahu, kalau Jenny melewati batas... aku yang akan menghentikannya.”
Milea menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. Namun kekhawatiran itu tidak menunggu lama.
Keesokan paginya, Milea baru saja keluar kamar ketika melihat Jenny berdiri di dapur. Terlalu dekat dengan Rangga yang sedang menyeduh kopi.
“Kamu inget nggak,” kata Jenny sambil tertawa kecil, “Kamu dulu selalu minum kopi pahit kalau lagi sibuk.”
Rangga mengangguk singkat.
“Sekarang masih?”
“Nggak, karena aku jarang sibuk. Aku lebih banyak menghabiskan waktu sama Milea.“
Lalu Jenny menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan Milea. Ada senyum tipis di bibirnya, dan seringai jahil.
“Rangga, ngomong-ngomong... apa kita pernah ciuman? Soalnya aku lupa—“
“Diam! Tutup mulutmu!“ Rangga mendesis kesal.
“Kenapa Jenny harus diam, jawab saja pertanyaannya. Bukannya kamu menikmati kebersamaan kalian berdua sejak tadi, tanpa aku?“ Milea menekankan kata-katanya.
Rangga sontak berbalik dan langsung mendekat ke arah Milea. “Sayang, dia—“
Jenny terdiam sesaat, lalu mendadak tertawa terbahak-bahak.
“Kalian berdua lucu banget,” katanya sambil menepuk tangannya sendiri. “Hei, aku cuma bercanda! Jangan langsung pasang muka tegang gitu. Oke, maafkan aku. Dari semalam, aku hanya mengetes cinta kalian berdua. Sekarang, aku yakin... Rangga sangat mencintaimu dan nggak mungkin menyakitimu lagi.”
Tanpa menunggu reaksi, Jenny sudah menarik Milea ke dalam pelukan. Sebuah pelukan sahabat, karena Jenny dan Milea sudah sangat akrab.
“Ayo, kita shopping. Sekalian cuci mata, cari cowok bening.” Ujarnya ceria.
Rangga langsung mendesis. “Jangan pengaruhi istriku pakai otak sengklekmu itu, Jenny.”
Jenny melepas pelukan dan memutar mata. “Cih! Dasar posesif.”
“Sudah, sudah,” Milea menyela cepat sebelum suara Rangga naik. “Kita pergi makan di luar nanti.”
“Jangan ajak dia!” Jenny mendelik ke arah Rangga.
Rangga menyilangkan tangan di dada. “Aku suaminya, tentu saja aku berhak ikut.”
Jenny mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap Rangga dengan senyum menyebalkan.
“Rangga, biarkan kami sesama perempuan pergi berdua. Nyalon, belanja, dan kegiatan perempuan lainnya.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada sengaja dibuat serius, “Kamu sebaiknya ke rumah orang tuamu, perbaiki hubungan. Ini sudah terlalu lama, kan?”
Milea menoleh ke suaminya, tatapannya lembut tapi tegas.
“Saran Jenny benar, kamu harus lebih sering bertemu Mama dan Papa.” Ia menarik napas kecil. “Hari ini... aku akan pergi berdua sama Jenny.”
Wajah Rangga langsung mengeras. Jelas ia tidak suka, jelas ia kesal. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk juga dengan setengah terpaksa.
Jenny mengangkat dagunya puas, lalu menjulurkan lidah ke arah Rangga dengan ekspresi menang. Provokatif, dan kekanak-kanakan.
Rangga hanya mendengus dingin. Tanpa komentar tambahan, ia berbalik dan melangkah menuju kamar untuk bersiap pergi ke rumah orang tuanya.
Milea memperhatikan punggung suaminya menghilang, lalu menggeleng pelan.
Dia menghela napas, melihat Rangga dan Jenny bertengkar seperti itu, rasanya lebih mirip kakak-adik yang tak pernah akur… daripada sepasang mantan kekasih.
Beberapa waktu kemudian, kedua perempuan itu baru saja melangkah masuk ke pusat perbelanjaan ketika sebuah suara menghentikan langkah Milea.
“Milea…?”
Nada itu terdengar ragu, seolah tak yakin dengan apa yang dilihatnya. “Ini beneran kamu?”
Milea menoleh.
Seorang pria berwajah blasteran telah berdiri beberapa langkah di belakangnya, posturnya tegap, sorot matanya tajam namun menyimpan keterkejutan yang tak sempat disembunyikan. Jenny ikut berbalik, menatap pria itu dengan alis terangkat, membaca suasana yang tiba-tiba berubah.
skrg dah terlambat untuk bersama Milea, tapi tuh Ethan terobsesi bgt sme Milea. semoga rencana Rangga berhasil.
apa gak seharusnya Milea dikasih tau ya, takutnya nanti bisa salah paham. apa orang tua Milea dikasih tau Rangga?
malah datang kayak maling, datang dengan cara tidak baik baik
Lebih baik kamu kasih tahu Rangga deh, biar Rangga yang urus semuanya... 😌