Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Harga sebuah informasi
Hentakkan kuda berlari dengan cepat, tangan Dean menangkap pinggang Rona dengan tepat. Gadis itu hampir saja terjatuh. Pelukkan Dean sangat hangat dan erat. Sedikit saja kesalahan gadis itu akan jatuh dan terluka cukup parah.
Pagi saat berada di ruang makan kediaman White, suasana menjadi hening tak bergeming. Balutan bibir tipis Nathan seakan merapat tanpa kata. Pandangannya sedikit pucat pasih namun tatapan Rona masih setajam pisau.
Bukan karena Rona tidak menyukai Nathan ataupun membencinya, hanya saja ada beberapa hal dari prinsipnya yang tidak sesuai dengan tindakkan lelaki itu. Hal itu bertolak belakang dengan pernyataan dan sikap Nathan yang menyembunyikan banyak hal.
Rona meneguk teh hijau yang dibubuhkan daun mint diatasnya, menambah kesegaran pada rasa dan aroma teh tersebut. Rona sedikit melirik menanti jawaban Nathan.
“Sebenarnya…” Belum sempat menjawab Emily memotong.
“Ada apa Nathan?” Emily menatap Nathan sedikit mengangguk.
“Ya sebenarnya aku akan pergi dari kediaman ini karena situasi telah membaik.” Senyum tipis dibubuhkan pada bibir Nathan yang tipis.
“Benarkah? Jadi aku akan menyewa beberapa pengawal untuk berjaga di rumah ini. Kau akan menarik semua penjagamu disini bukan?! ” Tanya Rona seolah tak tahu dan masih menyeduh teh nya dan namun mata Rona masih tertuju pada lelaki itu.
Walaupun setengah wajahnya tertutup cangkir namun mata Rona masih terlihat jelas oleh Nathan.
“Benar.”
Emily menatap Rona Lalu Nathan.
“Kau akan kemana?” Tanya Emily penasaran.
“Aku memiliki penginapan di sekitar sini, aku akan mengunjungimu beberapa waktu.” Seolah menyembunyikan rasa sedikit tidak sukanya karena Nathan harus keluar rumah tersebut.
Ajudan yang mengikuti Rona kemarin datang menghadap Nathan dan membisikkan sesuatu.
Rona berdiri dan berpamitan dengan Emily dan juga Nathan.
“Aku akan pergi, terima kasih makanannya.” Tanpa menunggu jawaban Rona bergegas pergi meninggalkan Ruang makan tersebut.
Terlihat Emily menantikan alasan tiba-tiba Nathan kenapa ia akan pergi mendadak hari ini, gadis polos yang menganggap semua dunia itu baik dan tak pernah berfikir akan adanya hal jahat yang akan menimpanya seperti waktu itu.
“Maafkan aku Emily, aku memiliki beberapa urusan. Kau sudah terlihat sangat baik belakangan ini, ini saatnya aku kembali meninggalkan kediaman ini.” Nathan menggenggam tangan gadis itu yang berada diatas meja makan.
“Baiklah Nathan, jadi kita tidak bisa datang ke acara puncak malam ini?” Tanya Emily penuh harap.
Sudah lama ia tak menikmati pesta kembang api bersama sosok yang ada di hadapannya itu.
“Aku tak bisa berjanji, tapi jika kau berada disana dan aku senggang. Aku akan mencoba datang.”
Emily hanya mengangguk pelan dengan senyum yang sedikit terpaksa. Lelaki itu bangkit dan mencium punggung tangan Emily.
“Aku pamit dahulu.” Nathan melambaikan tangannya dan meninggalkan Emily sendiri di ruangan itu.
Emily menata cangkir tehnya dan melihat pantulan dirinya pada genangan teh yang ada di cangkir tersebut. Tatapannya agak sendu.
“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia tidak menjelaskan kejadian waktu lalu dan kenapa suasana di meja makan tadi terasa sangat asing? Tatapan mata Rona sangat tajam dan waspada terhadap Nathan. Apa mungkin? Ah tidak mungkin?!” Pertanyaan demi pertanyaan ia gumamkan dalam hati.
Sebenarnya Emily sempat menyusul Rona dan Nathan saat berada di ruang kerja Rona, terdengar samar dari pintu yang setengah terbuka tersebut.
Rona sempat mencurahkan beberapa hak kepada Nathan. Emily yang mendengar Rona akan keluar dari ruangan itu bergegas pergi menuju Ruang makan.
“Tapi hal apa yang ia sembunyikan? Kenapa Rona tak mengatakan apapun?” Emily hanya berputar putar dalam pikirannya.
Rona mengganti bajunya dan memakai setelan jas dan celana kulit tidak terlalu ketat sesuai tubuhnya. Gadis itu menatap ke arah cermin dan menyelipkan beberapa lembar kertas di balik saku dadanya.
Rose menyisir rambut Rona dan mengepang dari atas ke bagian kanan bahunya, dengan ikatan dari tali pemberian Dean kala itu. Rona menatap dirinya dan tersenyum.
Kepala pelayan masuk ke kamarnya dan memberikan laporan sesuai keinginannya, 5 dokumen sebagai profil pengawal baru untuk di kediaman White. Rona merasa harus bergerak cepat agar Nathan tidak mengambil alih kediaman tersebut. Sekilas ia melihat dan menyadari kualifikasi peserta yang akan menjadi pengawalnya.
“Tolong panggilkan mereka besok keruanganku. Aku akan mewawancara mereka semua.” Rona kembali menyerahkan berkas tersebut kepada Kepala Pelayan.
“Baiklah nona.” Kepala pelayan tersebut mengangguk dan undur diri.
Rona masih menatap dirinya lekat-lekat ke dalam cermin. Ada beberapa bagian kancing yang terlepas. Lalu mengencangkan kancing di tangan bajunya.
“Rose sepertinya kau harus memperhatikan ini?” Rona membalik badannya menghadap cermin.
“Baik nona, sepertinya kancing ini telah usang. Saya akan perbaiki setelah anda pakai.” Rose hanya mengangguk setelahnya.
Rona bergegas pergi mengambil kudanya untuk ke suatu tempat, terlihat Gray ajudan Nathan sudah menunggunya. Rona hanya melewati Grey yang menyapanya.
“Halo nona selamat pagi.” Senyuman manis seperti biasa mata merahnya masih saja tajam dan mengkilau.
Rona hanya menatapnya sebentar dan mengangguk lalu mengambil kudanya.
“Nona kita mau kemana?” Tanya Grey lembut.
“Aku lupa, kau tak harus mengikutiku hari ini. Bukankah tuanmu sudah mengatakannya tadi di ruang makan?” Rona menaikkan alisnya dan langsung menghempas kudanya.
“Hiyakk…” kuda Rona berlari jauh melewati gerbang utama Kediaman White.
“Tunggu nona… “ Grey cepat menyusul Rona.
Sudah seminggu lelaki itu mengikuti gadis muda yang diperintahkan tuannya, namun sedikit saja ia tak tahu apapun yang direncanakan di kepala gadis muda berkulit putih pasir tersebut.
“Apakah tuan Nathan melakukan kesalahan? Hari ini saja aku harus mengemas banyak barang dan mengikuti gadis itu.”
Grey yang seorang perfeksionis saja tidak bisa menebak pergerakan gadis tersebut, seolah gerakannya sudah terpola sempurna agar tidak ada satupun celah atas sikapnya.
Rona telah sampai di sebuah bar lusuh di ujung kota, ia memasuki bar tersebut mengenakan jubah menutupi wajahnya. Lelaki bermata merah dengan tinggi 187 itu masih mengikutinya bak pengawal.
Rona meliriknya dan tak mengatakan apapun pada Grey. Ia hanya mendekati meja depan pembuat minuman disana dan duduk memesan minuman.
Rona berbisik kepada seseorang barista tersebut. Dan memberikan seutas kertas dan dilihat oleh barista tersebut. Barista tersebut mengacungkan jarinya agar Rona mendekat dan berbisik.
“Ada informasi dan ada imbalan.” Bisiknya pelan.
Rona hanya mengeluarkan sekantong uang kepada lelaki itu, lelaki itu membuka kantong itu dan tersenyum lagi dan membisikkan beberapa kata ke telinga Rona.
Bar ini adalah tempat pertukaran informasi rahasia tergantung informasi apapun yang ingin didapat akan ada jika ada imbalan yang pantas.
Setelah mendengar kata-kata lelaki itu Rona bangkit dari tempat duduk tersebut tanpa menyentuh minuman yang telah disiapkan oleh barista tersebut begitu juga Grey.
Kata-kata barista seolah bagai api dan halilintar yang menyambar tepat di jantung Rona. Gadis itu berlari ke kudanya dan menungganginya dengan kecepatan yang diluar kendali.
“Nona, nona tunggu.” Teriak Grey berlari keluar juga dan menaiki kudanya.
Kecepatan kuda Rona tak dapat di imbangi oleh Grey, gadis itu sudah tak terlihat. Grey kehilangan jejaknya.