Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. PWB
...~•Happy Reading•~...
Kepala sekolah dan Hernita terkejut mendengar yang dikatakan Jefase. Mereka tidak menyangka Jefase akan berpikir demikian. Kepala sekolah melihat Hernita yang menunduk, diam.
"Bukan membajak, Jefase. Tapi dia datang ke sini, karena ada masalah di pelita. Bisa dibilang seperti, dia datang minta suaka pada kita...." Kepala sekolah menjelaskan sedikit yang dikatakan Ceska mengenai tidak adanya seleksi, kecurangan, perlakuan tidak adil yang dialami Hernita di sekolah pelita.
"Sebentar, Pak. Mereka tidak lakukan seleksi dan tidak memasukan namanya sebagai peserta?" Jefasa terkejut. Prasangka negatif yang sempat hinggap, langsung terbang.
"Itu yang terjadi. Kau bisa bertanya kepada Hernita." Kepala sekolah menunjuk Hernita yang tetap duduk diam.
Jefase menatap Hernita serius. "Jadi pelita sudah tetapkan peserta yang akan ikut kompetisi?"
"Iya. Kemarin sudah diumumkan nama peserta." Hernita menjawab pelan, tanpa melihat Jefase.
"Belum seleksi, tapi sudah diumumkan?" Hernita mengangguk. Jefase sangat heran. Sekolahnya sudah adakan seleksi tapi belum ada pengumuman resmi.
"Siapa yang diutus pelita?" Jefase yang biasanya tenang, jadi emosi.
"Lenox dan Juke." Jawab Hernita singkat.
"Lenox dan Juke yang mewakili pelita?" Jefase makin heran mendengar Lenox dan Juke yang jadi utusan sekolah pelita. Berbagai macam pikiran bermunculan di benaknya.
"Kalau benar, kau Hernita yang dimaksudkan Ibu Franceska, mari kerja sama." Jefase tidak bertanya lagi. Dia mengerti mengapa Hernita datang ke sekolah harapan. Hernita terdiam.
"Baik. Bapak setuju dengan Jefase. Kalian persiapkan diri secara senyap. Tidak boleh ada yang tahu kalian berdua utusan sekolah. Bapak akan atur yang lain."
"Terima kasih, Pak." Ucap Hernita pelan.
"Hernita sudah boleh balik ke kelas. Jefase tetap tinggal di sini." Kepala sekolah mempersilahkan Hernita kembali ke kelas.
Setelah Hernita keluar ruangan, kepala sekolah mendekati Jefase. "Nanti balik ke kelas, tidak usah kasih tahu asal sekolah Hernita kepada murid di kelasmu, atau yang lain. Kau mengerti maksud bapak?"
Jefase menggeleng. "Saya belum paham, Pak."
"Begini, sementara ini, kita tidak usah bicarakan asal sekolah Hernita. Sepertinya dia mengalami hal buruk di pelita. Jangan sampai dia diledek oleh murid di sini dan pelita, kalau tahu dia pindah ke sini."
Kepala sekolah agak khawatir, sebab melihat sikap Hernita sangat berbeda. Saat pertama kali datang dan bicara dengannya, dia sangat tenang dan percaya diri.
Tetapi setelah berada berdua dengan Jefase, sikapnya sangat berubah. Duduk jauh dari Jefase dan bicara pelan. Interaksi Hernita dengan Jefase membuatnya cemas.
"Baik, Pak. Saya paham." Jefase mulai mengerti situasi.
"Jefase, ini adalah peluang untuk memajukan sekolah kita. Bapak harap kau sedikit lebih berusaha untuk bisa berkomunikasi dengan Hernita."
"Bapak berharap, kalian bukan sukses di individu saja, tapi juga di team. Dan itu perlu kerja kerasmu menangani kondisi Hernita." Kepala sekolah berharap Jefase yang lebih berinisitif lakukan pendekatan, agar interaksi mereka lebih baik.
"Baik, Pak. Saya akan usahakan." Jefase terima, walau dia biasanya tidak suka banyak bicara.
"Ini gambaran kompetisinya. Kau bisa copy untuk dipelajari dengan Hernita." Kepala sekolah menyerahkan map kepada Jefase. "Kalau sudah copy, kembalikan kepada bapak."
"Baik, Pak. Nanti saya kembali." Ucap Jefase, lalu berdiri dan pamit.
~▪︎▪︎~
Setelah berada di lorong, Jefase tidak kembali ke kelas, tapi dia berjalan ke halaman sekolah. Sejenak dia berdiri di halaman dan berpikir tentang apa yang dikatakan kepala sekolah tentang Hernita di sekolah pelita.
Jefase ingin memastikan apa yang ada dalam pikirannya. Dia langsung telpon.
"Niclas, lagi ngapain?"
"Lagi di kantin, makan."
"Oh, iya. Gue lupa belum makan."
"Ada apa telpon? Mau ketawain Gue?"
"Napa mikir Gue mau ketawa? Lu lagi ngelawak?"
"Ngga. Gue kira Lu udah tahu info di pelita."
"Info apa? Gue malas dengar aktivitas kalian. Kalau lagi kesal, nanti Gue telpon lagi."
"Eh, tunggu. Di situ sudah seleksi untuk kompetisi olimat?" Niclas mencegah, karena tahu Jefase mau matikan telpon. Dia ingin tahu proses pemilihan peserta olimpiade matematika di sekolah Jefase.
"Sudah. Di situ juga sudah?"
"Belum. Tapi sudah ada pesertanya."
"Ah, candamu ngga lucu. Mana ada begitu?"
"Ada. Di pelita."
"Asik dong. Lu ngga perlu lewat seleksi."
"Apanya yang asik? Gondok, iya. Sekarang cuma dua utusan dan tidak ada seleksi."
"Gue tahu hanya dua utusan. Tapi tetap harus ikut seleksi. Siapa tahu lolos."
"Nah, itu maunya Gue. Kalau kalah dalam seleksi yang adil kan, ngga panas."
"Kalau ngga seleksi, terus gimana caranya utusan kalian dipilih?"
"Ngga tahu'lah. Kemarin Mama Lenox dan Juke ...." Niclas menceritakan proses yang terjadi di sekolah pelita. Jefase makin mengerti situasi Hernita.
"Jadi utusannya Lenox dan Juke. Pantesan Lu kesal."
"Bukan cuman kesal, tapi marah. Gue juga rasa bersalah sama Hernita. Lu tahu siswi yang nama Hernita kan?"
"Ya, ingat. Gue dijadwalkan untuk melawannya sebelum ikut seleksi. Tapi karna Bu Ceska koma, jadi batal semua. Apa dia ngga jadi utusan pelita?"
"Apaan. Sekarang pelita seperti pasar. Kalau ada yang salah bicara, bisa saling adu jotos."
"Apa maksudmu?"
"Tadi dia masuk sekolah, wakasek bicara yang ngga enak, seakan mengusir dia dari pelita..."
"Terus apa yang terjadi?"
"Dia langsung cabut. Entah ke mana. Padahal dia belajar mati-matian agar bisa ikut kompetisi, ternyata ditikung sebelum di tikungan."
"Gue nyesal ikut-ikutan Lenox dan Juke. Kalau tahu akan begini, lebih baik aku masuk harapan sepertimu."
"Ah, harapan bukan buat kalian." Jefase jadi tahu yang terjadi di sekolah pelita.
"Eh, Lu ikut olimat?"
"Gue sudah ikut seleksi, tapi belum ada pengumuman resmi. Terpilih atau tidak, yang penting otak diasa. Siapa tahu berguna."
"Gue lagi ngerayu Mama, mau pindah. Lama-lama di sini, kelakuan Gue seperti hewan."
"No comen. Gue hanya cek, kalau Lu terpilih, mau ucapin selamat."
"Ah, Gue ngga pantas terima selamat darimu. Sekarang Gue lagi kesal juga, pukulan Hernita ngga hilang dari dada Gue."
"Apa maksud Lu?" Jefase terkejut Hernita bisa pukul orang.
"Hernita pukul kami bertiga di toilet, tepatnya bukan pukul, tapi dorong...." Niclas menceritakan kejadian didorong Hernita di toilet.
"Lu ikutan sakit seperti mereka. Lu kurang kerjaan? Sana, kuras laut. Bukan keroyok wanita. Kalian memang seperti hewan." Jefase jadi emosi dengar yang dikatakan Niclas.
"Eh, Gue dipukul, napa Lu emosi?"
"Kalau ngga emosi, Gue sakit seperti kalian. Emang dia aduk otak kalian? Lu ngga tahu itu sedeng bully anak orang? Semoga Lu ngga punya adik perempuan." Jefase makin emosi.
"Jefaaa, Lu lagi nyumpahin Gue?"
"Siapa yang nyumpahin? Gue cuma ingatin. Lu takut adikmu dibully kan?" Jefase bertanya dengan nada suara yang naik level.
"Ngga mau adik dibully, tapi lakukan pada orang lain. Gue kira, Lu beda dari sekawanan manusia songong itu. Ternyata.... Tunggu saja. Karma ngga butuh GPS."
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...