Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Mendesak
Tak terasa air mata Thea menetes membasahi pipinya setelah kepergian Sagara yang membuat traumanya kembali muncul.
"Setelah Davin berhasil Gue putusin, sekarang Sagara sikapnya sama kayak Davin! Kenapa Papa bisa buta lihat sikap manusia itu!" gumamnya sambil menundukkan kepalanya dengan wajah pucat. Thea sangat trauma dengan sikap mantan kekasihnya yang begitu kasar dan posesif. Setelah Davin kalah taruhan, akhirnya Thea bisa terbebas dari belenggunya walaupun bayangan-bayangan mengerikan selalu muncul kapan saja.
Tok
Tok
Terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Itu adalah Nenek Samantha yang mencemaskan sang cucu karena tak sengaja dia melihat cucu menantunya pergi begitu saja dengan wajah panik.
"Thea, apa kamu sudah tidur?"
Mendengar suara sang Nenek, Thea langsung menghapus air matanya, tak ingin melihat sang Nenek cemas karena matanya berair.
"Belum, Nek, ada apa?" teriak Thea dari dalam kamarnya.
"Boleh Nenek masuk?"
Firasat seorang Nenek tidak pernah salah, walaupun Nenek Samantha terlihat galak dan cuek kepada Thea, tetap saja Samantha selalu mengkhawatirkan cucunya itu. Untuk memastikan keadaannya, Nenek Samantha sengaja datang ke kamar Thea untuk melihat cucunya baik-baik saja.
Thea mengatur nafasnya, menyeka sisa air mata yang membasahi pipi lalu mencoba tersenyum agar wajahnya tidak terlihat seperti habis menangis.
Thea memegang kenop pintu lalu membuka pintu kamarnya perlahan-lahan. "Ada apa, Nek?" tanyanya.
Nenek Samantha mengedarkan pandangannya ke arah kamar, dan benar saja dia tidak menemukan Sagara di dalam kamar cucunya itu.
Nenek Samantha menghembuskan nafasnya, lalu mendekat ke arah sang cucu dengan wajah sendu. "Tadi Nenek dengar suara mobil Sagara pergi, mau pergi kemana dia?" tanya Nenek Samantha dengan nanar gelisah.
Perhatian sang Nenek membuat hatinya tersentuh, setelah sekian lama bertemu lagi, ini kali pertama sang Nenek terlihat mencemaskannya.
Thea tersenyum manis sambil meraih tangan sang Nenek. "Katanya ada kerjaan penting, Nek, pasti dia ke kantor," sahut Thea yang tak ingin membuat sang Nenek khawatir.
"Kalian nggak bertengkar, kan?" tanya Nenek Samantha lagi, memastikan semuanya baik-baik saja.
Thea berdecak. "Ya ampun baru juga hari pertama nikah, masa udah berantem aja sih, Nek," guraunya.
Nenek Samantha tersenyum lebar mendengar ucapan cucunya. Walaupun Thea anak manja dan terkesan keras kepala, namun Thea memiliki sikap tegas dan pengertian serta baik hati, Nenek Samantha tahu ada kebohongan di mata cucunya itu, tetapi biarlah mereka yang menyelesaikan masalah mereka sendiri.
"Kalau tidak ada apa-apa, syukurlah. Nenek khawatir Sagara kabur gara-gara sikap kekanak-kanakan kamu itu!" ujar sang Nenek.
Sagara memang pergi untuk menemui kekasihnya, firasat sang nenek mungkin benar adanya. Namun, itu bukan masalah untuk Thea, justru itu adalah hal bagus agar Thea memiliki kebebasan juga.
"Tenang aja, Nek, Aku nggak akan bikin Sagara pergi gitu aja kok," sahut gadis itu.
Akhirnya sang nenek bisa bernafas lega, setelah mendengar penjelasan dari cucunya itu.
"Baiklah, Kalau begitu Nenek tidur dulu, ya."
Thea bergelayut manja di lengan sang Nenek. "Iya, Nek, istirahat yang tenang dan tidur yang nyenyak, oke?" ucap Thea.
Sang Nenek tersenyum lebar. "Iya, kamu juga istirahat, besok kamu harus sekolah, kan?"
Sudah tahu Thea masih bersekolah, tetapi sang nenek masih saja membuat dia harus satu kamar dengan pria dewasa. Apa nenek Samantha tidak takut jika cucunya itu hamil dengan cepat saat masih duduk di bangku SMA?
Gadis manja itu menganggukkan kepalanya. "Iya, Nek, tapi Thea mau keluar sebentar, ada perlu."
Tatapan sang Nenek langsung berubah saat Thea berkata ingin keluar. Apa Thea masih berpikir dia bisa keluar sembarangan setelah dia menikah?
"Kamu mau pergi kemana? Apa kamu mau nongkrong tidak jelas dengan teman-teman kamu itu, hah?" tanya Nenek Samantha dengan wajah galak.
"Nggak, Nek, tadi Thea dapat telpon dari Tante Maia, katanya dia mau ketemu Thea, ada sesuatu yang mau dibicarakan," jawab Thea.
Nenek Samantha mengerutkan keningnya sambil menatap Thea. "Ada apa dia mau ketemu? Bukannya tadi siang kalian baru bertemu? Apa ada hal penting?" tanya Nenek Samantha bertubi-tubi.
Sebenarnya Thea juga tidak tahu kenapa Mama Sagara ingin bertemu dengannya dan juga Sagara. Tapi, mendengar suara Tante Maia yang panik dan cemas mungkin memang ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepadanya. Namun, Sagara tidak ikut bersamanya dan malah pergi setelah menerima telpon dari Ayumi itu. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Thea belum tahu, Nek. Tapi sebentar aja kok," jawab Thea.
Nenek Samantha menghela nafasnya. "Kamu pergi bersama Bibi Mia, ya, baru Nenek ijinkan kamu pergi."
"Nenek nggak percaya sama aku? Mana mungkin aku bohongin Nenek!"
"Pokoknya pergi sama Bibi, kalo nggak suruh Mamanya Sagara datang ke sini!" tegas Nenek Samantha.
Tak ingin menimbulkan keributan dan masalah, Thea akhirnya setuju untuk pergi ditemani Bibi Mia.
"Ya udah, iya!"
Satu Jam Kemudian ...
Cafe Rainbow.
(Pesan masuk)
("Mama sudah sampai, sayang.")
Thea menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok mertuanya yang sudah ada di dalam cafe.
Bi Mia mencolek lengan Thea. "Non, itu Nyonya Maia, bukan?" tunjuk Bi Mia ke arah sudut meja.
"Iya bener, Bi, kalau gitu Bibi pesen makanan dan minuman dulu, terus cari tempat duduk, aku bicara sama Tante Maia dulu," ucap Thea.
Sang Bibi menganggukkan kepalanya, menuruti ucapan Thea.
Sedangkan Thea berjalan menuju kursi Tante Maia yang berada di pojok ruangan.
"Tante, maaf menunggu lama," ucap Thea.
Tante Maia langsung berdiri menyambut kedatangan menantunya itu. "Nggak apa-apa, sayang, Mama juga baru datang, kok," sahutnya.
Thea hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Tante Maia yang belum terbiasa Thea ucapkan.
"Tante, mau ketemu Thea sama Sagara malam-malam begini ada apa?" tanya Thea.
Tante Maia menoleh ke arah belakang, dia pikir Sagara ikut datang bersama Thea dan mungkin sedang memarkirkan mobilnya, namun dia tidak melihat mobil Sagara terparkir di luar sana.
"Sagara kenapa nggak ikut? Kamu ajak dia, kan sayang?"
"Tadi aku udah bilang Tante ajak kita ketemu, tapi katanya ada urusan penting, jadi Sagara pergi keluar duluan," jawab Thea.
Tante Maia menajamkan tatapannya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. "Pasti wanita itu mengadu yang tidak-tidak sama Sagara!" ucapnya sambil memukul meja.
Thea sedikit terkejut dengan sikap mertuanya yang ternyata bisa marah juga. Bahkan tatapannya begitu menakutkan seperti tatapan Sagara tadi.
"Tante, sebenarnya ada apa?" tanya Thea.
Tante Maia menghela nafasnya. "Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Mama sampaikan sama kamu, tapi kamu harus janji tidak akan marah, ya?"
Sejenak, Thea terdiam.
"Memangnya ada apa, Tan?"
Tante Maia mengeluarkan ponsel miliknya lalu memutarkan video yang ada di galeri ponselnya, lalu menunjukkan video itu kepada Thea.
Dengan wajah tegang, Thea meraih ponsel Tante Maia, lalu menatap layar ponsel itu dengan serius.
(Video Ayumi)
Betapa terkejutnya dia saat menyaksikan video yang baru saja dia putar. Matanya membulat sempurna tak percaya dengan apa yang dia saksikan barusan.
"Tante, siapa sebenarnya dia? Kenapa sikapnya kasar banget sama, Tante?"
Mama Maia tersenyum hangat sambil memegang lengan Thea. "Dia Ayumi, mantan tunangan Sagara."
"Apa, Ayumi? Jadi dia perempuan yang Sagara telpon tadi?"