Firdha diusir dengan kejam oleh Ibu mertuanya 2 hari setelah dia melahirkan bayinya. Dirasa tidak berguna lagi, Firdha diperlakukan seperti sampah.
Di sisi lain, ada Arman yang pusing mencari Ibu Susu untuk bayinya, tak disangka takdir malah mempertemukannya dengan Firdha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Mengungkapkan
"Bos, sepertinya kita harus waspada terhadap para pelayan atau pekerja di rumah Anda. Jangan sampai mereka tergiur dengan iming-iming 1 miliar yang dijanjikan oleh nyonya Risma bagi siapa saja yang berhasil membawa Firda ke hadapannya. Bagi orang-orang seperti mereka, uang 1 miliar itu nilainya sangat fantastis, Bos," ucap Pras di sela-sela dia masih menyetir.
"Kalau mereka tidak menghargai dan tidak menghormatiku, mereka pasti akan melakukannya. Tapi kalau mereka tahu cara balas budi, pasti tidak ada satu pun yang berani berkhianat, bahkan jika hadiahnya berlipat-lipat kali lebih tinggi dari sekarang," ucap Arman dengan nada bicara yang lebih tenang. Setelah dia pikir-pikir, dia merasa tidak perlu panik dengan masalah itu. Justru dia merasa bahwa saat ini adalah waktu yang tepat untuk menilai, apakah Firda benar-benar tulus menyayangi putrinya, atau darah pengkhianat dan tidak tahu balas budi memang mengalir kental dalam diri wanita itu.
"Ya, semoga saja mereka masih mengingat kebaikanmu, Bos," ucap Pras dengan penuh harap. "Tapi saya sarankan agar Anda tidak terlalu tinggi menaruh ekspektasi dan kepercayaan yang berlebihan kepada siapa pun, karena di era sekarang, kebaikan seseorang seringkali hanya diingat sementara, dan jika sudah berlalu lama, seringkali dilupakan. Orang cenderung lebih mengutamakan siapa yang dapat memberikan keuntungan, bukan yang pernah membantu saat kesulitan."
"Termasuk kamu?" Arman mengulum senyum, tapi Pras yang duduk di balik kemudi langsung membantah dengan sewot.
"Tidak mungkin lah aku seperti itu, Bos! Ada-ada saja."
Arman langsung terkekeh. "Iya, iya. Aku percaya kamu adalah pengecualian."
...****************...
Kata Pras, Firda juga sudah mulai jatuh cinta padanya, tapi kenyataan justru berkata sebaliknya. Jangankan jatuh cinta, Firda justru malah sengaja menghindar semenjak Pras mulai terang-terangan mendekatinya dengan cara yang bisa dibilang terlalu berani dan cenderung agresif. Mentang-mentang yang didekati adalah janda.
Pernah sekali Pras mencoba secara tidak langsung untuk mengungkapkan perasaannya, tapi Firda yang sudah bisa membaca niatnya sejak awal malah berkata, "Suamiku sudah hampir 1 tahun meninggal, tapi hingga detik ini aku masih belum bisa melupakannya dan masih sangat mencintainya. Aku tidak yakin, apakah di masa depan aku bisa jatuh cinta lagi atau tidak."
"Kenapa kamu bisa bilang begitu, Dek Firda? Kamu 'kan belum mencoba untuk membuka hati pada yang lain. Kenapa sudah langsung menyimpulkan?" tanya Pras waktu itu.
"Ya karena mas Aris adalah sosok pria yang teramat sempurna di mataku. Bagiku, mustahil ada pria di dunia ini yang bisa menandingi caranya memperlakukanku, memanjakanku, selalu mengerti aku, menuruti segala keinginanku, dan menjadikanku layaknya seorang ratu. Kalau memang aku tidak bisa menemukan yang seperti dia, aku lebih memilih untuk tidak menikah lagi."
Sebenarnya secara tidak langsung Pras disuruh untuk mundur, tapi dia tidak mau menyerah begitu saja. Baginya, perjuangannya masih terlalu dini untuk berhenti. Firda bahkan belum memberinya kesempatan untuk membuktikan bahwa dia juga bisa menjadi pria seperti yang diinginkan oleh wanita idamannya itu.
"Tuan, tumben pulang siang-siang begini?" tanya Bi Mina heran ketika menyambut kedatangan kedua pria itu di depan pintu masuk utama.
"Aku pulang karena ada perlu dengan Firda, Bi. Apa Akira sedang tidur?"
"Ya, Tuan. Non Akira baru saja tidur."
"Kalau begitu tolong jaga Akira sebentar, dan panggilkan Firda untuk datang ke ruang kerjaku, Bi. Ada hal penting yang ingin kubicarakan dengannya."
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar."
Tak berselang lama setelah Arman memasuki ruang kerjanya bersama Pras, seorang wanita cantik dengan daster maroon dengan motif bunga dan rambut yang diikat longgar memasuki ruangan. Penampilannya sederhana namun hangat, membuatnya terlihat sangat menawan.
"Halo, Dek Firda. Mas Pras lihat kamu cantik sekali siang ini." Pras tersenyum lebar, lalu menggestur Firda untuk di sofa panjang yang tidak jauh dari sofa tunggal tempat Arman duduk.
Firda hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Pras. Terlihat sekali kalau pria itu sedang menunjukkan ketertarikan yang sangat kuat lewat matanya, dan entah mengapa Firda merasa risih dengan tatapan Pras yang penuh arti itu. Apalagi saat pria tersebut duduk tepat di sampingnya hampir mepet, otomatis Firda langsung mengangkat pant4tnya menjauh demi menjaga jarak karena merasa tidak nyaman berdekatan, membuat Arman yang melihatnya langsung menyentuh hidung demi menutupi senyuman tipis yang terbit. Puas sekali melihat ekspresi Pras yang senyumannya langsung hilang saat melihat Firda sengaja menjauhinya.
Kalau boleh jujur, Firda tidak suka laki-laki seperti Pras yang terlalu berani, terlalu mengejar, terlalu banyak bicara, dan terlalu menunjukkan ketertarikan. Dia lebih suka pria yang kalem dan 'cool' seperti mendiang suaminya.
"Kata bi Mina, Tuan memanggil saya." Firda berkata dengan hati-hati. Hingga detik ini sikap Arman padanya masih sulit diprediksi, karena rasanya lebih rumit dibaca dari cuaca. Kadang dingin dan datar, kadang juga begitu peduli dan perhatian, tapi kadang cuek dan tak terduga. Intinya ya bikin Firda jadi bingung sendiri.
Arman berdehem. Mengubah sedikit posisi duduknya. "Ya, ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu," ucapnya.
Kedua alis Firda sedikit berkerut. Rasa penasarannya semakin kuat ketika melihat wajah serius Arman. "Hal penting apa, Tuan?"
"Pras."
"Ya, Bos."
"Tunjukkan padanya. Aku rasa dia akan langsung mengerti," titah Arman. Pras dengan sigap mengeluarkan ponsel dan menunjukkan layar ponselnya kepada Firda.
"Ini loh, Dek Firda. Kamu lihat ini, tapi janji jangan terlalu terkejut apalagi takut. Di sini ada Mas Pras yang akan selalu berdiri di garda terdepan melindungimu, Dek." Pras geser badan, posisi duduk mereka kembali dekat. Tangan kanannya yang memegang ponsel menunjukkan berita pencarian Firda dengan iming-iming hadiah uang fantastis yang pernah tayang di TV dan viral di sosial media. Ketika Firda fokus menyimak dengan perasaan terkejut, Pras malah memanfaatkan kesempatan dengan sangat baik. Tangan kirinya bergerak pelan, kemudian merangkul Firda dengan gerakan tangan lembut.
Arman yang melihat pemandangan itu hanya bisa memutar bola mata malas. 'Dasar tukang modus. Dia benar-benar memanfaatkan kesempatan dengan baik.'
Berita terakhir dan update terbaru benar-benar mengejutkan Firda. "Aku benar-benar tidak mengerti, sekitar hampir 7 bulan lalu mama Risma sendiri yang sengaja membuangku di jalanan, tapi kenapa sekarang dia tiba-tiba saja mencariku dengan cara seperti ini? Bahkan sampai ingin memberikan uang sebanyak itu kepada siapa pun yang bisa membawaku padanya."
Arman dan Pras saling pandang sejenak, seolah-olah meminta persetujuan untuk mengatakan yang sebenarnya terjadi atau tidak. Di waktu yang sama, kepala keduanya terangguk bersamaan, yang berarti mereka sepakat untuk menceritakan semuanya tanpa terkecuali. "Sebenarnya masalah ini sudah kami ketahui sejak lama, tapi kami sengaja menyembunyikannya karena kami ingin kamu fokus menyembuhkan traumamu dulu," ungkap Arman. Dan Pras pun membenarkan. "Ya, itu benar sekali, Dek Firda," ucapnya sambil mengelus-elus lembut lengan atas Firda.
"Sebenernya berita itu tersebar sejak 3 bulan lalu, tepatnya ... 10 hari setelah ayah mertuamu, tuan Kusnandar meninggal dunia."
"Apa?!" Firda langsung menutup mulutnya menggunakan kedua tangan, tak menyangka ayah mertuanya pergi secepat itu. Kedua matanya yang terbuka lebar mulai memerah dan berkaca-kaca. Seketika hatinya terasa hampa dan kosong mengetahui kenyataan itu. "Papa ..." lirihnya, lalu tangisannya mulai pecah.
"Yang sabar ya, Dek Firda, yang sabar .... Sekarang tuan Kusnandar sudah tenang di alam sana." Pras merebahkan kepala Firda di bahunya, membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya.
'Kamvret Si Pras. Menang banyak dia,' batin Arman kesal.
____________________________________
Halo, Readers? Masih betah baca sampai sini gak?😅 Kalau ada yang kurang srek mohon krisan yang membangun yah teman-teman🙏🏼😊 Saya sadar sebagai penulis masih banyak sekali kekurangan🙏🏼🙏🏼
tp kan Firda gk tau....jd gk bisa jg melampiaskan amarah ke dia nya dong..