laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang Masih Diam
Pintu kaca hotel terbuka perlahan, menyambut mereka dengan udara dingin dan aroma bersih yang asing bagi Zaskia.
Langkahnya sempat ragu setengah detik—bukan karena tempat itu terlalu megah, melainkan karena sejak awal ia tahu: setelah ini, tidak ada lagi jarak yang bisa disembunyikan dengan dalih apa pun.
Lampu-lampu kristal memantul di lantai marmer.
Suara percakapan teredam menyebar seperti gumam yang disengaja.
Di sekeliling mereka, pasangan-pasangan berjalan beriringan, saling menempel tanpa berpikir.
Zaskia menyesuaikan langkahnya dengan Revan.
Menjaga ritme.
Menjaga peran.
Bolpoin itu masih berada di antara jemari mereka.
Penjaga di ambang pintu menyambut para tamu, tak terkecuali mereka—dengan sikap hormat yang hangat. Seolah tidak ada yang ganjil dari dua orang yang berjalan berdampingan itu.
Revan menoleh ke arahnya. Postur tubuhnya yang lebih tinggi membuatnya sedikit menunduk saat berbicara.
“Kita ke sini bukan untuk mengikuti acara mereka.”
Ia melangkah lebih dulu.
“Ayo.”
Zaskia mengikuti.
Entah sejak kapan, ia menyadari Revan sudah memakai masker. Ia tidak bertanya.
Sejak awal, yang tahu rencana ini hanyalah mereka berdua.
Ia mengangguk kecil.
Padahal mereka hanya pasangan pura-pura, jantung Zaskia berdegup lebih cepat dari biasanya.
Ada getar halus di ujung jari.
Namun pandangannya tetap lurus—menangkap detail yang tak boleh terlewat.
Apa pun yang terjadi malam ini, ia hanya akan patuh pada ucapan Revan.
“Pak Revan!”
Seorang laki-laki berkemeja rapi yang berdiri beberapa langkah dari mereka melangkah mendekat.
Revan berdecak kecil.
Sedikit menyesal—masker yang ia kenakan ternyata tidak banyak membantu. Ia sempat berharap bisa luput, tapi tetap saja ada yang mengenali.
Dengan terpaksa, masker itu dilepasnya.
Di sampingnya, jemari Zaskia mengencang sesaat di sekitar bolpoin.
Revan mengulum senyum tipis ketika pria itu berhenti di hadapannya.
Aldrich—rekan bisnisnya dulu.
“Ternyata saya tidak salah lihat,” ujar Aldrich ramah. “Lama sekali kita tidak bertemu, Pak. Beruntung bisa ketemu di sini.”
Tangannya terulur.
Revan menyambutnya. “Iya, Pak Aldrich. Bapak bagaimana kabarnya?”
Nada suaranya ringan. Sekadar basa-basi.
“Saya baik.”
Pandangan Aldrich bergeser, meneliti sosok di samping Revan.
“Kalau boleh tahu, ini siapa, Pak?”
Revan tidak langsung menjawab.
Hanya beberapa detik.
Namun cukup lama bagi Zaskia untuk sadar, jawaban apa pun setelah ini tidak bisa ditarik kembali.
Sekilas Revan meliriknya.
“Istri,” ucapnya. Spontan. Tanpa ragu.
Bola mata Zaskia melebar, lalu kembali tenang. Bahunya tidak menegang. Namun dadanya terasa mengganjal. Seperti ada sesuatu yang lewat begitu saja—lalu berhenti di sana, tanpa izin.
Aldrich tampak terkejut.
“Wah, saya baru tahu kalau Pak Revan sudah menikah. Sedikit kecewa juga, soalnya tidak diundang.”
Ada ketegangan tipis yang menyusup di udara.
Revan tidak langsung menjawab. Bahunya turun perlahan, lalu suaranya keluar—tenang, seolah memang tidak perlu penjelasan panjang.
“Hanya keluarga besar saja, Pak. Saya tidak mengundang siapa pun.”
Aldrich mengangguk, lalu mengulurkan tangan ke arah Zaskia.
Zaskia segera melepaskan bolpoin dari genggamannya.
Ia mengatupkan kedua tangan di dada, tersenyum tipis, menunduk sopan.
“Salam kenal, Pak Aldrich. Saya Zaskia.”
Aldrich menarik kembali tangannya, membalas dengan anggukan hormat.
Revan menangkap gestur itu.
“Maaf, Pak Aldrich,” ujarnya, tetap tenang.
“Istri saya cukup menjaga.”
“Saya mengerti,” jawab Aldrich. “Justru saya menghormati Nyonya Zaskia.”
“Terima kasih, Pak Aldrich.”
“Saya senang Pak Revan hadir di acara ini. Siapa yang tidak—”
“Saya ke sini bukan untuk acara itu, Pak,” potong Revan.
Nada suaranya tetap datar.
“Ada keperluan lain.”
Aldrich tertawa kecil.
“Ah, saya paham. Namanya juga di hotel.”
Revan membalas dengan senyum seperlunya.
“Kami permisi dulu.”
“Baik, Pak Revan.”
Begitu Aldrich berlalu, Revan melepaskan bolpoin dari sela jemari mereka.
“Simpan saja.”
Nada suaranya serius. Tidak menyisakan senyum.
Ia melangkah lebih dulu menuju meja resepsionis.
Zaskia menyusul, menjaga jarak setengah langkah di belakangnya.
“Selamat datang, Bapak dan Ibu. Dengan saya Diana. Ada yang bisa saya bantu?” sapa resepsionis itu ramah.
Revan mencondongkan badan sedikit ke meja resepsionis. Suaranya dijaga tetap rendah.
“Maaf, saya ingin bertanya. Biasanya arsip tamu di hotel ini disimpan sampai berapa lama?”
“Beberapa tahun, Pak,” jawab Diana profesional. “Tapi untuk detail pribadi, tentu tidak bisa kami berikan.”
Revan mengangguk.
“Tidak apa-apa. Kami tidak sedang mencari data pribadi.”
Ia berhenti sejenak, memberi jarak pada kalimat berikutnya.
“Hanya ingin memastikan satu hal. Dua tahun lalu, pernah ada tamu perempuan yang cukup sering menginap di sini. Katanya, staf hotel sempat mengenalnya.”
Senyum Diana tidak langsung menghilang.
Ada jeda kecil sebelum ia menjawab.
“Kalau tamu yang sering kembali, memang biasanya lebih mudah diingat.”
“Apalagi kalau menginap sendirian,” tambah Revan pelan.
Diana menunduk. Jemarinya mengetuk meja ringan.
“Dua tahun lalu...”
Ia menarik napas kecil.
“Waktu itu ada renovasi lantai atas.”
“Iya. Sekitar waktu itu.”
“Memang ada beberapa tamu perempuan.”
“Apa salah satunya dia?”tanya Revan sambil menyodorkan sebuah foto.
Diana menatap foto itu lama.
Tatapannya tidak buru-buru, seolah sedang memastikan sesuatu yang hanya ia sendiri yang pahami.
Ia lalu memperlihatkannya sekilas pada rekan di sebelahnya—cukup untuk terlihat bekerja.
“Tolong ambilkan data di ruang belakang,” ucapnya ringan.
Rekannya mengangguk dan pergi, tanpa banyak tanya.
Beberapa detik berlalu sebelum Diana kembali menatap Revan.
Tatapannya kali ini tidak sekadar ramah.
“Bapak tidak seperti tamu yang datang sekadar bertanya,” ujarnya pelan.
Revan tidak menyangkal.
Wajahnya tetap tenang, seolah kalimat itu memang sudah ia perkirakan.
“Apa kamu bisa membantu saya?”
Diana mengangguk tipis.
“Saya akan coba periksa.”
Zaskia tetap diam. Dadanya mengencang, napasnya tertahan tanpa sadar.
Jemari Diana bergerak cepat di atas keyboard.
“Pak...” panggilnya tanpa menoleh. “Perempuan di foto itu terdaftar dengan nama Erna Saraswati.”
“Itu nama ibu saya,” ucap Zaskia spontan.
Revan dan Diana menoleh bersamaan.
Tatapan Revan berubah—bukan senyum, tapi ada sesuatu yang menyala sesaat.
“Kalau begitu,” ujarnya pelan, "apakah masih ada staf lama yang bekerja di sini? Atau mungkin manajer yang sudah lama menangani hotel ini.”
Diana berpikir sejenak.
“Manajer kami baru. Tapi ada staf lama bernama Pak Burhan. Beliau sering menangani tamu lama,” ujar Diana.
Ia lalu menunjuk ke arah dalam.
“Bapak bisa menemuinya langsung di sana.”
Revan mengangguk pelan, seolah informasi itu sudah cukup. "Terima Kasih."
Revan mengangguk pelan, seolah informasi itu sudah cukup.
“Terima kasih.”
Namun di sampingnya, Zaskia masih berdiri diam.
Nama itu berputar di kepalanya—tidak keras, tidak juga hilang.
Hotel tetap berdiri tenang.
Lampu-lampu kristal tetap memantul seperti semula.
Hanya satu hal yang berubah:
jarak antara masa lalu dan dirinya kini terasa jauh lebih dekat dari yang ia kira.
Revan menoleh ke arahnya.
“Kita belum selesai,” ucapnya rendah.
Ia melirik ke arah lorong dalam hotel, ke arah yang tadi ditunjukkan Diana.
“Ikut saya.”