NovelToon NovelToon
Penantang : Dari Sekolah

Penantang : Dari Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Action / Duniahiburan / Fantasi
Popularitas:828
Nilai: 5
Nama Author: Xdit

Rio Mahadipa adalah Korban bully di sekolahnya semasa dia Berada di sekolah menengah, tetapi saat dia tidur dirinya mendapati ada yang aneh dengan tubuh nya berupa sebuah berkat lalu dia berusaha membalas dendam nya kepada orang yang membully nya sejak kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xdit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran

Keesokan harinya, rumah Rio terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Di ruang tengah, Rani duduk di depan televisi, menonton tv dia benar benar fokus melihat pada .

Namun di kamar Rio, suasananya jauh berbeda. Arya, Riko, Kris, dan Liam berkumpul di sana, udara terasa berat, seolah kata-kata yang baru saja terucap belum sepenuhnya mengendap.

Rio duduk di pinggir kasur, tubuhnya kaku. Matanya terbuka lebar, kosong namun tajam, seakan menatap sesuatu yang terlalu besar.

Penjelasan Arya tentang Rivaldo masih berputar-putar di kepalanya, saling bertabrakan dengan ingatan masa lalu yang selama ini ia yakini sebagai kebenaran.

Ia menunduk, lalu menekan kepalanya dengan kedua tangan, napasnya terdengar tertahan.

“Pantas saja…”

gumam Rio pelan. Suaranya nyaris tenggelam.

“Akhirnya aku menemukan jawabannya.”

Kata-kata itu keluar, tapi keyakinannya belum sepenuhnya ada. Ada bagian dalam dirinya yang masih menolak menerima semua itu, seolah kebenaran ini terlalu besar untuk ditelan sekaligus.

Rio mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Arya. Tatapannya tajam, bercampur marah dan bingung.

“Pantas saja proses balas dendamku pada Rivaldo terlalu mudah… terlalu lancar,”

ucapnya dengan suara bergetar.

“Ternyata selama ini semuanya sudah direncanakan…!”

Ada rasa hampa di balik kemarahannya, seperti seseorang yang baru sadar bahwa musuh yang ia lawan tidak pernah benar-benar berdiri di hadapannya sendirian.

Ia menggeleng pelan, seolah ingin menepis pikiran itu.

“Aku masih tidak bisa percaya,”

lanjutnya.

“Selama ini aku yakin… hanya Rivaldo yang merundungku.”

Nafasnya tersendat.

“Dan memang tidak ada orang lain. Tidak ada. Hanya dia.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan, bukan kepada yang lain, melainkan kepada dirinya sendiri.

Rio menggaruk kepalanya dengan cepat."Dan kau bilang, selama ini dia melindungi ku?."

Keheningan kembali jatuh di kamar itu. Tidak ada yang langsung menjawab.

Mereka semua tahu, bagi Rio, kenyataan ini bukan sekadar penjelasan. Ini adalah retakan pada seluruh masa lalunya.

Rio tertawa kecil, lalu berubah menjadi tawa lebar yang terasa salah tempat. Senyumnya terlalu lebar, terlalu kosong, seperti topeng yang dipaksa bertahan.

“Kau pikir aku bisa percaya?!”

bentaknya tiba-tiba. Suaranya memantul di dinding kamar, memecah keheningan yang sebelumnya rapuh.

Tatapannya mengeras, mata yang biasanya tenang kini bergetar oleh amarah dan kebingungan.

“Jadi menurutmu....,."

lanjutnya dengan nada naik turun,

“selama ini aku yang berbuat kesalahan…?!”

Suaranya meninggi, hampir seperti jeritan. bercampur rasa dikhianati dan malu karena menyadari bahwa ambisi dan kebenaran nya bertumpang tindih.

Rio yang sebelumnya duduk akhirnya berdiri. Langkahnya tidak stabil, napasnya berat. Ia kembali duduk di tepi kasur, kepalanya menunduk, bahunya bergetar. Amarahnya tidak lagi meledak keluar, melainkan runtuh ke dalam, menghantam dirinya sendiri.

Riko bergerak mendekat tanpa ragu. Ia duduk di samping Rio, memegang pundaknya dengan tangan besar yang terasa hangat, lalu mengelus punggungnya perlahan. Tidak ada paksaan, tidak ada nasihat kosong. Hanya kehadiran. Sebuah jangkar di tengah badai yang sedang merobek pikiran Rio.

“Aku tidak tahu mana yang benar,”

ucap Riko pelan, suaranya jujur tanpa hiasan.

“Aku juga tidak pintar membedakan itu.”

Tangannya sedikit menguat di pundak Rio.

“Tapi aku akan mengikuti mu , apapun hasilnya..”

Ia menunduk sedikit, takut kata-katanya terlalu berat.

“Karena kaulah satu-satunya orang yang mau berteman denganku.”

Kata-kata itu tidak menghentikan kekacauan di kepala Rio, tapi setidaknya menahannya agar tidak runtuh.

Kris berdiri lebih dulu. Langkahnya menuju pintu kamar terasa berat, wajahnya menyimpan campuran sedih dan kesal yang tak ia sembunyikan.

“Lebih baik kita tinggalkan dia sendiri dulu,”

katanya pelan namun tegas.

“Aku tidak ingin melihat temanku seperti ini. Kita harus membuatnya tenang kembali, bukan memaksanya mendengar kebenaran."

Liam ikut berdiri dan melangkah mendekat sebelum keluar. Ia berhenti tepat di depan Rio, lalu menepuk pundaknya dengan ringan.

“Hei… kalau kau butuh bantuan,”

katanya ragu namun tulus,

“aku ada di sini.”

Kalimat itu hampir selesai ketika suara Arya menyelanya dari samping.

“Tidak,”

kata Arya lembut tapi pasti. Ia berdiri tegak, menatap Rio dengan senyum tipis dan mata terpejam, seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan.

“Bukan hanya Liam.”

Ia membuka matanya perlahan.

“Ada kami semua. Kalau kau memanggil, kami akan datang.”

Tidak ada janji berlebihan, hanya kepastian yang tenang.

Riko pun akhirnya berdiri. Raut wajahnya terlihat paling lesu di antara mereka, seolah beban itu ikut menindih dadanya. Ia tidak mengatakan apa pun pada Rio, hanya menatapnya sebentar sebelum berbalik dan melangkah keluar. Keheningan itu justru terasa lebih jujur daripada seribu kata.

Di ruang depan, Riko melambaikan tangannya pada Rani yang menatap dari dekat televisi.

“Nanti kami datang lagi!” serunya, memaksakan senyum kecil.

Pintu rumah tertutup perlahan, dan keempatnya berjalan menjauh, langkah mereka menyatu di bawah cahaya siang yang panas .

Di luar, Kris menunduk, suaranya nyaris tenggelam oleh langkah kaki.

“Mungkin… aku juga akan jadi seperti itu,” katanya lirih. “Rasanya seperti

 pengkhianatan.”

Riko mengangguk pelan. “Kau benar.”

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Ambisinya sudah ada sejak lama. Aku cuma tidak pernah membayangkan… kalau tujuan akhirnya hanyalah kekosongan.”

Langkah mereka kembali bergerak, meninggalkan rumah itu dalam diam. Di dalam, Rio masih duduk dengan pikirannya sendiri. Di luar, empat orang membawa satu kekhawatiran yang sama tentang Rio.

...----------------...

Rio masih sendirian di kamarnya. Dinding yang diam terasa seperti menekan, dan kata-kata Arya tentang Rivaldo berputar tanpa henti di kepalanya.

Setiap kali ia mencoba menepisnya, ingatan itu justru kembali lebih keras, seperti gema yang menertawakan usahanya untuk tenang.

“Kau bilang… dia melindungi ku?” suara Rio pecah.

nyaris seperti bisikan yang salah arah. Bibirnya bergetar, lalu melengkung dalam senyum yang tidak utuh.

“Melindungi?”

kata itu terasa asing, kotor, tidak pantas berada di cerita hidupnya.

Ia bangkit lalu duduk di tengah kasur, kedua tangannya mencengkeram kepala seolah ingin merobek pikirannya sendiri.

“Tatapan Rivaldo saat merundungku…”

napasnya tersengal.

“…itu tatapan yang benar-benar menghancurkanku.”

Bahunya bergetar.

“Dan kau bilang… semua itu perlindungan?”

Suaranya meninggi, penuh amarah yang tak menemukan sasaran.

Tawa keluar dari mulutnya, kering dan patah.

“Ha… ha ha… apa kau sudah gila, Arya?”

katanya di sela tangis.

“Apa kau percaya begitu saja cerita seperti itu?”

Tawanya berulang, semakin keras, semakin kosong, seperti suara seseorang yang tenggelam dan memilih menertawakan air.

Air mata terus mengalir tanpa henti. Kantung matanya menghitam, wajahnya pucat, rambutnya berantakan. Rio menunduk, bahunya jatuh, tertawa dan menangis dalam satu tarikan napas.

Rio kembali duduk, tubuhnya bergerak tak beraturan, seperti boneka yang di Kendalikan oleh pikiran nya sendiri.

Bahunya naik turun, kepalanya miring ke satu sisi, lalu ke sisi lain.

“Lalu untuk apa balas dendamku itu…?” gumamnya pelan, nyaris seperti bertanya pada udara.

“Apa semuanya hanyalah kebohongan belaka…?” Suaranya bergetar, karena sesuatu di dalam dirinya mulai runtuh.

Ia tiba-tiba berhenti. Tubuhnya kembali tegak, terlalu tenang untuk disebut normal. Matanya melebar, pupil hitamnya memakan cahaya, dan senyum perlahan terukir di wajahnya.

“Untuk apa ambisiku selama ini,”

katanya lirih, tajam, seperti pisau yang baru diasah. Senyum itu tidak membawa kebahagiaan, hanya kehampaan yang dipaksakan.

“Untuk apa perjuanganku?” lanjutnya.

Suara itu keluar tanpa emosi, datar, pertanyaan tersebut sudah kehilangan makna. Tangannya mengepal di atas kasur, urat-uratnya menegang, bukan karena marah, tapi karena ia menahan sesuatu yang tak bisa ia pahami.

Rio lalu merebahkan tubuhnya. Pandangannya menatap langit-langit kamar yang buram oleh air mata.air mata yang hangat kembali mengalir dari sudut matanya, membasahi pelipis.

“Ambisi dan tujuanku…”

napasnya tersendat, “…apakah hanyalah kekosongan?”

Kata terakhir jatuh begitu saja, tanpa harapan untuk dijawab.

Ia menutup mata. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang ganjil, lalu tawa keluar dari dadanya. Pelan, kemudian semakin keras. Bibirnya terbuka lebar, giginya terlihat jelas, tawa itu terdengar patah dan kacau.

“Ha ha ha… sungguh kisah yang lucu sekali,”

ucapnya, seperti penonton yang menertawakan hidupnya sendiri.

Tawa itu terus berlanjut sampai napasnya berat dan tubuhnya kelelahan. Perlahan, suaranya mereda, digantikan oleh tarikan napas panjang yang rapuh. Di antara sisa air mata dan senyum yang belum sepenuhnya hilang, Rio akhirnya tertidur lelap. Ambisi, dendam, dan tujuan bercampur menjadi mimpi gelap.

1
DANA SUPRIYA
kasihan Rio, sabar ya walaupun sabar itu membuat hati kesal
lyks kazzapari
ya saya bantu dg like dan hadiah 😄
Rdt: wah makasih banyak,aku jadi ngerepotin kamu jadinya 😅
total 1 replies
Hans_Sejin13
jangan lupa bantu saya kak
Rdt: oke ,udah ku bantu
total 1 replies
Rdt
peak
Anisa Febriana272
Mampir, jangan lupa mampir juga ya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!