NovelToon NovelToon
Wanita Pengganti

Wanita Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Contest
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: Alfian Syafa

Menjalani lika-liku kehidupan yang menyakitkan sejak kecil dan harus di dewasakan oleh keadaan. kehilangan sosok ibu yang hanya dia miliki satu-satunya. Lalu gadis itu memilih untuk pergi ke kota, mencari keberuntungan di sana. Berkat kegigihan dan kemampuannya dia pun mendapatkan apa yang dia mau. Keberhasilan mampu menampar orang-orang yang dulu telah memandangnya sebelah mata.

Saat berada di puncak kebahagiaan, harus terhempas begitu saja karena dia harus menikah dengan lelaki asing atas permintaan orang yang selama ini dia cari.

Takdir apa yang sedang Lisa Larasati jalani? mari kita simak kisahnya.

Tolong baca berurutan ya. Hargai penulis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfian Syafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Lisa membuka kedua mata sambil meringis karena merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri. Mungkin ini efek dari dia menangis sejak semalam atau karena perutnya yang belum terisi apapun sejak semalam. Aroma khas dari ruangan yang bercat putih itu menusuk hidungnya. Lalu Lisa melihat tangan kirinya yang tertusuk jarum infus. Rupanya dia sedang berada di rumah sakit.

Lisa melirik ke arah samping, dimana dia melihat Dion yang sedang duduk di sisi ranjang pesakitan itu sambil menelungkupkan kepalanya. Dengkuran halus terdengar, pertanda dia sangat lelah.

Ya, lelah karena sejak Anisa meninggal Dion selalu setia menemani dan memberi support. Tangan Lisa terulur untuk membelai lembut rambut Dion. Tidak bisa dia bayangkan jika Arka menyetujui permintaan terakhir Anisa.

Bahkan cincin pemberian Anisa saja belum sempat dia kembalikan pada Arka. Rasanya Lisa nggak sanggup kalau sampai harus menikah dengan lelaki itu. Bagaimana dengan Dion?

Gerakan kepala Dion membuat Lisa tersadar dari lamunannya.

"Sayang, kamu udah sadar? Aku panggilkan dokter ya."

Lisa hanya mengangguk. Dion menekan tombol untuk memanggil dokter. Sementara Lisa terus menatap wajah lelah Dion.

"Maaf ya kamu jadi nggak istirahat," kata Lisa. Suaranya terdengar lemah.

Dion tersenyum dan mengecup kening Lisa. Di saat Anisa memberi pesan terakhir Dion tidak ada di sana.

"Sayang, aku tahu kehilangan seseorang yang kita sayang itu sulit, tapi kamu nggak boleh kayak gini. Sampai nggak makan terus pingsan kan jadinya." Wajah Dion terlihat sendu.

Sejak Lisa pingsan di tempat pemakaman tadi, Dion langsung membopong tubuh Lisa dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Saking khawatirnya Dion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Tidak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa kondisi Lisa.

***

"Makan yang banyak, biar cepet sembuh!" kata Dion yang sedang menyuapi Lisa bubur dari rumah sakit.

"Nggak enak, Yang. Mulut aku pait," protes Lisa.

Dion menghela napas panjang. "Dikit lagi ya terus minum obat. Kamu mau tinggal di sini lebih lama?" tanya Dion gemas.

"Kamu mah doain aku lama ya di sini?" sungut Lisa.

"Ya makanya satu suap lagi terus minum obatnya."

Lisa pun menurut saja meski mulutnya terasa pait. Badan Lisa juga demam tinggi. Itu sebab Lisa tidak diperbolehkan pulang. Tadi saat dokter memeriksa kondisi Lisa, Lisa merengek untuk pulang saja.

"Bawel banget!"

"Demi kebaikan kamu juga!"

Dion menyodorkan obat yang harus Lisa minum dan sebotol air mineral. Lisa yang sebenarnya tidak suka minum obat pun terpaksa menuruti permintaan Dion. Paling luluh kalau Dion sudah menatapnya tajam.

"Yang, pulang ya besok."

Dion menggeleng. "Kamu telat makan, asam lambung kamu naik. Kamu demam karena kurang istirahat. Belum sembuh dan minta pulang? Kalau mau pulang sembuh dulu paling enggak!"

Dion meletakkan mangkuk yang masih tersisa bubur ke meja.

"Galak banget!" Lisa mengerucutkan bibirnya.

"Biar kamu nggak ngeyel!" Dion menyentil kening Lisa.

"Sakit, Yang!" Lisa mengusap keningnya.

Lalu mata Dion tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Lisa. Dion meraih jemari Lisa dan memperhatikan cincin itu.

"Apa ini?"

Lisa segera menarik tangannya. "Aku bakal jelasin tapi kamu jangan marah," kata Lisa yang mengalihkan tatapannya.

Kedua mata Dion sudah memerah. Entah marah atau ingin menangis. Belum dijelaskan pun Dion sudah paham itu cincin apa. Dia sangat mengenal kekasihnya, bahwa Lisa tidak pernah menyukai perhiasan apapun.

"Anisa ... nyuruh aku buat__"

"Aku bisa nebak, cukup jangan lanjutkan lagi." Dion memotong ucapan Lisa dengan suara parau.

Dion langsung memeluk Lisa dengan erat.

"Jangan tinggalin aku, sayang."

***

"Lisaaaaaa, ya ampun Lo bisa sakit juga?"

Suara Karin yang baru saja masuk membuat dua insan yang sedang mengobrol serius itu menoleh.

Karin menatap kedua manusia yang memasang wajah datar dan masih ada jejak air matanya.

"Ups, sorry ya. Kalian lagi ngobrol serius ya?" Karin menutup mulutnya.

Dia menyodorkan parsel buah yang di beli tadi di jalan saat hendak ke rumah sakit. Karin meletakkannya di meja.

"Ngobrol dulu deh. Gue balik ya!" Karin meringis lalu membalikkan badan untuk meninggalkan ruang rawat Lisa. Meski tidak ada yang menjawab ucapannya.

Selepas keluar dari ruangan Karin menghela napas lega. Suasana di dalam nampaknya sedang mencekam.

"Serem banget asli. Sampe mau copot itu jantung!" Karin mengusap dadanya. Jantung Karin berdebar tidak karuan.

"Di dalam ada siapa?" tanya seorang laki-laki.

"Eh copot di dalam!" Karin terkejut dengan kehadiran Arka.

"Astaga, ganteng sekali anda!" Karin reflek menutup mulutnya.

"Ya ampun. Maaf ... maaf kadang mulut nggak bisa di kontrol."

Arka hanya memasang wajah datar.

"Itu ... di dalam lagi ada percakapan yang menegangkan. Mending nunggu aja di sini sama aku." Karin mendongak sambil meringis.

Arka tidak mempedulikan ucapan Karin. Lalu memilih pergi saja, membiarkan Lisa bersama kekasihnya terlebih dahulu. Arka tahu jika di dalam ada Dion. Sebaiknya dibicarakan besok saja.

"Eh Abang ganteng mau kemana?" Karin mengikuti langkah lebar Arka.

Laki-laki itu tidak menjawab. Membuat Karin kesal karena sudah di abaikan.

"Ganteng-ganteng sombong!" cibirnya.

Dia memilih pulang saja karena hari sudah malam.

"Besok aja deh, kayaknya mereka lagi ada masalah."

Karin pun pergi meninggalkan rumah sakit. Disaat bersamaan Dion membuka pintu untuk memanggil Karin. Rupanya sahabat kekasihnya itu telah pulang.

"Sayang, udah pulang. Sekarang kamu istirahat ya. Biar panas kamu turun dan siapa tahu besok boleh pulang," kata Dion.

Lisa mengangguk. Efek obat membuatnya tidak bisa menahan kantuk. Dion mengusap kening Lisa lalu mengecupnya.

"Aku nggak akan pernah mau lepasin kamu, karena aku sangat menyayangi kamu, sayang," batin Dion.

Getar diponselnya membuat Dion mengalihkan tatapannya yang sejak tadi menatap wajah pucat Lisa.

Wajahnya berubah datar saat membaca siapa yang menelponnya.

Dion segera keluar agar tidak menggangu tidur Lisa.

"Nggak bisa! Gue lagi nungguin Lisa di rumah sakit!" kata Dion penuh emosi saat mendengar ucapan dari seseorang yang menelponnya.

"Lo gila, hah! Lisa lagi sakit. Gue nggak bisa ke sana sekarang!" bentak Dion dan langsung menutup sambungan teleponnya.

Tanpa Dion sadari ada Karin yang tidak sengaja mendengar obrolan Dion. Karin tadi kembali karena rasanya ingin menunggui Lisa. Entah kenapa firasat Karin nggak enak. Saat Dion hendak membuka pintu, getar di ponselnya kembali terdengar.

Dion segera menggeser tombol hijau. Lalu terlihat wajah anak kecil yang sedang menangis. Itu panggilan video call.

Dion tersenyum melihat wajah anak itu. Emosinya menghilang begitu saja. Dion merasa tidak tega saat melihat wajah sendu anak itu.

"Kamu habis nangis ya?" tanya Dion.

Anak itu mengangguk. Lalu memperlihatkan mainannya yang rusak.

"Papa ...."

Bersambung ....

1
falea sezi
apa isinya
Alaish Karenina: apa ya kira"
total 1 replies
falea sezi
ciee belah duren
Alaish Karenina: wkwkwk iya
total 1 replies
falea sezi
panas panass
falea sezi
Hanum bkin kena hiv biar tau rasa
falea sezi
kasih lisa cwok tulus donk bkin cerai aja lah kasian lisa arka lom.move on pdhl nisa dah mati
falea sezi
Q kasih hadiah bunga thorr
Alaish Karenina: hehe, terima kasih ☺️
total 1 replies
falea sezi
Hanum bener benerr jalang sejati
falea sezi
kaka adek. sama sama. jahat erik sama.hanum
Alaish Karenina: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
memang orang yg sama
Juariah Nurbaiti
nah begitu lupakan masa lalu yg menyakitkan fokus pada masa kini dan masa depan
Alaish Karenina: hehe iya, Bun ☺️
total 1 replies
Juariah Nurbaiti
siapa lg tuh sintia
Juariah Nurbaiti
love
Juariah Nurbaiti
semoga cepat sembuh
Syah Hara
ayo ka lanjuttttttttttttt
Alaish Karenina: Hay, Kak ... terima kasih sudah mampir ya. Bab selanjutnya segera tayang hari ini.
total 1 replies
Alisya Yeppeumnida
murahan lisa nya
Alaish Karenina: 😊😊 otak sama hati tidak sinkron kak.
total 1 replies
Syah Hara
lanjuttttt
Syah Hara
lanjut dong udah gak sabar ini
Alaish Karenina: udah ada lanjutannya ya kak, tinggal nunggu review dari noveltoon.
total 1 replies
Syah Hara
lanjut dong
Syah Hara
lanjut lagi ka
Juariah Nurbaiti
sapa y belum kebayang tuh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!