Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 SEGERA
Tubuh Alisha gemetar, wajahnya merah, tetapi bukan karena patah hati semata. Ada rasa ketakutan yang ia coba sembunyikan dengan kemarahan.
Seharusnya, dengan menikah dengan Amar yang berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ia akan terangkat derajatnya. Ia akan aman. Ia tidak perlu lagi takut jika tiba tiba keluarga mereka terusir saat Seyna sudah kembali normal. Semua akan aman seharusnya. Namun yang ada Amar malah menolaknya.
"Bagaimana bisa dia menolakku! Apa aku kurang baik!? Apa aku tidak pantas!Apa yang kurang didiriku?" tangis itu akhirnya pecah.
Di tengah tangis kacau itu, pintu kamar tiba tiba terbuka yang menampilkan wajah ibunya yang menatapnya khawatir.
"Alisha!!" Reni bergegas masuk dan memegang kedua lengan putrinya.
"Nak, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis? Ada apa? Ayo cerita ke Mama dulu."
Alisha awalnya ingin tetap marah, ingin teriak lagi, tapi tatapan ibunya membuat emosinya mereda begitu saja. Ia langsung memeluk Reni erat-erat sambil terisak.
"Ma… Amar… Amar minta aku membatalkan perjodohan ini."
Mendengar itu Reni sangat terkejut. Tubuhnya seolah kaku sesaat.
"D-dia bilang apa?" suara Reni gugup tampak khawatir.
Alisha menyeka air matanya sambil menggeleng putus asa. "Dia… benar-benar nggak mau menikah denganku, Ma. Dia bilang...dia nggak mau."
Reni mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.
"Kurang ajar… keluarga kita sudah memperlakukan dia dengan baik selama ini, tapi dia malah—"
Reni ingin melanjutkan, tapi ia menahan diri. Ia harus berpikir dengan kepala dingin. Emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Yang terpenting bukan harga diri tapi masa depan.
Ia tahu betul keluarga mereka butuh keluarga Amar yang dapat memberikan kekayaan, kekuatan dan pengaruh yang besar. Jika perjodohan ini batal, masa depan keluarganya akan berubah drastis.Reni segera membelai rambut Alisha pelan dan lembut.
"Nak… kamu dengarkan Mama," ucapnya lembut namun sarat ambisi.
"Amar belum benar-benar menolak, dia hanya bingung. Laki-laki bisa berubah pikiran."
"Tapi Ma—"
"Diam dulu sayang, dengarkan Mama," Reni menatap Alisha sangat serius.
"Kita tidak boleh mundur. Keluarga itu adalah tiket masa depan kita. Kalau kamu menyerah, keluarga kita akan hancur dan kamu akan kehilangan semuanya. Apalagi jika Seyna sudah sadar dan ia pasti akan menggunakan surat warisan itu untuk merebut semua aset keluarga Damar."
Alisha menelan salivanya, ia merasa bahwa ketakutan nyata di matanya. Reni melanjutkan dengan nada lembut tapi penuh penekanan.
"Kalau Amar menjauh… kita harus cari cara agar dia kembali mendekat. Kita jangan mau kehilangan dia."
Alisha memejamkan mata kuat-kuat. Air mata kembali mengalir, namun kali ini bukan karena putus asa melainkan karena ia sedang membulatkan tekad.
"Aku… aku nggak mau kalah, Ma. Aku nggak mau."
Reni tersenyum tipis senyum penuh keyakinan saat melihat putrinya.
"Itu baru putriku."
Lalu Reni menambahkan satu kalimat yang mengubah ekspresi Alisha dari sedih menjadi kesal.
"Dan satu hal lagi, Al..kamu tidak boleh biarkan perempuan lain merebut kesempatanmu."
Alisha terdiam, garis rahangnya mengeras. Tiba-tiba sesuatu terlintas dalam kepalanya bayangan Seyna yang tadi memeluk Kael seperti gadis kecil yang membutuhkan perlindungan. Ditambah lagi ia kesal saat Kael mencoba mengintimidasinya dan membantu Amar agar dirinya ilfeel.
"Mama.." bisiknya pelan, suaranya berubah dingin.
"Kalau ada orang yang menghalangi aku bolehkan aku menyingkirkannya?"
Reni hanya menatap Alisha beberapa detik lalu tersenyum samar.
"Lakukan apa pun yang perlu kamu lakukan. Mama tidak akan membiarkan kamu kalah."
Alisha segera tersenyum dan menghapus air matanya, ia akan merencanakan sesuatu agar Amar selalu berada di genggamannya.
.....
"Tuan..tuan," panggil Zidan yang melihat Kael sedang melamun.
"Tuan kael," panggil Zidan sambil menepuk pundak bosnya itu.
"Ckk..Ada apa?"tanya Kael yang kesal.
"Ini tuan laporan bulan ini," ucap Zidan buru buru memberikan laporan itu kepada Kael.
Kael segera menerimanya dan menyuruh Zidan untuk keluar menggunakan tangannya. Zidan hanya mengangguk lalu buru buru pergi ia tidak mau diamuk oleh pria tanpa hati itu.
Setelah Zidan pergi,Kael hanya menatap laporan itu datar tetapi pikirannya melayang mengingat wajah polos gadis itu yang memintanya untuk pergi.
"Aku harus segera membawanya keluar dari rumah itu," gumam Kael.
Ia buru buru mengambil ponselnya meminta Zidan untuk segera datang dan selang beberapa menit Zidan segera datang dengan napas yang ngos ngosan.
"Ada apa Tuan, bukannya tadi memintaku untuk pergi," ucap Zidan sambil mengatur napasnya.
"Itu tadi, sekarang beda lagi," ucap Kael dingin.
Zidan hanya menatap bosnya dengan kesal, tetapi ia tidak bisa marah. Lagi pula kalau dia marah yang ada dia bakal dipecat.
"Mana yang aku minta tentang keluarga Damar itu," ucap Kael berjalan mendekat ke arah Zidan.
Zidan hanya menghela napas, lalu menunjukan sesuatu dari tab yang telah ia bawa.
"Saya sudah meminta bantuan dari it ternama, tetapi keluarga Damar sangat tertutup," ucap Zidan.
Kael membuka tab itu menggeser geser semua informasi yang di dapatkan oleh Zidan.
"Kenapa setelah rumor kecelakan itu, tidak ada lagi berita tentang keluarga Damar?"tanya Kael.
"Sepertinya setelah itu media sudah jarang meliput keluarga Damar. Di tambah Dirga membatasi media untuk memberitakan keluarganya."
"Terus bagaimana aku bisa tahu apa yang aneh di keluarga Damar?"tanya Kael sambil menghela napas.
Zidan diam untuk sesaat lalu menatap ke arah Kael lekat lekat.
"Sepertinya tuan harus bergegas menikahi nona Seyna," ucap Zidan.
Kael terdiam beberapa detik setelah mendengar ucapan Zidan yang terdengar santai, tapi jelas penuh makna.
"Segera menikahi Seyna?" ulang Kael, suaranya rendah bukan bingung, tapi merasa tidak masuk akal. Ia bahkan belum melamar Seyna.
Zidan menunduk sedikit, sadar topik ini terlalu sensitif.
"Ya, Tuan. Itu… satu-satunya jalan tercepat untuk mengeluarkan Nona Seyna dari rumah itu sebelum semuanya terlambat."
Kael menyipitkan mata. Ada tekanan yang berat di dadanya.
"Kenapa kau bicara seolah waktuku tidak banyak?"
Zidan menelan salivanya, lalu berkata lirih.
"Karena informasi terbaru yang saya dapat mungkin Tuan tidak akan menyukainya."
Kael menunggu tanpa suara dan itu lebih menakutkan daripada sebuah teriakan. Zidan akhirnya menjelaskan, suaranya pelan tapi jelas.
"Sepertinya keluarga Damar sedang menjalin kerja sama dengan salah satu keluarga terkuat dari kota sebelah… keluarga Hartanto."
Kael mengernyit. "Lalu?"
"Keluarga Hartanto ingin memperkuat kerja sama itu dengan pernikahan. Dan dari rumor yang tersebar calon mempelai yang mereka incar adalah Nona Seyna."
Bahu Kael seketika menegang, saat mendengar perkataan dari Zidan. Zidan melanjutkan tanpa menatap Kael,
"Calon pengantin laki-lakinya… terkenal playboy. Sudah tiga kali hampir menikah tapi semuanya batal karena perempuan-perempuan itu terluka secara mental, dan… beberapa secara fisik."
Kael langsung membeku.Zidan menambahkan sangat pelan,
"Alisha terlalu dijaga oleh keluarganya untuk dipasangkan dengan pria seperti itu. Jadi targetnya ya hanya Nona Seyna."
.....
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!