Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin Jauh
Keesokan harinya.
Alya baru saja pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama dua hari karena kelelahan. Leon mengantarnya pulang hingga ke kamar kost yang ditinggalinya.
Alya memasuki kamarnya dengan wajah jutek, masih menunjukkan rasa kesal dan marah kepada Leon. Namun, Leon tak putus asa, ia masih berusaha mencari cara agar mantan istrinya mau memaafkannya.
"Em, kamu mau aku bantu masak makanan kesukaanmu?" tawar Leon sambil tersenyum.
Alya mendengus, "Kamu kira masakanmu enak? Tidak, terima kasih."
Leon tetap berusaha, "Oke, kalau gitu aku akan beli makanan kesukaanmu deh. Nasi Padang, kan?"
Alya menggeleng, "Aku malah nggak suka nasi padang."Leon menggaruk kepalanya, bingung dengan cara apa lagi yang bisa ia lakukan. Ia kemudian mencoba menggoda Alya dengan membahas kenangan indah mereka.
"Em, ingat saat kita pertama kali bertemu?
Aku tidak lupa akan hal itu."
Alya menghela napas, "Leon, itu malah membuatku trauma berat."
Leon terdiam sejenak, kemudian mencoba lagi dengan cara lain.
"Bagaimana kalau kita mulai berteman lagi? Kita bisa saling mendukung dan berbagi cerita. Aku akan mendengarkan masalahmu, dan kamu juga bisa mendengarkan masalahku. Kita bisa saling membantu, bukan?"
Alya menatap Leon dengan tatapan tajam.
Leon menundukkan kepalanya, merasa bersalah atas perlakuan buruknya kepada Alya di masa lalu. Ia sadar bahwa meminta maaf dan mencoba mengembalikan kepercayaan Alya memerlukan waktu dan usaha yang lebih. "Baiklah. Aku mengerti kalau kamu masih marah padaku. Namun, aku akan berusaha menjadi orang yang lebih baik dan aku berharap suatu hari nanti kamu bisa memaafkan ku," ucap Leon dengan tulus.
Alya akhirnya melunak, meskipun ia belum sepenuhnya memaafkan Leon.
"Kita lihat saja nanti, Leon. Sekarang, kamu bisa pergi. Aku ingin beristirahat."
Leon mengangguk dan pergi meninggalkan kamar kost Alya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan berusaha keras untuk menjadi pribadi yang lebih baik demi mendapatkan hati mantan istrinya itu.
Selepas itu.
Alya duduk termenung di kamar kostnya yang sederhana, menatap langit-langit dengan pikiran yang menerawang jauh. Sejenak, ia menghela nafas panjang, merasa lelah dengan situasi yang tengah dihadapinya.
"Bagaimana caranya agar Leon bisa menjauh dariku dan anak-anak?" gumam Alya pelan, matanya berkaca-kaca seolah menahan tangis yang hendak jatuh.Setiap hari, rasa takut menghantui Alya, khawatir Leon akan kembali menghancurkan hidup mereka yang telah berhasil dibangun kembali setelah perceraian.
Alya kemudian menggenggam erat foto tiga anak kembarnya yang tersenyum lebar, memberikan semangat untuk terus melawan.
"Aku harus melindungi kalian, anak-anakku. Kita harus tetap kuat dan menjauh dari Leon," ucap Alya tegas dalam hati.
Alya lantas tertidur.
Beberapa jam kemudian, di dalam mimpinya ia kembali bertemu dengan sosok Leon yang begitu menakutkan baginya.
Dalam mimpi itu, Leon menyiksanya dengan cara yang sama seperti dulu, memukul dan melukai tubuhnya tanpa belas kasihan.
Alya merasa takut dan histeris, ia berteriak keras dan menangis sejadi-jadinya, berusaha melarikan diri dari cengkeraman pria itu.
Saat yang bersamaan, tiga anak kembarnya yang baru pulang dari Fairy Care bersama Leon mendengar teriakan histeris dari ibunya. Mereka bergegas menuju ke kamar dan mendapati Alya a masih tertidur dengan wajah pucat dan air mata yang mengalir deras. Ketiganya merasa khawatir, mereka berusaha membangunkan sang ibu dengan lembut.
"Mama, bangun... Kenapa Mama menangis?" tanya salah satu dari mereka dengan suara lirih dan khawatir.
Mendengar suara anak-anaknya, Alya terbangun dari mimpinya. Ia menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk belaka, namun perasaan takut dan cemas masih membekas di hatinya. Alya memandang tiga anak kembarnya yang juga ikut menangis, khawatir akan kondisi ibunya.
"Mama baik-baik saja, Sayang," ucap Alya berusaha menenangkan anak-anaknya sambil mengusap air mata mereka. "Mama hanya bermimpi buruk, itu saja."
"Ada apa, Alya?" tanya Leon mengintip dari balik pintu.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Alya.
"Aku yang mengantar jemput si kembar di Fairy care. Kamu kenapa?" tanya Leon mendekat dan duduk di lantai memperhatikan wajah Alya yang masih penuh dengan air mata.
"Om, Mama sering begini, bangun-bangun selalu nangis," jelas Farad.
Leon menyadari jika Alya masih trauma.
"Aku akan carikan psikolog untukmu," ucap Leon n.
"Untuk apa? Kamu tidak usah caper denganku. Kamu tetaplah kamu yang kasar dan jahat padaku," ucap Alya.
"Aku mau berubah demi kamu dan anak-anak kita," kata Leon.
"Pergi! Pergi!" teriak Alya histeris, dia melempar bantal dan guling ke arah Leon .
"Alya, tenanglah! Aku akan bantu kamu untuk menyembuhkan rasa trauma mu," ucap Leon masih berusaha.
"Pergi!" teriak Alya sampai suaranya melengking.
Leon keluar dari kamar dan mengusap wajahnya kasar, kesalahannya dulu memang sangat fatal sekali sehingga Alya mengalami trauma yang sangat parah.
"Om sebenarnya ngapain Mamaku sih?" tanya Fared, si kembar yang paling jutek.
"Papa dulu buat kesalahan."
"Sampai Mama seperti ini? Awas saja ya jika Om macam-macam dengan Mama!" ancam Fared.
Leon tersenyum. "Kamu harus jaga Mamamu! Papa tahu kalian anak yang baik. Ya sudah, Papa mau pulang, jika Mamamu kenapa-napa langsung telpon Papa!"
Farid berlari keluar dari kamar dan lekas memeluk Leon.
"Papa, jangan pergi!"
Tentu saja Farid adalah anak pertama yang memanggilnya dengan sebutan Papa bahkan dia juga merasa Leon orang yang baik.
"Papa besok kesini lagi," ucap Leon.
"Aku mau ikut Papa," jawab Farid.
Leon berjongkok. "Nak, jaga Mama, ya! Mamamu kasian.""Ada Farad dan Fared kok, aku mau ikut Papa," ucap Farid.
Farad keluar dari kamar. "Farid, gak usah aneh-aneh deh! Om ini belum tentu baik."
"Apa maksudmu? Dia Papa kita loh, Papa yang selama ini kita cari," jawab Farid.
"Kita bisa cari Papa lain di luar sana kok," sahut Fared.
"Gak mau! Aku maunya Papa ini," ucap Farid.
Leon menghela nafas panjang. "Hah.... Mamamu yang tidak akan mengizinkanmu untuk ikut bersama Papa. Mamamu masih sangat marah pada Papa. Sekarang di sini saja, ya! Jaga mama kalian!"
Alya mendengarkan percakapan mereka dari dalam kamar, satu persatu mereka pasti akan luluh juga pada Leon. Alya memegangi rambutnya dan menjambaknya pelan, ia frustasi jika mereka suatu saat akan memilih Leon karena pria itu punya segalanya yang si kembar butuhkan.
Setelah mendengar Leon pergi dan menutup pintu kamar kost. Alya keluar dari kamar dan menatap tajam Farid
"Apa yang kamu katakan pada dia? Kenapa kamu ingin ikut bersamanya?" bentak Alya.
Si kembar kaget karena baru pertama kali ini mereka melihat sang mama marah.
"Kenapa kamu ingin ikut bersama pria jahat itu?" teriak Alya dengan suara yang melengking.
Alya berjongkok dan menangis histeris, ia merasa gagal menjaga anak-anaknya.
"Mama, dia kan Papa kami," ucap Farid.
"Kalian tidak tahu jika dia adalah pria jahat!"
Alya menunjukkan semua bekas luka pada tubuhnya kepada mereka. Si kembar tiga terkejut melihat semua bekas luka itu. Alyaa masih menangis, si kembar lantas memeluk sang mama.
"Mama, kami minta maaf!"
"Sana ikut Papa kalian jika kalian mau tapi jangan harap bisa bertemu Mama lagi!" ucap Alya.mendekat dan duduk di lantai memperhatikan wajah Alya yang masih penuh dengan air mata.
"Huaaaaa.... kami minta ampun, Mama!"
Mereka ikut menangis sambil memeluk mamanya, Leon yang mendengar suara histeris mereka langsung ke kamar kost lagi dan menemukan mereka menangis bersama-sama sambil duduk di lantai.
"Ada apa?"
Alya berdiri dan hendak memukul Leon, tapi pria itu terus menghindar.
"Kenapa datang lagi? Hah! Mau ambil anak-anakku? Pergi sana! Pergi! Dasar pria jahat! Dasar pria tidak tahu diri!" teriak Alya.
Leon lekas menarik kedua lengan Alya dan memegangnya dengan erat, mata mereka saling bertatapan.
"Sadarlah, Alya! Kamu bisa melukai anak-anak!" ucap Leon.
"Pergi!" ucap Alya.
"Aku tahu kamu sangat benci padaku, aku minta maaf dan aku akan membantu menyembuhkan trauma mu. Aku janji tidak akan menyakitimu dan justru aku ingin melindungi mu," ucap Leon.
"Kamu bohong," jawab Alya.
Leon memeluknya erat, dia memang serius ingin melindungi Alya.
"Aku minta maaf, aku ingin memperbaiki semuanya."
Alya menggelengkan kepalanya.
"Nggak! Nggak!"
"Aku akan terus berusaha sampai kamu mau memaafkan ku," ucap Leon.
Leon melihat si kembar juga ikut menangis, ia lantas memeluk mereka tapi Farad dan Fared menolak, mata mereka seolah penuh kebencian apalagi bekas luka di tubuh mamanya karena ulah pria itu.
"Aku paham kenapa Mama nggak suka sama Om," ucap Farad.
"Om suka mukul Mama kami 'kan? Om bukan orang baik," sahut Fared.
"Nak, dulu Papa khilaf."
Farad mendorong Leon. "Pergi, Om! Aku nggak mau jika Mama sampai dekat-dekat dengan Om lagi.""Iya! Kami bisa cari Papa yang lain," ucap Fared.
Farid menyahut. "Om ini baik, dia kan juga udah minta maaf."
"Kenapa kamu malah bela Om Leon sih? Apa dia udah ngasih uang sama kita? Kamu nggak lihat Mama sampai ketakutan dan banyak luka?" ucap Farad.
"Kalian yang kenapa? Papa baik dan mau berubah, dia adalah Papa yang kita cari selama ini. Dia papa kita dan Mama tidak pernah bilang apapun ," teriak Farid.
Fared langsung meninju Farid, Farid yang tidak mau kalah mendorong Fared dan memukulinya. Alya melerai mereka, padahal mereka tidak pernah seperti ini.
"Hentikan! Hentikan!"
Mereka lantas terhenti. "Kemasi barang kalian! Kita harus segera pergi dari sini. Di sini sangat tidak aman."
"Aku nggak mau pergi! Aku mau ikut Papa!" Farid langsung berlari keluar dari kamar kost menyusul Leon yang mungkin saja belum jauh dari sana.
klw nikah di grreja artinya agama kristen.
yg menikahkan penghulu,biasanya klw nikah di gereja pendeta
aga membingungkan