Alea adalah wanita malang yang terpuruk dan hampir gila karena kehilangan bayi dan suaminya dalam satu waktu. Namun di saat itulah ia bertemu dengan seorang wanita asing yang memberikan bayi laki-laki padanya. Tanpa menaruh curiga Alea menerima bayi itu.
Siapa yang sangka jika bayi tersebut akan merubah masa depannya. Sebab bayi laki-laki itu ternyata adalah putra dari seorang konglomerat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Hasil Tes DNA
Gara-gara David pekerjaan Juan semakin banyak. Iparnya itu dengan sengaja mencuri uang perusahaan diam-diam untuk membangun perusahaan sendiri. David bermain sangat rapi selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, sampai tidak ada yang curiga. Semua baru ketahuan saat Juan menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarga Fernandez.
Sama seperti David yang diam-diam mencuri, seperti itu juga Juan menyelidiki. Sebenarnya Juan sudah mengendus perbuatan curang David sejak lama, tapi ia tidak punya cukup banyak bukti, sehingga harus bersabar sampai hari ini.
Selain urusan pekerjaan, Juan juga harus bolak-balik rumah sakit demi sang nenek. Maria yang sudah diperbolehkan pulang saat itu, kembali dirawat di rumah sakit. Kondisi wanita itu kembali memburuk karena kanker usus yang diderita.
"Juan, apa aku masih punya kesempatan untuk melihat cicitku?" tanya Maria lirih.
Juan yang berada di samping ranjang perawatan sang nenek, hanya mampu menggenggam erat tangan rapuh itu.
"Tentu saja, kau akan baik-baik saja bahkan untuk sepuluh tahun ke depan. Kau bukan hanya akan melihat satu cicitmu, tapi 3 ... atau mungkin 4," jawab Juan bercanda.
Maria tersenyum. Cucu yang dulu ia asuh, sudah tumbuh menjadi pria dewasa. Bukan hanya fisiknya, tapi juga pemikirannya. Juan selalu tahu cara menyenangkan neneknya.
"Kalau begitu kembali lah untuk berumah tangga. Aku ingin melihat banyak cicit dari mu." Maria pun ikut menimpali candaan Juan.
Keduanya tertawa.
"Juan, aku serius. Aku ingin bertemu dengan anakmu," pinta Maria lagi. "Kalau nanti aku harus pergi, aku akan sangat bahagia setelah melihat cicitku."
"Jangan berkata begitu. Kau akan baik-baik saja."
Maria mengembuskan napas pelan. Seolah lelah. "Aku sudah lelah berjuang. Aku sudah cukup banyak melewati kehidupan. Tidak ada lagi yang aku inginkan dalam hidupku selain melihatmu bahagia."
Maria memang akhir-akhir ini mengatakan tak ingin lagi berobat. Ia sudah lelah dengan semua metode pengobatan sejak lima tahun terakhir. Fisiknya sudah tidak mampu lagi untuk dipaksa. Ia sudah di fase pasrah, sebab umur pun sudah menginjak angka tujuh puluh lima.
Air mata Maria menjadi bukti akan lelahnya jiwa dan fisik wanita tua itu. Juan sampai tidak tega melihatnya. Ia pun pamit pada Maria dan menemui Daniel di ruangan sahabatnya itu.
"Wah, baru juga mau aku telepon," ujar Daniel ketika Juan masuk ke ruangannya.
"Aku ingin memberi kabar tentang hasil tes DNA itu," sambung Daniel.
"Baguslah kalau hasilnya sudah keluar, aku sudah lama menunggu."
Daniel mengambil sebuah map yang ia dapat dari laboratorium tadi. Ia belum membukanya, karena ingin Juan sendiri yang membuka. Diserahkannya map tersebut pada Juan.
Tak sabar Juan membuka amplop yang masib tersegel dari dalam Map. Namun, ia kebingungan sendiri saat berusaha membaca tulisan yang tertera di sana.
"Apa artinya ini?" tanya Juan memperlihatkan hasil laboratorium pada Daniel.
Dokter itu mengambil surat yng diberikan Juan. Membacanya sebentar dan berkata, "Dari hasil tes DNA yang kita lakukan menyatakan jika sembilan puluh sembilan persen DNA kalian cocok. Itu artinya bayi itu adalah anakmu."
"Benarkah?" Juan sampai terperangah tak percaya. Ia sampai bingung harus bagaimana. Yang pasti ia bahagia. Akhirnya ia menemukan anaknya juga.
Saking bahagianya Juan sampai memeluk Daniel. Membuat dokter muda itu jijik.
Juan justru tertawa dengan sikap Daniel yang memperlihatkan ekspresi jijik. Di saat Juan masih memeluk Daniel, seorang perawat datang dan melihat aksi keduanya yang sedang berpelukan.
"Maaf, Dok, saya tidak bermaksud mengganggu." Perawat tersebut dengan cepat balik badan meninggalkan ruangan Daniel.
Kontan saja Daniel mendorong Juan agar menjauh. Bisa rusak reputasinya jika sampai beredar kabar tentang dirinya dan Juan.
Juan makin tertawa.
"Berhenti dan pulanglah untuk melihat bayimu!" usir Juan.
Meski begitu Juan patuh. Ia segera pulang ke villa. Tak sabar untuk bertemu Alea.
"Alea ...!" teriak Juan saat baru masuk ke villa.
Malena yang tak paham hanya bisa menatap heran. Juan berjalan ke kamar Alea
"Alea!" teriak Juan lagi.
Dari dalam kamar usai menyus*i Shane, Alea membuka pintu.
Jantungnya berdebar kuat saat melihat Juan berdiri di depan pintu.
"Alea, bersiaplah bersama anakmu. Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
Belum hilang rasa kagetnya karena melihat Juan, Alea kembali dibuat kaget. Juan mengajaknya pergi? Ke mana?