aku berdiri kaku di atas pelaminan, masih mengenakan jas pengantin yang kini terasa lebih berat dari sebelumnya. tamu-tamu mulai berbisik, musik pernikahan yang semula mengiringi momen bahagia kini terdengar hampa bahkan justru menyakitkan. semua mata tertuju padaku, seolah menegaskan 'pengantin pria yang ditinggalkan di hari paling sakral dalam hidupnya'
'calon istriku,,,,, kabur' batinku seraya menelan kenyataan pahit ini dalam-dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sablah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
teror kedua kalinya
Tok... Tok.... Tokk....
ditengah-tengah percakapan mereka, sebuah suara ketukan terdengar dari arah pintu depan. semua orang langsung mengalihkan perhatian mereka.
Alda yang pertama kali bereaksi. ia meletakkan gelasnya, lalu bangkit dari kursinya. "tunggu sebentar, biarkan Alda yang membuka nya."
Rama ikut berdiri. "biar aku saja, Alda."
namun, Alda menggeleng halus. "Mas lanjut saja makan nya, Alda akan kedepan dulu"
tanpa menunggu jawaban, Alda melangkah menuju kearah sumber suara. saat ia membukanya, seorang pria dengan jaket hijau khas ojek online berdiri di sana.
"selamat pagi, ada paket untuk mas Rama," ujar pria itu sambil menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus rapi.
Alda menerima kotak tersebut tanpa curiga. "baik, terima kasih. dari siapa ini, pak?"
pria itu mengangkat bahu. "saya hanya diminta mengantarkan, Mbak. tidak ada nama pengirimnya."
Alda mengangguk, lalu menutup pintu. kemudian ia membawa kotak itu ke dapur, tempat Rama dan keluarganya masih duduk.
begitu ia masuk, Ibunya bertanya, "apa itu, Alda?"
Alda menaruh kotak itu di meja dengan santai. "sepertinya ini kue, Bu. pesanan mas Rama"
Rama mengernyit, merasa bingung. "tunggu, kue?aku tidak pernah memesan kue, Da."
alda ikut mengernyit, lalu menatap kotak itu lebih seksama. "tapi bapak ojek tadi bilang ini untuk mas Rama."
ruangan mendadak hening. semua orang menatap kotak kue itu dengan berbagai pemikiran.
Ayah Rama akhirnya bersuara, "jika bukan kamu yang memesannya, lalu siapa?"
Rama menatap kotak tersebut dengan ekspresi serius. ia merasakan firasat tidak enak yang tiba-tiba muncul.
Ibu melirik kue itu dengan penuh perhatian. "coba buka saja, Nak. siapa tahu ada petunjuk di dalamnya."
Raka yang sejak tadi diam langsung berinisiatif mengambil pisau dapur dari rak dan menyerahkannya kepada Rama. "biar cepat, pakai ini aja."
dengan sedikit ragu, Rama menerima pisau itu, lalu mulai membuka lapisan bungkusnya. saat tutup kotaknya terbuka, aroma manis cokelat langsung menyeruak.
di dalamnya, ada sepotong bolu cokelat lapis yang mewah, dengan lelehan ganache yang menggoda. serutan cokelat dan potongan almond bertaburan di atasnya, membuatnya terlihat sempurna.
"Ram, bukannya ini kue favoritmu?" tanya Raka sang kakak dengan nada penasaran.
Rama tidak langsung menjawab. ia mengangguk pelan, tapi pikirannya sudah melayang ke semua dugaan yang ia pikirkan.
lalu, tak lama kemudian Rama menyadari ada sesuatu yang terselip di dalam kotak kue itu. sebuah surat kecil. jantungnya berdegup lebih cepat saat ia mengambil dan membukanya.
tulisan tangan yang sangat ia kenal langsung menyambutnya.
"aku tahu kamu masih menyukainya. ini hari bahagia kita, sayang. secepatnya aku akan datang ke rumahmu.
-Naila"
jari-jari Rama sedikit gemetar saat membaca isi surat itu. wajahnya yang semula bingung kini berubah tegang.
Ayah Rama yang sejak tadi hanya memperhatikan, kini ekspresinya berubah murka. matanya menajam saat membaca isi surat di tangan Rama.
"dia lagi?" gumamnya dengan suara tertahan, tapi semua orang di ruangan bisa mendengarnya. Ayah langsung bangkit dari kursinya, menatap Rama dengan sorot penuh amarah. "ini sudah keterlaluan! apa lagi maunya gadis itu?!"
ruangan mendadak terasa panas. semua mata kini tertuju pada Rama, menunggu penjelasannya.
Ibu, yang sejak tadi diam, mengerutkan kening. ia menoleh ke arah Rama, lalu ke arah sang suami. kebingungan jelas tergambar di wajahnya.
"siapa, Yah?" tanyanya, suaranya lebih pelan dari biasanya
"Naila"
Ibu terkejut, matanya melebar. dengan refleks, ia meraih tangan Alda yang masih berdiri di sampingnya dan menariknya ke dalam pelukan. "Alda, kamu nggak apa-apa, nak?" suaranya penuh
Alda sempat terdiam, tapi ia mengangguk pelan. wajahnya tidak menunjukkan emosi berlebihan, meskipun jelas ada ketegangan dalam dirinya. namun, ia tetap berusaha tersenyum.
"Alda baik-baik saja, Bu," ucapnya lembut. "mas Rama juga pasti sama terkejutnya seperti kita."
kata-kata tulus dari Alda justru membuat Ayah semakin kesal. "jangan membela dia, Alda! kalau Rama tidak ada hubungan apa-apa lagi sama Naila, kenapa perempuan itu masih berani mengganggu?!"
Rama yang sejak tadi hanya terdiam, akhirnya menarik napas panjang. Ada beban di dadanya yang sepertinya sudah saatnya ia keluarkan.
"maafkan Rama, Yah. Rama memang belum cerita ke kalian masalah ini," ucapnya pelan, tapi suaranya cukup jelas untuk didengar semua orang. "sebenarnya pekerjaan kemarin..... klien Rama adalah Karina"
sekali lagi, ruangan menjadi hening. wajah Ayah, Ibu, dan Raka seketika berubah.
"Karina? siapa dia?" tanya Ibu, nyaris tak percaya.
"sahabat Naila" ada rasa bersalah yang begitu jelas di wajah rama. ia mengusap wajahnya, merasa tertekan dengan situasi ini.
"apa? kau sembunyikan itu dari kami? dari istrimu juga?" seru Raka berbalut emosi dan keterkejutan
tapi sebelum situasi semakin memburuk, Alda kembali angkat suara. ia tersenyum hangat kearah Rama, lalu menatap semua orang dengan lembut.
"mas Rama mungkin salah karena tidak cerita ini lebih awal, tapi itu bukan berarti dia salah atas apa yang dilakukan Naila, mas Raka. mas Rama juga korban di sini. dan lagi, sebenarnya Alda sudah tau hal ini. mas Rama sudah menceritakan semuanya, bahkan Alda sudah bertemu dengan Karina sendiri" ucap Alda dengan tenang.
Ibu menatap Alda penuh haru, sementara Ayah masih tampak kesal, "bagaimana bisa kamu tetap membelanya, Alda? fakta bahwa perempuan itu masih mengganggu rumah tangga kalian saja sudah cukup menjelaskan semuanya!"
Alda tetap berusaha tenang. "Alda tidak membela siapa pun, Ayah. tapi mas Rama sendiri terlihat terkejut dengan semua ini. dia juga pasti tidak ingin kejadian seperti ini terjadi."
Ayah menghela napas berat. ia menatap Rama dengan tajam. "baik! kalau begitu, Rama, sekarang jelaskan semuanya! apa lagi yang kau sembunyikan dari kami!"
Rama terdiam sejenak. ia tahu, mau tidak mau, ia harus bicara. dengan suara pelan, ia akhirnya mulai menjelaskan,
"sejak awal pertemuan kami, Karina memang selalu membahas Naila. beberapa kali dia meminta bertemu, tapi Rama menolak. satu waktu Rama terpaksa menemui nya, Ayah. karena dia mengancam membawa Alda dalam masalah ini"
Ayah menyipitkan mata. "lalu?"
Rama menelan ludah. "dia tetap memaksa Rama memberikan satu kesempatan lagi untuk Naila. setidaknya untuk menjelaskan alasan dia pergi"
Ibu tampak semakin cemas, sementara Ayah mengusap wajahnya, berusaha menahan emosi.
"Ayah tanya sekali lagi, Rama. apa lagi yang kau sembunyikan dari kami perihal gadis itu?"
Ibu dan Raka ikut menatap Rama dengan ekspresi yang sama, mereka menunggu jawaban.
"tidak ada Ayah. hanya kenyataan itu yang Rama sembunyikan"
Ayah masih menatap Rama dengan tajam. wajahnya tegang, napasnya berat.
"masalah ini bukan sepele, Rama!" suaranya terdengar lebih dalam dan penuh ketegasan. "kalau perempuan itu tetap mengganggu rumah tangga kalian, Ayah sendiri yang akan datang ke rumahnya!"
ucapan itu membuat suasana di meja makan semakin menegang. Raka tampak setuju, sementara Ibu terlihat semakin cemas.
namun, sebelum emosi semakin memuncak, Ibu akhirnya angkat bicara dengan suara yang lebih tenang.
"sebaiknya kita redam dulu masalah ini," ucapnya dengan lembut, namun cukup tegas untuk membuat semua orang fokus padanya. "sekarang ada hal yang lebih penting daripada mengurus orang lain."
Ibu menatap Rama dalam-dalam, lalu beralih ke Alda. "masalah yang paling utama sekarang adalah kamu, Rama, dan keluarga Alda. segeralah menemui mereka. bangun kepercayaan penuh jika kamu sanggup membuat putrinya bahagia lahir dan batin nya"
Rama tertegun. ia melirik Alda yang juga tampak sedikit terkejut dengan arahan Ibu.
ibu menghela napas sebelum melanjutkan "orang tua Alda pasti juga ingin tahu keadaan rumah tangga kalian. Ibu tidak ingin keluarga Alda berpikir yang tidak-tidak soal hubungan kalian."
Ayah mendengus, tapi kali ini tidak sekeras sebelumnya. "Ibumu benar. kalau kau ingin menyelesaikan masalah ini dengan benar, jangan lupakan keluargamu yang lain. pergilah temui mereka, jelaskan keadaan rumah tanggamu. jangan sampai mereka mendengar dari orang lain lebih dulu!"
Rama mengangguk pelan. ia sadar, sejak menikah, ia belum berkunjung ke rumah mertuanya.
"baik, Ayah, Ibu. setelah ini Rama dan Alda akan ke sana."
akhirnya setelah percakapan di meja makan selesai, Rama dan Alda meminta izin untuk bersiap ke rumah orang tua Alda.
begitu mereka masuk ke dalam kamar, Alda segera menuju lemari pakaian nya, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, matanya menangkap sosok Rama yang duduk di tepi ranjang dengan kepala menunduk.
wajahnya terlihat murung, seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat.
"Ram?" panggilnya lembut, dan dia berjalan mendekati Rama.
Rama tidak langsung menjawab, hanya menghela napas panjang.
Alda semakin mendekat, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping Rama. ia menatap suaminya dengan penuh perhatian.
"kenapa? ini soal Naila?" tanyanya hati-hati.
mendengar nama itu, Rama segera menggeleng cepat. "bukan. ini bukan tentang dia."
Alda sedikit terkejut dengan reaksi cepat Rama.
"lalu? apa yang sedang kamu pikirkan?"
rama mengangkat kepalanya, lalu menatap Alda dalam-dalam. ada sesuatu di matanya, bukan kecemasan karena Naila, melainkan sesuatu yang lebih serius.
"aku sedang berpikir tentang bagaimana nanti menghadapi kakekmu, Da" ujar Rama akhirnya.
Alda terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. ia tahu betul maksud dari laki-laki disamping nya ini.
di antara seluruh anggota keluarganya, memang kakeknya lah yang paling menentang pernikahan mereka. sejak awal, pria tua itu tidak menyetujui keputusan mendadak ini dan selalu menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Rama.
Alda hanya tersenyum lembut menatap Rama "tidak perlu terlalu khawatir, Ram. kakek memang keras, tapi bukan berarti tidak bisa luluh."
Rama tiba-tiba terdiam, tatapannya kosong seolah mengingat sesuatu.
"Ram, kenapa?" alda kembali bertanya, kini dengan nada lebih khawatir.
Rama tak langsung merespons. ingatannya kembali pada percakapannya dengan Karina kemarin. saat itu, Karina sempat menyebut satu nama, Rendra. awalnya, Rama mengabaikan karena mengira itu tidak penting, tetapi sekarang ia mulai merasa ada sesuatu yang janggal.
Rama mengangkat wajahnya, menatap Alda dengan serius. ia menarik napas pelan sebelum bertanya, "Da, apa sebelumnya... kakek pernah membahas calon untuk jadi suamimu?"
Alda mengerutkan kening, jauh lebih terkejut dengan pertanyaan kali ini. "maksudnya?"
Rama menatapnya lebih dalam, mencoba menangkap ekspresi yang mungkin menunjukkan bahwa Alda menyembunyikan sesuatu. "mungkin alasan kakek tidak setuju dengan pernikahan ini karena dia sudah memiliki calon untukmu."
Alda semakin bingung. ia menghela napas sebelum akhirnya menjawab dengan nada yakin, "jangan berpikir yang tidak-tidak, Ram. kakek tidak pernah membahas siapapun sebelumnya"
Rama menatapnya lekat, masih mencari kepastian. "tapi kemarin... karina menyebut nama Rendra."
Alda, yang awalnya tenang, tiba-tiba terkejut saat mendengar nama itu keluar dari mulut Rama. "Rendra?" ulangnya dengan raut wajah kaget.
Rama mengangguk. "ya. Karina menyebut nama itu"
melihat reaksinya, kecurigaan Rama semakin kuat. "kamu mengenal nya?"
Alda dengan yakin mengangguk, berusaha menjelaskan. "dia teman kerjaku, Ram. sama-sama guru di sekolah. aku menganggapnya dia hanya sebatas teman, tidak lebih"
Rama tetap diam, menunggu kelanjutan penjelasan Alda.
melihat tatapan Rama yang masih penuh keraguan, Alda kembali bersuara. "jika penjelasan ku ini masih belum membawa keyakinan untukmu, dengan senang hati aku bisa buktikan semuanya. setelah masa cutiku habis, aku mau kamu antar aku ke sekolah. aku kenalkan kamu padanya"
Rama terdiam sejenak, mempertimbangkan kata-kata Alda. Ia memang tidak ingin menuduh tanpa bukti, tapi rasa penasaran tetap mengganggunya. Akhirnya, ia mengangguk pelan. "apa tidak masalah kamu memperkenalkan aku di lingkungan kerjamu?"
Alda menatapnya dengan lembut, sedikit mencondongkan tubuhnya. "dimana letak salahnya, Rama? sekarang kamu adalah suamiku. semakin banyak yang tahu hal itu, bukankah semakin bagus untuk hubungan ini?"
Blush!
wajah Rama langsung memanas, semburat merah merayap naik dari leher hingga pipinya. ia tidak menyangka Alda akan mengatakan hal seperti itu dengan nada yang begitu tenang dan penuh keyakinan. panik, ia langsung bangkit dari ranjang, membelakangi Alda, seolah mencari sesuatu untuk menyibukkan diri.
"ya-yasudah, segeralah bersiap, Da. kita akan pergi sebentar lagi," ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Alda, yang melihat tingkah laku suaminya, hanya tersenyum kecil. tatapannya penuh arti, seolah menikmati momen langka di mana Rama terlihat salah tingkah.