Indah, seorang gadis dari kampung yang merantau ke kota demi bisa merubah perekonomian keluarganya.
Dikota, Indah bertemu dengan seorang pemuda tampan. Keduanya saling jatuh cinta, dan mereka pun berpacaran.
Hubungan yang semula sehat, berubah petaka, saat bisikan setan datang menggoda. Keduanya melakukan sesuatu yang seharusnya hanya boleh di lakukan oleh pasangan halal.
Naasnya, ketika apa yang mereka lakukan membuahkan benih yang tumbuh subur, sang kekasih hati justru ingkar dari tanggung-jawab.
Apa alasan pemuda tersebut?
Lalu bagaimana kehidupan Indah selanjutnya?
Akankah pelangi datang memberi warna dalam kehidupan indah yang kini gelap?
Ikuti kisahnya dalam
Ditolak Camer, Dinikahi MAJIKAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. perubahan sikap indah
Kembali ke rumah Rama.
"Em,,,, Indah..." panggil Nyonya Felly ketika Indah hendak beranjak untuk melanjutkan pekerjaannya di belakang setelah kepergian Selena.
"Ya, Nyonya...?" Indah kembali membalikkan badannya menghadap sang Nyonya. "Apakah ada lagi yang Anda butuhkan?" tanya Indah.
"Saya tidak bermaksud untuk membawamu ke dalam masalah Putraku. Saya hanya berpura-pura di depan wanita itu tadi. Jadi, jangan berpikir lebih!" ucap Nyonya Felly sambil menyesap teh yang tadi disuguhkan oleh Indah.
Indah tersenyum miris, ada rasa getir dalam dada. "Saya tahu, Nyonya!" ucap Indah lalu menunduk hormat. "Jangan khawatir, saya cukup bisa membawa diri saya, dan saya tahu bagaimana harus menempatkan diri!" lanjut Indah, yang kemudian disesalinya.
Dia merasa telah terlalu banyak bicara dan terlalu lancang. Seharusnya dia hanya cukup menjawab 'iya'. Tak perlu bicara sebanyak itu. Apakah lidahnya baru saja keseleo?
Akan tetapi, demi mengingat ucapan Nyonya Felly beberapa waktu yang lalu, Indah merasa nampaknya dia memang perlu mengucapkan itu agar sang Nyonya tidak merasa salah paham padanya.
"Kalau begitu, saya undur diri dulu, Nyonya. Saya masih harus melanjutkan pekerjaan saya!" ucap Indah lagi sambil menunduk hormat, lalu kembali membalikkan badannya dan berjalan menuju ke arah bagian belakang.
"Kenapa sih, dia?" Nyonya Felly mengernyit heran. Dia merasa agak aneh dengan sikap Indah belakangan ini. Indah memang ceria seperti biasa, tetapi terkesan jelas jika Indah sangat menjaga jarak di antara mereka, berbicara seperlunya dan hanya menjawab ketika ditanya.
Tinggalkan sejenak situasi di rumah Rama. Kita beralih ke rumah Tuan Handoko.
"Ingat, Jerry, nanti malam kita akan menghadiri undangan makan malam di kediaman Tuan Hartawan, jadi usahakan kau pulang tepat waktu!" peringat Tuan Handoko ketika Jerry hendak pergi.
Mumpung akhir pekan dan dia tak harus membantu ayahnya di perusahaan, rencananya Jerry ingin melanjutkan pencarian Indah.
"Sudah aku katakan berapa kali, Pa?? Aku menolak perjodohan ini. Aku tidak suka dengan Nona Mia yang manja itu!" Jerry berbalik dan berteriak menjawab ucapan papanya. Hatinya merasa geram. Kapan papanya itu memahami perasaannya, bahwa dia memiliki pilihan sendiri untuk teman hidupnya?
"Kau tidak bisa menolak perintah Papa. Atau Papa akan benar-benar mencabut semua fasilitasmu!"
Lagi dan lagi, Tuan Handoko mengeluarkan ancaman, dan itu membuat Jerry lama-lama menjadi muak. Sedikit-sedikit fasilitas, sedikit-sedikit harta. Kali ini, Jerry tak akan menjadi lemah. Dia yakin dia tetap akan bisa hidup meskipun tanpa harta ayahnya. Dia akan berusaha mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.
Jerry mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kembali.
"Apa ini keputusan Papa?!" tanyanya.
"Iya, dan Papa serius dengan apa pun yang Papa ucapkan!" Tuan Handoko tersenyum tipis. Dia tahu Jerry, putranya itu, tak akan mungkin bisa hidup tanpa fasilitas darinya.
"Baiklah, jika itu keputusan Papa!" Jerry menatap papanya, lalu berjalan kembali ke meja makan di mana papanya masih duduk di sana. Sekarang, Tuan Handoko benar-benar bisa tersenyum lebar.
"Bagus! Papa tahu kalau kamu memang anak Papa yang hebat!" ucapnya.
Tetapi, keningnya mengerut ketika Jerry merogoh sesuatu dari saku celananya, kemudian meletakkannya di meja. Tuan Handoko melihatnya: itu kunci mobil yang selama ini dikendarai oleh Jerry.
"Maka, aku juga punya keputusan untuk hidupku!" ucap Jerry. Kemudian, dia juga mulai melepas jam tangan mewahnya dan meletakkannya bersama dengan tadi dia meletakkan kunci mobil.
"Apa maksudmu...?" bentak Tuan Handoko. Dia mulai gusar dengan yang dilakukan oleh anaknya.
"Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya melaksanakan keinginan Papa!" ucap Jerry datar. Dia juga meletakkan dompet kulitnya di sana. Tuan Handoko terus menatapnya tajam. Berikutnya, Jerry melepaskan tas yang semula melilit pinggangnya dan meletakkannya juga di tempat barang-barang yang sebelumnya.
"Ini kan yang Papa inginkan?!" ucap Jerry masih sambil melepas semua aksesoris yang menempel di tubuhnya. "Saya akan melepas semua sesuai dengan keinginan Anda, Tuan Handoko yang terhormat!" ucap Jerry lagi.
"Hei, anak sialan! Bukan itu maksud Papa. Papa hanya ingin kamu menyetujui perjodohan ini!" bentak Tuan Handoko. Hatinya mulai ketar-ketir. Jika Jerry benar-benar melepas semuanya dan mencari Indah, lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana nasib perusahaannya?
"Sial, aku sudah tidak bisa mengancam anak ini lagi. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja, atau aku juga akan menjadi gembel di jalanan!" batinnya. Dia terus berpikir dan berpikir apa yang harus dia lakukan untuk mencegah Jerry pergi.
"Aku tidak bisa. Aku punya pilihan sendiri untuk hidupku. Terima kasih atas semua kemewahan yang selama ini Papa berikan. Tetapi maaf, aku tidak bisa menuruti keinginan Papa!" ucap Jerry setelah yang melekat di tubuhnya tinggal celana dan kaosnya saja, karena bahkan jaketnya juga sudah dia lepas.
"Selamat tinggal, Papa!" Jerry segera berbalik dan melangkah pergi.
Akan tetapi, belum sampai langkahnya mencapai pintu keluar...
"Aaaaa... Sakittt..." Tuan Handoko meringis sambil memegangi dadanya, lalu jatuh tergeletak di lantai.
"Ya Tuhan, Tuan!" Seorang pelayan yang sedang membereskan meja makan, berteriak panik, melihat majikannya terjungkal dari kursi yang didudukinya.
"Tolong... Tuan besar pingsan, tolong!" teriak pelayan itu lagi.
"Papa!!" Jerry yang baru saja hendak membuka pintu terkejut mendengar teriakan pelayan, lantas otomatis berbalik arah dan berlari ke tempat semula, di mana dia berdebat dengan papanya.
"Apa yang terjadi?!" tanya Jerry begitu dia sampai ke tempat semula. Tampak pelayan sedang mengguncang tubuh papanya.
"Saya tidak tahu, Tuan Muda. Beliau meringis kesakitan sambil memegang dadanya, lalu tiba-tiba saja beliau terjatuh!" jawab pelayan memberikan keterangan sesuai yang dilihatnya.
"Cepat hubungi Om Soni!" perintah Jerry, lalu berusaha untuk mengangkat tubuh ayahnya dan membawanya ke kamar ayahnya.
"Baik, Tuan Muda!" jawab pelayan. Om Soni yang dimaksud Jerry adalah dokter pribadi keluarga itu.
Tidak berapa lama, Dokter Soni tiba dan segera mengecek kondisi Tuan Handoko.
"Bisa kau tunggu di luar, Om butuh pemeriksaan menyeluruh!" kata Dokter Soni pada Jerry yang pada saat itu sedang berdiri cemas di samping ranjang.
"Baiklah, aku akan keluar! Panggil aku jika butuh sesuatu. Aku di depan pintu!" jawab Jerry. Bahkan di rumah sakit pun seperti itu memang prosedurnya, keluarga pasien diharuskan menunggu di luar pada saat pemeriksaan.
Tuan Handoko langsung membuka matanya begitu tahu Jerry sudah berada di luar, membuat Dokter Soni terbelalak dan nyaris berteriak jika mulutnya tak segera dibekap oleh Tuan Handoko.
"Katakan sesuatu padanya agar dia menuruti perkataanku!" bisik Tuan Handoko karena takut terdengar oleh Jerry yang sedang menunggu di luar.
"Apa ini masih tentang Putri Hartawan?!" Dokter Soni menyelidik, yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Tuan Handoko.
Dokter Soni menghembuskan napasnya kasar. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran saudaranya itu. Sayangnya, meskipun begitu dia hanya bisa menjawab, "Baiklah!!"
keselek biji kedondong gak tuh/Smug//Smug/
In Syaa Allaah segala urusannya di lancarkan Moms.. sehat wal'afiat terus ttp semangat.. Love you bbyk² buat Momsay sekeluarga.. 😘😘😘💪🏻💪🏻💪🏻🥰🥰🥰