Awalnya, pernikahan itu baik-baik saja. Semua menjadi hangat, luka akibat masa lalu Ainayya Hikari Salvina sedikit demi sedikit mulai sembuh.
Tapi, pernikahan hangat itu tiba-tiba diterpa gelombang. Menghancurkan sebuah kepercayaan dan membuatnya meninggalkan rumah yang sudah mengajarkan arti sebuah keluarga harmonis.
Lalu, mampukah Albara Demian Dominic. Sang pelaku kehancuran tersebut memperbaiki rumah tangga yang sudah membuatnya sembuh dari kejadian di masa lalu? Bisakah Albara mengobati luka yang ia berikan pada istrinya?
Mari kita lihat bagaimana perjalanan Albara dalam mengejar cinta istrinya kembali!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa sitepu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ziarah (Revisi)
Sesuai perkataan semalam, Bara benar-benar mengunjungi makan ibu mertuanya. Ia juga sudah menyiapkan proses pemindahan jenazah ke tempat pemakaman yang baik, Bara tidak tanggung-tanggung dalam bekerja. Ia sudah menyiapkan semuanya hingga lahan yang mewah namun tidak perlu ia sebutkan tempatnya.
"Kakak mau pergi kemana?"
Pagi ini, Nayya di buat heran dengan aktivitas suaminya. Jika ke kantor, mungkin ia paham, tapi hati ini Bara berbeda. Bahkan tidak menggunakan pakaian kerja, ia juga juga meminta beberapa orang termasuk Albert ikut.
"Kita akan pergi berziarah, kau harus bersiap-siap."
Nayya terkejut, ia tidak menduga jika suaminya benar-benar melakukan ziarah hari ini juga. Ia berfikir mereka akan pergi dalam minggu ini tapi tidak tahu kapan.
"Tapi Kakak masih banyak pekerjaan, Nayya tidak ingin membuat Kakak repot. Kita bisa pergi saat pekerjaan Kakak sudah selesai."
"Pekerjaan ku akan selalu ada, lagi pula. Hari ini aku sudah menyiapkan sesuatu untuk mu. Jadi kau ikut saja, tidak ada penolakan apalagi merasa tidak enak. Sekarang ganti pakaian mu, aku akan menunggu di ruang tamu."
Kepergiaan Bara membuat Nayya terdiam sejenak, namun ia tetap melakukan apa yang di minta. Memakai pakaian tertutup dengan rok panjang serta kemeja pantang lalu memakai kain penutup. Nayya akhinya turun ke lantai bawah.
"Apa tidak ada lagi yang tertinggal?"
"Tidak, Kak."
Mereka akhirnya bisa pergi dengan tenang, Bara juga tidak banyak berbicara. Ini kali pertama Nayya duduk di mobil yang sama dengan Bara, membuat jantungnya berdetak tidak menentu. Selayaknya seorang remaja yang baru pertama kali berdekatan dengan pria idamannya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka akhirnya sampai. Nayya juga langsung mengajak suaminya menuju makan sang bunda yang kini tenggelam akibat rumput ilalang. Bahkan tidak ada batu nisan seperti yang ada di makan orang lain di sana.
"Biarkan Nayya cabut rumputnya sebelum kita ziarah, Kak."
Seolah-olah sudah terbiasa dengan kondisi makan, Nayya tidak menampilkan wajah sedih. Ia bahkan dengan senang hati berjongkok lalu mencabuti rumput yang sudah panjang tersebut. Untungya makan tersebut ada di bawah pohon yang rindng sehingga setiap kali ingin berziarah Nayya tidak pernah kepanasan,
"Apa yang Kakak lakukan?" Nayya terkejut saat melihat suaminya ikut berjongkok di sampingnya lalu mulai menjabuti rumput yang menutupi makan sang ibu mertua.
"Aku tidak ingin dicap sebagai suami tidak berperasaan oleh ibu mertua. Jadi aku harus menunjukan bahwa aku menantu idaman." Meskipun sedikit sulit dan merasa tidak nyamn dengan aktivitsnya, Tapi tetap saja, Bara melakukannya dengan iklas.
"Kakak seharusnya membiarkan Nayya saja yang melakukannya."
"Jangan cerewet, lakukan saja apa yang sedang kita kerjakan. Jangan ganggu aku."
Albert yang melihat tindakan tuan mudanya hanya bisa menggelengkan kepala, ia dan beberapa penjaga juga ikut membersihkan makan ibu Nayya. Hingga semuanya selesai, dan terlihatkan tanah yang sudah rata dengan nisan batu tertulis nama sang pemilik.
"Bunda, Nayya datang. Kali ini NAyya ziarah bersama Kak Bara. Bunda pasti tahu siapa Kak Bara, Kan."
Nayya mengelus batu yang ada nama ibunya, ia berusaha menahan air matanya karena tidak ingin membuat Bara merasa tidak nyaman akibat air mata.
"Halo, ibu mertua. Tolong restui kami dan bantu aku menjaga Nayya," bisik Bara tanpa ada satu pun yang mendengarnya. "Aku berharap kau bersedia memberikan ku kesempatan mengganti semua yang pernah ku lakukan di masa lalu," bisikan itu hanya Bara dan Tuhan saja yang tahu, Nayya yang ada di sampingnya bahkan tidak mendengar karena tengah sibuk mengenang masa lalu bersama bundanya.
Selesai berdoa, Bara meminta Nayya berdiri lalu Albert memerintahkan 4 orang perjaga yang mereka bawa membongkar makan. Membuat Nayya terkejut dan menatap wajah suaminya, dengan ekspresi bingung.
"Sebagai tanda bakti ku pada ibu mertua, aku akan memindahkannya ke tempat yang layak. Kau tidak perlu merasa tidak enak, seharusnya aku sudah melakukannya dari jauh hari."
Pada akhirnya, air mata yang sudah Nayya tahan kini mengelir dengan bebas. Membuat Bara memeluk istrunya, ia tahu bahwa Nayya tengah terharu karena dirinya bersedia mewujudkan impian yang sudah lama ia buat.
Pembongkaran makan tersebut juga di saksikan oleh banyak orang, termasuk sang penjaga makan. Namun mereka tidak berani mendekat karena Bara bukan pria yang mudah di ajak bicara. Mereka juga melihat penampulan Bara dengan kaca mata serta masker, bergitu juga dengen Nayya.
Hal itu sengaja ia lakukan agar tidak menarik perhatian, lagi pula. Makan tersebut tidak pernah dibersihkan, bahkan yidak ada yang tahu jika si sana ada sebuah makan.
"Semoga setelah ini, bunda bisa beristirahat dengan tenang. Dan Nayya bisa sering ziarah ke tempat baru bunda, pasti sekarang bunda sedang tersenyum karena kini Nayya sudah ada yang jaga. Doakan kak Bara agar selalu di lindungi sama Tuhan, ya bunda." Itu adalah doa tulus dari Nayya ketika sedang menyaksikan pembongkaran makan serta pengangkatan tubuh sang bunda yang tidak lagi utuh.
"Langsung antarkan jenazahnya, aku dan Nayya akan menyusul."
"Baik, Tuan."
Kempat pejaga langsung membawa jenazah ibu Nayya yang sudah di letakan di dalam peti, mereka membawanya kelahan makan yang telah Bara siapkan dengan mobil yang berbeda. Sedangkan Albert, ia menjadi supir pribadi Bara dan Nayya menuju lahan makan yang baru tersebut.
Sekarang, Nayya sudah tidak lagi perlu mencabut rumput ketika ingin berziarah. Bahkan tidak lagi perlu menyiram makan tanpa adanya bunga. Kini, sang bunda akan tidur di tempat yang lebih layak, memudahkan Nayya berkunjung setiap kali rindu.