Harap bijak memilih bacaan, karena terdapat beberapa episode yang bisa mencemari kesucian otak reader.. 🤭🤭
Sadewa, nama pria dengan ketampanan dan kemapanan yang melekat erat di tubuhnya, sibuk meraih kesuksesan, membuatnya lupa bagaimana menggapai kesuksesan cinta. Karena di umurnya yang sudah 35 tahun, dia masih betah melajang, dan hal itu membuat Sadra, Sang Ibu khawatir.
Beda cerita dengan Ruby. Untukmembalas rasa terimakasihnya karena telah ditolong untuk biaya operasi adiknya, Ruby bersedia menerima tawaran Sandra sang pemilik butik tempatnya bekerja untuk dijadikannya menantu.
Tapi tidak dengan Sadewa, pria arogan itu sangat menentang keras perjodohan yang orang tuanya buat untuknya.
"Jika aku menikahi dia, itu sama saja seperti menanam benih kualitas premium miliku di Ladang gersang!" Sadewa.
"Jangan terlalu arogan Tuan Muda. Buktikan saja jika benih kualitas premium yang kamu bangga-banggakan itu bisa tumbuh di Ladangku!" Ruby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku bukanlah seorang gay
Walaupun mereka belum pernah berhubungan layaknya suami-istri pada umumnya tapi Ruby tetap melakukan tugas-tugas seorang istri pada umumnya, selain memasak tentunya, karena Dewa akan selalu memasak makan malam untuk mereka setiap harinya, siang hari Dewa akan memesankan makan siang untuk Ruby dari restoran yang dekat dengan apartemen mereka. Setiap harinya Ruby disibukkan dengan membersihkan rumah, mencuci, menata ulang ruangan apartemen, merapikan baju, dan yang pasti dia selalu menjaga kerapian kamar tidur mereka. Dia akan marah jika Dewa meletakkan barang-barang tidak pada tempatnya, seperti sekarang ini.
"Sepatu!" ucap Ruby sambil mengambil jas dan tas kerja dari tangan suaminya, karena bila tidak Ruby yang ambil kedua benda itu akan disimpan di tempat yang tak semestinya oleh si pemilik.
Mendengar ucapan istrinya Dewa langsung merapikan letak sepatunya di rak sepatu yang memang ada di depan pintu masuk.
"Mengapa dia lebih cerewet daripada si Marimar?" Batin Dewa saat melewati istrinya menuju dapur.
"Minum air hangat lebih baik untuk jantung!"
Dewa langsung menutup lemari pendingin saat ucapan Ruby kembali terdengar dan langsung mengambil air hangat dari dispenser.
"Aku sudah mengisi bak mandi dengan air hangat. Cepat mandi keburu airnya dingin! Dan simpan pakaian kotormu di keranjang baju kotor!"
Dewa yang baru saja akan merebahkan tubuhnya di sofa langsung kembali bangun dan beranjak menuju kamar mandinya.
Fiuuuhhh. Dia membuang nafas dengan kasar.
Ruby benar-benar tahu apa yang ia butuhkan. Rasa lelah di tubuhnya karena seharian bekerja seperti luruh saat tubuh kekar miliknya masuk ke dalam bathtub yang telah terisi air hangat yang istrinya sediakan. Ditambah dengan lilin aroma terapi lavender yang Ruby nyalakan di tepi bathup semakin membuat otak Dewa merasa rileks.
Walaupun Si Angkuh Dewa tak pernah mengucapkan rasa terima kasihnya, tapi tak bisa dipungkiri Ruby banyak membawakan perubahan dalam hidupnya di hampir sebulan pernikahan mereka ini.
Seperti itulah mereka setiap harinya, walau tak jarang perdebatan sering terjadi di apartemen itu, yang seringnya karena ulah Dewa yang selalu asal dalam menyimpan barang-barang hingga membuat Ruby kesal.
•
•
•
•
•
Malam itu tak biasanya terbangun dari tidurnya untuk buang air kecil. Dilihatnya suami masih terjaga dan seperti tidak ada tanda-tanda dia akan terlelap, karena Dewa masih fokus pada film yang sedang ia tonton.
"Kamu belum tidur juga?" tanya Ruby saat ia kembali dari toilet.
"Hmmmm," jawab Dewa yang masih fokus pada tontonannya, karena sejak dia memilih untuk menjadi guling Ruby, Dewa memasang satu televisi lagi di kamar tidur mereka.
Dilihatnya jam dari ponsel baru miliknya, sudah pukul 02.00 dini hari. Sudah lebih dari larut.
"Ini sudah sangat larut, bahkan hampir pagi. Bukannya kamu harus kerja besok?" Pertanyaan Ruby seperti menghakimi Dewa.
"Setiap hari aku seperti ini, aku akan tidur sekitar jam 3 atau jam 4 pagi." Dewa cuek.
Ruby terkejut mendengar jawaban suaminya, dia memang selalu tidur lebih awal dari Dewa, jadi dia tidak pernah tau kapan Dewa mulai terlelap. Tapi dia tidak menyangka jika Dewa selama ini selalu terjaga dalam pelukannya.
Ruby langsung mengambil remot TV dan mematikannya.
"Apa yang kamu lakukan? Filmnya belum beres!" Bentak Dewa.
"Kamu bisa sakit jika seperti ini terus. Kamu harus cukup istirahat, bukankah kamu lebih banyak menggunakan otakmu untuk bekerja di siang hari? Jadi berilah dia cukup istirahat." Ruby tak kalah sewot.
"Sepertinya selama aku terlalu baik kepadamu. Kamu jadi seperti istri cerewet pada umumnya. Aku sudah lama seperti ini dan aku tidak pernah terganggu karenanya. Jadi jangan urusi masalah pribadiku. Urusannya saja urusanmu sendiri!" Dewa tersulut emosi.
"Aku hanya khawatir. Apa salahnya aku khawatir pada sesama manusia? Apalagi kamu itu suamiku." Ruby tak kalah emosi. "Aku hanya kasihan pada otakmu. Mungkin saja karena kebiasaanmu seperti ini setiap malamnya kamu jadi sulit terangsang. Semua orang bilang bahwa aku cantik, tubuhku bagus, tapi aku aneh kenapa kamu tidak pernah terpancing setiap kali aku merayumu. Jika bukan karena kamu sulit terangsang, apa mungkin kamu seorang—" Ruby yang baru menyadari ucapannya langsung mundur beberapa langkah dari suaminya.
"Apa? Aku kenapa?" Dewa bingung.
"Kamu bukan pria penyuka sesama jenis kan?" Ruby begitu berhati-hati saat mengucapkannya.
Dewa semakin emosi mendengar ucapan istrinya yang menuduhnya adalah pria punya sesama jenis.
"Jaga ucapanmu!" Dewa bangkit dari tempat tidurnya dengan wajah penuh emosi. Ruby seperti telah menjatuhkan harga dirinya.
"Jadi benar, kalo kamu adalah seorang ga—"
Dewa memotong ucapan Ruby, sebelum dia beres mengatakan kata 'gay'.
"Sudah kubilang jaga ucapanmu! Aku tidak seperti yang kamu tuduhkan." Dewa semakin emosi.
"Jangan mendekat! Kamu menjijikkan." Ruby yang masih berpegang teguh pada opininya langsung mundur saat Dewa mulai mendekatinya.
"Cukup Ruby, buang pikiran ngawurmu itu!"
"Apa yang ngawur, semua sudah jelas sekarang. Aku sekarang bisa mengerti kenapa kamu tidak pernah menyentuhku. Karena nafsumu memang bukan untuk lawan jenismu. Dasar menjijikkan." Ruby memandang suaminya dengan tatapan jijik.
Kesal karena Ruby terus saja memojokkannya Dewa menarik tengkuk istrinya dan mendaratkan ciuman kepada Ruby, ciuman untuk membuktikan jika dirinya bukanlah gay.
Ruby meronta, dia yang masih menganggap Dewa adalah seorang penyuka sesama jenis berusaha melepaskan ciuman Dewa karena jijik.
"Jangan berani-berani menyentuhku!" Ruby benar-benar marah dia berbicara sambil mengelap bibirnya dengan lengan piyamanya.
"Ciuman itu tidak akan pernah membuktikan jika kamu adalah pria normal." Ruby mendorong dada suaminya.
Dewa semakin marah mendengar ucapan istrinya, dia menarik tubuh Ruby dan menghempaskannya ke atas ranjang, menghimpit tubuh mungil istrinya dengan kedua kakinya dan kembali mencium bibir Ruby untuk membuktikan jika dirinya tidak seperti yang Ruby sangka. Tapi entah mengapa ada perasaan aneh yang begitu mendebarkan dadanya, Dewa seperti ingin terus meng*lum bibir ranum itu bahkan sekarang lidahnya ikut bermain dan mengabsen setiap sudut mulut Ruby.
Ini gila!
Aku tidak bisa lepas dari dari bibirnya.
Dewa semakin liar, ******n-lum*tan lembutnya kini berubah menjadi ciuman panas yang begitu menggairahkan, Ruby yang tadinya hanya diam saja bahkan meronta agar bisa lepas dari himpitan tubuh Dewa akhirnya ikut terpancing untuk membalas ciuman panas suaminya yang tiba-tiba saja menggila, bahkan dia menekan tengkuk suami seperti menginginkannya Dewa memperdalam lumatannya.
Ini ciuman pertama mereka, juga ciuman pertama bagi Dewa, karena selama ini tak ada seorang wanita pun yang bisa menyentuh tubuhnya.
Melihat respon istrinya yang ikut dalam permainannya Dewa semakin liar bahkan kali ini menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Kini bibirnya berpindah ke leher, menjilat, dan menyesap apa yang ia inginkan, hingga akhirnya bibir itu berakhir di dada Ruby, membuat tubuh Ruby terus menggeliat saat menerima respon rangsangan suaminya.
Dengan mata terpejam Ruby menggigit bibir bawahnya, menahan desahan yang ditimbulkan dari setiap sentuhan Dewa.
"Dewaaaa! Aaaaaahh." Akhirnya Ruby mengeluarkan suara erotisnya saat suaminya menguasai kedua buah dadanya dengan p*ting yang sudah mengeras sempurna karena ransangan yang suaminya berikan.
Ruby merasakan tubuhnya semakin tidak karuan. Dia yang berada di bawah kungkungan Dewa bergairah dengan deru nafas yang tersenggal-senggal sedangkan tangannya sedikit menjambak rambut suaminya sambil menekan kepala Dewa yang sedang meng*lum buah dadanya seolah memberitahu jika dia memang menginginkan hal itu.
Ruby terus memanggil nama suaminya dan mengeluarkan desahan-desahan kecil dengan mata yang terus terpejam karena begitu menikmati sentuhan liar Dewa.
Tapi entah mengapa beberapa saat kemudian tiba-tiba saja Ruby tak merasakan sentuhan suaminya lagi, hingga akhirnya Ruby membuka matanya. Dilihatnya Dewa sedang menatap wajahnya dengan tatapan yang tak bisa Ruby artikan.
"Apa itu bisa membuktikan bahwa aku bukanlah seorang gay?" Bisik Dewa sambil menggigit lembut telinga Ruby.
"Apa?" Ruby dibuat terkejut mendengar ucapan Dewa.
Kemudian Dewa turun dari tubuh istri dengan kondisi piyamanya yang sudah terbuka dan pergi meninggalkan Ruby yang masih terkejut dengan tindakan yang ia lakukan tadi.
Heleh Dewaaaaaa…
Nanggung itu, hadoooohh… 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
Kagak takut diserbu netijen apa ya?
Kentang deh Ruby… 😏😏😏
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣