Rivaldo Xendrick yang mengalami cacat fisik akibat terkena siraman air keras dari selingkuhan kekasihnya yang bernama Lucas Anderson.
Kecacatan fisik itu, membuat hidupnya menderita dan dicampakkan oleh semua orang. Banyak orang yang menjauh darinya karena menganggap bahwa Rivaldo sebagai monster yang menakutkan. Hidup menggelandang tanpa siapapun yang peduli akan hidupnya, sampailah suatu hari, ada seorang wanita yang suka rela merawat dirinya dengan tulus.
Bagaimana kehidupan Rivaldo setelah itu? Akankah ia bisa bangkit kembali dari keterpurukannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liska Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Seorang Bos Mafia : Episode 21
Awal kedekatan.
Denisa menatap pria yang kini ada di hadapannya dengan dalam, sepertinya pria itu tampak trauma. Ya, mungkin banyak orang yang menjauhi dirinya, sehingga membuat diri pria itu menjadi trauma. Denisa pun mengatakan dengan jujur kepada dirinya sendiri. Bahwa ia, merasa sedikit kurang nyaman, ketika melihat luka di wajah pria itu, kini tengah hampir membusuk.
Jika tak diobati dengan segera, mungkin luka itu akan membusuk, dan mengeluarkan beberapa ulat kecil seperti belatung. Denisa tak bisa membayangkan jika hal itu terjadi. Ia mengajak pria itu untuk duduk di seberangan jalan itu, terdapat taman.
“Mas, kita ke sana aja, biar enak ngobrolnya,” ujar Denisa sambil menunjuk arah taman dengan jari telunjuknya.
Rivaldo menatap seberangan jalan itu dengan sebelah matanya, di sana cukup ramai membuatnya sedikit merasa kurang nyaman dan kurang percaya diri untuk mengikuti apa yang dipinta wanita itu.
“Tidak bisakah di tempat lain, Mbak?” Rivaldo bertanya tanpa menatap wajah wanita itu, yang kini tengah berdiri di sampingnya.
“Kenapa harus tempat lain, Mas? Di sana tidak terlalu ramai, kok. Mas jangan malu, yah. Mas harus ingat, setiap manusia, punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Anggap saja, apa yang telah menimpa diri Mas adalah sebuah petunjuk. Pastinya, dibalik semua kejadian yang Mas alami, pasti ada hikmah yang dapat Mas ambil,” gadis itu berkata dengan tegas. Tutur kalimatnya membuat Rivaldo menjadi tidak enak hati, wanita ini terlalu berfikir dewasa dan tidak kekanak-kanakan, seperti mantan kekasihnya, Viona.
“Anda bersikap seperti layaknya orang dewasa, Anda memiliki jiwa yang mandiri, baiklah, terima kasih telah menyamangati saya, Mbak,” Rivaldo mengembangkan senyuman di wajahnya. Tetapi Nisa, hanya bisa melihat senyuman itu hanya setengah. Meskipun begitu, ia menatap dengan tatapan tidak biasa. Pria ini, begitu tampan. Meski wajahnya telah hancur separuh
“Mas ... Tua itu pasti, dewasa itu tidak pasti, banyak diluar sana yang berusia tua, tetapi pola pikirannya masih kekanak-kanakan.” Denisa mengatakan dengan tegas, Rivaldo pun tertegun mendengarnya. Perempuan ini, memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi dirinya. Ternyata, masih ada wanita yang bersikap dewasa seperti ini. Pikirnya.
Mereka meninggalkan rumah kosong itu dan berjalan menyeberangi jalan raya. Rivaldo masih menutupi wajahnya dengan satu telapak tangan, ia tidak ingin membuat gadis yang ada di sampingnya menjadi takut, jika berdekatan dengan dirinya.
Denisa mendudukan dirinya di kursi taman, jarak mereka tidak terlalu jauh, dan tidak terlalu dekat. Denisa menarik nafas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.
“Mas, boleh saya tanya?” Nisa memastikan kembali.
“Tentu, silakan, saya akan menjawab, apa yang pantas untuk dijawab,” Rivalo memejamkan bola matanya, menikmati setiap embusan angin setelah hujan. Terasa tenang, dan adem dinikmati.
“Kalau Nisa boleh tahu, wajah Mas terkena air keras, yah?” tanya Nisa sedikit canggung, tidak seharusnya ia menanyakan hal ini. Tetapi, niatnya hanya ingin membantu pria itu, tidak lain dari niatnya.
“Kamu tahu dari mana?” kini nada suaranya melembut, terdengar sangat merdu di telinga Nisa.
“Yah, ‘kan, Nisa bisa bedain, kalau bukan karena air keras, terus apa dong? Gak mungkin jatuh dari motor, ‘kan, Mas? Kalaupun jatuh dari atas motor, lukanya gak gitu,” jelas Nisa dengan tertawa kecil, membuat Rivaldo tersenyum melihat Nisa yang teramat lucu baginya.
“Iya,” lirihnya dengan singkat. Membuat Nisa menghentikan tawanya, ia mengerutkan dahinya heran, kenapa pria itu kini tengah menjawab singkat?
“Maaf, Mas. Saya tidak bermaksud apa-apa, maaf. Maafiin Nisa, Mas. Ya sudah, Mas gak usah jawab apa yang ditanyakan Nisa, maaf kalau Nisa terlalu lancang.” Nisa menunduk meminta maaf. Mungkin karena pertanyaan dan candaannya yang tadi, membuat pria itu marah.
“Saya gak marah sama kamu, maaf, Nis.” lirihnya pelan, membuat Nisa menjadi sedikit salah tingkah.
“Jadi, Mas gak marah sama Nisa? Kalau boleh tahu, apa penyebab semuanya, Mas? Barangkali, Mas mau terbuka sama Nisa,” jelas Nisa dengan serius. Entahkah ia hanya ingin tahu, dan entahkah hanya pura-pura peduli. Tapi yang pasti, ia selalu ingin mencoba menghibur pria yang ada di sampingnya.
“Enggak, kok. Ini semua ... Karena kesalahanku, yang terlalu mencintai wanita bermuka dua, Nis,” jelasnya dengan nada lembut. Selembut kain sutra.
“Wanita bermuka dua? Maksudnya, Mas?” tanya Nisa heran, ia masih tidak dapat mengerti, apa yang dikatakan pria itu.
“Kesalahan terbesar pada diriku, mencintai seseorang yang tidak mencintaiku. Aku memiliki seorang kekasih bernama Viona. Tapi pada saat aku mengetahui bahwa dirinya tengah berselingkuh, aku menggerbaknya di salah satu tempat sewaan, pada saat malam itu juga. Kekasihnya menyiramkan air keras ini ke wajahku, dan lebih parahnya lagi, keluargaku sendiri membuangku,” jelas Rivaldo dengan tenang, tetapi meskipun tenang, Nisa dapat melihat jelas, banyak kesedihan di matanya.
“Tuh cewe, kok, jahat banget, Mas!” protes Nisa kesal mendengar apa yang dikatakan pria itu.
“Inilah hidup, Nis. Kalau gak diselingkuhin, ya nyelingkuhin,” kekeh Rivaldo tertawa kecil, melihat Nisa protes.
“Ya sudah, Mas tinggal di mana? Itu lukanya harus segera diobati, jika tidak, akan berdampak infeksi, kasihan kulitnya nanti jika telah membusuk, akan banyak ulat di sana,” jelas Nisa dengan serius sambil menunjuk wajah Rivaldo yang setengah membusuk tersebut.
“Jangankan untuk tempat tinggal, untuk makan saja, sudah susah, Nis.” Jawab Rivaldo tersenyum kaku, Nisa bisa melihat dengan jelas, begitu banyak beban hidup yang ditampungnya kini.
Denisa menarik nafasnya panjang lalu mengembuskan nafasnya dengan kasar. Ia berpikir, ternyata masih ada keluarga yang rela mengusir anaknya sendiri di rumah miliknya. Sungguh tega.
“Ya sudah, Mas. Nisa saranin, gimana kalau Mas tinggal sama Nisa dahulu, sampai Mas punya pekerjaan dan punya rumah sendiri,” tawar Nisa serius menatap wajah pria itu.
“Ti ... Tinggal sama kamu? Da ... Dalam satu atap?” tanya Rivaldo dengan gugup. Akankah ia satu rumah bersama gadis yang mencoba menghiburnya dari tadi?
“Iya, aku akan merawat luka yang ada di wajah Mas, sampai menghilang, ayo!” ajak Nisa dengan serius. Ia beranjak dari kursinya dan menarik lengan pria itu dengan pelan.
Tanpa disadari, pria itu tersenyum melihat gadis selucu Nisa ini. Gadis ini seperti memiliki keunikan dan kelangkahan yang sangat jarang ditemui pada wanita manapun. Rivaldo merasa tertarik dengan wanita ini.
Rivaldo mengekor, mengikuti langkah kaki Nisa yang ada di hadapannya. Ia bersyukur, masih ada orang baik, seperti gadis ini. Akan sangat ditemui wanita seperti Denisa.
Mungkin ini adalah takdir, yang telah tergaris untuknya. Viona menunjukan sifat aslinya, karena memang wanita ular itu tidak pantas untuk mendampingi dirinya. Akankah takdir yang telah tergaris untuknya, adalah Nisa? Pikirnya bertanya-tanya.
Kala bener Rivaldo seorang Mafia, dia akan menugaskan anak buah nya utk membuntuti dan melaporkan setiap gerak gerik nya Viona, melaporkan segala rencana buruknya...
Tapi Rivaldo bukan Mafia, cuma pedagang senjata aja...