Riky harus merelakan cintanya yang diam-diam ia pendam hanya karena kesalahpahaman yang terjadi. Ia harus menikahi seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenali.
Aisyah wanita malang, korban tabrak lari yang berhasil disekamatkan oleh Riky pada malam itu. Riky terpaksa menikahi Aisyah dan mengubur cintanya kepada Tita, gadis yang selama ini ia kagumi dan ia cintai secara diam-diam.
Tita pun menerima pinangan Raja. Mereka sama-sama memiliki pasangan. Namun jodoh tidak ada yang tahu. Tuhan mempersatukan mereka, saat keduanya sudah sama-sama tidak memiliki pasangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian
Rombongan jama'ah umroh tekah sampai di tanah kelahiran. Masing-masing dari keluarga mereka menjemput ke bandara. Termasuk keluarga Tita. Pak Ferdi dan Bu Ratna menjemput Tita dengan supir mereka. Sementara mobil Tristan membawa kedua mertuanya. Dan Salman dijemput oleh istri dan supirnya sendiri. Mereka pulang ke rumah masing-masing.
Bu Ratna dan Pak Ferdi senang melihat wajah Tita yang ceria. Ia yakin putrinya sudah bisa melupakan masalahnya.
"Apa rencanamu setelah ini Ta?" Tanya,Pak Ferdi.
"Belum kepikiran Bi."
Tita membongkar oleh-oleh yang ia beli di tanah suci dan di Turki. Ia membeli banyak sekali oleh-oleh untuk keluarganya. Terutama untuk keponakan-keponakannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Ternyata Tristan datang bersama anak dan istrinya. Setelah mengantar mertuanya ia langsung menuju rumah orang tuanya.
"Ammi... mana oleh-oleh buat Ira dan Adik-adik?"
"Ya ampun... keponakan Ami udah pada datang! Sini-sini, Ammi punya banyak oleh-oleh untuk kalian."
Tita membagi beberapa coklat, mainan, bahkan baju untuk mereka. Khumairah nampak senang. Gadis kelas dua SD itu saat ini membagikan coklatnya kepada ketiga adik kembarnya. Karena kedua adiknya yang lain masih bayi, mereka hanya mendapat mainan dan baju.
Selesai membongkar dan membagikan oleh-olehnya, Tita pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Tristan dan keluarga kecilnya itu pun berpamitan pulang.
Di Mesir
Ricky baru saja sampai di apartemennya. Namun dia dikagetkan dengan adanya tiga orang laki-laki tinggi besar di depan pintu apartemennya. Dan salah satunya adalah Aqil.
"Itu dia!" Tunjuk Aqil.
Kedua laki-laki yang lain itu langsung memegangi tangan Ricky.
"Kamu sudah berani berbohong! Sekarang katakan, mana Aisyah hah? Apa kamu sudah menjualnya?"Aqil menarik kerah baju Ricky.
"Aku bukan orang bejad sepertimu!"
Plak
Aqil menampar pipi Ricky.
"Oh ya? Lalu Aisyah kamu buang ke mana?"
"Haha... dia bukan sampah! Dia wanita yang harus dilindungi. Dan saat ini dia sudah aman bersama orang yang tepat. Bang Aqil tidak perlu mencari Aisyah lagi!"
"Kalau begitu beri aku uang 100 pound lagi!"
"Kamu mau memerasku!" Tantang Ricky.
"Pukul dia!" Perintah Aqil kepada kedua laki-laki tersebut.
"Berhenti...." Dua satpam datang.
"Ayo pergi!" Dan ketiga orang tersebut lari.
"Tuan Ricky apa anda tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa Pak."
"Maafkan kami datang terlambat."
"Lain kali tolong jangan biarkan orang seperti dia masik ke lingkungan apartemen Pak!"
"Baik Tuan, kami akan lebih teliti lagi.
Beruntung mereka terekam CCTV sehingga Ricky bisa diselamatkan. Ricky merasakan kebas di pipinya. Ia pun mengompres sendiri pipinya. Entah kenapa Ricky iseng merekam dirinya saat mengompres pipinya dan mengirimkannya kepada Tita. Kebetulan di Indonesia sudah jam 12 malam.
Tita terbangun karena ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Ia iseng membuka handphone-nya. Ada beberapa pesan dari teman sekolahnya. Namun ia lebih fokus melihat pesan dari Ricky. Ia pun membukanya dan memutar vidio yang Ricky kirim.
"Astaga... kenapa dengannya?"
Tita yang merasa khawatir pun, sontak langsung menekan icon panggilan kepada Ricky.
"Hallo Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Kak Ricky kenapa dengan pipimu?"
"Aku hanya kena tampar orang gila. Shh..."
"Sakit ya?"
"Lebih sakit kalau ditolak sama kamu."
"Ish... Kak Ricky aku serius."
"Kenapa kamu khawatir, hem?"
"Ya, takutnya parah."
"Cuma sedikit kebas, sebentar lagi pasti sembuh karena kamu sudah menelpon aku."
"Apa hubungannya?"
"Suaramu adalah obat. Apa lagi kalau kamu yang mengompres pipiku ini, pasti langsung sembuh."
Tita tersenyum mendengar bualan Ricky meski sebenarnya Ricky tidak membual. Tapi itu adalah apa kata hatinya.
"Ya sudah aku tutup dulu telponnya. Terima kasih atas perhatian kecilnya." Ujar Ricky. Padahal Tita yang menelpon.
"Kenapa Kak?"
"Aku takut tidak bisa mengontrol diri dan bicaraku semakin ngelantur. Kamu memang belum tidur apa terbangun?"
"Terbangun."
"Kalau bisa shalat ya, mintalah petunjuk kepada Allah. Siapa tahu kamu menemukan jawaban untuk pertanyaanku yang kemarin. Assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikum salam."
Tita tersenyum kembali. Ia pun pergi mengambil wudhu' dan shalat malam. Ia memanjatkan do'a, berserah diri dan meminta yang terbaik untuk hidupnya.
-
Keesokan harinya.
Tita kedatangan tamu beberapa teman sekolahnya. Mereka memang sengaja main karena tahu Tita baru pulang umroh. Ada Livia, Nara, dan Aini. Mereka bertiga masih bekerja dan belum ada yang menikah. Kebetulan hari ini hari minggu, jadi mereka bisa temu kangen di rumah Tita. Ketiganya berangkat terpisah. Nara dan Livia naik mobil, sedangkan Aini naik sepeda motor.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam....Ayo masuk-masuk, Tita masih sudah menunggu kalian di kamarnya.
"Apa kabar Tante?"
"Alhamdulillah sehat. Langsung masuk ke kamarnya Tita saja ya?"
"Iya Tante, terima kasih."
Mereka pun langsung menuju kamar Tita.
Tita membuka pintu kamarnya.
"Assalamu'alaikum Bu Hajjah."
"Wa'alaikum salam, aku kangen..."
Mereka melakukan ritual cipika-cipiki.
"Ayo masuk."
Tita mengeluarkan oleh-oleh seperti kurma, kismis, kacang Arab, dan air zam-zam untuk mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya kalian bisa main bareng ke sini."
"Tita, kami ikut prihatin dengan perceraianmu ya? Semoga setelah ini kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik."
"Amin... sudah jangan bicarakan masalah itu! Aku sudah ikhlas, lihatlah aku sudah seceria ini."
"Hem... berarti sudah siap membuka hati dong? Iya kan, iya kan?" Goda Aini.
"Kalau Tita mah pasti gampang dapat jodohnya. Secara nih ya, udah cantik, baik, kaya pula. Duh kita mah apa, haha..." Sahut Livia.
"Apaan sih! Jodoh rahasia Allah. Untuk saat ini aku akan menata hati terlebih dahulu."
"Bisa dong nih Kakakku daftar Ta? Siapa tahu kita bisa jadi iparan." Sahut Nara.
"Ish jangan mau Ta! Kakaknya Nara Playboy, haha....
Tita hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan mereka.
Tiba-tiba handphone Tita berdering. Ternyata Ricky yang menelponnya. Tita pun langsung mengangkatnya.
"Ssstt...." Tita mengkode teman-temannya untuk tidak ramai.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
"Selamat siang Kak, gimana udah sembuh?"
"Di sini masih pagi Tita. Iya alhamdulillah seperti yang aku katakan semalam."
"Sudah sarapan Kak?"
"Kamu nanyain gitu, aku jadi pingin sarapan bareng kamu."
"Jangan mulai deh Kak!"
"Terus kapan dong mulainya?"
"Kakak apaan sih? Aku serius nanya udah makan belum?"
"Belum, sebentar lagi. Aku mau masak mie instan."
"Jangan sering-sering makan mie instan Kak!"
"Habis gimana lagi, kan nggak ada yang masakin!"
"Makanya cari....." Tita menghentikan ucapannya.
"Cari apa? Cari istri?"
"Cari tukang masak." Jawab Tita. Secara tidak langsung sebenarnya Tita memberikan perhatian kepada Ricky.
"Tita, apa kamu belum menemukan jawaban untuk pertanyaanku?"
"Eh... Kak, udah dulu ya! Lanjut nanti lagi. Aku masih ada tamu, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Tita terpaksa menutup telponnya karena dia sadar ada ketiga temannya di situ.Ketiga teman Tita langsung mengintimidasi.
"Ayoo... siapa itu?"
"Cie cie udah ada pengganti kayaknya nih?"
"Yah... nggak jadi punya ipar Tita."
Tita hanya tersenyum menanggapi mereka.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf cuma 1 bab ya kak, beberapa hari ke depan author sibuk dengan pesanan kue jadi nulisnya slow dulu. Diusahakan up meski hanya 1bab. makasih banyak untuk supportnya kak🤗