"Tidak ada yang namanya cinta sejati di dunia ini. Kalaupun ada, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami." ~Liam
"Cinta sejati tak perlu dicari. Dia bisa menemukan takdirnya sendiri." ~Lilis.
Bagaimana ceritanya jika dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini tiba-tiba menjadi suami istri?
Penasaran? Ikuti kisahnya sekarang ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Kutunggu Jandamu.
...----------------...
Lilis terkesiap dengan kedatangan suaminya yang tiba-tiba.
"Dia siapa, Lis? Suami kamu?"
Lilis tak menggubris pertanyaan Ryan. Perempuan itu langsung membuka pintu mobil lalu buru-buru keluar menemui sang suami.
"Ay, ngapain di sini? Mau jemput Lilis, ya? Kamu kangen sama Lilis, kan?" Lilis begitu antusias. Perempuan itu berpikir jika suaminya sudah sadar dan menyesali perbuatannya yang tidak selama ini tidak peka.
"Kalian lagi ngapain tadi di dalam?" Bukannya menjawab pertanyaan Lilis, Liam malah melayangkan pertanyaan pada Lilis dengan tatapan mengintimidasi.
"Tadi? Ehm ... Lilis lagi ngobrol sama dia," jawab Lilis sambil menunjuk pada Ryan yang ikut ke luar dari mobil.
"Ngobrol? Sedekat itu?" cecar Liam tak percaya.
"Oh, itu mah nggak sengaja, Ay."
Liam mendengkus, "Nggak sengaja, tapi keliatan mesra," ujarnya mencibir, sedangkan Ryan hanya berdiri sambil bersandar di badan mobil. Lelaki itu ingin menonton drama pertengkaran rumah tangga yang sebentar lagi mungkin terjadi karena ulahnya.
"Mesra gimana? Kamu mah salah paham, ih. Lilis nggak bohong. Kalau perlu Lilis mau sumpah pocong. Tadi itu beneran nggak sengaja." Lilis mencoba menyakinkan, tetapi Liam hanya menarik salah satu sudut bibirnya sebagai ungkapan tidak percaya.
"Memangnya aku anak TK yang bisa kamu bodohi begitu aja, hah! Aku lebih percaya sama apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Lis. Aku memang bodoh yang mengira kamu itu berbeda. Aku pikir kamu itu tulus mencintai aku, tapi nyatanya semua itu palsu. Lihat yang bening dikit langsung kegatelan aja," ujar Liam yang secara tidak langsung mengakui ketampanan Ryan.
Hal itu tentu membuat Lilis geram. Kedua matanya melotot tajam dengan napas yang tersengal. Rasanya sesak mendapatkan tudingan yang begitu kejam dari mulut suaminya sendiri. Lilis memang bukan orang berpendidikan, tetapi tak pantas bagi Liam untuk mempermalukan dirinya seperti itu.
"Hei, Liam Putra Pranaja yang nggak punya perasaan. Saking nggak punya perasaannya, tega banget pake bilang istrinya itu kegatelan. Emangnya Lilis kurap, biang gatel kitu? Jahat pisan kamu, teh, nya. Kebanyakan makan sambel, ya, mulutnya jadi pedes gitu? Sekarang terserah kamu mau percaya atau nggak. Pokoknya Lilis mah nggak merasa salah. Kalau kamu ke sini bukan mau jemput Lilis nggak apa-apa. Mau cerai juga Lilis terima. Hati Lilis udah terluka karena selama ini Lilis nggak pernah dihina kayak gitu sama orang lain. Lilis mah rela jadi janda daripada sakit hati terus sama kamu, Ay. Lilis udah capek." Lilis berkata panjang lebar sambil menitikkan air matanya.
"Lis ...." Liam tertegun seperti kehabisan kata-kata mendengar unek-unek Lilis yang seperti terlontar semua. Amarah Lilis yang disertai derai air matanya membuat Liam ragu dengan apa yang dia lihat dan percaya. Sepertinya perkataan Lilis memang benar adanya, jika Liam hanya salah paham saja. Tiba-tiba saja Liam mengingat semua wejangan papanya. Apa sekarang Liam sedang berada di posisi yang sama? Kalau memang benar, Liam tidak boleh bertindak gegabah.
"Dasar bodoh!" Walaupun pelan, suara Ryan yang mencibir masih bisa terdengar jelas oleh Liam. Senyuman devil tersemat di bibir lelaki itu. Ryan sepertinya puas dengan sikap Liam yang terlalu gegabah mencurigai istrinya tersebut.
"Apa kamu bilang? Sebaiknya kamu pulang sebelum saya hajar!" Liam yang tidak senang pun mengusir pemuda itu.
"Oke," ucap Ryan sambil mengedikkan bahu, lalu beralih pada Lilis lalu berkata, "Lis, aku pulang, ya! Kutunggu jandamu!"
"Heh, brengsek!"
"Mau ngapain?"
Emosi Liam langsung meluap. Tubuhnya bergerak ingin menghajar wajah Ryan yang menyebalkan, tetapi sayangnya langsung ditahan oleh Lilis. Lilis tidak mau ada keributan di rumah kakeknya yang bisa menarik perhatian para tetangga. Alhasil, lelaki itu hanya bisa memandangi mobil Ryan yang menjauh meninggalkan rumah itu.
"Mumpung kamu di sini. Ayo, selesaikan di depan kakek! Lilis mau semuanya jelas hari ini," ucap Lilis lagi yang membuat Liam tercekat sambil menelan ludahnya kelat.
Padahal amarahnya tadi begitu menggebu, tetapi langsung menguap ketika mendengar istrinya berkata tegas seperti itu.
"Kita mau bicara apa sama kakek kamu?" tanya Liam memastikan. Sejujurnya, lelaki itu tidak mau bercerai dengan Lilis.
"Kamu jangan pura-pura amnesia, nya! Seperti yang Lilis bilang tadi. Lilis mau kamu selesaikan masalah pernikahan kita. Bagaimana kelanjutan hubungan kita ke depannya?"
"Lebih baik kita bicarakan berdua dulu di rumahku aja. Nggak baik masalah rumah tangga sampai diketahui oleh orang tua kita. Oke?"
"Nggak oke. Pokoknya Lilis nggak mau ikut kamu pulang sebelum semuanya jelas," tolak Lilis tegas.
Liam menggaruk pelipisnya sambil berpikir. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menghina Lilis seperti tadi. Perkataan itu terlontar begitu saja karena luapan emosi.
"Ada apa ini?" Suara tegas dari seseorang yang ditakuti Liam pun terdengar. Wahyu yang melihat Liam dan Lilis berada di halaman rumahnya pun jadi penasaran dengan apa yang dilakukan mereka di sana.
"Kakek?" Liam langsung mencium punggung tangan Wahyu, lalu diikuti oleh Lilis.
"Kamu abis nangis?" Pandangan Wahyu tertuju pada kelopak mata Lilis yang sembab dan menyisakan butiran bening di pelupuk matanya. Lilis pun segera menyapu air mata itu dengan ibu jarinya.
"Lilis nggak nangis, cuma kelilipan aja," ujar Lilis berbohong.
"Yang bener? Bukan karena terlalu senang suami kamu udah pulang dari luar kota?" Wahyu menggoda cucunya karena yang dia tahu Lilis begitu tergila-gila pada Liam.
Liam yang mendengar itu pun mengernyitkan kening sembari menatap Lilis. Tiba-tiba saja salah satu sudut bibirnya tertarik segaris. Dia yakin jika Lilis tidak mengatakan hal yang sebenarnya tentang kerenggangan rumah tangga mereka. Lilis juga berani berbohong demi menjaga nama baiknya. Itu artinya, perasaan Lilis masih tulus kepada Liam.
"Ah, iya, Kek. Tadi Lilis terharu waktu Liam baru datang. Katanya dia kangen," timpal Liam sambil merangkul tubuh Lilis dari samping. Lilis ingin melepaskan diri, tetapi tak bisa karena Liam malah semakin mengeratkan pelukannya, membuat Lilis tidak berdaya.
"Ya udah, ayo, masuk dulu! Kamu pasti lelah baru pulang dari luar kota langsung ke sini," ajak Wahyu pada cucu menantunya itu.
"Liam nggak akan lama, Kek. Liam ke sini cuma mau jemput Lilis aja. Biar bisa cepet istirahat di rumah," kata Liam.
"Oh, gitu." Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya sambil menatap sang cucu. Ada sedikit keanehan dari mimik wajahnya seperti orang diliputi rasa kesal.
"Iya, Kek. Kami pulang dulu, ya." Tak mau sampai Wahyu menyadari kebohongannya, Liam langsung gerak cepat menggiring tubuh Lilis menuju ke mobilnya. Tak ayal Lilis pun meronta, tetapi tatapan Liam yang terlihat merana membuatnya tidak berdaya. Hati Lilis tetap kalah juga.
"Hah, dasar anak muda. Buru-buru sekali kalau sudah ketemu pawangnya," ujar Wahyu sambil tertawa. Kecurigaannya menguap begitu saja. Padahal rumah tangga cucunya memang sedang tidak baik-baik saja.
...----------------...
...To be continued...
Mampir thor 🙋
mimpi ternyata
pengen narik rara