Dilarang boom like dan tabung bab, tolong baca bab nya satu per-satu tanpa dilompat yah 🙏
Sebuah tragedi membuat seorang wanita bernama Vania Garvita harus terpaksa berpisah dengan putra semata wayangnya, Alvaro Neandra.
Setelah menjalani hukuman selama beberapa tahun, Vania berhasil bebas dan langsung mendatangi putranya di panti asuhan.
Namun, Vania dikejutkan karena ternyata Varo tidak berada di tempat itu. Sampai akhirnya dia tahu jika putranya sudah diambil oleh sepasang suami istri beberapa tahun silam tanpa sepengetahuannya.
Apakah yang sebenarnya terjadi pada kehidupan Vania? Dan siapakah yang telah mengambil putranya dari panti asuhan?
Yuk, ikuti kisah mereka yang penuh dengan perjuangan dan air mata!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Tekanan Mental.
Seketika Belinda berteriak untuk memanggil sang suami dengan wajah panik saat mendengar ucapan Brian, hingga tidak berselang lama muncullah Ivan dengan terburu-buru.
"Ada apa sih?" tanya Ivan dengan tajam. Dia yang baru saja terlelap terpaksa membuka kembali kedua matanya dan turun dari ranjang.
"Brian sakit, Honey. Kita harus segera memanggil Dokter," jawab Belinda dengan khawatir.
Ivan langsung mendekati Brian dan duduk di samping bocah itu. "Apamu yang sakit, Brian? Katakan pada Papa." Perintahnya dengan cemas.
Brian terdiam karena bingung harus bagaimana menjelaskan apa yang dia rasakan tadi, apalagi sekarang dadanya sudah tidak terasa sesak dan sakit lagi.
"Kenapa diam, Sayang? Apa dadamu sangat sakit?" tanya Belinda membali dengan mata berkaca-kaca.
Brian tampak menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan orangtuanya. "Tidak, Ma. Sekarang dadaku sudah tidak sakit lagi, tadi cuma sedikit sesak."
Belinda tetap menatap Brian dengan cemas walaupun putranya itu sudah berkata tidak apa-apa, sementara Brian tampak menghela napas lega karena sang putra baik-baik saja.
"Kalau gitu istirahatlah, ini sudah malam," ucap Ivan.
Brian menganggukkan kepala lalu kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang, sementara Belinda menatap sang suami dengan sendu.
"Kita harus tetap memanggil dokter, Honey. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan Brian," pinta Belinda.
"Lihatlah, dia baik-baik saja," seru Ivan sambil melirik ke arah Brian. "Brian anak yang kuat dan sehat, mungkin tadi dia merasa sesak karena Ac. Sudahlah, ayo kita ke kamar!" Dia lalu berbalik dan berjalan keluar dari kamar itu.
Belinda menatap kepergian Ivan dengan kecewa. Suaminya selalu saja seperti itu, padahal Brian hanya manusia biasa yang bisa sakit ataupun tidak sehat.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Mama kembali ke kamar dan istirahatlah," ucap Brian sambil menatap sang mama.
Belinda menoleh ke arah Brian saat mendengar ucapan putranya itu, kemudian dia duduk di pinggir ranjang lalu mengusap puncak kepala Brian.
"Mama akan menemanimu, Sayang. Tidurlah, mama akan tetap berada di sini," sahut Belinda sambil tersenyum tipis, walaupun hatinya masih merasa cemas dan khawatir.
Brian menolak keinginan mamanya dan tetap menyuruh sang mama untuk kembali ke kamar. Apa yang papanya katakan adalah benar, mungkin saja dadanya terasa sesak dan sakit hanya karena AC, dan dia sudah cukup besar untuk mengatasi masalahnya sendiri.
"Ya sudah, kalau gitu mama keluar ya, Sayang. Tapi kalau ada apa-apa panggil mama yah, atau telpon saja kalau dadamu sakit lagi," pesan Belinda. Dia merasa sangat besar untuk meninggalkan putranya, tetapi Brian terus memaksa membuatnya mau tidak mau kembali ke kamarnya sendiri.
Brian mengangguk paham lalu mengucapkan selamat tidur untuk sang mama, tidak lupa mamanya mengecup keningnya seperti mana biasanya.
Setelah mamanya keluar, kedua mata Brian enggan terpejam membuatnya terus menatap langit-langit kamar. Tiba-tiba ingatan tentang wanita asing yang datang ke rumahnya dan membuat keributan kembali teringat, entah kenapa dia tidak bisa melupakan tentang hal itu.
"Sudahlah, kata mama itu cuma orang gila," gumam Brian sembari memeluk boneka bebek kesayangannya, dia lalu memejamkan kedua matanya dan berusaha untuk tidur.
Sementara itu, di apartemen Arsen terlihat Sonya dan seorang Dokter sudah berada di sana untuk memeriksa keadaan Vania.
Arsen tampak berjalan ke sana-kemari sambil menunggu Dokter melakukan pemeriksaan, membuat Sonya melirik aneh ke arah sang kakak.
"Apa Kakak gak bisa diam?" tanya Sonya sambil menatap sang kakak dengan tajam. "Aku pusing melihat Kakak mondar-mandir kayak gitu." Dia mendengus kesal, apalagi saat melihat keadaan Vania yang entah kenapa bisa sampai seperti itu. Mungkinkah kakaknya melakukan kekerasan terhadap wanita itu?
Arsen sama sekali tidak memperdulikan ucapan Sonya dan malah mendekati Dokter pribadinya. "Kenapa meriksanya lama kali sih?" Dia menatap dengan kesal.
Dokter itu menghela napas kasar melihat ketidak-sabaran diwajah Arsen. "Bagaimana kalau Anda ceritakan dulu kenapa nona ini bisa pingsan, Tuan?" Dia menoleh ke arah Arsen sambil tersenyum dengan penuh makna.
"Cih." Arsen langsung membuang muka sebal saat mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu, sementara Dokter tersebut kembali melanjutkan pemeriksaannya.
Beberapa saat kemudian, Dokter bernama Roy itu sudah selesai melakukan pemeriksaan dan segera membereskan alat-alat medisnya membuat Arsen dan Sonya mendekat.
"Bagaimana keadaan Vania, Dokter? Apa dia pingsan karena disiksa oleh laki-laki ini?" tanya Sonya dengan khawatir membuat sang kakak langsung menatap dengan tajam.
"Apa maksudmu, Sonya? Aku tidak pernah menyiksa seorang wanita!" bantah Arsen. Sekejam-kejamnya dia, tetapi dia sama sekali tidak pernah berbuat kasar pada seorang wanita, bahkan setelah dikhianati dengan sangat menyakitkan oleh Belinda.
Sonya memalingkan wajahnya karena enggan menanggapi ucapan sang kakak, dia harus balas dendam karena kakaknya tadi juga mengacuhkannya.
"Keadaan nona ini baik-baik saja, Nona Sonya. Tidak ada sedikit pun luka di tubuhnya," ucap Dokter itu membuat Sonya bernapas lega.
"Tapi kenapa sampai sekarang dia belum bangun?" tanya Arsen dengan tidak sabar. "Terus kenapa dia bisa pingsan? Bikin susah saja!" Gerutunya dengan kesal.
Roy tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, begitu juga dengan Sonya yang ingin sekali menjambak rambut kakaknya itu.
"Di tubuhnya memang tidak ada luka, tapi sepertinya ada sebuah tekanan emosi yang membuat jiwanya terguncang. Dia jadi mengalami syok dan panik secara berlebihan," jelas Dokter itu dengan panjang lebar.
Arsen terdiam saat mendengar penjelasan Roy, begitu juga dengan Sonya yang sedang menatap Vania dengan sendu.
"Pantas saja tadi dia seperti itu, tapi kenapa dia bisa mengalami syok? Apa mencuci rambut bisa membuat jiwanya terguncang?" Arsen merasa bingung.
Sonya sendiri beralih mendekati Vania lalu menggenggam tangan temannya itu. "Apa kau syok karena teringat dengan masa lalumu, Vania?" Dia ikut merasa sedih dengan keadaan wanita itu karena tidak mudah untuk melupakan kejadian tragis yang terjadi di masa lalu, apalagi sampai menghilangkan nyawa seseorang. Walaupun orang tersebut sangat pantas sekali untuk di bun*uh.
Roy lalu mengajak Arsen dan Sonya untuk keluar dari kamar dan membiarkan Vania istirahat. Dia sudah memberikam suntikan pada wanita itu, dan juga memasang infus agar Vania memiliki tenaga.
"Saya menyarankan agar nona itu berkunsultasi pada psikolog tentang masalahnya, karena jika dibiarkan akan sangat membahayakan mental dan psikisnya," saran Roy saat sudah berada di ruang tamu.
Sonya mengangguk paham saat mendengar ucapan Roy. Yah, seharusnya sejak awal dia membawa Vania ke psikolog. Namun, dia tidak berpikir sampai sana karena melihat keadaan Vania baik-baik saja.
"Itu tidak perlu," ucap Arsen membuat Roy dan Sonya langsung menatap dengan tajam. "Aku yang akan menyembuhkannya, dan dia hanya perlu berkonsultasi padaku."
•
•
•
Tbc.
beni jadi bima
dan Belinda sebaiknya kamu jujur sama Brian , daripada nanti Brian akan membencimu karena kebohongan mu .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
helloooo..... Ivan apakah kau lupa bahwa kesempurnaan hanya milik sang pencipta alam semesta ini .
harusnya kamu sadar tekanan yang kamu lakukan pada Brian akan membuat dia menjadi sosok pria yang dingin dan kaku .
lanjut terus kak.... semangat dan moga sehat slalu .
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .
Vania.... aku selalu mendukungmu , misi mu untuk menghancurkan keluarga suamimu pasti lah berhasil dengan dukungan dari Arsen ,
lanjut terus kak... semangat dan moga sehat slalu .