Bidariblue namanya, dia bukan robot, tapi tubuhnya dipasangi Bio Bionic dan Microchip oleh dokter James Athur atas permintaan Bob Meyer, seorang owner dari badan intelijen swasta yang bernaung dibawah bendera XPostOne.
James sendiri adalah seorang dokter genetika Bionic women atau manusia robot. Kini Bidari menjadi eksperimen pertama.
Sayang sekali ekspektasi dokter James dan Bob Meyer tidak tercapai. Bidari menjadi tambah berutal disaat ia tersakiti. Bukan itu saja, gadis itu bersikap dingin terhadap lawan jenis, terutama kepada Zuga Qiosaki yang sangat mencintainya.
Apakah perubahan temperamen Bidari hanya pura-pura untuk mengelabui XPostOne dan para agent lainnya atau otaknya sudah terkontaminasi oleh Bio Bionic ciptaan dokter James?
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bidariblue saat tahu dirinya diculik dan dipasangi Biobionic dan Microchip?
Ayo ikuti perjalanan Bidariblue dalam sepak terjangnya menumpas musuh negara, dan juga percintaannya yang panasss...
******
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DISANDRA ABRANO
Tadi masih terdengar sayup-sayup suara musik, setelah mereka sampai di Get sepuluh, suara musik itu lenyap. Berarti pesta sabu sudah usai, Abrano akan menikmati salah satu atau dua wanita yang terpilih malam ini. Dan apakah Bidari terpilih? Malam ini Bidarilah yang terpilih!!
Degg!!
Air mata lelakinya bergulir jatuh dari sudut mata. Zuga berusaha tenang dan berpikir realistis, ia menghapus air matanya dengan ujung baju. Zuga tidak malu menangis dalam gelapnya malam. Sivha juga tidak melihat, dia sedang mencari binatang yang tidak ribut jika dikeluarkan dari kandang.
Sivha tahu kalau Zuga mencintai Bidari sepenuh hati, makanya Lala marah tempo hari. Lala adalah mantan pacar Zuga yang berpindah hati karena Zuga miskin.
Ketika Zuga pindah ke pulau Dewata dan menjabat pimpinan atau orang nomer satu di XPostOne se NTB, Lala ingin mendekat lagi. Tapi Zuga hanya menganggap Lala bawahan, sehingga Lala mengamuk dan benci kepada Bidari.
Mengingat Bidari Zuga hampir patah semangat, ia begitu kasihan kepada gadis itu yang tidak mengerti intelijen, tapi terpaksa membunuh orang.
Apalagi ia sekarang berada dalam cengkraman Abrano membuat Zuga ketar ketir, Abrano lebih brengsek dari Martin.
"Bos aku sudah dapat binatang yang tidak senang ribut." ucap Sivha pelan. Tapi Zuga tetap mematung.
"Bos jangan mengkhayal, Bidari bisa menjaga diri."
"Ohh..Sivha, bagaimana?" ucap Zuga gelagapan.
"Bos jangan sedih melulu, harus semangat, aku tidak pernah melihat intelijen lunglai seperti bos."
"Aku khawatir, karena Bidari tanpa pakaian dan sedang terluka, kedua karena Abrano memakai sabu untuk pesta. Takutnya Bidari di..."
"Perkaoss....itukah yang membuat bos ketar ketir?"
"Tahu aja kau..." sahutnya tak berdaya.
"Sabar bos Bidari tidak segampang itu kena hasutan, biarpun Abrano seperti aktor Korea, dia tetap memilih Zuga Qoisaki, yang seperti aktor India."
Akhirnya Zuga berdiri, ia memakai senjata runduk untuk meneropong area yang akan dilewati. Dari Get sepuluh sudah ada cctv.
Tadi mereka datang dari laut, atau dari belakang, berarti mereka berjalan dari Get sepuluh menuju Get tiga.
Mereka akan melewati jembatan, tidak ada cctv di jembatan, hanya puluhan buaya berada di sungai dengan mulut menganga. Buaya-buaya itu sedang menunggu makhluk yang lewat.
"Kita tidak mungkin langsung lewat, aku merasa jembatan itu aneh dan tidak terpasang cctv, berarti sering ada orang jatuh dari jembatan dan di makan buaya."
"Aku juga berpikir begitu, lihatlah buaya itu seperti ingin makan kita." ucap Sivha menyenter sungai.
"Jangan disenter, nanti ada yang lihat sinar lampu."
Zuga berpikir keras untuk memilih binatang, tidak mungkin anjing, macan atau kambing, ia memilih binatang yang tidak bersuara jika dicuri. Sivha beruntung menemukan binatang yang dimaksud.
Malam ini mereka mengendap-endap kekandang sapi, membuka kandang dengan cara merusak pagarnya, seolah-olah yang merusak pagarnya adalah sapi, jadi mereka tidak bengira kalau yang tadi mencuri sapi adalah penyusup.
Pertama sapi tidak mau keluar, alot banget, mungkin sapinya malas keluar malam. Sapi keluar satu persatu, Zuga mengarahkan binatang itu melewati jembatan, apa yang terjadi?
Ternyata jembatan itu berkotak-kotak, jika yang diinjak kotak ketiga, keenam, kesembilan kotak pasti terbuka secara otomatis, dan apa yang ada diatasnya jatuh dan dimakan buaya.Satu persatu sapi jatuh dan dimakan buaya, tapi ada juga yang selamat.
Akhirnya Zuga dan Sivha berpegangan erat pada besi realing jembatan dan mengikuti sapi yang berjalan. Berarti lobang jembatan kelipatan tiga. Para buaya malam ini berpesta pora, semua sapi akan nyemplung ke sungai.
Setelah melewati jembatan, Zuga dan Sivha menyiapkan tembakan manegtic untuk mematikan cctv. Rumah pak Joni luas sekali masih jauh jika mau ke bangunan utama, mereka berusaha cepat sampai di tujuan, sebentar lagi pagi.
Zuga dan Sivha menembak cctv dari jarak seratus meter, kemudian lari cepat terus menempel di tembok, begitu seterusnya.
"Kita akan berlari ke Get lima dulu, kamu menembak sambil lari. Tidak boleh ada yang meleset. Setelah itu kamu ke Get tiga."
"Siap bos.."
Saat Zuga di Get lima hujan turun seperti tumpah dari langit. Mereka terpaksa mencari tempat berteduh di Gazebo yang bertebaran di taman samping.
Zuga terus meneropong pergerakan di Get tiga. Ia yakin Get empat pasti juga ada penghuni, karena lampu tetap menyala walaupun tidak begitu terang.
Zuga memasang senjata runduknya dan memerintahkan Sivha mendekat ke Get empat. Setelah merasa aman Zuga memasukan senjatanya lagi dan mengambil pistol di pinggang. Ia lalu berlari cepat menyusul Sivha.
"Kamu masuk kedalam, lihat situasi, mereka pasti lagi mabuk."
"Siap boss, tapi ini Get empat, aku merasa was-was karena ini sudah dini hari."
"Makanya gerak cepat, aku akan menembak gas air mata jika kamu kepepet, kita ketemu di Get tiga. Cari aku ditembok samping."
Zuga sudah menembak cctv sampai Get dua, supaya Sivha menyelinap ke Get tiga. Ia kemudian melompat pagar pembatas setinggi sekitar enam meter dan turun ke Get tiga. Suasana sepi sekali, bangunan mewah ini berlantai tiga dan Bidari berada di lantai tiga.
Bidari sepertinya meletakan kaca mata zoom nya dan menutup jam tangannya dengan kain, sehingga malam ini tidak ada rekaman masuk.
Hal ini yang menyebabkan Zuga curiga kalau Bidari sedang melakukan aktivitas nyeleneh bersama Abrano.
Sampai di Get tiga Zuga melempar tali kait ke lantai dua, menunggu beberapa menit, kalau tidak ada yang bereaksi mereka baru akan naik.
Zuga dan Sivha naik perlahan-lahan ke lantai dua, sampai di balkon Sivha buru-buru menyembunyikan talinya. Bau tidak sedap mulai tercium, karena mereka memakai masker tidak begitu terpengaruh.
Mereka membuka salah satu jendela kamar memakai kawat dan masuk ke dalam. Kamar ini kosong terkunci dari luar. Zuga mengambil kawat manegtic seraya membuka pintu.
Masih aman, tidak terlihat pengawal, mungkin pengawal dilantai satu, pikir Zuga. Biasanya begitu, pengawal tidak diperbolehkan naik karena ada pesta sabu dan pesta m3sum. Mereka juga di larang membawa ponsel kalau ingin ikut pesta, banyak peraturan tidak tertulis harus diikuti oleh peserta.
Ada beberapa pasangan di lantai dua tergeletak tanpa busana. Lampu ruangan sengaja redup, jadi tidak jelas terlihat wajah mereka. Mereka sudah "pedaw" atau ngefly.
Naik tangga ke lantai tiga mereka hati-hati, karena beberapa orang yang setengah mabuk sangat mengganggu.
Sivha melakukan tindakan represif dan memukul mereka hingga jatuh. Ada yang melawan dan ribut, tapi tidak ada yang peduli.
Perempuan tergeletak tidak berharga terlihat menjijikan. Di mana-mana ada "bong" dan berserakan botol minuman keras. Zuga mematikan lampu ruang tengah, ada dua pasangan masih terlihat melakukan kegiatan m4ksiat yang overload, mungkin mereka mengeksplorasi posisi, hehe..
Tiba-tiba dari sebuah ruangan mereka berbondong-bondong keluar, berteriak hujan-hujan. Zuga cepat menjatuhkan diri pura-pura menjadi salah satu dari mereka. Untung gelap, jalan mereka srayang-sruyung, berhalusinasi dan paranoid. Sivha yang kepergok tidak ada yang peduli, karena mereka habis nyabu, tidak ingat apa.
Rupanya setiap kamar ada tulisannya di pintu. Untuk nyabu, ganja, putaw, inex sampai sinte ada ruangannya. Anak mafia kebal hukum, aparat takut memborgolnya, takut nyawa melayang dan jatah rokok hilang.
Sudah rahasia umum kalau banjir atau bencana lainnya, para mafia paling tinggi menyumbang. Seperti Buah simalakama, serba salah.
Hujan semakin deras, rasanya semua berjalan lancar-lancar saja. Sampai di satu ruangan yang paling ujung, Zuga berdiri di depan pintu. GSM bergetar menandakan Bidari ada didalam.
"Kau berputar, lihat dari balkon, kalau bisa kamu congkel jendela. Aku yang akan membuka pintu ini. Hati-hati, takutnya Bidari melepas tembakan karena kaget." Ucap Zuga.
"Oke bos."
Sivha memberi kode dengan tangan dan beranjak dari hadapan Zuga.
Di kamar nomer tiga belas, Abrano bersujud kepada Bidari. Rupanya gadis itu menangkap basah Abrano dengan seorang wanita.
Ketika Abrano keluar di saat dokter dan dua pelayan datang mengobati Bidari, gadis itu tidak begitu peduli. Tapi Abrano tidak kunjung datang ke kamar, membuat Bidari curiga.
Apalagi ia mendengar suara-suara ribut, suara tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Bidari memakai baju piyama dan keluar dari kamar. Di belakangnya ada dua pelayan yang dipaksa untuk menunjukan posisi Abrano.
Bidari memakai holster dipinggang, yang berisi pistol. Ia juga membawa pistol ditangan. Malam ini Bidari terlihat sangat memukau, padahal hanya memakai piyama dengan rambut tergerai.
Bau parfum baccarat yang dipakainya membuat semua anak muda yang duduk di lantai menoleh, mereka kaget dan Bidari juga kaget melihat banyak orang.
"Mencari siapa non?" seorang pemuda mendekat.
"Mencari penyusup." jawab Bidari asal.
"Kau siapa, ceweknya Abran?" mereka serentak bertanya.
"Mengapa harus menjadi ceweknya, aku diculik olehnya."
"Ohh...kenapa kau membawa pistol."
"Iseng saja, siapa tahu bisa dipakai menembak kepala kalian, hehe..." sahut Bidari mengarahkan pistol ke kepala mereka.
"Haiii...hati-hati..." teriak mereka ketakutan.
Bidari menyeringai sinis membalikan badannya. Pada saat itulah dua orang pemuda bangun dan ingin menyergap Bidari dari belakang.
"DOORRR....DOORRR..."
Suara tembakan itu membuat semua teriak. Kedua orang itu berguling jatuh dengan tangan berdarah.
"Apakah kalian ingin nyawanya lepas?" tanya Bidari membalikan badan.
Tadi ia menembak dengan reflek tanpa membalikan badan. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat narkotika dengan segala jenis berada diantara mereka.
"Aduhhh...aduhhhh...." kedua orang itu merintih.
"Kau berani melukai orang ini, berarti kau berurusan dengan hukum. Kau kira siapa dia." seorang wanita bangun dan menyebutkan orang tua kedua pemuda itu.
"Aku beruntung bisa menembak anaknya, harusnya aku bunuh kalian semua."
Bidari tidak takut, karena semua yang terjadi disitu terekam. Ia sengaja berdiri dekat narkotika supaya lebih jelas rekamannya.
"Permisi, aku mau nenolong temanku." dua orang pemuda berdiri.
"Masukan dia ke kamar dan panggil dokter." perintah Bidari.
*****
thrrr jngan lupa ea bidari