Ternyata tinggal bersama ibu mertua tak seindah bayangan Gita. Miranti terus saja menyiksa batin serta fisiknya.
Gita mengalami baby blues pasca melahirkan hingga hampir mencekik bayinya sendiri.
Miranti dengan rencana yang telah tersusun rapi di dalam otaknya, semakin kejam dalam menyiksa batin Gita. Melayangkan berbagai fitnah, hingga sang putra, Pramudya membenci, Gita dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa.
Apa langkah yang harus Gita ambil dalam rumah tangganya. Ketika sang ibu mertua menyimpan dendam padanya dari kehidupan masa lalu.
Apakah Gita tetap bertahan dengan rumah tangga yang bagaikan neraka itu?
Atau pergi dan membuat Pram menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chibichibi@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21. Membawa Orang Ketiga.
"Gimana, Nak? Enak masakan Malena?" cecar Miranti kepada sang putra dengan penuh harap jawaban yang memuaskan hatinya.
Mendapat tatapan seperti itu, tentu saja Pram mengangguk. Karena, dirinya tak mungkin mengecewakan sang mama.
Jangan kan Miranti, Malena gadis yang di bawanya kerumah tangga anaknya itupun tersenyum lebar. Gadis dengan riasan tebal itu sangat bangga. Ternyata, Pram menyukai masakannya. Padahal, menurutnya menu itu biasa saja. Sama sekali tidak spesial. Hanya ayam bakar dengan sambal terasi dan lalapan.
Sementara itu, Gita yang tengah menyusui Baby Asha tak jauh dari mereka, karena dirinya duduk di sofa lipat. Tentu dapat mendengar ucapan nyaring dari mertuanya itu.
Mereka tak ada satupun yang menawarinya sarapan. Betapa sedih dan sakitnya hati Gita. Baru juga beberapa hari ia merasakan damai dalam rumah tangganya. Baru juga Gita merasakan manisnya perlakuan serta perhatian dari Pramudya, suaminya. Kini, sang mama mertua kembali merecoki dengan mencekoki berbagai omongan terhadap putranya itu.
Parahnya lagi, Miranti sengaja memasukkan orang ketiga dalam rumah tangga Gita dan Pram. Jika menuruti emosi, ingin rasanya Gita mengusir mertuanya itu dan juga wanita gatal yang sejak tadi melirik suaminya.
"Cepatlah tidur, Asha. Bunda mau mengawasi ayah dan juga nenekmu itu. Kamu gak mau kan, Tante genit itu merebut perhatian ayah yang baru berapa hari ini kita rasakan?" bisik Gita pada bayi mungilnya yang sedang mengisap dot susunya.
Miranti tersenyum tipis. Sehingga, tidak ada yang menyadarinya. Hatinya sangat senang lantaran usahanya membuat Gita kembali kesal dan sakit hati berjalan lancar.
Kau pasti kesal kan Gita. Bahkan suami mu keenakan makan masakan Malena sampai lupa menawarkannya padamu. Kasian!
Cibir Miranti dalam hatinya. Wanita itu teramat senang, saat mendapati tatapan sinis dari menantunya itu.
Silakan tantang saja. Kau akan tau nanti Gita. Kau pikir setelah pindah, kalian bisa lepas dari pengawasanku. Siksaanku justru akan lebih kejam dari sebelumnya.
Miranti menggenggam sendok dan garpu erat di keduanya tangannya menahan emosi. Wanita ini, nampak menyakiti hatinya sendiri dengan menyimpan dendam itu.
"Syukurlah, kalau Mas Pram suka. Nanti, Malena bawakan lagi menu lainnya. Mas Pram suka makan apa?" tanya Malena dengan suara yang lembut dan bernada manja. Membuat Pramudya sontak menelan makanannya susah. Ia tak menyangka jika suara Malena sehalus itu.
"Terimakasih, kamu gak usah repot-repot," tolak Pramudya halus. Padahal, baginya enak juga. Bisa makan enak dan gratis setiap hari. Dia tak perlu menunggu Gita masak yang biasanya harus menunggu bayi mereka tidur dulu.
"Melena gak repot kok. Aku akan kesini, setiap mau berangkat kerja. Kebetulan juga satu arah," sosor Malena lagi. Wanita itu sudah kepincut akan ketampanan Pramudya. Dirinya tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan oleh Miranti. Apalagi, Malena tau jika rumah mereka cukup mewah. Gaji Pram juga besar.
"Sudah, Nak. Niat baik orang itu pantang loh ditolak. Setidaknya, kan kamu itu meringankan tugas Gita. Kasian dia yang harus menjaga bayinya sendirian. Karena, sudah tinggal jauh dari Mama. Coba, kalau kalian masih serumah dengan Mama," ungkit Miranti sengaja agar Pram menyesal.
"Iya, Ma. Malena boleh kok membawakan makanan lagi. Asalkan itu tidak merepotkan," sahut Pram menurut. Selalu, apapun yang Miranti katakan pria itu takkan mampu menolaknya. Sehingga jawaban dari Pramudya membuat Miranti mengulas senyumnya.
Sementara, Gita yang mendengar itu semua tengah meradang. Ingin sekali dirinya berteriak kencang untuk menolak semua sikap sok baik Malena. Perempuan inti sama sekali tidak menganggap keberadaan istri dari Pramudya. Bahkan, sejak datang kerumah itu, Malena sama sekali tidak menyapa Gita dan bayinya.
"Kalau begitu, kau antar Malena sampai kantor. sekalian berangkat kerja. Biar Mama di sini, untuk membantu istrimu membersihkan rumah," titah Miranti.
Sudah bukan rumahnya, tapi wanita paruh baya itu tetap menganggap dirinya sebagai ratu yang bisa mengatur semuanya.
"Baiklah, Ma. Aku berangkat." Pram mencium pipi Miranti kanan dan kiri seperti biasa.
"Mama, juga minta uang ya," ucap Miranti membuat Pram kaget.
"Mama kan sudah ku berikan, kemarin," jawab Pram.
"Ya kurang lah, Nak!" protes Miranti.
"Ma, kan Pram sekarang harus membayar sewa rumah ini. Jadi, jatah Mama cukup tiga juta saja ya," bujuk Pram.
"Baiklah. Coba kalian tidak pindah. Kan lumayan kamu bisa nabung Pram. Tapi mau gimana lagi, kamu lebih menuruti kemauan aneh istrimu itu," ucap Miranti dengan wajah yang di buat sendu.
Gita, yang mendengar ucapan mama mertuanya hanya bisa menahan napas, lantaran kesal.
Tak lama, Pram mendekatinya.
"Aku berangkat. Dengarkan baik-baik arahan dari Mama. Jaga perasaannya, dan anggap dia adalah Mama-mu sendiri. Kau mengerti, Gita!" tegas Pram. Gita, hanya bisa mengangguk patuh. Percuma juga menjawab suaminya itu.
Miranti memberikan tatapan sinis dengan seringai kemenangannya dari belakang punggung Pramudya.
...Bersambung ...
walaupun singkat tapi mantap..terus berkarya dan sehat selalu 😘😘