Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 BERTEMU KEMBALI
Seratus tahun kemudian...
Tepat Di hari Jumat Tangal 12 Desember 2025 ini.
Anita Tumbler berdiri di depan gedung tua yang dulunya dia tinggali di kota mati seraya menatap lurus ke arah jalan di depannya yang telah berubah menjadi jalanan aspal layak jalan.
Kota yang dulunya merupakan kota mati itu kini beralih menjadi suatu kota baru, dengan kehidupan sempurna.
Semua itu berkat perjuangan Anita Tumbler yang menghidupkan kembali kota mati ini menjadi kota berkembang dengan dimulai oleh usaha bar persinggahan buat pengembara yang mampir tak sengaja di kota mati ini dulunya.
Usaha bar milik Anita Tumbler berkembang pesat menjadi bar terkenal buat tempat singgah bagi pelancong luar kota sehingga menarik minat wisatawan untuk mampir.
Bar yang dikelola oleh Anita Tumbler bersama rekan hidupnya yaitu seekor primata langka bernama Tarsius Wilson lalu berubah menjadi bar yang menyediakan pelayanan restoran terbesar di kota ini.
Kota mati yang berubah menjadi kota termaju di negeri ini.
Tampak Anita Tumbler sangat sibuk melayani pembeli yang berdatangan ke bar miliknya ini, dia dibantu beberapa karyawan bar untuk mengelola usahanya.
Di samping usaha bar milik Anita ini, ada usaha lainnya yang juga dikelola oleh Anita Tumbler yaitu penginapan yang kini menjadi hotel terfavorit di negeri ini.
Di awali oleh kerja keras Anita Tumbler untuk menghidupkan kota mati menjadi kota terbesar dan kota maju di dunia kemudian tumbuh usaha-usaha lainnya yang menyusul kesuksesan Anita di kota mati ini.
"Bos, ada rombongan dari luar kota, sepertinya mereka datang jauh-jauh singgah kemari."
Anita berpaling cepat ke arah karyawan barnya.
"Sediakan mereka tempat meja makan sesuai jumlah orangnya dan segera layani mereka !"
"Baik, bos !"
Dengan cekatannya seorang karyawan bar berjalan ke arah rombongan yang datang, dia menyambut dengan teramat ramah meskipun bar sangat ramai hari ini.
"Selamat datang, silahkan duduk di meja yang tersedia !"
"Terima kasih..."
"Silahkan !"
"Baik..."
Suara itu mengejutkan Anita Tumbler sehingga dia memalingkan mukanya ke arah rombongan yang baru datang ke bar miliknya.
Sepertinya Anita pernah mengenali suara itu dan terdengar sangat familier di telinganya berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"Pesan apa, kami menyediakan makanan berbagai daging olahan serta minuman bervariasi rasa ?"
"Kami akan memilihnya terlebih dulu, dan kami akan memanggilmu jika sudah selesai memilih menu !"
"Baiklah, silahkan menikmati waktu istirahat kalian."
"Terima kasih..."
Karyawan bar pergi setelah menyambut tamu bar yang baru datang sembari menunggu menu pesanan selesai dipilih.
Anita terpaku mematung dengan pandangan sendu saat dia melihat ke arah rombongan itu.
Tampak sesosok yang dulu pernah akrab dengannya dan begitu teramat dekatnya bahkan mereka pernah hidup bersama.
"Adrian..."
Anita bergumam lirih nyaris suaranya tak kedengaran namun hatinya remuk seketika.
Nama yang dulu pernah dekat dan selalu Anita gumamkan sepanjang waktu dalam hidupnya dua ratus tahun yang lalu.
"Adrian..."
Anita tersentak kaget sehingga dia terduduk lemas sedangkan pandangannya lurus menatap ke arah sosok laki-laki tampan yang mirip mendiang suaminya dulu.
"Dia datang kembali setelah dua ratus tahun kami berpisah oleh takdir dalam wujud orang lain..."
Anita berkaca-kaca ketika dia menatap lurus ke arah sosok laki-laki yang sangat mirip dengan Adrian Wilson, suaminya yang tewas dalam tragedi perampokan oleh geng Samantha dua ratus tahun yang lalu.
Tubuh Anita Tumbler berguncang keras menahan kesedihan dalam hatinya yang teramat mendalam.
"Apakah takdir sengaja mempermainkan diriku selama dua ratus tahun ini ?"
Anita terharu biru ketika dia mengenang seluruh kenangannya bersama Adrian Wilson sosok mendiang suaminya yang kini hadir kembali di kehidupan baru ini.
Dua ratus tahun, yah, dua ratus tahun sudah terlewati oleh Anita Tumbler selama dia menjalani kutukannya.
"Apakah kutukan itu telah berakhir dengan bertemunya kami di kehidupan kedua ini setelah dua ratus tahun berlalu singkat ?"
Anita Tumbler hampir-hampir tak merasakan bahwa kedua kakinya sedang berpijak di bumi.
Tiba-tiba sekujur tubuh Anita melayang ringan seperti hendak roboh.
"Adrian..."
Kembali Anita bergumam, memanggil nama mendiang suaminya dulu, sedangkan raut wajahnya berubah murung.
Anita mengalihkan pandangannya lurus ke arah sosok asing yang mirip sekali dengan Adrian Wilson.
"Kenapa murung, Anita ?"
Anita sontak gelagapan saat Tarsius Wilson tiba-tiba muncul lalu berbicara dengannya.
"Oh, rupanya kau Tarsius Wilson..."
"Ya, Anita, ada apa denganmu, kulihat kau murung sekali."
"Aku melihatnya lagi, Tarsius Wilson..."
"Siapa yang kau lihat, Anita ?"
"Dia... !"
Anita menjawab sembari memandang ke arah rombongan pengunjung bar yang baru saja tiba.
Tarsius Wilson mengalihkan pandangannya ke arah rombongan pengunjung bar dari luar kota yang baru saja datang.
Mereka terlihat meriah dengan pakaian unik berwarna-warni ceria serta mencolok, dan duduk di meja dekat jendela bar.
Terlihat rombongan itu sedang bercakap-cakap sembari bersenda gurau.
"Yang mana dia ?"
"Laki-laki berkemeja merah tua yang duduk di pinggir kanan sendiri..."
"Oh, dia... !"
Tarsius Wilson langsung bisa menebak cepat, siapa laki-laki yang dimaksudkan oleh Anita Tumbler.
"Dia sangat tampan sekali..., Anita..."
"Ya, memang, bahkan dia sangat mirip dengan Adrian Wilson, mendiang suamiku yang tewas dua ratus tahun yang lalu..."
"Dan sekarang kau melihatnya lagi, Anita."
"Yah..."
Anita menundukkan pandangannya, tak berani lagi memandang lama-lama ke arah laki-laki yang mirip sekali dengan Adrian Wilson, mendiang suaminya.
"Apa kau tidak ingin mengenalnya, Anita ?"
"Haruskah itu kulakukan, tapi aku tidak memiliki nyali besar untuk berkenalan dengannya,Tarsius Wilson."
"Cobalah cari tahu tentang dia, Anita !"
Anita mengalihkan pandangannya kembali kepada sosok laki-laki muda yang wajahnya mirip sekali dengan Adrian Wilson.
Keperawakannya sama persis dengan mendiang suaminya yang telah mati dua ratus tahun yang lalu.
"Papa ! Papa ! Papa !"
Terdengar suara dua anak kecil berlarian masuk ke dalam bar, mereka menghampiri meja rombongan tamu dari luar kota.
"Papa !"
Sapa seorang bocah laki-laki berambut ikal kepada sosok laki-laki yang mirip dengan Adrian Wilson sembari memperlihatkan mainannya.
"Ya, Azka, kau baru beli mainan lagi ?"
"Tadi aku melihat seorang bibi penjual mainan ini di depan sini, papa."
"Dan kau membelinya dengan uangmu sendiri, Azka ?"
"Tidak, tapi kakak itu yang membelikannya, papa !"
"Siapa Alana ?"
"Kakak laki-laki yang ada di meja depan itu, papa !"
"Mana orangnya, Alana ?"
"Disana papa ! Kakak ! Kakak !"
Seorang gadis kecil menjawab ucapan papanya sembari menunjuk ke arah seorang karyawan bar yang berdiri di dekat meja penerimaan tamu bar.
"Oh, kakak itu ya ?"
"Ya, papa !"
"Ya, kakak itu, kakak itu, yang disana itu, papa !"
Sahut dua bocah kembar seraya menganggukkan kepala mereka kompak dengan wajah lucunya.
Laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan mendiang Adrian Wilson tersenyum sambil mengangguk santun kepada karyawan bar yang dimaksudkan oleh kedua anak kembarnya.
Salah satu karyawan bar Anita Tumbler membalas senyuman laki-laki dari anggota rombongan tamu itu dengan melambaikan tangannya kepada dua bocah kembar.
Terlihat dua bocah kembar itu tertawa ceria sambil menggoyangkan mainan mereka ke arah salah satu karyawan bar ini.
Tawa kedua anak kecil kembar laki-laki dan perempuan itu memenuhi ruangan bar sehingga semakin semarak, sedangkan karyawan bar tertawa senang melihat reaksi spontan dari dua bocah kembar itu yang terlihat sangat lucu.